Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
16.


__ADS_3

"Kita sampai, ay..." Ujar Iqbal.


Iqbal memarkirkan mobil tepat di depan rumah miliknya, Iqbal tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat Elsaliani yang sedang tertidur lelap dengan kepala yang tersandar pada kaca pintu mobil, sejenak memandang wajah Elsaliani terlihat begitu lelah, dengan perlahan tangan kanan Iqbal mulai tergerak lalu menyentuh lembut kepala Elsaliani yang terbalut dengan kerudung berwarna biru.


"Selelah inikah kamu? seasing itukah aku bagi kamu? atau mungkin bukan itu yang harus kutanyakan, baik akan aku ubah pertanyaan aku. El, setakut inikah kamu terhadap aku? aku rasa itulah pertanyaan yang paling pantas untuk aku ajukan padamu. Aku sendiri yang membangun benteng diantara kita, aku sendiri yang menutup rapat gerbang hati aku tanpa menoleh lebih dulu, tangan siapa yang sedang bergerak menyentuhnya. El, biarlah kita terus begini saja, mungkin hanya dengan cara seperti ini, kamu dan aku akan tetap bisa bersama, seperti harapan kedua orang tua kita." Ungkap hati Iqbal dengan mata yang terus saja menatap wajah sang istri lalu bergegas keluar dari mobil dengan membiarkan Elsaliani tertidur di mobil.


------------------------


"Kita masih lama sampainya ya?" Tanya Elsaliani sambil membuka kedua matanya.


Elsaliani segara menoleh kearah suaminya yang sedari tadi duduk di depan stir. Namun sayang, tempat tersebut kini telah kosong, hal tersebut jelas membuat Elsaliani kaget dan panik, dengan cepat ia terus menoleh ke sana-sini hingga akhirnya ia menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi telah terparkir tepat di depan rumah sang suami.


"Hmmmm, ternyata sudah sampai rupanya. El kenapa kamu harus tertidur begitu lelap, bangunlah, ayo cepat bangun, sekarang kamu tidak lagi sedang berada di rumah Abi dan ummi. El, sekarang kamu berada bersama orang asing, baiklah, slow, tenang and go...!" Jelas Elsaliani pada dirinya sendiri.


Secepat kilat Elsaliani langsung keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Elsaliani terus berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya langsung terhenti ketika suara lantang Iqbal memanggil namanya.


"Elsaliani...!"


"Iya tuan." Jawab Elsaliani dengan suara lirih lalu dengan cepat ia kembali melangkah mendekati arah suara tersebut, ya ternyata Iqbal sedang berada di sofa sana, ia terlihat asyik menonton filem kartun favoritnya.


"Aku lapar!"


"Oh, baik. Akan El siapkan makanan, tuan mau makan apa?


"Kamu yakin mau masak?"


"Iya, kan tadi tuan bilang kalau tuan lapar. Tunggu sebentar tuan, El nggak akan lama." Jelas Elsaliani lalu melangkah menuju dapur, namun Iqbal justru bangun dan mengikuti Elsaliani ke dapur.


"Tuan!" seru Elsaliani ketika menyadari bahwa Iqbal sedang berada tepat di belakangnya.

__ADS_1


"Nih, tadi aku udah belikan makanan. makanlah!" Jelas Iqbal sambil meletakkan bungkusan makanan di atas meja lalu melangkah meninggalkan dapur.


"Aku akan menyiapkannya, tuan tunggulah sebentar!"


"Jangan hiraukan aku, makanlah! bukannya tadi kamu tidak makan sama sekali di rumah Abi."


"Tapi tuan, yang lapar itu kan tuan buka El. Lagi pula El tidak layak untuk menerima makanan dari tuan." Jelas Elsaliani dan mengembalikan plastik berisi bungkusan nasi tersebut kepada Iqbal.


"Kamu, ashhhhh....!" Teriak Iqbal penuh amarah. Dengan kasar tangan Iqbal membanting plastik tersebut ke lantai, membuat semua isi plastik berserakan di lantai. Iqbal menarik tubuh Elsaliani lalu mendorongnya Kedinding, sikap Iqbal cukup membuat tubuh Elsaliani kembali gemetaran.


"Maafkan El, tuan....tolong maafkan El!" Tangis Elsaliani yang terus saja menutup rapat-rapat kedua matanya, ia tidak sanggup jika harus melihat wajah Iqbal yang saat ini benar-benar di penuhi dengan amarah.


Bukannya berhenti, Iqbal malah semakin mendekati Elsaliani, Iqbal menyentuh wajah Elsaliani lalu memandangnya intens. Tanpa ucapan sepatah katapun Iqbal langsung mengecup kening Elsaliani.


"El, aku...ahssss sudahlah aku mau tidur, dan kamu juga, hm...tidurlah! jangan memancing amarah aku, sudah malam aku butuh istirahat!" Jelas Iqbal dan langsung meninggalkan Elsaliani begitu saja.


