Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
87.


__ADS_3

Semuanya telah siap, lengkap dengan segala perlengkapan yang melekat di tubuh mereka masing-masing. Seluruh anggota tim pasukan khusus kini telah siap di dalam mobil yang akan mereka gunakan untuk berangkat menuju lokasi misi yang akan mereka laksanakan pagi ini.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya mobil mereka terhenti tepat di depan sebuah rumah sakit yang memang telah lama tidak lagi beroperasi, gedung tersebutlah yang telah mereka pilih sebagai tempat pertemuan antara tim Iqbal dengan pasukan yang telah menyandra tiga orang warga setempat. Setelah semuanya keluar dari mobil, Iqbal langsung memberi aba-aba.


"Mikeal dan Alam masuk dari pintu darurat, bersiap pada posisi plan A, dan Hendra ikut aku, kita akan langsung berhadapan dengan mereka." Jelas Iqbal.


"Siap kapten!" Jawab ketiganya serentak.


Mikeal dan Alam langsung beraksi, mereka langsung menjalankan perintah Iqbal.


Sejenak menatap pada gedung yang ada di seberang sana, memastikan bahwa Luqman telah bersiap di posisinya. Dengan gagahnya Iqbal mulai masuk dengan diikuti oleh Hendra.


Iqbal dan Hendra terus mencari ke setiap ruangan, hingga keduanya sampai di lantai tiga, tepatnya di depan sebuah ruang yang bertulisan VIP, pintu yang terbuka lebar membuat Iqbal dan Hendra menoleh ke dalam sana, seketika suara tepuk tangan memecah kesunyian yang sedari tadi mencengkam.


"Tidak ada negosiasi! jika kalian ingin mereka kembali dengan selamat serahkan yang kami minta, jika tidak maka kalian akan ikut mati di tempat ini bersama mereka." Tegas lelaki sangar tersebut.


Lelaki dengan wajah yang dipenuhi dengan jambang dan kumis tipis, seakan menambah aura sangar yang terpancar dari dirinya. Ia masih duduk santai di atas sebuah bangku dengan pandangan tajam kearah Iqbal dan Hendra, di sisi kiri lelaki tersebut seorang gadis dan dua lelaki yang duduk berlutut di lantai dengan kedua tangan yang diikat kebelakang, ketiganya di jaga oleh enam lelaki berbadan kekar dengan wajah yang ditutup dengan kain hitam.


"Barangnya ada di mobil." Tegas Iqbal.


"Kamu mengajak ku bermain? tembak!" Gumam lelaki tersebut yang tidak lain adalah bos dari pasukan pemberontak tersebut.


'Dorrr'


Dengan cepat Iqbal menarik pelatuk pistol yang ada di tangan kirinya, peluru mengenai udara, membuat keenam bawahan lawan menatap Iqbal. Mereka kalah cepat dari Iqbal, membuat sang bos mengernyitkan dahinya, tanpa aba-aba keenam lelaki sangar tersebut langsung mengarahkan senjata mereka pada Iqbal dan Hendra.


"Turunkan senjata kalian, aku akan bermain sebentar dengan monster itu!" Jelas sang bos sambil bangun dari bangku.


"Aku tegaskan sekali lagi, aku membawa barang sesuai pesanan kalian, sepuluh unit senjata, bom serta peluru dengan jumlah yang sesuai dengan permintaan kalian." Tegas Iqbal yang masih mematung di tempat semula.


"Pastikan ucapanya!" Perintah sang bos yang langsung membuat dua bawahannya segera berlari meninggalkan ruangan tersebut.


"Kapten Ahmad Iqbal Ardimas Saka, kita lihat saja, jika sampai kamu berbohong, maka bersiaplah!" Tegasnya.


"Oke!" Tegas Iqbal.


Ruangan kembali sunyi hingga langkah kaki kembali terdengar, bawahan yang tadi turun untuk memastikan barang mereka kini telah kembali dan langsung memberi laporan pada sang bos.


"Sesuai dengan permintaan kita." Jelas salah satu lelaki tersebut.


