Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
48.


__ADS_3

"Saya mengirim Iqbal karena dia satu-satunya tentara terbaik yang kita miliki saat ini. Diantara kalian berlima, bukankah Iqbal jauh lebih unggul? saya hanya tidak ingin mengecewakan para tentara yang menantikan bantuan terbaik dari pasukan kita." Jelas Vikram tegas dan pasti dengan semua ucapannya.


"Alam yang begitu cepat dalam setiap gerakannya, bahkan sebelum musuh menyadarinya, dia sudah lebih dulu beraksi, apa Iqbal bisa lebih cepat dari Alam? Hendra yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk menjinakkan bom, bahkan bom yang tidak pernah bisa di jinakkan sekalipun akan menurut dengan sentuhan tangan Hendra, apa Iqbal bisa melakukannya? Profiel dan strategi yang di rancang mulai dari mengepung, perang, penyamaran bahkan pengeledahan selalu sempurna di tangan Mikeal, sekecil apapun kemungkinan yang akan terjadi selalu menjadi pertimbangan yang matang, membuat tim pasukan khusus selalu berhasil dalam semua misi, apa komandan pernah melihat Iqbal melakukannya? lalu apa Iqbal punya mata segesit aku, aku bahkan bisa melihat penyamaran yang bahkan terlihat begitu sempurna di mata kalian semua. Tanpa mata aku, tanpa analisis yang akurat dari aku apa Iqbal bisa melesatkan tembakan jarak jauhnya mendarat tepat sasaran? tanpa kami Iqbal hanya lihai dan lincah dengan pisaunya saja. Lalu di mana letak lebihnya Iqbal, bukankah Aku dan Alam adalah orang yang lebih tepat untuk datang ke negara P? lalu kenapa harus Iqbal yang di kirim? berikan aku satu alasan yang logis dan aku akan membiarkan Iqbal melakukan tugas ini." Jelas Luqman masih dengan ucapan yang sangat rapi dan mendalam, hingga membuat sang komandan mati kutu dengan ucapan dingin Luqman.


Namun Vikram tidak akan hanya berdiam diri saja dengan kelakuan bawahannya yang ingin merusak segala rancangannya, Vikram kembali menyusun siasat untuk mengatasi Luqman yang selalu saja lihai dalam menyusun ancaman menjadi kata-kata lembut namun mematikan setiap lawan bicaranya.


Untuk sejenak Vikram terdiam, membuat seisi ruangan membisu.


"Nama Iqbal telah saya kirim sebagai perwakilan dari sini, saya tidak lagi bisa mengganti namanya. Untuk kelancangan kalian malam ini, maka besok pagi kalian harus menjalani hukuman untuk mendisiplinkan kalian, di tambah dengan pemotongan gaji bulan ini sebesar lima puluh persen." Tegas Vikram.


"Biar aku yang menjadi ayah dari anak yang sedang mbak Lestari kandung!" Tegas Hendra yang sontak membuat Mikeal dan Luqman segera menatap heran padanya.


'Plaaak' Tangan Vikram mendarat di wajah Hendra membuat tubuh Hendra terayun beberapa langkah ke belakang, dengan cepat Mikeal segara membantu Hendra untuk kembali berdiri tegap.


"Apa kamu sedang bercanda? kamu akan saya keluarkan dari tim pasukan khusus!" Tegas Vikram yang mulai tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Vikram memang sangat sensitif jika menyangkut dengan putri semata wayangnya.


"Baiklah, jika harimau tidak bisa menghentikan komandan, maka akan aku bangunkan serigala yang sesungguhnya." Tegas Mikeal.


"Apa kamu sedang mengancam saya?" Tanya Vikram.


"Tidak, mana mungkin kami yang hanya perwira pertama dengan pangkat letnan satu berani mengancam mayor. Akan aku bangunkan LAKSAMANA BESAR untuk menyelesaikan kesalah pahaman ini." Jelas Luqman yang begitu menekankan kata 'laksamana besar' lalu tersenyum licik kearah Vikram.


"Kamu....!" Gumam Vikram terhenti, ketika Mikeal menyodorkan wallpaper ponsel miliknya.


"Papa aku!" Ujar Mikeal.


Penjelasan Mikeal seketika mengubah exspresi wajah Vikram, ia kembali menatap Mikeal dengan rasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Hormaaat graaak!" Teriak Luqman, membuat dirinya dan juga Mikeal serta Hendra segera memberi hormat pada sang komandan.

__ADS_1


"Kami permisi!" Ucap Hendra lalu ketiganya segera keluar dari rumah tersebut.


