
Tepat pukul 22.00 mobil Iqbal telah terparkir rapi di garasi mobil miliknya. Iqbal mematikan mesin mobilnya lalu melepaskan sabuk pengaman, ia hendak turun namun Elsaliani mencegahnya, tangan Elsaliani segera menyentuh lengan Iqbal, membuat Iqbal menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Elsaliani yang masih duduk bersandar di jok mobil.
"Kenapa sayang?" Tanya Iqbal yang menarik tangan Elsaliani yang sedari tadi menyentuh lengannya, kini beralih ke dalam genggaman Iqbal.
"Mas..." Gumam Elsaliani dengan suara melemah bersamaan dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Sayang ada apa? kenapa menangis? apa mas salah bicara atau mas ada salah?" Tanya Iqbal khawatir.
Pertanyaan Iqbal malah membuat tangis Elsaliani semakin terisak, membuat Iqbal serba salah. Kedua tangan Iqbal mendekap wajah Elsaliani, mengusap air matanya lalu menatap wajah sang istri yang terus mencoba menghindari tatapannya.
"Please jangan begini! jika mas salah, katakan! biar mas bisa memperbaikinya. Sayang, tolong jangan diam, bicaralah!"
"Mas, El...." Jelas Elsaliani terhenti karena ia tidak bisa mengendalikan tangisnya.
"Coba sayang tenang dulu, sayang kenapa? apa ada yang sakit? apa baby baik-baik saja?"
"Baby oke, El yang nggak oke!" Jawab Elsaliani yang berusaha untuk menghentikan tangisnya.
"Sayang..."
"El nggak mau mas pergi! El nggak mau jauh dari mas, El takut jika mas nggak bersama El. Jangan pergi jauh, jangan pergi." Jelas Elsaliani masih sesekali terdengar isak tangisnya.
"Jadi sayang masih kepikiran soal omongan mas sama kak Erina? sayang dengarin mas, kalaupun mas pergi, mas janji nggak akan lama, mas hanya butuh kepastian tentang keadaan abang Hadi, cuma itu."
"Tapi...."
"Udah, jangan pikirkan hal yang belum tentu terjadi. Mas belum tentu pergi."
"El..."
"Mas paham, tapi sayang tau sendiri kan kalau kepergian abang Hadi juga karena mas. Dia ke sana untuk menggantikan mas, jika sesuatu terjadi pada dia, maka mas adalah orang yang harus bertanggung jawab."
"El paham, El minta maaf! El juga tidak paham kenapa belakangan ini El ingin terus bermanja sama mas, El takut jauh dari mas. El juga risih dengan diri El yang begitu egois, namun berulang kali El coba tapi hasilnya tetap sama, El ingin terus bersama mas di setiap detik."
"Maafkan mas yang tidak bisa menjadi suami yang selalu berada di sisi sayang."
"Jangan minta maaf, ini bukan salah mas, El yang terlalu egois." Jelas Elsaliani yang langsung melingkarkan tangannya di pinggang Iqbal.
"Ayo kita masuk!" Ajak Iqbal.
"Hmmm." Jawab Elsaliani.
Iqbal lebih dulu keluar dari mobil lalu segara membantu Elsaliani keluar dari mobil kemudian menuntun sang istri hingga ke kamar.
--------------------
"Ayo aku antar pulang!" Ajak Hendra.
"Kamu nungguin aku dari tadi?" Tanya Angel.
"Iya."
__ADS_1
"Di sini? udah berapa jam?" Tanya Angel.
"Iya di sini. Nggak lama kok, baru dua jam!" Jelas Hendra yang masih bersandar di pintu mobilnya.
"Apa? dua jam? dan kamu bilang baru? Hendra dua jam itu lama, kenapa nggak langsung masuk aja?" Tanya Angel.
"Angel, dua jam akan terasa lama bila kita menunggu orang yang biasa aja, tapi dua jam akan terasa singkat ketika yang kita tunggu adalah pujaan hati kita."
"Gombal! Lain kali kalau mau ketemu sama aku langsung aja masuk ke kantor, jangan lagi membuang waktumu dengan percuma!"
"Baik tuan putri." Jawab Hendra dengan senyuman.
"Gimana masih mau mengantarkan aku pulang?"
"Pasti dong!" Jawab Hendra.
"Tapi aku belum makan malam, gimana kalau aku traktir kamu? yah itung-itung sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu sudah membantu tim aku menyelesaikan kasus kami." Jelas Angel.
"Dengan senang hati, ayo silahkan masuk!" Jelas Hendra dengan raut wajah bahagia.
Hendra segera berlari untuk membukakan pintu mobil untuk Angel, setelah Angel masuk Hendra kembali menutup pintu dan bergegas ikut masuk ke mobil lalu segera berangkat menuju tempat makan malam yang telah di tentukan oleh Angel. Mobil Hendra melaju menelusuri jalan malam hingga ke tempat tujuan.
---------------------
Pelan-pelan Elsaliani membuka matanya, mata indahnya yang belum sepenuhnya terbuka mulai melirik ke sana-sini mencari sosok sang suami. Setelah memeriksa ke seluruh ruangan, sosok Iqbal tak kunjung ia dapatkan, hal tersebut membuat Elsaliani segera bangun dari tidurnya dan lekas turun dari ranjang.
