
Di dalam kamar sana, Erina terlihat begitu gelisah, ia terus saja mondar mandir dengan penuh ketakutan, dengan tangan yang terus saja menghubungi sebuah kontak yang bertulisan 'LovelY' di ponsel miliknya. Meski berulang kali ia coba untuk menghubungi tetap saja jawabannya sama, nomor tersebut sama sekali tidak bisa di hubungi semenjak dua hari yang lalu.
"Bagaimana ini? kenapa perasaan aku jadi nggak enak gini? kenapa sudah dua hari nomor mas Hadi tidak dapat di hubungi? Ya Allah lindungilah suami aku!" Gundah Erina dengan rasa cemas yang tak terkendalikan lagi.
"Mama kenapa?" Tanya Rakes yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya.
Rakes segera menghampiri sang mama lalu memeluknya dengan erat. Yang Rakes lihat saat ini hanyalah keadaan mamanya tidak baik, terlepas dari apa yang sedang terjadi, Rakes lebih memilih untuk menenangkan sang mama lebih dulu.
"Mama baik-baik saja sayang." Jelas Erina mencoba untuk tidak membuat anak sulungnya khawatir.
"Ma, aku tau mama sedang memikirkan papa kan? ma, apa papa baik-baik saja?" Tanya Rakes.
"Hm...papa pasti baik-baik saja!"
"Aku tau, papa tentara yang sangat tangguh, tidak ada lawan yang berani untuk menyentuh papa, jadi mama tenang aja, jangan mencemaskan hal yang sama sekali tidak terjadi!" Jelas Rakes.
Meski Rakes masih berusia delapan tahun, tapi dia tumbuh dengan sangat baik, didikan sang papa yang begitu tegas membuat dia menjadi pribadi yang bijak dan kuat. Hadi tidak pernah memanjakan kedua putranya, sejak kecil setiap yang bersalah dan melanggar aturan pasti akan menjalani hukuman. Perjuangan Hadi menjadikan kedua putranya sebagai manusia yang penuh kasih sayang dan rasa tanggung jawab yang tinggi, membuahkan hasil yang begitu memuaskan.
"Sayang, Roger di mana? nanti malam kalian mau makan apa? biar mama masakkan!"
"Hm...apa aja ma, asalkan masakan mama, aku dan Roger pasti suka."
"Ya udah kalau begitu mama harus siap-siap buat masak sekarang, temani adikmu main sana!"
"Baik ma." Jawab Rakes dan langsung keluar dari kamar tersebut.
"Mas, kembalilah! kami butuh kamu. Lihatlah betapa bijaknya anakmu, dia benar-benar tumbuh dengan sangat baik. Meski sebenarnya dia khawatir tapi dia mampu mengatasinya dengan sangat baik dan yang paling luar biasa dia bahkan menghiburku dengan begitu apik. Jaga dirimu mas, dan cepatlah pulang!" Gundah Erina.
------------------
"Bagaimana dengan keadaan mama?" Tanya Roger ketika Rakes menghampiri dirinya yang sedari tadi menunggu di halaman belakang rumah.
"Mama masih memikirkan soal nomor papa yang tidak bisa di hubungi dari kemaren." Jelas Rakes.
"Apa abang tidak menghibur mama?"
"Sudah, dan semoga saja hiburan aku akan bertahan lama, biar mama tidak terus terbeban dengan pikiran buruk tentang keadaan papa."
"Bagaimana kalau kita menghubungi om Iqbal? bukankah papa pergi karena menggantikan om Iqbal?" Usul Roger.
__ADS_1
"Ayo kita coba!"
"Hmm." Jawab Roger pasti dan segera meraih ponsel miliknya lalu segera menghubungi Iqbal.
----------------------
Iqbal yang baru saja memarkirkan mobil di depan rumahnya, wajahnya terlihat begitu kelelahan, sejenak merebahkan kepala di jok mobil, memejamkan mata untuk mengatur kembali nafas yang sedari tadi masih memburu, bahkan AC mobil tidak mampu membuat keringat berhenti mengalir dari tubuhnya.
"Siit! dasar ******** gila." Teriak Iqbal dengan tangan tangan yang menghantam keras stir mobil.
"Uassssh, aihhss! akan ku buat kamu membusuk di penjara, tunggu aja! akan ku buat kamu menyesal karena berurusan dengan aku!" Gumam Iqbal penuh dengan rasa benci.
Suara ponsel yang kembali berdering membuat Iqbal menghentikan hujatannya. Iqbal segera merogoh saku celananya lalu segera menjawab panggilan yang sedari tadi terus membuat ponselnya berdering.
