Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
46.


__ADS_3

Iqbal yang baru membuka mata, langsung disuguhkan dengan pemandangan yang membuat jantungnya berdetak secara menggila. Wajah polos Elsaliani yang masih tertidur pulas seakan menghipnotis pikiran Iqbal, membuatnya terus ingin memandangi wajah tersebut dalam jangka lama.


Tangan yang perlahan tergerak mengarah pada wajah Elsaliani, mencoba memindahkan rambut yang sedari tadi sedikit menghalang pandangannya, dengan lembut Iqbal mengusap kepala sang istri.


"Apa ini yang di namakan karma hidup? dulu, demi mempertahankan seragam, aku rela menikah dengan gadis yang bahkan sama sekali tidak pernah aku temui, dan sekarang untuk mempertahankan gadis asing ini, aku malah mempertaruhkan seragam aku. Lucu bukan? Sayang, mungkin ini adalah balasan atas sikapku yang selalu menyakitimu, membuatmu menangis di sepanjang waktu. aku ikhlas El, aku ikhlas jika sewaktu-waktu nanti aku harus melepaskan seragam aku untuk bisa bertahan di sampingmu. Saat ini aku hanya inginkan dirimu, selebihnya aku tidak butuh apa-apa lagi. Cinta yang datang terlambat ini atau aku yang telah membuang waktu berharga ku selama tiga bulan ini, aku akan mengubah semuanya menjadi pengajaran, agar kelak kebodohan aku tidak terulang kembali. El, teruslah mencintaiku, jangan tinggalkan aku!" Gumam Iqbal dengan suara pelan dan masih setia memandangi wajah Elsaliani.


Cup, Iqbal mendaratkan bibirnya di kening Elsaliani, membuat sang istri menggeliat dan perlahan membuka mata.


"Sorry, karena membangunkan sayang!" Ujar Iqbal.


"Mas, El rindu!" Ujar Elsaliani dan kembali mengeratkan tangannya di tubuh Iqbal.


"Rindu? kan dari semalam mas di sini, kenapa masih rindu?"


"Nggak tau, intinya El merindukan mas setiap saat." Jelas Elsaliani lalu mengecup kedua pipi Iqbal.


"Sayang nggak adil, yang lain pada protes nih!" Jelas Iqbal sambil menunjuki hidung, kening, dagu dan bibir miliknya.


Sikap Iqbal sontak membuat Elsaliani tertawa geli, lalu kembali menyentuh hidung, kening, dagu dan bibir Iqbal dengan jari telunjuknya.


"Protes? mas ada-ada aja deh. Mas, hm...ayo!"


"Kemana? El minta excellent service tau charger tenaga nih? yang mana? atau dua-duanya? ayo!" Ujar Iqbal bersemangat.


"Mas, nggak dengar suara azan ya? udah subuh mas. Ayo kita subuh berjamaah, El ingin menjadi makmum mas di setiap solat kita, boleh?"


"Hmm..." Jawab Iqbal.


Elsaliani langsung turun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Iqbal yang masih duduk termenung.


Untuk sesaat jantung Iqbal seakan berhenti berfungsi, nafasnya tertahan, otaknya seolah kembali memutar semua memorinya bersama Elsaliani. Ya, selama ini memang dia tidak pernah membiarkan Elsaliani mendekatinya apa lagi sampai solat berjamaah, yang memang tidak pernah mereka lakukan sama sekali, alih-alih beribadah bersama, Iqbal justru sibuk menambah dosa dengan menyiksa lahir dan batin Elsaliani.


"Bisakah mas jadi imam yang baik untukmu El? kenapa semakin mengenalimu, semakin banyak ku temui sosok bidadari pada dirimu. Mungkin memang benar apa yang Abang Hadi katakan, kalau untuk melihat keistimewaan yang ada padamu, aku harus memiliki keahlian khusus. Ya Allah, sekarang aku baru mengerti dan paham, kalau memang Engkau lebih tau apa yang terbaik untuk aku, lebih dari ketahuan diri aku sendiri. Aku hanya meminta yang menurutku baik, tapi Engkau justru memberikan aku yang terbaik dari-Mu, lalu, nikmat mana lagi yang harus aku dustakan? Ampuni segala dosaku ya Allah." Gumam Iqbal dengan hati dan mata yang menangis beriringan, memaki diri yang selalu egois dan berburuk sangka pada sang pemberi takdir.


"Mas, ayo! kenapa masih di situ? apa mas nggak mau jadi imam El?" Tanya Elsaliani yang sudah lengkap dengan mukenah dan berjalan mendekati Iqbal yang masih terbuai lamunan.


"Sayang, tunggu sebentar!" Jelas Iqbal lalu segera turun dari tempat tidur.


Langkah Iqbal terhenti, ia kembali menatap Elsaliani, lalu hendak menyentuh wajah Elsaliani yang terlihat damai dibaluti dengan mukenah putih bersih. Elsaliani segera melangkah mundur.


"Mas jangan salah paham. Bukannya El tidak ingin di sentuh sama mas, tapi El udah wudhu." Jelas Elsaliani yang tidak ingin kembali membuat sang suami salah paham dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Sorry sayang, habisnya kamu tambah cantik kalau sedang pakai mukena. Mas akan cepat!" Jelas Iqbal dengan senyuman lebar dan segera ke kamar mandi.

__ADS_1


Keduanya solat subuh berjamaah, hal yang sama sekali tidak pernah mereka lakukan.


