
Kaki panjang Iqbal terus berlari menuju markas, dengan keringat yang bercucuran ia sampai di asrama. Tangan kekar yang membuka kasar pintu kamar asrama milik pasukan khusus seolah bagaikan hantaman yang mendobrak paksa, hingga membuat Hendra, Luqman dan Alam terperanjat kaget lalu serentak menatap kearah pintu di mana Iqbal berada.
"Berapa banyak lagi waktu yang kita miliki untuk siap-siap?" Tanya Iqbal yang tidak peduli dengan wajah panik sang partner yang memandang aneh padanya.
"Sepuluh menit!" Jawab tegas Hendra.
"Hashhhh, haufff...."Gumam Iqbal kasar dan segera menuju loker miliknya untuk segera mengambil seragam yang ia kenakan setiap kali harus menyelesaikan sebuah misi.
"Kapten berlarian hanya karena takut terlambat? tenang aja, komandan nggak akan marah kok sama calon menantu idamannya." Ujar Alam sambil tertawa menggoda.
"Lagian nggak biasanya kapten terlambat, kenapa? apa terjadi sesuatu dengan El?" Tanya Luqman.
"Nggak ada! antara aku dan El nggak akan pernah terjadi sesuatu!" Tegas Iqbal dengan suara lantang dan tatapan tajam kearah Luqman.
"Kenapa tanggapan kamu terlalu berlebihan? aku kan hanya bercanda, atau memang sebenarnya telah terjadi sesuatu antar kamu dan El?" Jelas Luqman yang terus menatap heran ke arah Iqbal.
"Berhenti bicara omong kosong! cepat bersiap, dan Mikeal, di mana anak itu?" Tanya Iqbal yang mencoba mengalihkan pembahasan yang sedari tadi terus Luqman coba bahas.
"Memang kebiasaannya terlambat selalu kan, biarkan saja, dia si bungsu kita, jadi maklumi saja." Ujar Alam santai dengan tangan yang terus menyelipkan pisau di kedua sepatunya.
"Bentar lagi juga datang!" Jelas Hendra yang sudah sigap dengan seragam tempurnya dan senjata yang tertata rapi di kaki, pinggang dan punggungnya.
"Benar-benar harus di disiplinkan tuh anak!" Gumam Iqbal yang masih sibuk berganti seragam.
Mereka sibuk dengan persiapan mereka masing-masing, hingga suara dering ponsel Iqbal mengalihkan pandangan mereka, dengan cepat Iqbal segera menjawab panggilan masuk di ponselnya.
"Iqbal kamu di mana?" Tanya suara dari seberang dengan nafas yang memburu seakan dia di penuhi dengan rasa khawatir.
"Aku lagi di markas, ada apa bang?" Tanya Iqbal, membuat semua anggota lainnya menatap Iqbal penasaran.
"Cepat kembali ke rumah, jangan biarkan adek seorang diri! cepat pulang!" Teriak Rizal dengan penuh emosi.
"Kenapa? aku tidak bisa pulang sekarang, lima menit lagi aku harus menjalani tugas."
__ADS_1
"Iqbal, pulang sekarang selamatkan adek!" Teriak Rizal yang semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Hah, apa maksud Abang Rizal, aku tidak paham! katakan, apa yang sebenarnya terjadi!"
"Kelvin, dua hari yang lalu dia bebas, sekarang dia pasti sedang menemui adek, physcopat itu akan melukai adek!"
Mendengar penjelasan Rizal, membuat tubuh Iqbal bagai tersambar petir, ia tidak lagi bisa berpikir positif, dengan cepat ia segera berlari keluar.
"Iqbal kamu mau kemana? ada apa?" Tanya Alam dengan tangan yang langsung mencegah kepergian Iqbal.
"Nyawa El dalam bahaya, kalian selesaikan misi kita hari ini, aku harus selamatkan El!" Tegas Iqbal dan langsung pergi.
-----------------------------
"Kali ini abang Iqbal pasti akan menggantung aku, kenapa bisa alarmnya tidak berfungsi? haishhhhhh bisa-bisanya aku bangun telat. Serigala itu pasti akan mengamuk." Gumam Mikeal penuh kesal dengan kebiasaannya yang selalu saja bangun telat meski sudah memasang alarm sekencang gemuruh.
Mikeal terus menambah kecepatan mobilnya, beharap agar ia secepat mungkin tiba di asrama, sebuah chat masuk, dengan cepat ia langsung meraih ponsel yang ada di saku celananya.
"Mati aku! pasti dari Abang Iqbal." Gerutu Mikeal lalu segera membuka chat tersebut.
"Apa maksud Abang Iqbal? El, apa Badai kabur? nggak, nggak, tenang Mikeal, fokus yang harus kamu lakukan sekarang adalah segera putar arah, oke!" Gumam Mikeal dan langsung memutar arah menuju rumah Iqbal.
-------------------------
"Kelvin, sadarlah! El mohon, berhenti, jangan sentuh El!" Pinta Elsaliani dengan penuh iba, Elsaliani terus memohon dengan frustasi.
Kelvin terus mendekat, berusaha mengikis jarak diantara ia dan Elsaliani. Tangan Kelvin yang tadinya mengusap lembut wajah Elsaliani kini mulai beralih turun ke leher, dengan mata yang terus menatap mesum pada setiap lekuk tubuh Elsaliani.
