Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
08


__ADS_3

"Mengapa pagi ini dia terlihat begitu aneh? kenapa banyak sekali bicaranya?" Tanya Iqbal pada dirinya sendiri. Ketika dia berada di kursi kerjanya.


Kepalanya seakan tidak bisa berhenti berpikir, ingatannya terus saja tertuju pada sang istri. Meski ia terus mencoba membuang ingatan tersebut namun tetap saja ucapan Elsaliani yang tadi pagi seakan masih bergema jelas di telinganya. Hingga sebuah suara yang memanggil namanya menyadarkan ia dari ingatan akan hal tersebut.


"Kapten, bagaimana dengan laporan misi kita Minggu lalu? apa kapten sudah menyerahkannya pada komandan?" Tanya Alam yang perlahan melangkah memasuki ruangan Iqbal.


"Ah, bukannya Mikeal yang bertanggung jawab mengenai laporan itu? dimana dia? suruh dia keruangan aku sekarang!" Tegas Iqbal.


"Baik kapten!" Jawab Alam.


Alam langsung keluar dari ruangan tersebut. Beberapa menit berlalu, pintu ruangan Iqbal kembali dibuka dari luar, perlahan Mikeal masuk lalu memberi hormat pada sang kapten.


"Lapor! laporan atas misi X telah saya serahkan komandan, kemaren. Apa ada lagi yang ingin kapten tanyakan?" Jelas Mikeal.


"Oke, kamu boleh pergi!" Ujar Iqbal.


mendengar ucapan Iqbal, membuat Mikeal langsung memberi hormat dan melangkah keluar, namun langkah Mikeal kembali terhenti, dan pandangannya kembali tertuju kearah, di mana Iqbal sedang duduk di kursi kerjanya.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan. Tapi, ini di luar urusan pekerjaan, apa boleh aku bertanya?"


"Katakan!"


"Apa El baik-baik saja?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? bukankah kamu menjaga jarak dari aku? kamu nggak mau ada yang tau hubungan kita berdua dan juga kamu nggak mau peduli dengan kehidupan pribadi aku, lalu kenapa sekarang bertanya tentang istri aku?"


"Iya, semua yang Abang katakan memang benar. Tapi, kemaren aku melihat El seperti sedang sakit, apa hari ini dia baik-baik saja?"

__ADS_1


"Dia istri abang. Sakit atau tidak, sama sekali bukan urusan kamu. Jadi jangan pernah coba-coba untuk mencampuri urusan rumah tangga Abang."


"Abang Iqbal, sepertinya istri Abang sedang sakit. Jaga dia bang, jangan sampai Abang menyesali perbuatan Abang, aku pernah menyesal karena menyia-nyiakan orang yang begitu tulus mencintai aku, dan aku nggak mau Abang merasakan hal yang sama seperti aku. Aku permisi Abang!" Jelas Mikeal dan langsung keluar dari ruangan tersebut.


"Sebenarnya ada apa sih di antara mereka berdua? apa mereka menyembunyikan sesuatu dari aku? Gadis jelek itu pasti mempengaruhi Mikeal, ah...aku bisa gila kalau gini ceritanya." Gumam Iqbal yang mulai kesal dengan situasi dirinya saat ini.


Iqbal bangun dari kursi, kakinya terus saja mondar-mandir di depan mejanya sambil sesekali matanya menoleh keluar lewat jendela, sejenak terdiam dengan tangan yang masih saja menggenggam erat kepalanya. Sesaat kemudian tangannya beralih mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat jarinya terus berlarian di layar ponsel, berharap apa yang ia cari segera ia dapatkan, tangannya langsung terhenti dalam seketika, lalu mimik wajahnya mulai tersenyum namun senyuman tersebut turut di sertai dengan rasa jengkel dan kesal.


"Ah, aku benar-benar gila. 2 bulan aku telah hidup serumah dengannya tapi nomor telphone nya saja aku nggak tau, wahhhh benar-benar, ashhh...."


Dengan penuh kekesalan Iqbal memasukkan ponsel kedalam saku celananya lalu segera keluar dari ruangannya. Tanpa peduli dengan mata yang terus memandangnya, Iqbal terus berlalu menuju mobilnya lalu lekas pergi meninggalkan kantor.


