
Iqbal masih duduk membisu, otaknya terus saja berputar mencari jawaban yang tepat untuk melepaskan dirinya dari tuduhan Ayu. Ia tidak ingin semuanya berakhir begitu saja, ia tidak ingin Ayu menjauhkan Elsaliani dari dirinya, karena jika itu terjadi, maka hidup Iqbal akan kacau dan tak berarah lagi, karena saat ini, Elsaliani lah satu-satunya prioritas bagi dirinya.
"Bunda, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu, tolong janji sama aku, setelah aku bicara jujur sama bunda, tolong jangan pisahkan El dari aku. Aku pasti akan menggila jika jauh dari El." Jelas Iqbal yang kini bersimpuh di lutut Ayu, kedua tangan Iqbal menyentuh lutut Ayu dan juga menenggelamkan wajahnya di sana.
Perlahan Ayu malah mengelus lembut rambut Iqbal, lalu mengecup pelan kening Iqbal.
"Maaf jika bunda ikut campur dengan rumah tangga kamu, bukan bunda tidak percaya sama kamu, hanya saja bunda terlalu sayang sama El, bunda nggak mau El terluka terlebih kamu penyebab dia terluka. Sayang, bunda tau kalau kamu punya hak seutuhnya terhadap El, tapi tetap saja cara kamu salah. Semalam kamu pasti memaksakan hasrat mu pada El kan? Iqbal, El sedang hamil besar, harusnya kamu tidak terlalu memaksakan keinginanmu padanya."
"Tunggu, tunggu, apa maksud dari ucapan bunda? aku sama sekali tidak mengerti." Jelas Iqbal yang mulai mengerti dengan arah pembicaraan Ayu.
Setelah mencerna dengan baik maksud dari pembicaraan Ayu, kini Iqbal paham jika yang sedang Ayu maksud bukanlah tentang masa lalunya.
"Iqbal, kamu suami El, kamu punya hak terhadapnya tapi ingat, selain hak kamu juga punya kewajiban dan tanggung jawab. Selama kamu pergi, El tidak bisa tidur dengan nyenyak, wajahnya begitu pucat, dia begitu kelelahan, bunda dan bapak sangat mengkhawatirkan kesehatan istrimu Iqbal. Dokter mengatakan kalau keadaan El sangat lemah, fisiknya begitu rapuh saat ini, jadi bunda harap kamu jangan terlalu memaksakan nafsumu itu, jangan hanya menuntut hak padanya tapi jaga dia dengan baik. Meski dunia ini begitu luas, tapi bisa bunda pastikan, nggak ada wanita yang seperti El, wanita yang selalu patuh pada sang suami bahkan dia begitu menjaga kehormatan suaminya dengan sangat baik."
"Aku tau bunda, kalau istri aku adalah istri terbaik di dunia ini, terima kasih karena memilih El untuk aku. Aku janji, kalau aku akan menjaga menantu bunda dengan sangat baik."
"Jaga dia dengan baik, meski rindu menggebu jangan lagi buat bibir El bengkak seperti itu. El tidak akan menolak kamu, tapi kamu juga harus tau diri. Bunda percaya kalau anak bunda bisa menjadi suami yang baik" Jelas Ayu yang langsung merangkul Iqbal ke dalam pelukannya.
Iqbal semakin mengeratkan pelukannya, sosok manja Iqbal tiba-tiba bermunculan, ia terus saja menangis di dalam pelukan Ayu, dengan lembut Ayu mengusap bahu sang anak semata wayangnya, keduanya begitu larut dalam kasih sayang dan belaian yang belakangan jarang mereka rasakan.
Dari kejauhan sana, Elsaliani, Adimaja dan Mikeal terus menatap haru pada Iqbal dan Ayu, ketiganya tersenyum bahagia menyaksikan pemandangan langka yang sedang berlangsung di ruang tamu.
"Begitulah abang Iqbal, El. Meski dia terlihat sangar dan kasar, tapi saat bersama bunda dia terlihat begitu polos dan manja. Banyak hal yang terkadang tidak aku pahami dari diri abang Iqbal, meski aku sudah tinggal selama puluhan tahun bersamanya, aku tetap tidak bisa mengenalnya dengan baik. Terkadang mulutnya begitu sadis, perlakuannya begitu kasar tapi dalam waktu yang bersamaan dia bisa menjadi sosok yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Jika di depan lawan dia sedingin es, bahkan terlihat bak monster yang mengerikan, namun terkadang juga ia berubah menjadi pribadi yang begitu ramah bahkan tak jarang menjadi sosok yang begitu gesrek " Jelas Mikeal dengan mata yang berkaca-kaca mengingat semua perlakuan Iqbal yang begitu menjaga dan menyayangi nya dari balik perlakuan kasarnya.
"Mikeal benar El, bapak juga tidak bisa memahami anak bapak dengan begitu baik. Ada kalanya bapak merasa bahkan dia bukanlah Iqbal anak bapak, namun sesaat kemudian dia menjadi putra kecil bapak yang begitu menggemaskan. El, tolong jaga putra bapak dengan baik, hanya kamu yang bisa membuatnya tenang, hanya kamu yang bisa bertahan dengan keanehan yang ada dalam diri Iqbal."
