Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
82.


__ADS_3

Bersamaan dengan teriakan yang cukup terdengar begitu memekik telinga, tubuh Mikeal yang telah di penuhi dengan keringat panas dingin langsung bangun dari tidurnya. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan mata yang memerah serta detak jantung yang berdetak tak karuan, Mikeal masih saja duduk dengan sejuta tanya yang menggema di kepalanya. Kedua tangan Mikeal menggenggam erat dahinya, mencoba memahami mimpi yang baru saja membuatnya takut setengah mati.


"Abang Mikeal kenapa?" Tanya Amanda dengan tangan yang mengusap lembut lengan kanan Mikeal.


Mendengar suara gadis yang begitu ia cintai, membuat Mikeal segera menoleh pada pemilik suara tersebut.


"Manda....!" Seru Mikeal dengan mata yang berbinar lalu menjatuhkan wajahnya tepat di bahu Amanda.


"Apa kamu sebegitunya mencintai gadis SMA itu? sampai aku pun terlihat seperti gadis itu?" Tanya Luqman lalu mengusap lembut punggung Mikeal.


"Abang Luqman, apa yang harus aku lakukan? kenapa rasanya mimpi itu begitu nyata? bagaimana jika dia benar-benar pergi meninggalkan aku?" Gumam Mikeal dengan penuh rasa khawatir.


"Tenanglah, kamu hanya sedang bermimpi, kamu hanya terlalu takut kehilangan dia. Semuanya akan baik-baik saja!"


"Aku sudah pernah kehilangan Arumi karena kebodohan dan keegoisan aku, dan aku nggak mau semua itu terulang kembali, aku nggak mau kehilangan Manda."


"Sekuat apapun kita berusaha jika dia bukan jodoh kita, maka Allah punya segala cara untuk menjauhkan dia dari kita, dan sebaliknya, meski seribu cara kita gunakan untuk menghindarinya, jika dia tulang rusuk kita, maka dengan cara sederhana sekalipun Allah akan mempersatukan ia dengan mu. Mikeal, jangan biarkan hatimu di dominasi dengan prasangka buruk, berusaha dan berdoa serta terima segala hal yang terjadi dengan rasa syukur, inshaAllah semuanya akan mudah."


"Aku lemah dengan masalah hati, aku..."


"Sudahlah, sekarang wudhu, sholat, tenangkan hatimu!"


"Terima kasih! terima kasih karena selalu baik sama aku! terima kasih karena memperlakukan aku dengan penuh perhatian!"


"Itu sudah seharusnya aku lakukan! kamu kan si bungsu kami. Udah sana!"


"Baiklah!"


Mikeal bangkit dari ranjangnya dan lekas ke kamar mandi, Luqman hanya menatap tubuh Mikeal yang perlahan hilang dari pandangannya.


"Mikeal, aku paham, karena aku juga pernah berada di posisi yang sama denganmu. Karena aku yang begitu pengecut aku kehilangan gadis yang begitu aku cintai, dan sekarang aku juga tidak ingin mengulang kebodohan itu lagi. Aku juga akan berjuang demi orang yang telah mencuri hatiku saat ini, semoga kamu dan aku juga bisa bahagia seperti Iqbal, Alam dan juga Hendra." Ungkap hati Luqman.


Luqman beranjak kembali ke ranjangnya, dari atas sana Hendra hanya berdiam diri mendengar semua pembicaraan antara Mikeal dan Luqman, termasuk ucapan Luqman yang terdengar berbicara dengan dirinya sendiri.


Hendra yang tidur di ranjang tepat di atas ranjang Mikeal, malah memilih diam meski ia ikut terjaga karena teriakan Mikeal.


(Aku belajar banyak darimu Luqman, kamu begitu hebat dan kuat, kamu bahkan bisa mencintai seorang gadis hingga bertahun-tahun lamanya tanpa menggungkapkannya sama sekali. Aku harap kamu juga akan mendapatkan gadis yang baik, lelaki sebaik kamu pasti telah Allah siapkan jodoh yang baik pula.) Bisik hati Hendra lalu kembali memejamkan matanya.


--------------


Perlahan Elsaliani mencoba memindahkan tangan kekar Iqbal yang memeluk erat perut besarnya, setelah usahanya berhasil, Elsaliani mencoba untuk bangun dari tidurnya. Mata Elsaliani menatap lekat wajah Iqbal yang tertidur pulas dengan kepala yang tersandar di atas tumpukan bantal.


"Maaf, karena selama satu bulan terakhir ini El selalu mengganggu tidur nyenyak mas. Setiap hari lelah bekerja dan malam hari El malah menjadi beban, mas pasti sangat kelelahan kan? maafkan El" Keluh El dengan suara pelan.


Elsaliani turun dari tempat tidur lalu beranjak untuk ke kamar mandi. Elsaliani berusaha untuk membuka pintu kamar mandi dengan begitu pelan, agar suara pintu tidak membuat Iqbal terbangun, namun usaha Elsaliani tidak berjalan sebagaimana yang ia harapkan.


"Sayang...." Panggil Iqbal ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.

__ADS_1


Indra pendengaran Iqbal memang sangat sensitif, ia bahkan bisa mendengar suara terkecil sekalipun. Iqbal langsung loncat dari tempat tidur ketika ia melihat Elsaliani yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Ayo masuk!" Ajak Iqbal yang telah lebih dulu masuk.


