Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
24.


__ADS_3

Terima kasih buat teman2 semua yang udah setia ngikutin cerita Cinta Elsaliani☺️☺️


semoga kalian terus dan terus menyukai cerita@😘😘 jangan lupa Like n komen@ ya😉😉 kritik n saran dari teman2 semua@ sangat berharga buat saya, agar ke depan@ bisa lebih baik lagi.


Selamat membaca!!!!🤗🤗


---------------------------


Rasa cemas dan khawatir seakan memenuhi rongga dada, membuat hatinya di relung kegelisahan, dengan perasaan yang tak menentu membuat pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Rizal semakin menambah kecepatan laju mobil yang ia kemudikan, kini bukan cuma hati hany di penuhi ketidak nyamanan, namun mata pun ikut berpartisipasi dalam kesedihan, membuat seluruh wajahnya di hujani dengan air mata.


Sepanjang perjalanan bermacam doa ia panjatkan, berharap agar semuanya baik-baik saja, dan ia juga berharap agar dirinya lekas sampai di tempat tujuan.


Setelah menerima chat dari Mikeal, Rizal langsung keluar dari rumah bahkan tanpa lebih dulu pamit pada umi dan Abi. Setelah membaca isi chat dari Mikeal, ia tidak lagi bisa mengendalikan perasaan dan pikirannya, hingga tanpa pikir panjang ia segera pergi dengan mobilnya. 3 jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang ia kemudikan berhenti tepat di depan sebuah pagar yang memiliki gerbang berwarna hitam, dengan cepat ia langsung keluar dari mobil dan lekas menekan bel yang terpasang di tembok pagar.


Beberapa kali menekan bel dengan penuh kekesalan, akhirnya seorang lelaki keluar dari dan melangkah menuju gerbang.


"Abang Rizal! ayo masuk!" Ujar Iqbal dan segera membukakan pintu gerbang.


Namun seakan tidak peduli pada Iqbal yang ada di hadapannya, tanpa ucapan apa-apa Rizal malah menerobos masuk kedalam rumah dan terus mencari sosok yang sedari tadi membuat jantungnya bermasalah di sepanjang perjalanan.


Langkah Iqbal terus mengikuti Rizal tanpa berani bertanya apapun. Seketika langkah Iqbal terhenti ketika ia melihat Rizal yang berhenti tepat di depan meja makan, tepat di mana Elsaliani sedang berada. Kedua adik Abang itu saling memandang dalam kebisuan hingga Rizal kembali melangkah mendekati Elsaliani lalu segera memeluknya dengan erat.


"Abang, ada apa? apa terjadi sesuatu yang tidak adek tau?" Tanya Elsaliani yang tampak kebingungan dengan sikap Rizal terhadapnya.


"Apa adek baik-baik saja? apa ada yang terluka? kenapa hal ini bisa terjadi?" Tanya Iqbal bertubi-tubi dengan tangan yang terus mengecek seluruh tubuh Elsaliani.

__ADS_1


"Adek nggak kenapa-napa Abang. Adek oke!"


"Lalu ini apa? ini juga. Sebenarnya berapa banyak luka yang adek dapatkan? kenapa adek membuat diri adek dalam bahaya?" Tanya Rizal kali ini suaranya benar-benar terdengar di penuhi kesedihan. Matanya terus saja melihat luka yang ada di kening dan juga beberapa memar yang masih terlihat membekas di bagian tangan.


"Abang tenanglah! adek baik-baik aja. Tuan,,,,hm maksud adek mas datang di waktu yang tepat, dia yang menyelamatkan adek kemaren."


"Iqbal, terima kasih banyak karena telah datang untuk menolong adek kemaren, Abang nggak bisa ngebayangin apa yang akan adek alami kalau saja kamu nggak datang, Abang nggak akan bisa memaafkan diri Abang kalau sampai adek kenapa-napa. Terima kasih banyak Iqbal."


"Tidak perlu berterima kasih, Abang. Lagi pula El adalah orang yang harus aku lindungi, dia istri aku, dan sudah menjadi tanggung jawab aku untuk menolong El."


