
Elsaliani masih duduk mematung di atas kasur, sedari tadi ia terus memperhatikan Iqbal yang sedang mengepac segala keperluannya ke dalam ransel. Awalnya Elsaliani ingin membantu sang suami, namun dengan tegas Iqbal melarangnya, ia tidak ingin membuat Elsaliani lelah. Setelah siap, Iqbal meletakkan ransel yang telah terisi penuh tersebut tepat di depan pintu kamar mereka, dan kini ia mulai bersiap-siap. Elsaliani melangkah mendekati Iqbal yang sedang mengkancingkan seragam tugasnya.
"Biar El bantu!" Ujar Elsaliani yang langsung mengambil alih.
"Terima kasih!" Ucap Iqbal dengan senyuman.
Tangan Iqbal mengacak rambut Elsaliani lalu mengecup lembut kening Elsaliani.
"Sudah, ada lagi yang bisa El bantu?" Jelas Elsaliani setelah menyelesaikan semuanya.
"Hmmmmm, bisa rapikan rambut mas?"
"Dengan senang hati!"
Elsaliani langsung mengambil sisir lalu kemudian berusaha untuk menyisir rambut sang suami. Elsaliani tampak kesusahan melakukannya, tubuh Iqbal yang begitu tinggi di tambah perut besar yang membuatnya susah bergerak membuat Iqbal terkekeh geli.
"Dasar pendek!" Seru Iqbal yang langsung duduk di kursi dengan tangan yang mencuil nakal hidung Elsaliani.
"Iiih, bukan El yang pendek, tapi mas yang terlalu tinggi! makan apa sih sampai bisa tinggi menjulang seperti ini?" Protes Elsaliani.
"Tuh dengar baby, uma marah karena ayah bilang pendek, pada hal emang iya kan uma pendek. Jadi mending baby mirip sama ayah aja, biar nggak pendek!"
"Nggak usah di dengerin baby! baby boleh mewarisi wajah ayah yang begitu sempurna, tapi nggak usah tingginya, ntar yang ada uma kalian bully setiap hari karena pendek."
Iqbal sontak tertawa mendengar ucapan Elsaliani, apa lagi dengan tingkah yang begitu manja membuat Iqbal semakin gemas saja.
Iqbal menarik tubuh Elsaliani agar lebih dekat dengannya, lalu menyentuh lembut kedua pipi Elsaliani.
"Sayang, mas janji, kalau mas nggak akan lama. Mas akan segera pulang, jaga baby dan juga jaga kesehatan sayang."
"Hmmmm, El akan menunggu mas pulang, pergilah, El dan baby selalu mendoakan yang terbaik untuk mas. Titip cinta El, mas jaga dengan baik!"
"Pasti sayang!"
Iqbal hendak bangun dari duduknya, namun dengan spontan kedua tangan Elsaliani mencegahnya, membuat Iqbal kembali terduduk di kursi.
"Kenapa sayang?"
Tanpa jawaban apa-apa, Elsaliani langsung mencium bibir Iqbal. Saat menyadari apa yang sedang ia lakukan, dengan cepat Elsaliani langsung menghentikan aksinya dan segera memalingkan wajahnya kearah lain, mencoba menghindari tatapan maut Iqbal.
"Yakin sudah cukup? mas perginya seminggu loh!" Goda Iqbal yang semakin membuat wajah Elsaliani memerah sempurna.
"Tadi, hmmmm....tadi itu..."
"Baby yang minta?"
"Mas....!"
Disaat Elsaliani masih kebingungan dengan apa yang baru saja ia lakukan, Iqbal langsung mencium sang istri. Setelah puas dengan aksinya, perlahan Iqbal menjauhkan wajahnya dari wajah Elsaliani.
"Tadi baby yang minta, dan barusan mas yang mau. Apa sayang tidak menginginkannya? apa cuma mas dan baby aja? sayang...!"
'Cup' bibir Elsaliani mendarat sempurna di bibir milik Iqbal.
"Dari El..." Tegas Elsaliani dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"I love you!" Ujar Iqbal mendekap erat tubuh Elsaliani dari belakang.
Setelah membantu Elsaliani mengenakan jilbab, keduanya segera keluar dari kamar. Iqbal telah siap dengan ransel yang menempel di punggungnya serta tangan kanan yang menarik sebuah koper dan tangan kiri yang menjinjing sebuah handbag berwarna pink soft.
"Duduk dulu sayang, sebentar lagi bapak sampai kok!" Jelas Iqbal setelah meletakkan semua bawaannya.
"Gimana udah siap?" Tanya Luqman yang baru muncul dari balik gerbang dengan di susul oleh ketiga anggota lainnya.
"Udah, cuman lagi nungguin bapak aja. Bisa kan kita berangkat sekitar sepuluh menit lagi?" Tanya Iqbal.
"Bisa diatur!" Cetus Hendra yang langsung duduk di samping Elsaliani.
"Tenang El, aku bakal jaga suami kamu dengan baik, kalau dia macam-macam, bakal aku kasih pelajaran!" Lanjut Hendra.
"Yang ada kamu yang bakal dihajar sama dia!" Cetus Alam.
