
Tok ... Tok ....
Denan mengetuk pintu ruangan tuan Kurnia. Denan pun masuk ruangan setelah di persilahkan masuk oleh tuan Kurnia.
"Tuan, ini laporan yang anda minta" ucap Denan menyerahkan sebuah map berwarna hijau
Tuan Kurnia menerima map itu lalu membuka nya. Di dalam map terdapat amplop coklat dan juga selembaran kertas. Tuan Kurnia membaca selembaran kertas itu, dahinya mengernyit ragu. Ia membaca ulang kertas itu.
"Ini daftar orang yang menyewa kamar hotel. Untuk apa kau memberikan ini kepadaku" tanya tuan Kurnia menatap Denan.
"Em, ya tuan karena itu berkaitan dengan informasi yang anda minta" jelas Denan
"Apa maksudmu"
"Coba tuan buka dulu dan lihat apa isi di dalam amplop itu"
"Kau belum membukanya?"
"Belum tuan, ini adalah hasil kerja dari anak buah kepercayaan saya"
Tuan Kurnia pun membuka amplop coklat itu. Ia mengambil sesuatu dari dalam amplop, dan tuan Kurnia kaget saat melihat di dalam amplop itu adalah foto seseorang yang sangat di kenalnya.
Braakk...
Tuan Kurnia memukul meja bersamaan dengan foto yang tadi ia pegang. Wajahnya menjadi merah padam ketika melihat foto tadi. Foto itu pun jatuh ke bawah meja dan terjatuh tidak jauh dari tempat Denan berdiri. Mata Deka melotot saat ia melihat foto itu, pantas saja tuan Kurnia begitu marah saat melihat foto itu. Denan langsung mengambil foto itu dengan hati-hati dan menajamkan pandangan nya untuk memastikan bahwa yang dia lihat adalah benar.
"Tuan.." panggil Denan
"Selidiki lebih lanjut lagi, aku yakin anak buah mu telah melakukan kesalahan" kata tuan Kurnia yang terduduk lemah di kursi. Rupanya melihat foto tadi cukup mengagetkan jantung nya.
"Baik tuan, saya akan menyelidiki hal ini sendiri. Saya pamit undur diri" pamit Denan dan di angguki oleh tuan Kurnia.
"Sisi, kakek harap kau tidak mengecewakan kakek" ucap tuan Kurnia menatap selembaran kertas dan juga foto yang baru saja ia terima itu
***
__ADS_1
Hari ini sepertinya akan sangat cerah, terlihat dari sinar matahari yang sudah mulai meninggi padahal waktu masih pukul delapan pagi.
"Sshhh....." Ringis Angga yang baru saja membuka mata. Ia merasakan sakit saat ia menggerakkan mata dan tangannya.
Samar-samar Angga membuka perlahan matanya meskipun terasa sedikit perih. Luka yang di berikan oleh beberapa orang semalam ternyata cukup meninggalkan banyak bekas. Terlihat mata Angga yang sedikit membiru dan di bagian wajah yang juga terdapat lebam. Bahkan tangan dan kakinya terasa kaku saat di gerakkan, perutnya pun terasa kram saat Angga mencoba duduk.
"Auuu..." Ringis Angga lagi saat ia mencoba berdiri. Ia mengusap sudut bibirnya dan terdapat bekas darah yang sudah kering.
'siapa orang-orang semalam' tanya Angga dalam hati.
Angga pun berjalan keluar dari gudang dan berjalan menuju parkir tempat ia memarkirkan mobil nya. Angga berjalan dengan sempoyongan karena pusing kebanyakan minum dan juga perih akibat pukulan. Angga masih bingung dan heran, ia tidak pernah menyinggung siapapun tapi kenapa ada orang suruhan yang menghajar dirinya habis-habisan.
Angga segera masuk ke mobil saat ia sudah sampai di parkir. Ia pun melajukan mobil ke arah rumahnya. Tak ia pedulikan lagi jam yang sudah beranjak siang dan dipastikan ia pasti terlambat ke kantor, namun ia tidak peduli, saat ini ia hanya ingin segera sampai ke rumah untuk mengobati luka dan mengisi perutnya yang lapar.