Solat berjamaah dengan sang suami adalah impian Elsaliani sejak ia masih menjadi seorang santri. Betapa tidak, ia selalu cemburu dengan cerita-cerita rumah tangga yang selalu beribadah bersama, saling menegur, saling mengingatkan. Membayangkan saja membuat Elsaliani begitu melayang, hingga membuatnya begitu menginginkan cerita hidup yang demikian rupa, namun sayang impian hanya tinggal harapan, segalanya sirna ketika, Iqbal bahkan tidak pernah menganggap keberadaannya.


Untuk pertama kalinya ia berdiri di belakang sang suami, dalam sujud yang tertuju pada sang pemilik kehidupan, tanpa terasa air mata bahagia mulai menetes dari mata Elsaliani.


----------------------------


"Sayang....!" Panggil Iqbal manja.


Iqbal duduk di kursi meja makan, ia terus memandangi Elsaliani yang tengah berkutat dengan masakannya.


"Hmm...." Jawab Elsaliani yang masih sibuk menggoreng nasi.


"Gimana kalau kita pakai tenaga pembantu? Sayangkan lagi hamil, mas takut kalau sayang akan kewalahan mengurusi segala hal sendirian."


"El senang melakukannya. El tidak butuh pembantu, El sanggup melakukan semuanya, lagian bukan pekerjaan berat kan, masak, bersih-bersih, El udah biasa." Jelas Elsaliani.


Elsaliani melangkah menuju meja makan dengan sepiring nasi goreng ples telor mata sapi di atasnya, setelah meletakkan sarapan diatas meja, ia pun ikut duduk di samping Iqbal.


"Tapi sayang, sekarang ini kan beda, sayang nggak kasian apa sama baby?"


" El mau melayani segala kebutuhan mas, El mau menjadi istri Soleha buat mas, El mau ke syurga bersama mas. Nanti kalau El udah butuh pembantu, El akan minta sama mas! Ayo di makan nasi gorengnya!" Jelas Elsaliani sambil mengusap lembut kedua punggung tangan Iqbal.


"Baiklah mas nurut gimana mau sayang, tapi ingat, jangan buat mas khawatir, jika butuh bantuan segera panggil mas, mas akan stay buat sayang."


"Aaaaa....." Pinta Iqbal, sembari menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng ke mulut Elsaliani.


"Tangan mas pegal sayang, buruan!" Lanjut Iqbal karena Elsaliani tak kunjung membuka mulutnya.


Perlahan Elsaliani nurut, ia segera memakan nasi goreng tersebut, lalu Iqbal kembali menyuapi dirinya sendiri.


"Enak banget! hm... apa makanan favorit sayang?"


"Nasi!"


"Cuma itu?"


"Itu yang pertama, selanjutnya semua makanan yang bisa di makan El suka."


"Wuiiiiih, ngeri juga istri mas ini. Jadi sayang ini asal namanya makanan pasti suka, iya?'


"Hm...! Kalau mas?"

__ADS_1


"Sayang!"


"Ishhh, serius! biar nanti El masakan."


"Yah serius, sayang itu favorit mas!" Ujar Iqbal tertawa puas dengan exspresi wajah Elsaliani yang terlihat panik.


"Asal sayang yang masak, mas suka apapun itu. Warna favorit sayang apa?" Lanjut Iqbal setelah kembali memasukkan nasi goreng ke mulutnya dan juga Elsaliani.


"Hijau, kalau mas?"


"Sama, hijau juga!"


"Tapi El nggak pernah tuh lihat mas pakai barang atau pakaian yang warnanya hijau."


"Dulu nggak suka, tapi beberapa menit yang lalu langsung jadi warna favorit mas!" Jawab Iqbal santai dan kembali melanjutkan sarapannya.


"Ishhh, nggak seru banget. Udah ah, El mau ke kamar aja, baby mau istirahat katanya." Jelas Elsaliani sambil bangun dari kursi.


"Serius? baby benaran bilang, seperti yang Uma bilang barusan?" Tanya Iqbal sambil mengelus perut rata Elsaliani.


"Iya....baby capek, mau istirahat!" Jawab Elsaliani dengan meniru suara ala-ala anak kecil manja.


'Ya udah ayo, ayah temani baby dan Uma bobok!" Jelas Iqbal dan langsung menggendong tubuh Elsaliani.


"Mas...."


"Kenapa? mas juga mau istirahat, capek. Oh ya sayang, kapan kita kabari umi, Abi, bapak dan bunda tentang baby?"


"El ikut mas, lebih cepat lebih baik."


"Oke, nanti kita kabari mereka. Siap-siap aja, bakal penuh nih rumah kalau kabar tentang baby tersebar. Bakal keganggu deh waktu mas mesra-mesraan ma sayang, bunda pasti bakal sering-sering kesini, atau pas melahirkan aja kita kasih tau mereka?"


"Mas, apaan sih? yang ada bunda sama umi bakal murka parah kalau kita bilangnya sembilan bulan kemudian."


"Iya juga sih, ngebayangin nya aja udah seram. Ampun deh kalau bunda udah beraksi, bapak aja harus pasang handset full volume!" Jelas Iqbal tertawa mengingat sikap sang bunda yang selalu saja ngomel panjang lebar sampai berminggu-minggu jika sedang kesal pada Iqbal maupun sama Adimaja.


"Kita telpon mereka nanti malam aja mas!"


"Oke. Dan sekarang let's go!" Ujar Iqbal dan segera mempercepat langkahnya menuju kamar.***


______________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya teman-teman semuanya😊😊

__ADS_1


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️


__ADS_2