
"El, kamu yakin nggak apa-apa mas tinggal sendirian di rumah?" Tanya Iqbal.
Di teras sana, Elsaliani hanya duduk di samping Iqbal dengan pandangan yang terus menatap wajah Iqbal, sedangkan Iqbal terlihat begitu fokus pada tangan yang terus mengikat tali sepatunya.
"El...."Panggil Iqbal sembari menoleh kearah Elsaliani.
"Hmm, El oke!" Jawab Elsaliani dengan senyuman.
"Benaran nih? yakin?" Tanya Iqbal memastikan. Tangan Iqbal mengusap lembut kepala Elsaliani yang terbalut kerudung berwarna armi.
"Iya." Jawab Elsaliani lalu menundukkan pandanganya.
Perlahan Iqbal menyentuh wajah Elsaliani, mengangkat dagunya agar mata indah Elsaliani menatap wajahnya.
"Hei sayang! kalau kamu nggak mau sendiri mas nggak akan berangkat!" Jelas Iqbal lalu mengecup lembut bibir sang istri.
"El nggak kenapa-napa! lagi pula El udah terbiasa mas tinggal, kan cuma setengah hari aja, biasanya juga sampai berminggu-minggu kan?"
"Please jangan bahas lagi tentang kebodohan mas waktu itu! mas mengaku bersalah, karena telah menyia-nyiakan El, mas egois, mas terlalu mengedepankan dendam yang tak beralasan pada El sehingga membuat hati mas tidak ingin sama sekali mengenal El, mas langsung memutuskan untuk melampiaskan amarah mas secara brutal pada El. Maaf! maafkan mas, El!"
"Nggak ada yang salah, nggak ada yang harus di maafkan. El paham dengan keadaan kita! mas pergilah ntar telat loh!" Ujar Elsaliani sembari mencuil hidung mancung milik Iqbal.
"Ohoooo, udah mulai berani nyentuh ya? pada hal mas nggak minta loh!" Goda Iqbal.
"Ma....maaf, El minta maaf tuan!" Pinta Elsaliani dengan wajah yang langsung berubah ketakutan.
Elsaliani segera menjauh dari Iqbal, namun dengan sigap Iqbal langsung menarik tangan Elsaliani, membuat tubuh Elsaliani langsung beralih kedalam pangkuannya. Mata Iqbal menatap Intens setiap inci dari wajah Elsaliani.
"Semua yang ada pada tubuh mas adalah milik El, apapun. Jadi El bebas mau menyentuh yang mana saja. Mas halal buat El."
"Tapi....!"
"Mau menyentuh yang mana?" Goda Iqbal dengan terus menuntun tangan Elsaliani menyentuh bagian wajahnya, mulai dari kepala, kening, telinga, hidung pipi, bibir, dagu lalu sentuhan tersebut terhenti di dada bidang Iqbal. Sikap Iqbal sontak membuat Elsaliani kaget dan langsung menarik tangannya yang masih melekat di bagian dada Iqbal.
"Kenapa? Apa El jijik sama mas? apa sebegitu buruknya mas hingga El tidak ingin menyentuh mas?" Tanya Iqbal.
"Bu.....Bu.....kan! El, El, hanya tidak terbiasa melakukannya!"
"Ya udah berarti mulai sekarang harus El biasakan! gampang kan." Jelas Iqbal dengan senyuman mesumnya.
"Udah, mas berangkat sekarang! ntar telat." Ujar Elsaliani dan langsung bangun dari pangkuan Iqbal.
"Ya udah mas berangkat sekarang." Ujar Iqbal dan segera beranjak menuju mobil.
"Jangan bukakan pintu untuk orang yang tidak El kenal, jangan kemana-mana, tetap di rumah sampai mas pulang!" Tegas Iqbal lagi dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Iya, hati-hati mas!" ucap Elsaliani dengan senyuman lebar ke arah sang suami.
Setelah memastikan bahwa Elsaliani telah benar-benar masuk, barulah Iqbal pergi.
__ADS_1
--------------------------------
Kelima anggota tim pasukan khusus sedang berkumpul di asrama mereka. Semuanya tampak begitu serius dan fokus dengan apa yang sedang mereka rundingkan, hingga jarum jam menunjuki angka 12 barulah mereka mengakhiri rapat mereka hari ini.
"Mikeal, cepat selesaikan strategi pengepungan yang akan kita gunakan kali ini, aku mau semuanya akurat, segala aspek dan kemungkinan yang akan terjadi harus di perkirakan dengan matang, aku mau kita bisa menangani segala masalah yang timbul dengan sigap. Kamu ahli di bidang ini, aku percaya dengan hasil kerjamu." Jelas Iqbal.
"Baik, besok aku akan menyelesaikannya!" Jawab Mikeal tegas dan penuh rasa tanggung jawab.
"Si bungsu memang paling ahli lah dalam bidang begini. Aku bangga padamu!" Ujar Alam sambil merangkul pundak Mikeal.
"Aku juga bangga sama kamu!" Ujar Luqman yang ikut merangkul pundak milik Mikeal yang sebelahnya lagi.
"Dasar, emang maunya kalian kan begitu, biar kalian nggak usah pakai otak buat mikir!" Gumam Hendra dengan nada bercanda.
"Nah itu kamu tau!" Jawab Luqman dengan di iringi tawa. Yang lainnya juga ikut tertawa.
Di saat semuanya larut dalam candaan mereka, disaat itu pula pintu asrama mereka di buka dari luar, membuat kelimanya segera menghentikan tawa mereka lalu segera menoleh pada sosok yang kini telah berdiri tepat di depan pintu sana.