"Bapak, El janji kalau El akan menjaga mas Iqbal bahkan jika harus dengan nyawa El sekalipun. El sayang kalian semua." Ungkap Elsaliani.
Mendengar jawaban Elsaliani, membuat Adimaja langsung merangkul Elsaliani dengan tangan kanannya, lalu di ikuti dengan tangan kiri yang menarik bahu Mikeal agar datang ke dalam dekapannya.
"Terima kasih banyak sayang, bapak bahagia memiliki kalian bertiga dalam hidup bapak. Kalian anak-anak bapak, yang sangat bapak sayangi." Jelas Adimaja.
"Apa kami boleh bergabung? bagaimana kalau kita adakan pelukan massal?" Seru Mikeal dengan suara lantang, membuat Iqbal dan Ayu segera menoleh kearah Mikeal.
__ADS_1
"Ayo sini sayang!" Panggil Ayu yang merentangkan kedua tangannya.
Mikeal dan Elsaliani segera mendekat lalu memeluk Ayu dengan erat, Iqbal kembali ikutan. Ketiganya begitu betah berada dalam dekapan Ayu, Adimaja yang masih mematung di tempat semula, kini juga ikut mendekat.
"Semoga keluarga kita, akan bahagia selamanya." Ucap Adimaja dengan tangan yang mengusap lembut rambut Ayu.
"Bunda sayang kalian semuanya!" Ucap Ayu dengan wajah yang begitu memancarkan kebahagiaan.
-----------------------
"Dasar curang! kalian semua pasti bersekongkol kan? udah sebelum nih ponsel aku banting, lebih baik jauhkan permainan bodoh ini dari hadapanku!" Gumam Iqbal kesal.
Sedari tapi, Iqbal terus saja di hantam oleh yang lainnya. Bahkan setelah bermain selama satu jam lebih, Iqbal tetap saja tidak bisa masuk ke dalam batas aman.
Setelah sholat magrib berjamaah, semuanya berkumpul di ruang keluarga, mereka lesehan di karpet sambil bermain LUDOKU. Mikeal, Elsaliani dan Adimaja seakan terus berkompromi untuk mengalahkan Iqbal, mereka selalu saja mencegat Iqbal di berbagai posisi membuat Iqbal kesal dan kewalahan dengan kerja sama ketiganya.
"Uuuu bilang aja takut kalah!" Seru Mikeal.
"Sayang, berhenti berpihak sama bocah itu!" Gumam Iqbal kesal dan langsung mematikan ponsel milik Mikeal yang sedari tadi mereka gunakan untuk bermain.
"Dasar curang!" Ledek Adimaja.
"Hahhh! kenapa pelaku malah menuduh korban?" Ketus Iqbal tak terima dengan tuduhan Adimaja.
"Udah, mas kalah! buruan gih berangkat." Jelas Elsaliani.
"Sayang tega nih nyuruh mas beli Bakso malam-malam gini."
"Kan tadi kesepakatannya gitu, yang kalah beli bakso." Jelas Elsaliani.
"Udah, pergi sana!" Seru Ayu yang ikutan mendiskriminasikan Iqbal.
"Eh bocah, elo sana yang pergi!" Seru Iqbal dengan tangan yang langsung mendorong tubuh Mikeal.
__ADS_1
"Ogah! peraturan tetap peraturan dong!" Jelas Mikeal.
"Haissssh!" Gumam Iqbal sambil bangun, dan segera mengambil kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja sana.
"Mie bakso ayam ya!" Seru Ayu dengan tawa penuh kemenangan.
"Punya aku banyakin lemaknya ya!" Seru Mikeal dengan sombongnya.
"Untuk bapak jangan pakek seledri ya!" Jelas Adimaja.
"El pesannya dua porsi ya!" Jelas Elsaliani dengan senyuman lebar.
"Akan hamba turuti semua perintah raja dan ratu! Tunggu aja aku akan membuat kalian semua menyesal karena perlakuan kalian malam ini!" Ancam Iqbal dengan tatapan dingin dan bergegas pergi.
Kepergian Iqbal di susul dengan gelak tawa penuh kepuasan karena berhasil mengerjai Iqbal. Mereka semua sampai tertawa terpingkal-pingkal ketika mengingat exspresi wajah Iqbal yang begitu kesal dengan ulah mereka semua.
"Emang enak di kerjai!" Seru Mikeal puas.
"Sekali-kali dia harus merasakan posisi kita saat dia bertingkah bak raja." Ujar Ayu.
"Jadi penasaran gimana mas membeli bakso dengan wajah sedingin tadi, yang ada tukang jual bakso bakal ketakutan!" Ujar Elsaliani.
"Nggak kebayang deh, gimana rasanya jadi tukang bakso yang bakal berhadapan dengan abang Iqbal."
Keempatnya kembali tertawa ketika membayangkan nasib tukang bakso yang harus melayani pembeli seperti Iqbal, pasti malam ini akan menjadi malam tersial baginya.***
_______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n Vote@ ya manteman cemua@😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1