"Udah nggak usah buka kartu napa?" Gumam Hendra.
"Makanya nggak usah sok bergaya!" Jelas Luqman.
"Ciiih" gumam Hendra kesal.
"Gimana kandungan El, sehat?" Tanya Mikeal.
"Alhamdulillah sehat." Jawab Elsaliani dengan senyuman.
"Syukurlah! kata dokter lahirannya berapa bulan lagi?" Tanya Luqman.
"Sekitar dua bulan lagi, lebih kurang sih!" Jawab Elsaliani.
"Semoga aja mirip emaknya!" Cetus Hendra.
"Sadis bin kejam! iiih nggak kebayang deh, anak cewek tapi sifat Iqbal nular, bakal pecah banget deh, takutnya nggak akan ada cowok yang berani dekatin dia, orang sangar macam tuuuuh!" Jelas Hendra sambil melirik ke arah Iqbal.
"Dasar...." Gumam Iqbal yang langsung menendang betis Hendra, hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Mas..." Seru Elsaliani.
"Udah-udah!" Ujar Luqman menenangkan.
Disaat itu pula, mobil Adimaja berhenti tepat di depan teras, sesaat kemudian Adimaja keluar dan segera menghampiri semua yang sedang berkumpul di teras.
"Tugas kemana?" Tanya Adimaja setelah semuanya menyalami tangannya.
"Ke, ke, ke Negara P bapak!" Jawab Alam dan Mikeal hampir berbarengan.
"Apa ada hubungannya dengan Hadi?" Tanya Adimaja.
"Iya, abang Hadi nggak bisa di hubungi. Jadi aku memutuskan untuk mengajukan diri untuk berangkat ke sana." Jelas Iqbal.
"Apa cuma itu alasannya?" Tanya Adimaja.
"Iya!" Jawab Iqbal.
"Iqbal, bapak bertanya sebagai atasan bukan sebagai orang tua. Jawab dengan jujur, atau..." Gumam Adimaja yang mulai emosi.
__ADS_1
"Karena Vian ada di sana." Tegas Iqbal yang sontak membuat yang lainnya menatap kearahnya.
"Vian? Apa maksud kapten, Kapten Vian Bintara?" Tanya Mikeal.
"El, masuk ke mobil sekarang!" Pinta Iqbal.
"Ayo El..." Ajak Luqman yang segera membantu Elsaliani untuk masuk ke mobil.
"Apa kamu masih belum puas?" Tanya Adimaja.
"Aku hanya ingin membuktikan kalau Vian salah, bukan aku!" Tegas Iqbal.
"Kamu ingin mengungkit kembali kasus sepuluh tahun silam?" Tanya Adimaja.
"Pak, tolong untuk kali ini biarkan aku menyelesaikan semuanya. Sepuluh tahun lalu aku mengikuti semua perintah bapak, jadi untuk kali ini biarkan aku menggunakan cara aku sendiri." Tegas Iqbal yang langsung melangkah meninggalkan yang lainnya.
"Sayang, bunda akan menjaga sayang selama mas pergi. Mas akan segera pulang, mas sayang sayang!" Jelas Iqbal setelah menghampiri Elsaliani.
Pintu mobil kembali tertutup dan Iqbal kembali melangkah keluar gerbang.
"Jaga Iqbal dengan baik, dia bisa saja melakukan hal gila untuk mencapai tujuannya. Ingatkan dia, jika El disini menunggunya, paling tidak dia akan berfikir waras sebelum bertindak!" Tegas Adimaja.
"Baik pak!" Jawab mereka serentak.
"Jaga diri kalian baik-baik, pulang sebagaimana kalian pergi!"
"Baik pak!"
"Pergilah!"
"Baik, kami pamit! Assalamualaikum." Ucap Luqman yang langsung bergegas menyusul Iqbal yang telah lebih dulu ke mobil yang ada diluar sana.
Alam dan Hendra juga ikut menyusul.
"Kenapa abang bisa tau tentang keberadaan kapten Vian yang sedang bertugas di sana?" Tanya Mikeal.
"Dia sengaja menyuruh orang untuk menyelidikinya."
"Apa abang benar-benar belum bisa memaafkan kapten Vian?"
"Watak abang mu itu sangat keras, Mikeal. Apa lagi jika menyangkut orang yang ia sayangi, kamu ingatkan? dia bahkan mengancam komandan kalian karena ingin mengeluarkan Hendra dari tim pasukan khusus, atau mungkin tentang Abai yang membuat kamu terbaring di rumah sakit selama seminggu. Mikeal, jaga abang kamu dengan baik, jangan beri celah untuk dia menggila!"
"Baik bapak, aku akan jaga dia dengan baik!" Tegas Mikeal dan ikut menyusul yang lainnya.
Adimaja segera kembali ke mobil.
"Kita berangkat sekarang sayang? nggak ada yang ketinggalan kan?"
"Nggak ada pak!" Jawab Elsaliani yang berusaha untuk terlihat tenang.
Adimaja menjalankan mobilnya, ia segera meluncur membawa sang menantu untuk pulang ke rumah miliknya dan tinggal di sana selama Iqbal bertugas di luar negeri.
____________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua😊😊
__ADS_1
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️