Tubuh Elsaliani hanya bisa mematung, tanpa bisa berkata apa-apa. Ia masih saja berdiri tegap dengan mata yang terbelalak seakan masih bingung dan tidak paham dengan apa yang baru saja dia alami. Perlahan ia mencoba memejamkan kembali matanya, hingga air mata kembali menetes. Masih sedikit kaku, tangannya bergerak lalu menyentuh keningnya, membuat perlakukan sang suami barusan kembali menari di ingatannya.


Dengan kerudung yang berantakan dan perasaan yang masih sangat kacau Elsaliani memutuskan untuk ke kamar. Masih dengan perasaan yang tidak menentu, Elsaliani mencoba untuk masuk ke kamar lalu perlahan melangkah menuju tempat tidur, namun kali ini ia kembali di buat kaget oleh sang suami yang berbaring di atas kasur sana dengan mata yang terus menatap ke arah di mana Elsaliani berada.


"Jangan berfikir macam-macam, cepat tidur sebelum mood aku berubah kembali!" Tegas Iqbal.


Mendengar suara Iqbal sontak membuat langkah Elsaliani terhenti.


"Tuan, ah maaf! El salah masuk kamar, mungkin karena efek baru bangun tidur, tolong maafkan El." Pinta Elsaliani dengan mata yang mulai menatap ke seluruh isi kamar, hak tersebut justru membuat Elsaliani semakin kebingungan.


"Aku bilang cepat tidur! jangan bicara sepatah kata pun lagi."


Elsaliani hanya mengangguk tanda mengerti, lalu memutarkan badan untuk kembali ke kamarnya, dengan cepat Iqbal segera meraih tangan Elsaliani, hingga membuat jantung Elsaliani kembali berdetak cepat, rada panik dan takut pun silih ganti bermunculan.

__ADS_1


"Ada apa tuan?" Tanya Elsaliani gugup.


"Aku bilang tidur! ini kamar kamu, cepat tidur!"


"Kamar El? oh ya benar, ini kamar El. Baiklah kalau begitu El tidur sekarang, assalamualaikum!"


Elsaliani kembali melangkah ke tempat tidur dan lekas berbaring dan kali ini Iqbal kembali mendekati L


Elsaliani.


"Bisa aku numpang di sini malam ini?"


Pertanyaan yang Iqbal ajukan sontak membuat Elsaliani kaget dan segera bangun, matanya mencoba menatap wajah Iqbal.


"Tuan, El...baiklah, tuan tidurlah di sini, dan El akan tidur di ruang tamu, El tidak akan mengganggu tuan, kalau begitu selamat malam tuan!"


"Aku ingin di temani sama kamu!"


"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi pada tuan? apa sesuatu yang buruk terjadi? kenapa tuan bersikap tidak seperti biasanya? apa yang sebenarnya terjadi? apa El berbuat salah lagi? jika ia maka dengan penuh rasa bersalah El minta maaf!" Pinta Elsaliani kali ingin dengan pandangan yang tertunduk.


"Sesuatu telah terjadi, dan aku takut bila di tinggalkan seorang diri. Untuk malam ini saja, temani aku!"


"Hm....ba.....baik....lah!"


Iqbal kembali berbaring dengan di ikuti oleh Elsaliani, Iqbal langsung memejamkan matanya mencoba untuk secepatnya tidur. Menit demi menit terus berlalu, namun Elsaliani masih saja tidak bisa menutup mata sedetikpun, perlahan ia mencoba menoleh ke arah sang suami yang telah tertidur lelap, ia terus saja menatap wajah Iqbal hingga tanpa terkendali tangannya bergerak dengan sendirinya menyentuh lembut wajah nan tampan yang telah terlelap damai dalam tidur nyenyak.


"Hamba tidak tau apa rencana-Mu ya Allah, tapi hamba percaya dan yakin kalau pilihan-Mu adalah yang terbaik untuk hidup hamba. Mungkin Engkau memberikan malam penuh bahagia ini sebagai tanda bahwa doa El selama ini telah Engkau ijabah, meski hanya untuk sesaat, tapi ini jauh lebih cukup ya Allah. Dan juga terima kasih atas kesempatan indah ini, terima kasih ya Allah karena telah mengizinkan El menatap wajah suami yang begitu hamba rindukan selama ini, menyentuh wajah indahnya, meski hanya ini kesempatan hamba, hamba sudah jauh sangat bahagia, terima kasih atas anugerah terindah-Mu ini." Ungkap Elsaliani dengan tetesan air mata, dan mencoba untuk menahan tangis sebisa mungkin agar tidak membuat Iqbal terbangun.


Dari balik mata yang terpejam rapat, ternyata Iqbal masih belum benar-benar tertidur lelap, ia hanya berusaha untuk tetap tenang, meski dadanya mulai terasa sesak setelah mendengar rintihan Elsaliani, ia terus mencoba untuk tetap terlihat seperti sedang tertidur lelap.

__ADS_1


"Maafkan aku El! aku mohon maafkan sikap aku, maafkan segala kesalahan aku. Dalam sadar aku telah merenggut tawa bahagia dari dirimu." Gumam hati Iqbal.***


__ADS_2