Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
27.


__ADS_3

Iqbal langsung masuk, dan berdiri tepat di hadapan Elsaliani, Iqbal masih saja menatap Intens wajah Elsaliani yang terlihat jelas sedang ketakutan.


"Tuan, El akan menggantikannya besok!" Jelas Elsaliani berusaha untuk tetap tenang.


"Selamat ulang tahun!" Ucap Iqbal dengan ragu-ragu, lalu tangan kanannya bergerak


menyentuh bibir Elsaliani.


"Kuenya enak." Ucap Iqbal setelah menjilat tangannya yang mengusap sisa kue yang tertinggal di mulut Elsaliani.


"Tuan...."


"Mau kado apa? biar nanti aku belikan."


"Nggak usah, El nggak butuh apa-apa."


"Kamu yakin?" Tanya Iqbal dan kembali mendekati Elsaliani.


"I.....iya."


Iqbal semakin mendekat hingga tidak ada lagi jarak antara keduanya, lalu menghadiahkan kecupan lembut di kening sang istri.


"Hadiah dari aku, dan aku harap kamu suka." Jelas Iqbal lalu kembali mencium kening Elsaliani untuk yang kedua kalinya.


"Tuan, kenapa tiba-tiba bersikap baik pada El? jika tuan begini, mungkin El tidak akan bisa melupakan tuan. Tolong jangan berlaku baik pada El kerena itu akan membuat El semakin tidak tau diri dalam mencintai tuan, jika rasa sayang ini terus bertambah El takut, El nggak akan bisa melepaskan tuan untuk mbak Lestari." Jelas Elsaliani dengan wajah polos dan tatapan sendu. Sebenarnya jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Elsaliani sangat menyukai sikap Iqbal yang sekarang, namun ia juga tidak ingin membuat dirinya semakin terluka.


"Teruslah berusaha untuk melupakan aku, dan aku akan melakukan apapun yang aku suka. Ingat El, kamu adalah istri aku, kamu hak aku. So, bagaimanapun cara aku memperlakukan kamu itu terserah aku, kamu nggak punya hak untuk melarang aku, ingat itu."


"Tuan...."


"Teruslah berusaha untuk membuang aku dari hati mu, kita lihat saja sampai di mana batas kesanggupanku."


Dengan penuh keraguan, Elsaliani memberanikan dirinya untuk menyentuh ujung kaos yang Iqbal kenakan, sejenak terdiam memerhatikan Iqbal yang tidak bereaksi dengan perlakuannya, Pelan-pelan Elsaliani semakin berani menyentuh lengan Iqbal lalu memeluk erat tubuh Iqbal. Iqbal hanya terdiam membiarkan Elsaliani melakukan apa yang sedang ia lakukan.


"Untuk hari ini, terima kasih banyak. Ini semua sudah lebih dari cukup buat El. Tuan yang tidak memarahi El di hari spesial ini, itu sudah menjadi kado terindah. Sekali lagi terima kasih." Jelas Elsaliani dengan tetesan air mata dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf, karena aku sama sekali nggak tau kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu."


"Tidak perlu meminta maaf, tuan tidak salah. Hm.....soal vas tuan yang tadi, El janji besok El akan menggantikannya."


"Aku maafkan, hanya untuk hari ini saja, kamu tidak perlu menggantikannya."


"Benarkah??" Tanya Elsaliani memastikan, senyuman mulai merekah di pipi indahnya.

__ADS_1


Kedua matanya segera menoleh ke wajah Iqbal, namun dalam seketika Elsaliani segera mengalihkan pandangannya bahkan ia melangkah mundur menjauhi Iqbal.


"Senyuman mu indah, aku suka."


"Taun, El....."


"Tersenyumlah! aku kira kamu hanya bisa menangis saja, ternyata bisa tersenyum juga."


"Hm.... oh iya, El hampir lupa! kemaren mbak Lestari datang kemari untuk mencari taun, dan dia berpesan kalau tuan pulang agar tuan segera menemuinya. Kalau begitu El permisi tuan."


"Mau kemana?" Tanya Iqbal dengan tangan yang memegang ujung kerudung Elsaliani di bagian belakang.


"Hm...mau, yah mau keluar." Jawab Elsaliani kebingungan.


"Ini kamar kamu! masalah Lestari aku yang akan selesaikan. Oh iya, nanti siang kamu nggak usah masak, aku mau makan di luar saja." Jelas Iqbal dan langsung melangkah keluar dari kamar Elsaliani.


"Baik tuan."