"Ada apa?" Tanya Iqbal dingin.
"Kita harus bicara!" Tegas Lestari dan melangkah masuk.
"Kalau gitu kami duluan, sampai jumpa besok!" Ujar Alam langsung bangun dengan di ikuti oleh Luqman, Hendra dan Mikeal.
"Kalian tetap di sini, karena aku dan Iqbal yang akan keluar dari sini. Ayo Iqbal!" Jelas Lestari yang langsung menggandeng tangan Iqbal.
"Kita mau kemana? aku harus pulang!" Tegas Iqbal.
"Berhenti memanggilnya dengan sebutan itu! dia istri aku." Tegas Iqbal.
"Hah! wow, ikut aku sekarang, atau semua yang ada di asrama ini akan tau tentang kamu, aku dan gadis jelek itu." Ancam Lestari dan langsung keluar.
"Sebaiknya kamu ikuti dia, selesaikan semuanya secara baik-baik." Saran Alam.
"Iya, apapun keputusanmu, siapapun yang kamu pilih nantinya, kamu harus mengakhirinya dengan cara baik." Jelas Luqman yang memang terkenal dengan sikap bijaksananya.
"Baiklah!" Jawab Iqbal mengalah.
"Aku percaya kamu pasti bisa mengatasinya dengan baik. Bos mafia aja tepar nah ini cuman seorang cewek aja, masak nggak bisa..." Goda Hendra.
"Dasar kamu...." Gumam Iqbal dengan kaki yang langsung menendang bagian betis Hendra, membuat lelaki humoris tersebut langsung meringis kesakitan.
"Auwwww!" Jerit Hendra yang di ikuti tawa teman-teman lainnya.
"Hmm...Mikeal, boleh aku minta tolong?" Tanya Iqbal ragu-ragu.
"Boleh, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Mikeal.
"Hm...tolong temani El sampai aku pulang, aku akan cepat menyelesaikan masalah aku dengan Lestari. Aku hanya takut kalau kondisi El akan memburuk jika aku tinggal terlalu lama!" Jelas Iqbal.
__ADS_1
"Hm....baiklah, aku akan menjaga El." Jawab Mikeal.
"Aku juga ikut!" Ujar Hendra bersemangat.
"Ikut kemana?" Tanya Alam.
"Jagain El, diakan ipar kita." Jawab Hendra.
"Kalau gitu aku juga ikut!" Ujar Alam.
"Aku juga!" Seru Luqman.
"Kalian serius?" Tanya Iqbal.
"Emang muka kami, muka bercanda apa? ayo Mikeal!" Jelas Luqman.
"Baiklah." Jawab Mikeal dan langsung mengikuti Luqman yang telah beranjak lebih dulu.
"Udah tenang aja, kami akan menjaga El dengan baik!" Jelas Alam.
Alam dan Hendra pun segera mengikuti Luqman dan Mikeal, keempatnya langsung meluncur menuju rumah Iqbal. Sedangkan Iqbal bergegas mengikuti Lestari untuk menyelesaikan masalah diantara keduanya.
----------------------------------
"Haishhhh! kalian pasti main curang kan? masa iya aku selalu yang mati, nggak seru sama sekali" Protes Hendra.
"Emang nasib Abang aja yang sial!" Gumam Mikeal membuat yang lainnya tertawa girang.
Semenjak mereka sampai di rumah Iqbal, mereka sepakat untuk main permainan LUDOKU yang ada di ponsel milik Mikeal. Mereka bermain di ruang tamu, permainan semakin seru karena peraturan yang mereka tatapkan, sejak awal permainan mereka sepakat bahwa yang tersingkirkan maka wajahnya akan di coret dengan lipstik. Permainan sudah berlangsung selama lima belas menit, dan wajah milik Hendra adalah wajah yang menerima coretan terbanyak dengan jumlah sepuluh coretan, sedangkan Alam memiliki empat coretan, Elsaliani dengan enam coretan dan Wajah Mikeal tidak tersentuh sama sekali, karena memang sedari tadi Mikeal selalu saja berhasil lolos dari buruan ketiga lawannya. Luqman hanya menjadi penonton yang baik atas pertandingan yang berlangsung semakin memanas.
Di saat mereka sedang seru-serunya bermain di saat itu pula bel pintu depan terdengar membuat kelimanya saling memandang.
"Biar aku yang lihat, kalian lanjutkan mainnya!" Jelas Luqman dan langsung berjalan menuju pintu depan.
Sedangkan yang lainnya sejenak menghentikan permainan mereka, dengan pandangan yang terus menatap kearah pintu, harap-harap cemas ingin tau siapa tamu yang datang.
"Bunda, bapak!" Seru Elsaliani dan Mikeal hampir bersamaan ketika melihat tamu yang baru saja masuk dengan di ikuti oleh Luqman di belakang keduanya.
Elsaliani dan Mikeal segera bangun dari duduk mereka, sikap Mikeal dan Elsaliani jelas membuat tanda tanya besar di kepala tiga rekan lainnya, yang masih menatap bingung ke arah Mikeal.
"Mikeal, lama nggak ketemu, eh ternyata udah besar gini anak bunda!" Ujar Ayu dan langsung memeluk erat tubuh Mikeal.
Aksi Ayu semakin membuat Luqman, Hendra dan Alam kebingungan.***
_______________________
Jangan lupa LIKE, KOMEN n VOTE@ ya manteman semua😊😊
Tetap setia bersama Cinta Elsaliani 🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️