"Sial! apa-apaan ini? kenapa aku bisa tidak tau kalau Mikeal adalah anaknya pak Adimaja Saka. Berapa banyak lagi kebenaran yang anak kecil itu sembunyikan? bagaimana sekarang, mau mundur sudah terlanjur melangkah, jika tidak mundur aku pasti akan hancur." Gumam Vikram sambil mondar-mandir berusaha memikirkan solusi terbaik yang tidak akan merugikannya.


----------------------------


"Bagaimana?" Tanya Alam penasaran ketika melihat kedatangan ketiga partner kerjanya.


Iqbal yang kembali ke ruang tamu untuk menemani Alam setelah memastikan bahwa Elsaliani telah tertidur pulas, sedari tadi keduanya terus menunggu dengan rasa cemas dan khawatir bahkan mereka membiarkan pintu terbuka lebar agar bisa langsung melihat kedatangan orang-orang yang membuat mereka tidak bisa tenang dari tadi.


"Belum ada jawaban yang pasti, kita tunggu aja sampai besok!" Jelas Luqman dan langsung duduk di sofa dengan si ikuti oleh yang lainnya.


"Bagaimana kalau kalian gagal?" Tanya Alam.


"Komandan tidak akan pernah bisa kita bujuk, dia tidak akan membatalkan apapun yang telah dia putuskan!" Jelas Iqbal frustasi.


"Justru maka dari itu, kami sama sekali tidak membujuknya!" Jelas Mikeal.


"Kami tidak segila kamu, orang yang tidak bisa di bujuk maka harus kita hargai dia, kami sama sekali tidak membujuknya karena itu akan percuma, sebaliknya kami mengancam komandan!" Jelas Hendra.


"Mengancam?" Gumam Alam lalu tertawa terbahak-bahak.


"Konyol sekali!" Lanjut Alam di sela tawanya.


"Jika nama Adimaja Saka yang dibawa, apa masih konyol?" Tanya Hendra yang langsung membuat Alam berhenti tertawa.


" Kalian membawa nama bapak dalam masalah ini? apa kalian sudah gila? kalian sadar kalau sikap kalian malah memperumit masalah!" Gumam Iqbal.


"Abang tenang aja, masalah ini nggak akan sampai ke telinga bapak, aku jamin. Aku hanya ingin membuat komandan berhenti semena-mena pada kita." Jelas Mikeal.

__ADS_1


"Cukup! dari awal aku memang tidak ingin melibatkan kalian, akan ku bereskan semuanya seorang diri." Tegas Iqbal lalu segera bangun dari duduknya dan hendak melangkah keluar.


"Bukan kamu yang menjadi alasan Mikeal menyebutkan nama bapak, tapi karena Hendra! Komandan mengeluarkan Hendra dari tim pasukan khusus!" Tegas Luqman yang langsung membuat langkah Iqbal terhenti.


Tatapan Iqbal langsung terfokus pada Hendra yang menundukkan kepalanya. Iqbal segera melangkah mendekati Hendra.


"Tidak akan ada seorangpun yang akan menyentuh kalian berlima, aku yang akan melindungi kalian dan juga El. Selama ini, kalian yang selalu melindungi ku, kalian selalu menjaga perasaan aku, kalian selalu di pihak aku, Luqman, Alam, Hendra, Mikeal dan juga El, akan aku jaga kalian semua!" Tegas Iqbal dan langsung memeluk erat tubuh Hendra.


Melihat pemandangan tersebut membuat yang lainnya segera mendekat lalu ikut memeluk Hendra dan Iqbal.


"Apa kalian sedang berencana untuk membuat El cemburu?" Tanya Elsaliani.


Suara lembut Elsaliani membuat kelima sahabat tersebut segera melepaskan pelukannya, lalu segera menjauh dari satu sama lain, Elsaliani kembali mendekati mereka, kini langkah Elsaliani terhenti tepat di depan Hendra.


"Apa mereka membuat Abang menangis? apa mereka mengalahkan Abang Hendra lagi? kalian main Ludo lagi?" Tanya Elsaliani yang langsung memamerkan senyuman hangatnya.


pertanyaan Elsaliani sontak membuat seisi ruangan tertawa.


(Maaf, demi El kalian sampai nekat mempertaruhkan pekerjaan kalian. Terima kasih untuk kasih sayang yang luar biasa ini! terkadang orang asing terasa lebih dekat dari kerabat, dan itu yang saat ini aku rasakan. El sayang kalian semua.) Bisik hati Elsaliani yang berusaha tegar dan baik-baik saja.


Dia tidak ingin yang lainnya mengkhawatirkan keadaannya hingga membuat mereka semua melupakan keadaan mereka sendiri.


Elsaliani tau, karena sedari awal Elsaliani mendengar semua pembicaraan kelima sahabat tersebut, namun Elsaliani memilih untuk pura-pura tidak tau dan berharap kalau semuanya akan segera membaik seperti sedia kala.***


___________________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya teman2 semua😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰

__ADS_1


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2