"Mas, mas, mas....!" Panggil Elsaliani dengan suara yang terdengar panik.
Tak ada jawaban membuat Elsaliani semakin panik dan ketakutan, ia segera keluar dari kamar. Langkah Elsaliani terhenti ketika ia melihat Rizal, Mikeal junior, Ismail dan Adimaja yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Adek..." Seru Rizal ketika melihat kedatangan Elsaliani yang terlihat begitu kebingungan.
"Abang, abi, bapak! sejak kapan kalian di sini? kenapa adek nggak tau?" Tanya Elsaliani masih dengan wajah kaget.
Elsaliani segera mendekat lalu mencium punggung tangan abi, abang dan mertuanya dan terakhir mencium kedua pipi Mikeal junior yang ada di pangkuan Adimaja.
"Mikeal tambah ganteng aja!" Ujar Elsaliani dan kembali mencubit manja kedua pipi gembul Mikeal.
"Adek baru bangun? waaaah macam ratu aja, pasti Iqbal begitu memanjakan adek, bangun pagi kok jam 10, udah mau siang dek." Jelas Rizal sembari mengelus rambut Elsaliani yang masih terurai berantakan.
"Ihhh jangan keras-keras! malu kan sama bapak!" Ujar Elsaliani berusaha menghindar dari tatapan Adimaja.
"Nggak apa-apa kok El, ibu hamil butuh istirahat yang cukup!" Jelas Adimaja.
"Tapi jangan di biasakan juga, masak ia suami di biarkan ngurus dirinya sendiri, sedangkan adek asyik-asyikan tidur." Jelas Ismail.
"Nggak apa kok mas Ismail, El kan lagi hamil, mau gerak aja susah, biar Iqbal belajar mengurus diri yah, itung-itung belajar jadi ayah!" Jelas Ayu yang datang dengan nampan yang berisi gelas yang terisi minuman segar.
"Tuh, Adek setuju sama bunda. Hmm...tapi kenapa semua berkumpul disini? ada apa? kenapa adek nggak tau apa-apa?" Tanya Elsaliani.
"Lah nak Iqbal nggak ngasih tau sama adek, kalau besok itu acara tujuh bulanan adek." Jelas Zulfa yang ikut bergabung.
__ADS_1
"Nggak! Terus mas mana? kok nggak kelihatan?" Tanya Elsaliani ketika menyadari Iqbal tidak bergabung di ruang keluarga.
"Ada barang yang lupa bunda beli, jadi Iqbal pergi untuk membelinya." Jelas Ayu.
"Sendirian?" Tanya Elsaliani.
"Sama Khaira." Jawab Zulfa.
"Kak Khaira? kenapa harus....?" pertanyaan Elsaliani langsung terhenti.
"Nggak cuma mereka berdua, Arumi dan Mikeal juga ikut!" Jelas Rizal.
"Adek nggak nanya!" Cetus Elsaliani.
"Ciih! terus barusan apaan? cemburu?" Goda Rizal.
"Ihh abang bikin kesal deh! siapa lagi yang cemburu, abang kan yang takut kak Arumi CLBK sama abang Mikeal, ayo ngaku..." Jelas Elsaliani dengan mata yang terus menatap intens Rizal.
"Apaan sih!" Cetus Rizal kesal.
"Cieeee yang lagi cemburuan, nggak adek nggak abang sama aja!" Cetus Ayu dengan tawa menggoda.
"Nggak usah cemburu gitu, anak-anak bunda kan is the bets, jadi nggak akan ada yang bisa berpaling, kecuali kalau godaannya secantik Khaira ataupun setampan Mikeal!" Canda Zulfa yang sontak menghebohkan satu ruangan.
"Umi...." Seru Rizal dan Elsaliani hampir bersamaan lalu keduanya beranjak mendekat lalu memeluk Zulfa dengan erat.
"Abi juga mau di peluklah!" Ujar Ismail.
Mendengar permintaan Ismail membuat kedua anak tersayangnya segera beralih memeluknya.
"Sayang abi..." Ucap Rizal dan Elsaliani lalu masing-masing mencium satu pipi Ismail.
"Jadi iri deh!" Ujar Ayu.
"Sayang bunda juga!" Ucap Elsaliani yang beranjak mendekati Ayu lalu memeluk Ayu pelan, sebisa mungkin meski harus terhadang oleh perut buncitnya.
"Bapak juga, adek sayang semuanya!" Ujar Elsaliani yang beralih merebahkan kepalanya di pundak Adimaja yang berada di sampingnya.
"Aku juga sayang semuanya, sayang tante El juga." Seru Mikeal junior lalu bergelayut di lengan Elsaliani.
"Tante juga sayang Mikeal." Ujar Elsaliani dengan senyuman bahagia.
Seluruh isi ruangngan terlihat begitu bahagia dengan apa yang saat ini mereka miliki.***
______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️
__ADS_1
Love You All😘😘😘😘