Tangan Iqbal menggenggam erat kedua lengan Elsaliani.


"Mas...."


"Kenapa sayang? apa perut sayang keram? dimana yang sakit?" Tanya Iqbal panik yang langsung memeriksa perut besar Elsaliani.


"Mas, El cuma mau pipis."


"Ya udah ayo, mas temani."


"Mas, El bisa sendiri!"


"Tapi..."


"El oke! mas tidurlah, seharian latihan terus mas pasti lelah, mata mas terlihat memerah, istirahatlah!" Jelas Elsaliani dengan tangan yang menyentuh lembut mata Iqbal.


"Mas..."


"Mas, please! istirahatlah."


"Oke, tapi pintunya jangan di kunci, jika sayang kenapa-napa langsung teriak."


Elsaliani langsung masuk ke kamar mandi dan Iqbal kembali ke tempat tidur. Di atas kasur sana Iqbal masih duduk dengan mata yang terus menatap kearah kamar mandi. sepuluh menit berlalu namun Elsaliani belum juga keluar membuat Iqbal tidak lagi bisa berdiam diri menunggu, dengan cepat Iqbal bangun disaat yang bersamaan Elsaliani muncul dari kamar mandi, Iqbal segera menyambut kedatangan sang istri lalu membimbingnya untuk kembali ke kasur.


"Awwww!" Jerit Elsaliani histeris ketika tanpa sengaja tangan Iqbal menyentuh betis kanan Elsaliani.


"Sayang..."


Iqbal yang langsung panik ketika melihat wajah Elsaliani yang terlihat sedang menahan rasa sakit.


"Kenapa? di mana yang sakit?"


Elsaliani tidak menjawab, ia terus saja menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang saat ini telah di basahi oleh tetesan air mata.


"Sayang, lihat mas?" Pinta Iqbal yang langsung membawa wajah Elsaliani untuk menghadap padanya.


"Sayang, jangan buat mas mengulangi pertanyaan mas."


Jari telunjuk Elsaliani perlahan menunjuk kearah betis kanannya yang sontak membuat Iqbal langsung beralih pada betis tersebut. Iqbal langsung memeriksa betis Elsaliani, yang ternyata memang terdapat lebam keunguan di sana.


"Sejak kapan? kenapa bisa? kenapa nggak bilang sama mas? sayang..." Tanya Iqbal penuh dengan rasa khawatir.


"Tadi siang, terbentur dengan sofa. Awwww!"

__ADS_1


"Berbaringlah, mas akan mengobatinya."


"Maaf, merepotkan mas!"


"Sssssstt! mas yang harusnya minta maaf karena tidak bisa menjaga sayang dengan baik. Tunggu sebentar, mas akan segera kembali!"


Lima menit berlalu, Iqbal kembali dengan kotak P3K di tangannya, dengan cekatan Iqbal mengobati lebam tersebut. Elsaliani terus memandang wajah serius Iqbal yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Gimana? mendingan?" Tanya Iqbal setelah selesai mengobati Elsaliani.


Elsaliani hanya mengangguk, setelah menyimpan kembali kotak obat ke atas meja, Iqbal kembali duduk di samping Elsaliani lalu mencoba membawa sang istri ke dalam dekapannya.


"Maaf, karena mas nggak bisa menjaga sayang dengan baik! tidurlah, mas pastikan besok lebamnya akan menghilang!"


"Hmmmmm"


"Sayang, apa mas masih seperti orang asing bagi sayang?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Hanya saja! lupakanlah! tidurlah, baby butuh istirahat."


"Apa mas masih ragu sama cinta Elsaliani?"


"Mas tidak meragukan cinta sayang, tapi mas meragukan diri mas sendiri, pantaskah mas mendapatkan semua ini dari El?"


"Kenapa bicara begitu? bukankah di sini El adalah pihak yang paling di untungkan? El mendapatkan suami setampan mas, mapan, dan begitu mempesona, terlebih lagi El mendapatkan cinta, sayang dan perhatian yang begitu berlimpah dari mas, bagai mimpi rasanya, lelaki yang pertama membuat jantung El berdetak kencang, lelaki yang pertama membuat hati El bersenandung tak karuan, lelaki yang bahkan tanpa mengenal El tapi menyelamatkan nyawa El sekalipun nyawanya jadi taruhan, lelaki yang membuat El jatuh cinta untuk pertama kalinya kini malah benar-benar menjadi milik El seutuhnya. El adalah wanita yang paling beruntung di bumi saat ini."


"Sayang, tetaplah bersama mas hingga selamanya."


"Tanpa mas minta pun El akan melakukannya!"


"Baby, baby dengar sendiri kan? kalau Uma akan selalu bersama baby dan ayah, kita akan hidup bahagia. Ayah janji, ayah akan menjaga baby dan uma dengan sangat baik, ayah akan menjadikan kalian berdua wanita terbahagia di dunia ini."


"Terima kasih ayah!" Ucap Elsaliani lalu mengecup lembut pipi Iqbal.


"Love you, baby. Love you, sayang!" Ucap Iqbal sambil mengecup perut serta kening Elsaliani.


"Tidurlah!" Ucap Iqbal yang kembali mengeratkan rangkulannya pada bahu Elsaliani, lalu mengusapnya perlahan hingga membuat Elsaliani terlelap dalam dekapannya.


_______________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2