Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
88.


__ADS_3

Dengan sangat terburu-buru, Luqman turun dari motor sport miliknya. Luqman bahkan terus menekan bel yang terpasang di gerbang nan megah tersebut, hingga seorang lelaki paruh baya keluar dari balik gerbang, ia terlihat ketakutan dan kebingungan karena melihat seragam serta dua senjata yang terpasang rapi di pinggang dan punggung Luqman.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu? mau cari siapa pak?" Tanya lelaki tersebut.


"Khaira, apa dia ada di rumah?"


"Non Khaira? ada apa? apa non Khaira buat masalah? kenapa bapak mencari dia selarut ini? apa kesalahan non Khaira begitu parah?"


"Ahhh" Luqman memandang dirinya sejenak, kini ia paham kenapa sedari tadi lawan bicaranya terlihat kalang kabut.


"Maaf sebelumnya, karena saya malah buat bapak nggak nyaman karena penampilan saya. Hmmm, saya Luqman, temannya Khaira. Tolong katakan pada Khaira kalau saya ingin bertemu dengan dia."


"Baik, tunggulah sebentar!"


Lelaki paruh baya tersebut kembali ke dalam dengan membiarkan gerbang terbuka lebar. Luqman masih saja mondar-mandir dengan perasaan tak tenang. Matanya terus saja menoleh ke dalam sana, berharap orang yang ia tunggu lekas datang menemuinya.


Delapan menit telah berlalu, kini kaki Iqbal berhenti melangkah, matanya fokus menatap sosok yang baru saja muncul dari balik gerbang. Khaira berlari kecil menuju gerbang dengan kedua tangan yang sibuk membenarkan jilbabnya.


"Maaf karena membuatmu menunggu lama!" Pinta Khaira saat berhadapan dengan Luqman.


Luqman masih terpaku menatap sosok Khaira yang kini tepat di hadapannya. Wajah Khaira terlihat jelas kalau ia baru bangun dari tidur nyenyaknya.


"Luqman...!" Panggil Khaira dengan melambaikan kedua tangannya di depan wajah Luqman.


"Eh, hay!" Ujar Luqman secara spontan membuat Khaira tertawa dengan sikap Luqman yang begitu terlihat canggung.


"Hay juga! tapi kamu ke sini di tengah malam begini, dengan penampilan seperti ini pasti tidak hanya untuk mengatakan hay aja kan?"


"Hmmmmmm"


(Ayolah Luqman, kenapa kamu selalu saja jadi pengecut setiap kali berhadapan dengan orang yang kamu cintai? aku sungguh membenci diriku yang saat ini. Aku sungguh tak ingin penyesalanku di masa silam kembali terulang, ayo Luqman! kamu pasti bisa) Bisik hati Luqman yang terus berperang dengan dirinya sendiri.


"Hmmmm, lalu?"


"Menikahlah dengan ku!" Pinta Luqman sambil berlutut di hadapan Khaira.


"Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?"


"Iya. Khaira, jadilah istriku. Aku sedang melamar mu."


"Apa kamu tau siapa yang sedang kamu lamar?"


"Iya, aku sedang melamar seorang cucu dari kiayi besar. Aku tau, kalau aku...."


"Lagi-lagi ucapan aku membuat orang lain salah paham. Yang aku maksud bukan aku, tapi kamu, Luqman."


"Maksud kamu?"


"Apa kamu kenal siapa aku? aku hanya perempuan dengan segudang kekurangan. kamu jangan tertipu dengan tampilan luar ku, aku tidak sebaik yang kalian pikirkan. Pikirkan kembali niatmu itu, aku hanya tidak ingin diriku mengecewakanmu pada akhirnya."

