
"Baby, kenapa nangis? baby juga nggak mau uma pergi ninggalin kita kan? baby diamlah, uma nggak ada di tempat ini, uma baik-baik saja." Ungkap Iqbal yang terus menenangkan baby yang sejak tadi rewel.
Suara tangis kian membuncah, membuat Iqbal kembali tersadar. Dengan kepala yang masing pusing, Iqbal mencoba membuka matanya, ia terus menatap sekelilingnya, yah yang terlihat hanyalah dinding berwarna pink dengan beberapa bingkai yang menempel di sepanjang dinding kamar.
"Apa aku sedang bermimpi? apa ini nyata? atau malah kejadian yang tadi itu nyata? atau mungkin aku yang mulai gila?" Tanya Iqbal pada dirinya yang masih kebingungan.
Iqbal bangkit dari tidurnya, meski harus menahan rada sakit di bagian bahunya, perlahan mendekat pada sang baby yang masih saja menangis. Tanpa sengaja tangan Iqbal malah menyenggol laptop Elsaliani hingga terjatuh dilantai.
"Baby diamlah! jangan buat ayah khawatir." Pinta Iqbal yang langsung mengendong baby, membuat darah Iqbal merembes pada kain yang membalut baby.
Iqbal beranjak turun dari tempat tidur lalu meraih laptop yang tergelak di lantai, kemudian meletakkannya kembali ke tempat tidur.
"Sssssstt, baby cantik, please diamlah sebentar biar ayah bisa cek laptop uma, apa ayah merusaknya atau tidak."
Iqbal mencoba menghidupkan laptop namun tak ada reaksi apa-apa, yang ada suara tangis baby malah semakin kencang.
"Abang Iqbal..." Seru Mikeal yang berhambur masuk menghampiri Iqbal yang begitu kewalahan menenangkan baby.
"Mikeal? apa kamu datang kedalam mimpi abang? Mikeal, apa yang harus abang lakukan? kenapa abang Rizal membawa abang dan baby ke pemakaman umum?" Tanya Iqbal yang mulai melemah.
"Abang sadarlah!" Pinta Mikeal yang mengambil alih baby kedalam gendongannya.
"Kembalikan El pada abang! katakan pada mereka untuk mengembalikan El pada abang. Abang mohon! jika ini bukan mimpi berarti El baik-baik saja kan? katakan pada mereka untuk mengembalikan El pada abang!" Teriak Iqbal dengan tubuh yang terkulai lemas ke lantai, darah segar kembali mengalir dari bahu Iqbal.
"Bunda, umi....!" Teriak Mikeal.
"Kenapa berteriak? apa yang terjadi?" Tanya Zulfa yang berlari menghampiri mereka.
"Iqbal, Iqbal bangun! bunda bilang bangun!" Pinta Ayu dengan tetesan air mata.
Tangan Ayu menyentuh lembut wajah pucat Iqbal, mencoba untuk mengembalikan kesadaran Iqbal.
"Mikeal? apa Iqbal terluka?" Tanya Adimaja yang melihat darah terus menetes dari ujung jaket Iqbal.
"Abang terluka parah di bagian bahu kirinya. Hmmm,,,terdapat lima sayatan pisau disana, lukanya lumayan dalam, abang bahkan belum mendapatkan perawatan yang layak pada luka tersebut, dia hanya menjahitnya sendiri itupun hanya beberapa jahitan saja dan ia melakukannya didalam perjalanan pulang." Jelas Mikeal.
"Apa kamu ingin mati? bapak cepat bawa Iqbal ke rumah sakit." Pinta Ayu yang langsung menarik wajah Iqbal kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Bunda, aku oke. Luka ini nggak seberapa dibandingkan dengan perjuangan El yang harus melahirkan seorang diri. Aku mengaku salah, tapi tolong kembalikan El pada ku. Umi, kembalikan El, dia istriku!" Jelas Iqbal lalu terkulai lemah tak sadarkan diri.
"Iqbal bangun!" Pinta Zulfa.
"Bunda, biar aku yang bawa abang ke mobil, bunda ambil baby." Pinta Mikeal yang menyerahkan baby pada Ayu.
Ayu segera mengambil baby, sedangkan Mikeal langsung mengangkat tubuh Iqbal dengan dibantu oleh Ismail sedangkan Adimaja telah lebih dulu keluar untuk menyiapkan mobil.
"Bunda ikut!" Pinta Ayu ketika Iqbal telah dimasukkan ke dalam mobil.
"Bunda disini aja sama baby dan umi, aku janji aku akan jaga abang Iqbal dengan baik." Jelas Mikeal.
"Iya Ayu, Iqbal pasti akan baik-baik saja, dia lelaki tangguh. Kami berangkat sekarang!" Jelas Ismail yang ikut masuk ke dalam mobil.
