
Ngga nyangka ya gaes udah sampe bab 100.
selamat menjalani hari-hari di tahun 2023.
**
Dua bulan telah berlalu, dan hari ini adalah hari yang paling di nantikan oleh Bryan. Bahkan mungkin semuanya juga sudah menantikan datangnya hari ini.
Bryan sudah siap dengan balutan kemeja putih dan celana dengan warna senada. Ia bahkan terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Pria tampan itu berkaca di cermin dan memperhatikan dirinya sendiri lamat-lamat.
"Kau gugup?" Tanya tuan Arya yang memasuki ruangan Bryan.
"Sedikit Pa" jawab Bryan.
"Seorang Bryan juga bisa merasakan keguguran ternyata" seru seseorang yang baru muncul dari balik pintu. Di belakangnya ada dua orang yang berjalan menuju Bryan juga.
Bryan hanya memandang sinis ke arah orang itu kemudian menoleh ke arah Papa nya.
"Wajar jika kau gugup. Hari ini adalah hari sakral yang akan kau lakukan sekali seumur hidup." Ucap tuan Arya merangkul bahu putra nya.
"Kalian keluar lah dulu, paman akan berbicara sesuatu dengan Bryan. Jika sudah waktunya salah satu dari kalian bisa memanggil kami" ucap tuan Arya.
Mereka bertiga yang baru masuk pun keluar lagi, namun sebelum itu Aldo menepuk bahu Bryan, menyemangati temannya itu. Bryan pun hanya tersenyum tipis. Di balik ucapan Aldo yang terkadang menyebalkan namun Aldo adalah sosok teman yang setia.
"Bryan..."
"Ya Pa"
"Menikah adalah ibadah. Jika nanti kau temui istri mu memiliki kekurangan yang tidak pernah kau ketahui. Terima lah." Ucap tuan Arya. Bryan pun menganggukkan kepalanya.
"Menikah juga bukan tentang wanita itu harus pandai memasak, pandai membersikan rumah, pandai merawat tanaman atau pun pandai bersolek. Tapi menikah tentang bagaimana rumah tangga itu bisa di jalani bersama-sama. Jika suatu saat kau mendapati istri mu tidak bisa bersolek maka jangan sampai kau berpaling darinya dan mencari wanita yang lebih cantik dari nya." Lanjut tuan Arya menasihati putranya.
Angga menatap sang Papa yang tengah menasihatinya. Begitulah konsep pernikahan menurut Papa nya. Dan selama ini itulah yang di lakukan oleh Papa nya ketika mendapati sang Mama sedang malas-malasan ataupun menguji kesabaran. Karena wanita adalah makhluk yang manja jika di sandingkan dengan orang yang tepat. Namun, setiap kali kemanjaan Mama nya adalah sebuah kebahagiaan untuk Papa nya.
__ADS_1
"Ingat Bryan, jangan pernah menyembunyikan keuangan dari seorang istri. Karena dalam berumah tangga suami wajib menyediakan sandang, pangan, dan papan untuk istrinya. Sandang, yang berarti kau harus menyediakan pakaian yang layak dan terbaik untuk istrimu. Pangan, yang berarti kau harus menyediakan makanan dan jangan membuat istri mu kelaparan. Dan papan, yang berarti kau harus menyediakan rumah yang indah dan menjadikan rumah itu surga agar kehidupan kalian selalu bahagia. Jangan sampai kau melalaikan salah satunya Nak" ucap tuan Arya. Kali ini dengan suara serak.
"Pa....." Panggil Bryan, tuan Arya pun menoleh.
"Putra Papa sekarang sudah dewasa. Dan hari ini adalah hari pernikahan nya. Papa merasa senang sekaligus sedih. Papa terharu" ucap tuan Arya kemudian mengusap air mata yang telah mengalir di pipi.
"Ya... Putra Mama sudah dewasa. Dengar baik-baik apa yang telah di ucapkan oleh Papa mu Nak... Jangan sampai kau bersikap seolah dirimu masih sendiri padahal kau sudah menikah" ucap nyonya Lana yang sedari berdiri dan mendengar semua apa yang suaminya ucapkan.
Nyonya Lana memeluk singkat Bryan, kemudian memegang pipi Bryan.
"Kau harus menjadi pria yang bertanggung jawab seperti ayah mu" ucap sang Mama lagi kemudian mencium kening putranya.
"Iya Ma" jawab Bryan.
"Acara ijab qobul sudah mau di mulai tuan, penghulu juga sudah sampai" ucap Romy dari balik pintu.
"Terima kasih." Ucap nyonya Lana.
"Mari Pa, kita antar putra kita menuju pihak wanita. Seperti dulu ketika kita mengantar nya masuk sekolah TK" ucap nyonya Lana.