"Abang duduklah, kita sarapan bersama!" Ajak Elsaliani mencoba mengalihkan pembicaraan kedua lelaki tersebut.


"Abang ke sini bukan untuk sarapan, lebih baik sekarang Abang cek luka adek dulu, sepatah apa sih? Abang nggak bisa tenang kalau belum memastikan sendiri kalau adek benar-benar baik-baik saja, sekarang ayo ikut Abang!"


(Hubungan saudara yang sangat luar biasa. Bagaimana bisa Rizal sebegitu takut jika El terluka. Mereka menyadarkan aku, betapa buruknya aku ini sebagai manusia. Harusnya aku melindungi El bukan malah membuat luka di sekujur tubuhnya.) Bisik hati Iqbal dengan terus saja menatap kearah adek-abang yang sekarang beranjak dari meja makan lalu keduanya pindah ke sofa di ruang TV yang memang berdampingan dengan ruang makan.


"Iqbal tolong ambilkan kotak P3K! lukanya harus di olesi obat biar tidak semakin memburuk." Jelas Rizal.


"Baik, Abang tunggu sebentar!" Ujar Iqbal dan segera pergi untuk mengambilnya.


"Abang, adek oke." Jelas Elsaliani ketika Iqbal tidak lagi bersama mereka.


"Baik katamu? lihat ini! luka dan memar di sekujur tubuh, apa ini yang namanya baik-baik saja? bagaimana bisa mereka memperlakukan kau sekejam ini? ingin rasanya Abang membunuh orang yang telah membuat luka-luka ini." Gumam Rizal dengan emosi yang memuncak.


"Sudahlah Abang, yang penting sekarang adek selamat, iya kan. Lagian mas sudah menghukum mereka semua kok, jadi Abang tenang aja."


Langkah Iqbal seakan terhenti dengan sendirinya ketika tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara Rizal dan Elsaliani, ia hanya menatap keduanya dengan mulut yang terbungkam.

__ADS_1


(Bagaimana jika Rizal tau apa yang sebenarnya terjadi. Luka dan memar di sekujur tubuh El bukan karena ulah Badai melainkan karena tangan aku, suaminya sendiri yang membuat dia harus merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya.) Hati Iqbal terus berkecamuk hingga akhirnya ia kembali mendekati mereka, menyerahkan kotak P3K pada Rizal lalu duduk di sisi kanan Elsaliani.


Dengan lembut dan pelan Rizal terus mengolesi obat di setiap luka Elsaliani.


"Nah, sudah selesai. Mulai hari ini jangan pernah biarkan tubuh adek terluka lagi, ingat itu!"


"Iya, Abang Rizal sayang!"


"Iqbal terima kasih banyak karena telah menjaga adek dengan baik. Abang benar-benar berhutang nyawa sama kamu. Dan satu lagi, terima kasih karena kamu mau menjadi suami untuk adek Abang yang manja dan ceroboh ini." Jelas Rizal.


"Hm,,,Terima kasih juga karena Abang sudah mau mempercayai Iqbal untuk menjadi suami El." Ucap Iqbal.


"Menginapkan disini, adek kangen!"


"Ada pekerjaan yang harus Abang selesaikan, maaf dek. Abang janji lain kali Abang akan datang lagi dan bakal lebih lama disini." Jelas Rizal.


"Apa pekerjaannya nggak bisa di alihkan atau mungkin di tunda dulu gitu?"


"Tidak bisa dek! lagi pula sekarang kan Iqbal lagi cuti, dia pasti akan menjaga adek lebih baik dari yang Abang lakukan. Jadi adek tenang aja, mereka nggak akan kembali kesini lagi."


"Baiklah! tapi janji lain kali akan menginap di sini?"


"Iya, Abang janji." Ucap Rizal dengan suara tegas dan senyuman menawan.


"Yes.....!" Seru Elsaliani penuh kebahagiaan dan langsung memeluk erat tubuh Rizal. Dari samping Iqbal hanya bisa menatap keduanya tanpa komentar apapun.***


--------------------

__ADS_1


KamSaHamiDa😘😘😘😘


__ADS_2