---------------


Yeogi buteora


We gon' party like


Li,Li,Li, la,la,la


Mameul yeoreora


Bureuk jjipyoera


Li,Li,Li, La,la,la


Elsaliani terus bernyanyi lagu dari boyband favoritnya yaitu bigbang. Ia berusaha untuk menghibur dirinya sendiri agar tidak terus berlarut dalam kesedihan. Tangan Elsaliani dengan telaten menjemur pakaian yang baru selesai ia cuci di jemuran yang ada di halaman belakang rumah.

__ADS_1


Elsaliani terus saja bernyanyi meski tetesan air mata kian membasahi kedua pipinya, tangisan yang mulai tak terkendalikan lagi akhirnya pecah sudah, ia seakan tidak mampu menghentikan Isak tangisnya yang semakin menjadi. Meski berulang kali mengusap wajahnya, namun air mata seakan masih saja membasahinya hingga akhirnya tubuhnya perlahan merunduk, lalu duduk di bawah jemuran, mukanya terus saja ia sembunyikan di balik kedua lututnya.


"Mengapa mata ini terus saja ingin menangis? Aku mohon El, berhentilah menangis, jangan jadi gadis lemah seperti ini." Pinta Elsaliani pada dirinya di sela tangisannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Iqbal yang baru saja datang.


Suara Iqbal membuat Elsaliani tersentak kaget. lalu dengan cepat menghentikan tangisnya, dengan cepat mengusap air matanya lalu perlahan bangkit untuk berdiri tegak, Iqbal terus mendekat ke arah Elsaliani.


"Ada apa di antara kamu dan Mikeal?"


"Maksud tuan? sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. El dan Abang Mikeal bahkan tidak begitu saling mengenal." Jelas Elsaliani.


"Tidak saling mengenal katamu! lalu kenapa dia begitu mencemaskan kamu? dia mengkhawatirkan kamu. Apa di belakang aku kalian menjalin hubungan?"


"Tidak, sama sekali tidak ada hal yang seperti itu. Tuan salah faham."


"Aku sama sekali tidak peduli, apa hubungan kalian berdua, aku juga nggak peduli kalau kalian saling cinta atau pacaran, apapun itu. Tapi ingat, jangan sampai orang tua aku tua tentang apapun yang terjadi antara kamu dan Mikeal." Jelas Iqbal dan melangkah meninggalkan Elsaliani.


Dengan cepat Elsaliani langsung menghadap Iqbal, Elsaliani berdiri tepat di hadapannya Iqbal, hal tersebut jelas membuat langkah Iqbal terhenti.


"Apa yang sedang kamu coba lakukan? minggir!" Tegas Iqbal dengan jari telunjuk yang langsung mendorong keningnya Elsaliani.


"Abang Mikeal bukan orang yang akan melakukan hal yang seperti tuan tuduhkan. Dia laki-laki yang baik, dia tidak seperti El. Jadi El mohon, jangan libatkan Abang Mikeal di antara kita. Jika ada orang yang ingin tuan salahkan maka El lah orangnya. Maaf karena El bersikap lancang tapi El mohon pada tuan, jangan libatkan Abang Mikeal dalam masalah kita." Jelas Elsaliani dengan kepala yang tertunduk.


Tangan Iqbal kembali menyentuh kepala Elsaliani, namun kali ini ia tidak mendorongnya melainkan menggenggam erat bagian sanggulnya yang terbalut kerudung, sikap Iqbal cukup membuat Elsaliani ketakutan.


Dengan kasar Iqbal menyeret Elsaliani untuk ikut bersamanya menuju kamar Iqbal. Ketika keduanya sampai di dalam kamar milik Iqbal, tangan Iqbal langsung mendorong tubuh Elsaliani hingga terjatuh ke lantai. Wajah Elsaliani terlihat jelas sangat ketakutan, perlahan ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari Iqbal meski harus dengan cara merangkak, namun Iqbal tidak membiarkan itu terjadi, kakinya kian melangkah mendekati Elsaliani, hal tersebut semakin menambah ketakutan Elsaliani, wajah Elsaliani seketika berubah menjadi pucat tangannya mulai gemetar, perlahan air mata kembali menetes.***

__ADS_1


__ADS_2