__ADS_1


"Aku akui kalau aku belum mengenalmu dengan baik. Aku tidak tau sifat baik buruk kamu, aku tidak kenal sanak saudaramu, aku tidak paham dengan adat istiadat keluargamu dan aku juga belum tentu yang terbaik untukmu, tapi satu hal yang aku tau pasti, bahwa jantung aku berdetak keras saat bersama kamu, aku jatuh cinta sama kamu, hanya itu yang aku tau, dan itu sudah lebih dari cukup untuk jadi alasan aku melamar kamu."


"Luqman, aku..."


"Aku bukan pria sesempurna Iqbal, dan aku juga tidak seberani Alam dan Mikeal yang bisa dengan mudah menyatakan perasaannya pada orang yang mereka cintai, dan aku pun tidak se-ramah dan se-humoris Hendra. Tapi aku, inilah aku sebagaimana diriku. Khaira, dulu aku kehilangan orang yang aku cintai karena sifat pengecut ku, dan aku tidak ingin mengulangnya kembali."


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini?"


"Sangat!"


"Cukup bagi aku hidup bersama kamu, lalu aku rasa bahagia itu mutlak jadi milikku. Hanya bersama kamu aku temukan diri aku tanpa harus aku memamerkan diriku yang palsu. Karena kamu menerima aku dengan segala keadaan yang melekat pada tubuhku, segala sifat yang menempel pada namaku, maka aku terima hadirmu dengan segala niat baikmu, dengan semua cintamu, semoga Allah memberi berkah dalam keputusan mu untuk meminang ku."


"Itu artinya kamu menerima diriku?"


"Hmmmmm"


"Kamu serius? kamu sadarkan dengan ucapanmu?"


"Iya, ayo kita sama-sama bahagia!"


"Terima masih Khaira, terima kasih banyak. Dalam minggu ini aku akan meminangmu secara resmi."


"Ku tunggu kesungguhan mu."


"Sekali lagi terima kasih karena mau menerima aku."


"Masih mau terus di sini? udah jam sebelas malam loh!" Jelas Khaira sambil menoleh arloji yang terpasang di tangan kanannya.


"Hati-hati!"


"Hmmm...boleh aku minta sesuatu?"


"Apa?"


"Tolong istiqamah dengan jawabanmu, meski malam berganti hari, tetap seperti ini."


"Pulanglah, aku menunggu kedatangan orang tuamu."


"Aku akan segera membawa mereka ke sini. Selamat malam" Jelas Luqman yang kembali ke motor sportnya.


"Selamat malam! hati-hati."


Luqman meluncur pulang dengan motor kesayangannya. Setelah pulang dari tempat tugas, Luqman langsung mendatangi rumah Khaira, ia tidak ingin menahan perasaannya lebih lama lagi, dan pada akhirnya gayung bersambut, membuat Luqman bahagia, sangat sangat bahagia.


----------------------


Dengan sangat pelan, Iqbal membuka pintu kamarnya. Ia terus melangkah mendekati tempat tidur di mana Elsaliani terbaring lelap, setelah meletakkan ransel di atas sofa, serta melepaskan semua senjata yang menempel di badannya, Iqbal duduk di sisi Elsaliani. Dengan kepala yang tersandar pada tumbukan bantal, dengan tangan kanan yang berada diatas perut besarnya serta tangan kiri yang begitu setia menggenggam ponsel miliknya.


Iqbal mulai menyentuh wajah polos sang istri yang terlihat begitu lelap, lalu mengusap pelan rambut Elsaliani, membuat Elsaliani sedikit menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Tidurlah sayang, meski rindu setengah mati mas akan coba menahannya, mas tidak ingin mengganggu tidur nyenyak sayang." Jelas Iqbal yang kembali menyentuh pipi kiri Elsaliani.


Mata Iqbal seakan tidak bisa berhenti menatap wajah Elsaliani, hingga suara ponsel berbunyi, membuat Iqbal mengalihkan pandangannya pada ponsel milik Elsaliani. Iqbal mengambil ponsel yang ada si genggaman Elsaliani, lalu melihat ada chat masuk yang terus bertambah.