"Oke!" Tegas sang bos lalu bersiul dua kali, seolah sedang memberikan kode.


sesaat kemudian, segala situasi berubah telak. Dua lelaki yang menjadi sandraan mereka langsung bergerak mengarahkan senjata mereka tepat di kepala sang gadis. Seketika dua bawahan yang barusan kembali kini mengarahkan senjatanya tepat di kepala sang bos lalu suara peluru yang meluncur tanpa ampun mendarat di dada keempat bawahan lainnya hingga membuat mereka terkapar di lantai. Pisau Iqbal dengan mulus menancap pada tangan kedua sandraan tersebut, membuat senjata yang ada di tangan keduanya terjatuh.


"Berapa bayaran yang kamu terima untuk kekacauan ini?" Tanya Iqbal yang mendekat pada bos.


"Ciiih, apa kalian bermata ular? haissssh!" Umpat bos tersebut dengan tawa sinis.


Ketika Iqbal tepat berhadapan dengan lelaki berkumis tersebut, di saat itu pula kedua pistol tersebut berbalik mengarah ke kepala Iqbal.

__ADS_1


"Kamu pikir mereka rekan mu? naif sekali!" Cela Bos dengan tawa puas karena berhasil mempermainkan Iqbal.


Untuk sesaat Iqbal benar-benar kebingungan, karena sedari tadi ia mengira bahwa yang kembali tadi adalah Mikeal dan Alam, sesuai dengan plan A. Untuk beberapa menit terakhir tadi, Luqman mengatakan kalau kedua lelaki yang menjadi sandra adalah palsu, mereka sedang menipu karena cuma gadis tersebutlah satu-satunya sandra yang benar, hingga membuat Iqbal fokus pada gerak keduanya, hingga lalai memerhatikan sosok yang baru saja kembali.


"Kalian...!" Seru Hendra geram yang ingin bergerak, namun Hendra menghentikan aksinya ketika Mikeal dan Alam di seret ke ruangan tersebut oleh empat orang lelaki lainnya.


"Oh, masih kurang satu kan! kita mulai jika semua anggota telah lengkap!" Jelas Bos.


"Vian benar-benar ********!" Gumam Hendra penuh emosi ketika melihat Luqman yang di seret dengan beberapa luka di wajahnya.


"Tempat peristirahatan terakhir kalian, semoga neraka menyambut kalian dengan tenang!" Tegas sang bos dengan gelak tawa penuh dengan kemenangan.


"Satu, dua, tiga, doooor! apa harus ku pencet tombolnya menit ini juga, biar ruang VIP ini jadi kuburan masal!" Jelas Hendra.


Hendra melipat lengan seragam hitam yang melekat di tubuhnya, hingga menampilkan bom waktu yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Bagaimana kalau kita mati bersama disini?" Tanya Iqbal lalu mengambil kesempatan untuk menusuk bahu kedua lelaki di sisinya.


Setelah keduanya terkapar tak berdaya, kini tangan Iqbal berhenti tepat di leher sang bos, dengan pisau tajam yang siap memisahkan kepala tersebut dari badannya.


"Apa harus aku lanjutkan?" Tanya Iqbal.


"Turunkan senjata kalian!" Teriak sang bos yang langsung membuat semua bawahannya menurunkan senjata mereka.


"Mikeal, lepaskan gadis itu! bawa dia keluar dari gedung ini!" Perintah Iqbal.


"Jauhkan pisaumu dari leherku!" Gumam bos.


"Oke!" Jawab Iqbal.


Saat Iqbal agak mundur, saat itu pula sebuah peluru yang datangnya entah dari mana mendarat tepat di perut bagian kanan Iqbal.


"Kapten!" Teriak Luqman yang langsung menarik tubuh Iqbal untuk merunduk, sedangkan Alam dan Hendra memanfaatkan keadaan tersebut dengan membantai empat lelaki yang sedari tadi menodong mereka dengan pistol, di tengah kepanikan bos memilih untuk kabur dari situasi tersebut. Namun langkahnya terhenti, tubuhnya mematung disaat ujung pistol menempel tepat di keningnya.


"Bawa Iqbal keluar!" Perintah sang komandan yang baru saja muncul.