"Segera kabari bunda begitu kalian tiba di rumah sakit." Pesan Ayu.
"Iya bunda." Jawab Mikeal.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Ismail, Ayu dan Zulfa masih menatap kepergian mereka meski tidak ada jejak yang terlihat.
"Kenapa malah jadi begini? apa yang harus aku lakukan?" Tanya Ayu dengan penuh kesedihan.
"Kerena memikirkan keadaan Iqbal aku hampir melupakan cucuku, maafkan bunda sayang." Ayu mengecup lembut kening baby lalu melangkah masuk dengan disusul oleh Zulfa.
----------------------
"El, jangan tinggalkan mas! bagaimana mas bisa meneruskan hidup jika El pergi, lalu siapa yang akan merawat baby kita?" Tangis Iqbal.
"Mas, El nggak kemana-mana kok, El disini bersama kalian." Jelas Elsaliani dengan senyuman manisnya.
"Sayang, ini benaran sayang? mas nggak sedang halu kan? atau mungkin ini mimpi lagi?" Tanya Iqbal yang langsung menyentuh wajah Elsaliani.
"Ini nyata mas, jadi tolong kembalilah! El rindu mas Iqbal." Jelas Elsaliani yang menenggelamkan wajahnya di dada Iqbal.
"Sayang, sayang...." Panggil Iqbal dengan suara parau.
Perlahan membuka mata, mengembalikan jiwanya ke dunia nyata, meski susah Iqbal mencoba menarik sedikit tubuhnya untuk bersandar di bantal, hingga pandangannya tertuju ke sisi kirinya, dimana terlihat jelas perban yang sedikit memerah menempel di bagian bahunya, lalu pandangan itu sedikit berpindah pada tangan yang menggenggam erat tangan kirinya dengan wajah yang tersandar di bagian kasur.
__ADS_1
Iqbal mencoba menggerakkan jarinya yang berada salam genggaman tangan tersebut, membuat sang pemilik tangan mengangkat wajahnya lalu menatap kearah Iqbal.
"Hahhh! aku benar-benar gila. Bagaimana bisa mimpi dan nyata seolah tidak ada beda, kenapa tanpa jeda? kenapa bayangan El silih berganti datang? apa aku benar-benar berada di tahap stress yang tak terkendalikan lagi?"
"Mas...."
"Tadi di kamar terus tiba-tiba di pemakaman umum lalu kembali ke kamar dan sekarang di rumah sakit? kenapa otakku sekacau ini?" Teriak Iqbal dengan deraian air mata.
"Maafkan El!" Pinta Elsaliani dengan mengecup tangan Iqbal.
"Aku tidak ingin bangun dari mimpi yang ini, aku ingin terus berada di sini. El..." Ungkap Iqbal.
"El rindu, El ingin kembali ke rumah kita." Ungkap Elsaliani yang masih mengecup lembut tangan Iqbal.
"Sayang, mas benar-benar tidak ingin bangun dari mimpi ini!"
"Mas, ini nyata, bukan mimpi. Apa luka mas parah?"
Iqbal bukannya menjawab pertanyaan Elsaliani, ia malah bangkit dari tidurnya dan semakin mendekat kearah Elsaliani.
"Mas, jangan gerak nanti jahitan di luka mas bisa lepas lagi!"
'Cup' bibir Iqbal mendarat sempurna di kening Elsaliani, Iqbal terus bertahan dalam posisi demikian, tidak hanya sampai disitu, ia bahkan mencoba menarik wajah Elsaliani kedadanya, meski harus dengan menahan perih pada bagian lukanya.
"Kamu nyatakan sayang? ini benaran kamu kan? Kenapa sayang ninggalin mas? bukankah kita udah janji untuk merawat baby bersama-sama. Kenapa meninggalkan tulisan-tulisan yang begitu menyebalkan untuk mas?"
"Apa mas sudah membaca semuanya? kenapa abang Rizal menyerahkan Laptop El pada mas tanpa persetujuan El lebih dulu?"
"Nggak penting dengan tulisan itu semua, yang mas ingin tau kenapa sayang ninggalin mas dan baby?"
"Mas coba lihat El! Bagaimana bisa El menemui mas dalam kondisi yang seperti ini?" Jelas Elsaliani sambil menatap dirinya sendiri yang duduk di kursi roda.
"Jadi sayang hanya ingin sama mas ketika sayang baik-baik saja? kenapa mas tidak bisa merawat sayang? sayang dengar, jangankan duduk di atas kursi roda, jika El lumpuh total sekalipun, mas akan tetap terus berdiri disisi sayang, selamanya bagaimanapun keadaan sayang." Tegas Iqbal.***
____________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya Manteman semua@😊😊😊
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️