"Assalamualaikum sayang!" Sapa Iqbal dengan suara yang langsung disulab menjadi begitu lembut.
"Waalaikum salam om. Apa aku mengganggu om?" Tanya suara munyil Roger dari seberang sana.
"Sama sekaki nggak sayang! kenapa? pasti kangen sama om ya?" Tanya Iqbal.
"Iya, tapi sebenarnya ada hal penting yang harus aku pastikan, apa om bisa bantu?" Tanya Roger.
"Om, ini aku Rakes! bisa kita bicara serius sebentar? ini tentang papa." Jelas Rakes yang mengambil alih pembicaraan.
"Papa? papa kalian kenapa? apa dia buat ulah lagi?" Tanya Iqbal.
"Apa om tau, kenapa papa belum juga kembali? bukannya perjanjian di awal hanya tiga bulan, dan sekarang sudah tujuh bulan, empat bulan sudah janji yang di buat melar, apa masih belum cukup!" Tegas Rakes.
"Apa? Rakes dengarkan om baik-baik, jawab dengan jujur, apa papa kalian sama sekali belum pulang?" Tanya Iqbal yang mulai cemas.
"Lebih dari itu, semenjak dua hari yang lalu nomor papa tidak dapat di hubungi. Tolong kembalikan papa! om, bawa papa kembali untuk mama, aku nggak tega melihat mama diliputi rasa gelisah setiap waktu." Jelas Rakes dengan nada penuh kesedihan.
"Untuk saat ini, tolong jaga mama dengan baik. Om akan segera membawa kabar baik tentang papa. Rakes, om serahkan mama dan Roger sama kamu, tenangkan mereka, kau bisakan?"
"Baik om!"
"Secepatnya om akan kembali menghubungi kalian."
"Terima kasih om."
__ADS_1
"Iya sayang!"
Hati yang sedari tadi panas karena kehilangan target yang sudah semenjak satu minggu ini mereka incar, kini di tambah lagi dengan masalah tentang Hadi, membuat sisi waras Iqbal semakin menghilang. Dengan perasaan kacau ia keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Iqbal terus melangkah menelusuri setiap ruangan, hingga kakinya terhenti di ruang televisi. Matanya langsung tertuju pada sosok Elsaliani yang sedang rebahan di sofa dengan mata yang terus saja memandang layar laptop yang sedang menyuguhkan sebuah drama Korea.
"Sayang...!" Panggil Iqbal.
Iqbal mendekati Elsaliani, lalu duduk di samping sang istri. Melihat sang suami yang sudah pulang, membuat Elsaliani tersenyum bahagia. Semenjak tadi pagi selepas sang suami berangkat kerja, Elsaliani hanya berdiam diri di rumah dengan di temani oleh tontonan favoritnya.
"Mas..." Ujar Elsaliani lalu segera bangun dan mencium punggung tangan sang suami.
"Apa sayang bosan karena mas tinggal sendirian?" Tanya Iqbal.
"Sedikit, mungkin karena selama beberapa hari yang lalu menginap di rumah abi, makanya sekarang berasa sepi, nanti juga kembali terbiasa."
"Maafkan mas yang selalu meninggalkan sayang! baby maafkan ayah yang nggak bisa terus berada di sisi baby" Jelas Iqbal sambil mengelus lembut perut sang istri.
"Mas kan kerja, baby pasti ngerti kok, ya kan baby!" Ujar Elsaliani dengan senyuman.
"Sayang, mas...sudahlah! mas mau mandi dulu."
"Mas." panggil Elsaliani dengan tangan yang menarik ujung seragam Iqbal, membuat Iqbal menghentikan langkahnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Iqbal.
"Apa mas sedang ada masalah, jika mas butuh bahu untuk bersandar, El bersedia. Mungkin El tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mas, tapi paling tidak El bisa jadi penghibur yang baik.'
"Sayang, mas oke! semuanya baik-baik aja!"
"Hmm..." Ujar Elsaliani lalu melepaskan tangannya dari ujung seragam Iqbal.
"Sayang, ini tentang abang Hadi. Hm...bolehkah sebentar aja, mas pergi ke rumah komandan Vikram? mas ke sana bukan untuk menemui Lestari, tapi mas hanya ingin memastikan keadaan abang Hadi. Mas baru dapat kabar kalau ternyata abang Hadi yang awalnya di tugaskan selama tiga bulan, namun sampai hari ini belum juga kembali, mas ingin tau kenapa ini semua bisa terjadi!" Jelas Iqbal.***
______________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman☺️☺️
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰
__ADS_1
KaMsaHamida ❤️❤️❤️