--------------------------------


Jarum jam tepat menunjuki angka 11. Di kamar sana Iqbal sudah rapi dengan stelannya. Kaos putih yang di padu dengan celana jeans panjang yang berwarna hitam dengan bagian kedua lutut yang sobek, membuat penampilan Iqbal terlihat ala badboy tapi tetap tampan. Iqbal masih berdiri di depan cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya, ia mencoba memerhatikan tatanan rambutnya lalu tersenyum manis pada dirinya sendiri.


"Wah, ternyata semakin hari wajah ini semakin tampan aja, sempurna. Oke, let's go Ahmad Iqbal Ardimas Saka! Semuanya akan baik-baik saja, oke, rilexs, come on and let's do it." Seru Iqbal sambil terus menatap dirinya yang ada di dalam cermin.


"Tuan mau keluar sekarang? atau ada yang bisa El bantu? tuan butuh apa?" Tanya El dan mencoba melirik Iqbal secara diam-diam.


(Kenapa semakin hari jantung ini semakin tak karuan setiap kali melihatnya, apa itu tandanya cinta El semakin bertambah padanya? dia, dia benar-benar mahkluk tersempurna yang pernah El temui. Subhanallah, benar-benar mahakarya Allah yang luar bisa membius mata, indah sekali) Bisik hati Elsaliani yang tidak bisa membohongi dirinya untuk tidak mengagumi sosok Iqbal.


"Kamu? kamu belum siap-siap?" Tanya Iqbal dengan tatapan heran karena melihat Elsaliani masih saja dengan pakaian tadi pagi.


"Siap-siap? kenapa? apa tuan mau mengantarkan El pulang ke rumah Abi?" Tanya Elsaliani yang tidak mengerti dengan ucapan sang suami.


"El, tadikan aku ngomong dengan jelas bahwa aku akan makan siang di luar."


"Iya. El tau, tuan pergilah!"


"Hah...pergi katamu? lalu kamu?"


"El? ah, nanti El bisa masak sendiri kok, jadi tuan tidak perlu beli apa-apa untuk El. Pergilah dan selamat bersenang-senang dengan gadis pujaan hati tuan. Semoga hari kalian menyenangkan." Jelas Elsaliani dengan terus memaksakan diri untuk tersenyum.


"Hari ini aku mau makan di luar, sama kamu. inikan hari ulang tahun mu. Sana cepat ganti baju!"


"Tidak usah. Maksud El, hm....tuan tidak perlu membuang-buang waktu untuk El. Lagi pula El sama sekali nggak pantas berjalan di samping tuan. Pergilah tuan, cari kebahagiaan tuan yang telah El hancurkan. El janji, El nggak akan lagi menjadi beban untuk hidup tuan, El nggak akan lagi mengacaukan ketenangan tuan."

__ADS_1


"Kamu yakin nggak mau keluar?" Tanya Iqbal memastikan.


"Iya."


"Serius?"


"Iya."


"Oke!" Ucap Iqbal lalu dengan cepat mendekati Elsaliani.


Iqbal langsung memeluk tubuh Elsaliani, kemudian kedua tangannya mulai menyentuh wajah Elsaliani yang bahkan sebagiannya tertutup dengan kerudung yang ia gunakan secara acak-acakan.


"Aku ingin kamu!"


"Maksud tuan?"


"Layani aku!"


"Hm....tuan butuh apa? biar El siapkan."


"Kamu!"


"Tu....tu.....an."


"Iya, hari ini aku benar-benar menginginkan kamu!"


Tanpa tunggu lama Iqbal langsung mencium Elsaliani, lalu membuka kerudung Elsaliani, hal tersebut membuat Elsaliani kaget, takut, panik bercampur menjadi satu.


"Mau makan di luar atau tetap di kamar ini? kamu yang pilih!" Tanya Iqbal ketika menyadari raut wajah Elsaliani yang mulai tagang dan bingung karena kelakuannya.


"Ba....baiklah, beri El sedikit waktu untuk ganti baju. El akan cepat!" Pinta Elsaliani lalu segera melepaskan tubuhnya dari Iqbal.


"Oke, deal." Ucap Iqbal dengan senyuman manis.


Iqbal memutuskan untuk membiarkan Elsaliani bersiap-siap sedangkan ia menunggu di teras depan.***


________________


Jangan lupa Like n komen☺️☺️


Bantu vote juga ya😄


Mampir juga ke novel aku yang lainnya, Di Tepi Rindu dan Sunu🤗🤗 dengan alur yang berbeda tapi tetap seru kok🤭

__ADS_1


KaMsaHamida 😘😘😘🥰🥰🥰


__ADS_2