"Siap komandan!" Luqman segera memapah Iqbal keluar dari gedung tersebut.


"Penggelapan senjata, pelopor pemborontakan, pencurian, percobaan pembunuhan! Kamu akan membayar semuanya, polisi akan membuatmu membusuk di penjara. Siapapun yang ada di belakangmu katakanlah, karena hanya dengan begitu hukumanmu bisa berkurang." Tegas komandan.


"Kurang ajar!" Gumam sang bos.


"Seret dia ke kantor polisi!" Titah Komandan.


"Siap komandan!" Jawab Alam dan Hendra hampir bersamaan dan lekas menyeret lelaki sangar tersebut.


"Komandan!" Seru Vian yang baru tiba di lokasi kejadian.


"Pastikan dia tidak menyebut namamu dalam sidang, karena jika itu terjadi maka militer bukan lagi tempat mu! ingat itu." Tegas komandan lalu ikut meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Awas kamu Iqbal, aku akan membuatmu membayar semua ini. Kau harus membayarnya dengan nyawamu!" Gumam Vian penuh kemarahan.


-------------------


"Tunggu....!"


Teriakan seorang gadis yang terus berjalan mendekati keenam lelaki tampan yang telah bersiap dengan seragam rapi dan ransel yang menempel di bawa mereka masing-masing. Gadis yang mengenakan dress biru dengan rambut panjang yang terurai terus saja mendekat, membuat semua yang berada di lapangan tersebut menatap heran padanya.


"Kenapa?" Tanya Luqman.


"Hmmmm terima kasih karena sudah menyelamatkan aku." Ucap gadis manis tersebut dengan senyuman menawan di wajahnya. Gadis itu tampak kesusahan berbicara dengan bahasa Indonesia, hingga terdengar lucu dan menggemaskan.


"Itu sudah menjadi tugas kami!" Ujar Alam.


"Apa sekarang kamu baik-baik saja?" Tanya Mikeal.


"Iya, berkat kalian semua." Jawabnya.


"Siapa namamu?" Tanya Hadi.


"Sayida. Hmmmm" Jawab Sayida yang kini mendekati Iqbal.


"Maaf karena membuat kamu terluka. Nah, terimalah!" Ujar Sayida sambil menyodorkan sebuah syal coklat.


"Tidak perlu, dan soal aku terluka, itu sudah menjadi bagian dari tugasku. Mulai hari ini, jagalah dirimu dengan baik, jangan biarkan orang tuamu sedih karena memikirkan keadaanmu." Jelas Iqbal.


"Aku akan mengingat pesanmu! Tapi tolong ambillah." Ujar Sayida.


"Baiklah!" Jawab Iqbal.


Sayida tidak menyerahkan syal tersebut ke tangan Iqbal, iya malah memasangnya di leher Iqbal.


"Apa kita boleh berfoto? sebagai kenang-kenangan!" Jelas Sayida.


"Ayyo!" Ujar Hendra.


Mereka merapat dan 'Creeek' senyuman merekah yang terpancar indah membuat hasil foto terlihat begitu sempurna.


Suara helikopter yang semakin mendekat, membuat Sayida kecewa karena tidak lagi bisa berlama-lama dengan para lelaki tampan. Sayida menjauh ketika sang komandan mendekati mereka, sejenak memberikan pidato akhir dan ucapan terima kasih serta permohonan maaf atas beberapa kejadian yang membuat Iqbal marah selama berada di sana, lalu semuanya memberi hormat pada sang komandan di ikuti oleh semua prajurit yang berkumpul untuk mengantarkan Iqbal dan timnya kembali ke tempat asal mereka.


Akhirnya, hari yang mereka nantikan tiba, kini saatnya mereka kembali ketanah air meski waktu mereka berada di sana baru empat hari. Hadi ikut pulang bersama tim Iqbal. Keenam lelaki tersebut segera memasuki helikopter yang akan mengantarkan mereka. Pulang, yah akhirnya Hadi pulang pada orang-orang yang selama tujuh bulan ini begitu ia rindui.***


________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n Vote@ ya manteman😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2