Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
07


__ADS_3

Ingatan akan masa lalu segera menghilang seketika, karena suara Elsaliani yang mendesah kesakitan mulai terdengar, meski dalam keadaan mata yang terpejam, hal tersebut membuat pandangan Iqbal segera beralih ke wajah sembab Elsaliani yang masih tertidur lelap.


"Aw, Abang Rizal....Abang Rizal..." Panggil Elsaliani dengan suara lirih.


Perlahan air mata ikut mengalir pelan membasahi pipi sembab tersebut, kelopak mata yang membengkak seakan ikut bergerak mengantar tetesan air mata.


"Tenanglah! aku mohon tenanglah!" Pinta Iqbal seraya tangannya perlahan bergerak lalu mulai mengusap air mata Elsaliani yang kian mengalir dari ujung mata bulatnya. Entah mengapa tangan Elsaliani langsung tergerak dan meraih tangan milik Iqbal yang menyentuhnya lalu membawanya ke dalam genggaman.


"Jangan tinggalin adek sendirian disini. Adek benar-benar takut! adek tidak salah bang, lalu mengapa dia begitu marah kepada adek? Abang tolonglah adek...." Pinta Elsaliani dengan tangis yang mulai terisak dan masih saja dengan mata yang terpejam, Iqbal memutuskan untuk membiarkan tangannya berada di dalam genggaman Elsaliani. Ia hanya berdiri menyaksikan apa yang sedang terjadi.


Dua puluh telah berlalu, Iqbal melihat Elsaliani telah kembali tertidur pulas. Perlahan dia menarik tangannya dari genggaman Elsaliani lalu melangkah keluar dari kamar tersebut, membiarkan Elsaliani tertidur nyenyak. Waktu terus berputar, malam yang perlahan datang. Waktu yang beranjak mengantarkan gelap kepada sang pagi. Matahari mulai tersenyum di balik ufuk timur sana, penuh dengan kehangatan menyinari bumi, memulai lagi dengan cerah dan menghiasi seaksara langit dan seluruh hamparan bumi.


----------------------


Perlahan Elsaliani membuka matanya yang terasa berat untuk di angkat. Setelah matanya melirik keseluruh isi kamar, memastikan bahwa ia benar-benar seorang diri di kamar tersebut. Elsaliani mencoba bangun lalu sedikit menyandarkan punggungnya pada tumpukan batal, setelah sedikit merasa nyaman dengan posisi duduknya, matanya langsung beralih memandangi kedua tangannya yang terlihat memar di sana-sini, dengan menahan rasa sakit tangannya kembali bergerak dan menyentuh bagian dahinya yang masih terbalut perban.


Setelah merasa agak baikan, Elsaliani mencoba turun dari ranjangnya, kakinya perlahan menyentuh lantai dan mencoba untuk berdiri tegak, meski harus menahan rasa sakit pada bagian telapak kaki dan kedua lututnya, Elsaliani tetap mencoba untuk melangkah keluar kamar.

__ADS_1


Dengan langkah kecil serta tangan kanan yang terus mencoba menggenggam erat pada bagian perutnya yang sakit, serta tangan kiri yang sedari tadi bertumpu pada bagian dinding di sepanjang ruangan hingga ia sampai di dapur. Sejenak berhenti, mencoba mengatur nafas yang kelelahan karena menahan rasa sakit pada seluruh anggota tubuhnya. Kakinya kembali melangkah menuju dispenser, lalu mengambil gelas untuk mengambil minum dari dispenser.


Sejenak terdiam, mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang ia miliki, tangannya kembali meraih gelas yang telah diisikan air putih lalu meminumnya. Namun sayang, sebelum sempat ia meneguk air yang sudah ada di bibirnya, tiba-tiba saja gelas tersebut terjatuh hingga pecah, hal tersebut terjadi karena Elsaliani terkejut dengan suara Iqbal yang memanggil namanya. Secepat kilat tangan kanan Elsaliani berusaha mengumpulkan beling dari pecahan gelas tadi berharap segalanya selesai sebelum Iqbal datang, namun usaha Elsaliani sia-sia, kini Iqbal telah berdiri tepat di hadapannya.


"Maafkan El tuan, tolong maafkan El...." Pinta Elsaliani.


