
Elsaliani masih duduk di tepi kasur dengan tatapan kosong, tubuhnya memang berada di sana namun pikiran dan hatinya entah berterbangan kemana, membuat ia larut dalam lamunan jauh.
"Sayang, apa yang sedang sayang pikirkan? jika sayang nggak ingin mas pergi, maka mas nggak akan pergi!"Jelas Iqbal lalu duduk di hadapan Elsaliani dengan menekuk lututnya di lantai, mata indahnya terus menatap wajah bingung sang istri.
"Sayang....!" Panggil Iqbal kembali.
"Hm....mas udah siap? mau berangkat sekarang?"
"Sayang oke? atau sayang ikut saja sama mas."
"El oke, mas tenang aja. Ini pertemuan mas dengan komandan mas, lalu kenapa El harus ikut?"
"Tapi pertemuan ini di luar pekerjaan mas, ini masalah pribadi."
"El di rumah aja. Mas pergilah dan cepat kembali, jangan membuat El dan baby menunggu terlalu lama!"
"Baiklah, mas akan selesaikan semuanya secepat mungkin."
Elsaliani mengantar Iqbal hingga ke mobil. Namun Iqbal yang sudah berada di dalam mobil tiba-tiba keluar kembali dan segera menghampiri Elsaliani yang masih setia mengantar dirinya.
"Selain komandan, om Vikram adalah papanya Lestari, apa sayang masih mengizinkan mas pergi?" Tanya Iqbal lalu menggenggam tangan Elsaliani.
"El percaya sama mas. Semua keputusan mas adalah yang paling baik buat El, mas dan juga baby. Pergilah, selesaikan semuanya lalu kembali pada El dan baby tanpa ada lagi bayang-bayang mbak Lestari ataupun wanita lainnya." Jelas Elsaliani dengan tatapan penuh arti.
"Baiklah, mas akan akhiri semuanya malam ini. Sekarang sayang masuk, ingat jangan buka pintu buat siapa pun! mas pergi, Assalamualaikum." Jelas Iqbal lalu mengecup kening Elsaliani.
Elsaliani menurut, ia segera kembali ke dalam. Setelah Elsaliani menutup pintu kembali barulah Iqbal bergegas pergi.
Tadi sore di saat Iqbal sedang bersantai bersama Elsaliani, tiba-tiba saja komandan menelphone, lalu meminta Iqbal untuk datang ke rumahnya malam ini, awalnya Iqbal menolak ketika ia tau bahwa cuma dia yang di undang sedangkan teman-teman yang lain tidak, namun setelah Elsaliani memintanya untuk pergi akhirnya Iqbal menyetujuinya. Malam ini Iqbal pergi untuk bertemu dengan sang komandan secara pribadi. Awalnya Iqbal sedikit panik jika nantinya hal yang ingin ia bahas adalah tentang Lestari, namun di satu sisi ia merasa ini adalah kesempatan baginya untuk mengakhiri semua hubungannya dengan Lestari.
-----------------------
Tepat pukul setengah delapan malam, Iqbal sampai di rumah sang komandan, kedatanganya langsung di sambut ramah oleh semua orang, mulai dari satpam yang membuka gerbang, bibi yang membuka pintu, hingga sang komandan dan istri yang begitu menanti kedatanganya. Spontan Iqbal langsung memberi hormat ketika bertatapan dengan sosok komandan yang menunggunya di ruang tamu.
"Selamat malam Tante!" Sapa Iqbal lembut, berbanding 180 derajat ketika berhadapan dengan sang komandan.
"Malam sayang! ayo duduk. Kamu nggak usah tegang, santai aja! kamu datang kesini bukan sebagai kapten Iqbal, tapi sebagai calon menantu kami, jadi nggak perlu kaku gitu, duduklah!" Jelas Puspita yang tak lain adalah istri dari sang komandan dan mamanya Lestari.
"Nggak apa-apa Tante, terima kasih!" Jawab Iqbal masih berdiri tegap.
"Iqbal aku memanggilmu kesini bukan sebagai komandan Vikram tapi sebagai papanya Lestari. Jadi duduklah!" Tegas Vikram.