Bryan berjalan melewati para tamu undangan yang terkesima dengan penampilannya yang membuat Bryan terlihat sangat tampan. Di belakang mereka tiga orang yaitu Aldo, Romy dan Andre yang menjadi Bridesmaids berjalan mengiringi langkah mereka.
Semua pandangan tertuju pada Bryan yang terlihat tampan dan tersenyum tipis. Bryan duduk di bangku di depan penghulu dan di samping penghulu ada tuan Wijaya.
Tak lama Gita pun keluar dari ruangan meja rias. Semua mata terlihat kagum saat Gita keluar di gandeng oleh nyonya Indira dan Karin, di sebelah Karin ada Dahlia yang mengenakan baju dengan warna yang sama seperti Karin.
Dengan balutan kebaya putih dan rambut di sanggul Gita terlihat lebih dewasa dan cantik, bahkan Bryan tidak berkedip menatap wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.
Mata Bryan mengikuti setiap langkah Gita, hingga Gita sudah duduk di sampingnya Bryan masih belum mengalihkan pandangannya. Bahkan ketika Karin menutup kepala Gita dan Bryan dengan selendang putih Bryan masih belum mengalihkan pandangannya dari Gita.
"Mas. Sudah siap melakukan ijab qobul? Sabar ya, nanti juga mas nya bisa unboxing mba Gita setelah sah" ucap penghulu menggoda Bryan.
Bryan pun hanya tersenyum malu ketika orang tua dan calon mertuanya serta beberapa orang ikut terkekeh mendengar ucapan penghulu itu. Sementara Gita, pipi nya sudah semerah tomat sejak Bryan memandangi nya.
__ADS_1
"Jabat tangan saya mas" ucap penghulu itu. Bryan pun melakukan apa yang di perintahkan.
"Mas Bryan sudah siap?" Tanya penghulu
"Sudah pak" jawab Bryan.
"Disini saya hanya mewakili saja, sebab yang akan mengijab kan kalian adalah ayah kandung dari mba Gita sendiri" jelas penghulu.
"Saya tanya, apakah dalam pernikahan ini baik mba Gita atau mas Bryan melakukan nya atas dasar cinta sama cinta atau terpaksa?" Tanya penghulu.
"Kami saling mencintai pak" jawab Bryan tegas
"Bagaimana dengan mba Gita?"
"Iya pak. Kami menikah karena kami saling mencintai" jawab Gita tak kalah tegas.
"Alhamdulillah. Baik pak Wijaya, anda sudah bisa melakukan ijab dengan pengantin laki-laki" ucap penghulu.
"Mas Bryan silahkan berjabat tangan dengan calon ayah mertua" ucap penghulu.
Tuan Wijaya dan Bryan pun saling berjabat tangan.
"Sebelum saya menikahkan engkau wahai Bryan Albara, saya sebagai wali dari gadis yang engkau cintai ingin menyampaikan sesuatu" ucap tuan Wijaya.
"Putriku adalah gadis manis yang manja dan tidak pernah melakukan pekerjaan yang berat. Ketika kalimat ijab dan qobul nanti terucap tanggung jawab ku sebagai ayah akan beralih kepada mu, sebagai suami dari putriku." Lanjut tuan Wijaya.
"Aku menyayangi putriku sejak ia belum lahir ke dunia ini, maka jangan sampai kelak engkau menyakiti nya. Aku mencintai putriku seperti engkau mencintai ibumu, jangan pernah kecewakan putriku atau kau sama saja melukai hatiku" ucap tuan Wijaya dengan suara serak.
Nyonya Indira yang berdiri di samping nya pun mengelus bahu suaminya. Tidak ada ayah yang tidak menangis ketika akan menikahkan putrinya.
"Jangan pernah engkau lukai hati putriku, atau aku akan menjadi orang pertama yang menghukum mu. Putriku bukan gadis sempurna maka jika suatu saat kau menemui kekurangan darinya jangan marahi atau kau bentak dia. Dan seandainya... Jika suatu saat kau merasa bosan dan cinta mu pada putriku telah menipis kembalikan ia padaku dengan cara yang baik. Jangan siksa dia. Aku pasti akan menerima kepulangan nya dengan lapang dada. Karena bagaimanapun ia tetap putriku dan selamanya akan menjadi putriku meskipun setelah ijab qobul nanti ia akan menjadi hak mu" ucap tuan Wijaya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
Suasana pun menjadi haru, terlebih Gita. Gadis itu sudah terisak ketika mendengar pesan-pesan ayah nya untuk Bryan.
__ADS_1
***
salam manis dari othor, semoga para pembaca sehat selalu