Suaranya terdengar ketakutan, tubuhnya hanya bisa terdiam di sudut dinding dekat dengan dispenser, pandangannya masih saja tertuju pada beling yang masih berserakan di lantai.


"Apa kamu masih sakit?" Tanya Iqbal.


"Tidak. El tidak sakit tuan. Tidak sama sekali, apa ada yang bisa El bantu? tuan butuh sesuatu? tuan mau sarapan? atau mungkin tuan mau mengepac baju untuk pergi? apa yang tuan inginkan?"


"Baik tuan."


Elsaliani segera bangun lalu segera melangkah menuju kamar Iqbal. Meski harus menahan rasa sakit, Elsaliani terus berjalan, ia tidak ingin Iqbal kembali marah-marah yang kan berujung dengan memukul dirinya lagi.


Sesampai di kamar Iqbal, Elsaliani segera mencari letak kunci mobil milik Iqbal. Setelah menemukannya Elsaliani bergegas untuk membawanya keluar namun dalam seketika tubuhnya ambruk ke lantai.

__ADS_1


"Aw,,,,kenapa rasanya perut ini sakit sekali? tidak biasanya seperti ini, bagaimana ini? perut tolonglah sakitnya ntar lagi aja, jangan sekarang, kamu nggak mau kan kalah dia memukul seluruh tubuh ini lagi? Aw,,," Tangis Elsaliani kesakitan bercampur dengan rasa takut.


Dengan susah payah Elsaliani mencoba untuk berdiri kembali, lalu kembali melangkah keluar, namun sebelum ia melangkah Iqbal telah muncul di hadapannya, membuat Elsaliani mematung.


"Kenapa lama sekali sih? kamu sengaja ya melakukannya? kamu sengaja ingin membuat aku telat kan??"


"Maafkan El!"


"Sini kuncinya!" Pinta Iqbal dengan kasar tangan Iqbal langsung mengambil kunci yang masih di pegang oleh Elsaliani, di saat itu pula tubuh Elsaliani kembali ambruk ke lantai.


"Maafkan El."


Entah untuk ke yang kesekian kalinya Elsaliani meminta maaf di pagi ini. Hal tersebut membuat Iqbal terganggu, perlahan tangan Iqbal meraih tangan Elsaliani, mencoba untuk membantunya berdiri. Elsaliani memilih untuk tidak meraih uluran tangan Iqbal, Elsaliani malah lebih memilih untuk berpegangan pada dinding lalu berusaha untuk kembali berdiri tegak.


"Tuan, jangan pernah ulurkan tangan hangat tuan kearah El, karena El bisa saja mengotori tangan tuan. Jangan pernah membantu El, karena itu bisa membuat El semakin jatuh cinta pada tuan. Maaf, karena gadis jelek ini terus saja menyusahkan tuan, El sendiri tidak mengerti, El nggak faham dengan diri El sendiri. Jadi El mohon jangan pernah bersikap baik pada El, karena itu semua akan membuat hati El semakin menggilai tuan. Sebaliknya, makilah El, hina El seperti yang biasa tuan lakukan, perlakukan gadis jelek ini dengan kasar karena El telah merusak hidup tuan, karena El sudah berani datang dalam hidup tuan yang begitu sempurna, karena El sudah berani jatuh cinta pada lelaki setampan tuan. Teruslah bersikap dingin pada El, karena hanya dengan begitu El bisa bernafas dengan lega. Maaf karena El menjadi jodoh tuan, maafkan El!" Jelas Elsaliani panjang lebar dengan di sertai linangan air mata yang tak terbendung kan lagi, hingga memuncah dan mengalir deras membasahi kedua pipi Elsaliani.


Masih dengan tangan yang bertumpu pada dinding, Elsaliani mencoba keluar dari kamar Iqbal tanpa menunggu perintah lebih dulu dari Iqbal. Dan entah mengapa Iqbal tidak mencegah atau pun mengamuk karena ulah Elsaliani kali ini yang mengingatkannya tanpa aba-aba darinya lebih dulu.

__ADS_1


Iqbal terdiam menyaksikan kepergian Elsaliani yang perlahan menghilang dari kamarnya. Sejenak mencoba memahami penjelasan Elsaliani hingga akhirnya Iqbal memutuskan untuk bergegas berangkat kerja.***


__ADS_2