"Berhenti, hah....El kamu yang harus berhenti memohon sesuatu yang tidak akan mungkin aku kabulkan. Kamu tenang aja aku akan melakukannya dengan penuh perasaan bahkan lebih lembut dari yang suamimu lakukan setiap malam, aku jamin setelah ini kamu hanya akan mengingat permainan aku. El, kenapa kamu begitu menggoda, aku benar- benar menggilai tubuhmu ini!" Jelas Kelvin sambil menghirup aroma tubuh Elsaliani.
"Abang Rizal, tolong adek, tolong jangan biarkan dia berbuat jahat pada adek! Abang tolong!" Tangis Elsaliani dengan suara yang semakin melemah.
"Kali ini tidak akan ada seorang pun yang akan menggagalkan rencana aku! Rizal tidak akan datang, El bersiaplah! aku akan membuatmu nyaman." Jelas Kelvin dan langsung menarik kerudung Elsaliani.
__ADS_1
"Ssssssstt, tenang El!" Ujar Kelvin kembali mencoba menenangkan Elsaliani, yang mulai pucat dengan bibir yan semakin gemetar.
"****!" Teriak Mikeal dengan tinju yang langsung melayang tepat di pipi kiri Kelvin
"Aku akan membunuhmu!" Gumam Mikeal yang telah di penuhi amarah.
Mikeal terus menghajar Kelvin tanpa ampun, tinjunya tidak bisa berhenti, ia terus saja menghantam wajah Kelvin bahkan setelah wajah Kelvin babak belur, Mikeal tetap tidak bisa menghentikan aksinya. Kelvin yang tak tinggal diam, kini balik menyerang Mikeal, keduanya terlibat pertarungan segit. Kelvin yang ternyata telah memprediksikan segala situasi yang mungkin terjadi, langsung mengeluarkan sebilah pisau dari saku jaketnya lalu segera mengarahkan ke arah Mikeal.
"Dasar pecundang, kamu benar-benar ingin mati di tangan aku, oke! akan aku antar kamu ke neraka, sesuai dengan permintaan mu!" Gumam Mikeal dengan menyeringai kesal dan segera melayani Kelvin.
Kelvin yang terus mengerahkan pisau dengan lihai, berusaha untuk melukai wajah Mikeal. Dengan lincah Kelvin terus mengayunkan Pisaunya, untuk kedua kalinya hanya mengenai udara membuat Mikeal tersenyum sinis dengan usaha Kelvin.
"Aku rasa waktumu telah habis! aku tidak punya waktu banyak untuk bermain dengan kamu. Akan ku akhiri secepatnya!" Tegas Iqbal dengan kaki yang langsung menendang pisau yang ada di tangan Kelvin.
Tendangan Mikeal mendarat dengan sempurna, membuat pisau tersebut terlempar jauh, lalu secepat kilat kakinya kembali menghantam kedua lutut Kelvin, yang langsung membuat tubuh Kelvin Ambruk ke tanah. Tidak berhenti sampai di situ, tangan Mikeal kembali menghantam leher bagian belakang Kelvin, hingga membuat Kelvin seketika tak sadarkan diri.
Setelah memastikan Kelvin benar-benar telah ia lumpuhkan, dengan buru-buru Mikeal segera berlari kembali ke teras di mana Elsaliani berada.
"Berhenti, jangan mendekat!" Teriak Elsaliani histeris, yang spontan membuat Mikeal menghentikan langkahnya.
"El, ini aku, Mikeal!" Jelas Mikeal dengan suara pelan.
"El mohon, jangan sentuh El..."
"Mikeal? apa yang terjadi? dimana El?" Tanya Iqbal yang baru turun dari mobil dan segera menghampiri Mikeal.
"Abang Iqbal! El...El..." Jelas Mikeal dengan penuh kekhawatiran. Mikeal tidak bisa melanjutkan ucapannya, melihat kondisi Elsaliani yang sekarang, membuatnya kacau, bahkan ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan, hingga tanpa terasa air mata mulai menitik dari ujung matanya.
"El...." Seru Iqbal dan langsung mendekati Elsaliani.
"El mohon! Jangan sentuh El, jangan sentuh El...." Pinta Elsaliani semakin melemah dan akhirnya pertahanannya berakhir sudah, Elsaliani terkulai pingsan di lantai.
Menyadari apa yang terjadi, dengan cepat Iqbal dan Mikeal langsung mendekati Elsaliani, dalam waktu yang bersamaan menyentuh tubuh Elsaliani mencoba memastikan keadaan Elsaliani. Keduanya terlihat begitu panik, jantung yang berdetak tidak normal, membuat keduanya terlihat sangat kacau, ketakutan yang membuat keduanya tidak lagi bisa berpikir dengan tenang, bahkan mata keduanya tidak bisa berhenti menatap wajah pucat Elsaliani, Keduanya terus berusaha untuk mengembalikan kesadaran Elsaliani.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? dimana adek? dia baik-baik saja kan? kalian tidak datang terlambat kan?" Rizal yang baru tiba langsung menyerang Iqbal dan Mikeal dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.***