"Abang Luthfan? sepuluh chat, empat foto? apa ini?" Gumam Iqbal yang langsung terbawa emosi, selama ini ia tidak tau bahwa Elsaliani memiliki kontak Luthfan, dokter yang merewatnya tempo hari sekaligus teman lama Elsaliani.


#***Bagaimana? apa tidurmu nyenyak?#


#El....#


#Jangan membuat aku khawatir? kamu baik-baik aja kan?#


#🙄🙄#


#El, Please!#


#Jangan buat aku khawatir😔 kamu dan kandunganmu baik-baik saja kan?#


#Aku masih kepikiran tentang kamu, semalam kamu nggak bisa tidur sama sekali, wajahmu juga terlihat pucat, aku khawatir El.#


#Aku, aku, maaf karena bagaimanapun juga aku nggak bisa lihat kamu kesakitan.#


#Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku!#


#Oh ya, ni foto yang aku ambil tadi, kamu terlihat cantik😊***#


Emosi dan api cemburu Iqbal semakin meledak ketika ia melihat empat lembar foto Elsaliani bersama Luthfan, dengan latar belakang taman yang terlihat begitu indah dan nyaman.


Di titik ini, Iqbal tidak lagi bisa menahan dirinya untuk tetap tenang, kedua tangannya mencengkam bantal yang ada di sisinya. Dengan keras Iqbal membanting ponsel Elsaliani diatas kasur hingga tanpa sengaja malah terpental tepat di bibir Elsaliani, membuat Elsaliani meringis kesakitan. Perlahan Elsaliani mencoba bangun dari tidurnya meski dengan kedua mata yang masih terpejam. Jari telunjuk kanan Elsaliani mencoba mengecek bibirnya yang terasa sakit.


"Awwww" Pekik Elsaliani.


Mata Elsaliani terbuka lebar ketika melihat sedikit bercak darah yang menempel di jari telunjuknya tersebut.


"El, bisa-bisanya kamu tertidur dengan ponsel di tanganmu, tuh lihat, bibirmu sampai berdarah karena tertimpa ponsel yang tanpa sadar terlepas dari tanganmu." Gumam Elsaliani mencela kebodohannya sendiri.


Elsaliani kembali merebahkan tubuhnya, setelah mengusap sisi darah yang ada pada bibirnya dengan lengan baju yang ia kenakan.


"Besok saja di obati, kaki El benar-benar lemas sekali, El nggak punya tenaga untuk bangun. Semoga besok nggak akan bengkak." harap Elsaliani yang kembali memejamkan matanya.


"Elsaliani!" Panggil Iqbal yang sontak membuat mata bulat Elsaliani terbuka lebar dan menoleh ke asal suara yang terasa begitu dekat dengannya.


"Mas! Apa El sudah gila? rindu El benar-benar parah, sampai setiap malam melihat bayang mas di mana-mana, setiap malam menunggu telpon dari mas, hingga tertidur dengan memegang ponsel hingga akhirnya bibir El harus menanggung kecerobohan El sendiri. Mas, El rindu! El rindu dekapan mas, El bahkan tidak bisa tidur tanpa mas, mengapa rasanya sesak sekali jika jauh dari mas. Bagaimana jika suatu saat nanti mas bosan sama El, lalu pergi dengan mbak Lestari, apa yang harus El lakukan, El terlalu bergantung pada mas. Mas, apa yang harus El lakukan? Bagaimana kalau El terus begini? bagaimana jika El malah tumbang sebelum mas kembali pulang? El merindukan mas..." Ungkap Elsaliani dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipi pucatnya


Mata Elsaliani terus saja menatap sayu pada sosok Iqbal yang duduk di hadapannya, ia masih saja menganggap bahwa apa yang ia lihat hanyalah halusinasi seperti malam-malam sebelumnya.***


_____________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua 😊😊😊

__ADS_1


Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2