"Terima kasih!" Ucap Iqbal lalu mencoba untuk duduk dengan tenang, karena sedari tadi ucapan Puspita dan juga Vikram membuatnya tidak bisa tenang.
"Kamu tau kalau Lestari saat ini sedang hamil?" Tanya Vikram.
"Iya, aku mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Aku bertemu dengan Lestari di rumah sakit, secara tidak sengaja!" Jelas Iqbal yang begitu menekankan kata 'Tidak Sengaja'.
__ADS_1
"Om tau itu." Jelas Vikram.
"Iqbal, kamu tau siapa ayah dari bayi yang sedang ada dalam kandungan Lestari?" Tanya Puspita.
"Tidak!" Tegas Iqbal.
"Om tau, kamu pasti bukan ayah dari bayi itu. Iqbal om mau meminta sesuatu pada mu, permintaan dari seorang papa untuk putrinya" Jelas Vikram.
"Apa yang komandan inginkan?" Tanya Iqbal.
"Jadikan Lestari istri kamu, jadi ayah dari bayi yang ada dalam kandungan Lestari." Jelas Vikram.
"Iqbal, hanya kamu yang bisa menjaga dan membahagiakan Lestari, dia begitu mencintaimu, dia butuh kamu, Tante mohon kembalilah padanya!" Jelas Puspita.
"Aku tidak paham! anggap saja aku tidak pernah mendengarkan semua ini." Tegas Iqbal lalu segera bangun dari duduknya.
"Iqbal, Tante tau kalau kamu masih sangat mencintai Lestari, maafkan kesalahannya, dan tolong terima Lestari kembali!" Pinta Puspita penuh harap.
"Apa om dan Tante lupa kalau aku sudah beristri? aku tidak mungkin kembali menjalin hubungan dengan Lestari, terlebih sekarang ini Lestari sedang mengandung anak dari pria lain." Jelas Iqbal.
"Iqbal, Om mohon, untuk kali ini tolonglah keluarga om. Lelaki yang menghamili Lestari telah kabur, om sudah meminta orang untuk mencari keberadaannya, tapi tetap saja belum ada kabar."
"Jika melakukan aborsi maka nyawa Lestari taruhannya, dan Tante belum siap untuk kehilangan Lestari, dia putri kami satu-satunya. Iqbal tolonglah nikahi Lestari." Pinta Puspita.
"Maaf Tante tapi aku benar-benar nggak bisa!" Tegas Iqbal.
"Nurul Elsaliani, istri aku, El sangat membutuhkan aku, dan anak yang ada dalam kandungan El juga butuh ayahnya." Jelas Iqbal.
"Tante akan mengurus istrimu. Lagi pula Tante tau kalau kamu tidak mencintainya kan? El pasti akan mengerti, toh dari awal dialah yang merebut kamu dari Lestari." Jelas Puspita yang mulai terbawa emosi karena sedari tadi Iqbal terus saja menolak permintaan mereka.
"Iqbal, tolonglah Lestari!" Pinta Vikram
"Om Vikram, sejak dulu anda adalah sosok yang paling saya kagumi. Segala hal tentang anda begitu keren. Anda tegas, adil, kuat dan selalu mematuhi segala aturan, namun itu hanya tertinggal beberapa menit yang lalu, kini semua itu sirna sudah. Bagaimana bisa anda mengorbankan kebahagiaan putri dari orang lain hanya untuk membuat putri anda tersenyum? Kenapa anda membuat putri dari orang lain menjanda hanya untuk memberikan seorang suami untuk putri anda? kenapa anda merenggut ayah dari cucu orang lain hanya karena anda ingin memberi ayah untuk cucu anda sendiri? maafkan aku komandan! untuk sikapku malam ini aku akan menerima apapun hukuman yang akan komandan putuskan. Permisi!" Jelas Iqbal dan langsung keluar tanpa lagi peduli pada siapapun yang menatap ke arahnya.
"Bagaimana ini pa? lakukan sesuatu? mama nggak mau kalau sampai Lestari kenapa-napa!" Tangis Puspita pecah ketika Iqbal pergi meninggalkan mereka.
"Mama tenang aja, papa akan melakukan apapun untuk putri kita. Sekarang mama tenang, semuanya akan segera membaik seperti sedia kala." Ujar Vikram lalu merangkul sang Istri ke pelukannya, mencoba menenangkan perasaannya.
----------------------------
"Berhenti! jangan mendekat!" Teriak Iqbal dengan suara lantang dan wajah yang di penuhi amarah.
Kaki Elsaliani langsung terhenti dengan sendirinya, dari kejauhan ia terus menatap sang suami.
"Mulai hari ini kamu bukan lagi istri aku! Nurul Elsaliani, aku ceraikan kamu." Seru Iqbal.
Ucapan Iqbal bak petir yang menyambar di sekujur tubuh Elsaliani, matanya seakan meremang, jantungnya juga berhenti berdetak membuat tubuhnta seketika ambruk ke lantai.
__ADS_1
"Mas... ini El istri mas! kenapa mas berubah lagi?" Tanya Elsaliani dengan suara tersendak-sendak karena menahan rasa pedih yang sedang mendera hati dan perasaannya.
"Aku akan segera menikahi istri idaman aku. Sekarang pergi dari rumah aku, pergi!" Gumam Iqbal.
Tangan Iqbal dengan kasar menyeret Elsaliani untuk keluar dari rumahnya.
"Mas, tolong jangan begini? jangan usir El dan baby, kami butuh mas! jangan tinggalin kami, El mohon!" Tangis Elsaliani yang semakin ketakutan.
Tubuh Elsaliani kembali gemetar, keringat mengalir begitu deras, rasa takut seakan membuncah menelusuri setiap aliran darah, kini ia hanya bisa menangisi apa yang sedang terjadi.
"Mas....tolong jangan tinggalkan El, El janji El nggak akan buat masalah lagi, El akan menuruti semua aturan mas, jadi tolong jangan usir El dari sini!"
"Sayang, sayang kenapa? ada apa? sayang...!" Panggil Iqbal yang begitu khawatir.
Iqbal yang mendengar suara tangisan sang istri segera mencari asal suara yang ternyata berasal dari meja makan, Iqbal segera mendekati Elsaliani yang terlihat begitu kacau. Elsaliani tampak tertidur dengan wajah yang ia sandarkan pada kedua lipatan tangannya di atas meja makan, keringan yang membasahi seluruh wajahnya semakin membuat Iqbal panik.
Iqbal terus mencoba membangunkan Elsaliani dari mimpi buruknya.
"Sayang, ada apa ini? kenapa tidur di sini? Tanya Iqbal dengan terus menatap wajah Elsaliani yang perlahan mulai membuka matanya.
"Mas, mas jangan tinggalkan El!" Pinta Elsaliani dan langsung memeluk erat tubuh Iqbal.
"Sayang, kamu pasti mimpi aneh ya! mas nggak akan kemana-mana, mas milik sayang seutuhnya!" Tegas Iqbal sambil membelai lembut rambut Elsaliani yang terurai tanpa jilbab.
"Syukurlah kalau hanya mimpi! El takut setengah mati, El takut semua itu jadi kenyataan!"
"Ssssssstt, tenanglah! itu cuma mimpi, karena kenyataannya mas ada di sini. Sayang kenapa tidur di sini?"
"El menunggu mas! kenapa perginya begitu lama, El rindu!" Jelas Elsaliani yang mencoba menghentikan air matanya.
"Maaf, membuat sayang menunggu terlalu lama. Lain kali tunggu mas dikamar, jangan di meja makan ataupun di tempat lainnya." Tegas Iqbal.
"Iya."
"Nah, sekarang ayo kita tidur, baby pasti udah ngantuk kali kan? Ayo baby!"
Iqbal langsung mengangkat tubuh Elsaliani lalu segera membawanya ke kamar untuk istirahat.***
___________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman smua@ππ
Tetap setia sama Cinta Elsaliani π₯°
Love you allππ
KaMsaHamida β₯οΈβ₯οΈ
__ADS_1