"S*al.... Siapa yang menyuruh mereka semalam. Sshhh" ucap Angga marah lalu kemudian meringis karena sakit di area bibir nya.
Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit, Angga pun sampai di halaman rumahnya. Di depan rumah sudah ada Santi yang sedang menyiram bunga. Santi menghentikan aktivitasnya menyiram bunga ketika ia melihat mobil sang suami masuk ke halaman rumah mereka. Santi meletakkan teko yang ia gunakan untuk menyiram bunga lalu menghampiri mobil sang suami.
"Mas kamu kenapa?" Seru Santi melihat keadaan sang suami yang babak belur.
"Auuu, sakit" kata Angga saat Santi menyentuh pipinya yang biru.
"Kamu kenapa mas?" Tanya Santi lagi.
"Ayok masuk ke rumah, biar aku obati luka kamu" Santi pun mengajak sang suami masuk ke rumah.
Santi mengambil air es dan juga kotak p3k untuk mengobati sang suami. Setelah meletakkan mangkok yang berisi air es Santi pun segera mengompres luka lebam sang suami dengan handuk kecil.
"Sshhh... Pelan-pelan" ucap Angga meringis.
Santi pun mengelap luka Angga dengan lebih pelan lagi agar Angga tidak merasa sakit.
"Siapa yang melakukan ini mas" Santi bertanya lagi,
"Aku juga ngga tau" jawab Angga.
__ADS_1
Santi pun mengobati luka Angga dengan mengoleskan obat merah dan antiseptik ke luka yang ada di wajah Angga. Sedangkan Angga hanya diam saja dengan sesekali meringis saat Santi tidak sengaja terlalu menekan luka di wajah Angga.
***
"Lo kenapa?" Tanya Karin pada Gita saat mereka sedang menaiki lift kantor.
"Gue? Emang gue kenapa?" Tanya Gita ambigu. Dan hal itu membuat Karin menghembuskan nafasnya kasar.
"Lo tuh dari tadi ngelamun Mulu tau nggak" jelas Karin.
"Oh, iya kah?" Tanya Gita menatap ke arah Karin, dan Karin memutar matanya jengah dengan sikap Gita
"Lo kenapa, Lo ada masalah? Perasaan semalem masih happy aja"
Sebelum menjawab pertanyaan Karin, Gita terlebih dulu menarik nafasnya panjang. Ada sedikit sesak di dadanya.
"Semalem kak Bryan Dateng ke rumah gue" ucap Gita pelan. Ia tidak berani menatap kearah Karin.
Karin mengedipkan matanya dan sedikit melongo mendengar perkataan Gita. Hal yang wajar bukan jika seorang pengusaha muda seperti Bryan datang ke rumah pengusaha senior seperti pak Abdi Wijaya. Ayah dari Gita.
"Terus" tanya Karin tak mengerti
"Karin, Lo ngga lupa kan sama kejadian waktu itu" kata Gita frustasi.
Mulut Karin seketika menganga dan ia segera menepuk jidatnya saat ia baru menyadari hal itu.
'gimana gue bisa lupa' batin Karin meringis
"Gue belum siap ketemu kak Bryan" ucap Gita sendu.
Karin mengusap lembut bahu Gita. Ia mengerti apa yang di rasa oleh Gita. Waktu itu jika Bryan lebih dulu mengungkapkan perasaannya terhadap Gita. Mungkin saat ini Gita dan Bryan akan menjadi couple goals. Namun sayang saat itu Bryan terlambat. Karena ternyata Angga sudah lebih dulu mengutarakan perasaannya kepada Gita. Dan tepat sehari setelah Angga menembak Gita, Bryan mengungkapkan perasaannya. Gita tipe wanita setia, meskipun saat itu Gita juga memiliki perasaan yang sama dengan Bryan. Namun karena sudah memiliki hubungan dengan Angga maka mau tidak mau Gita pun menolak Bryan.
Dan rupanya hal itu membuat Bryan kecewa dan pergi jauh dari Gita dan sekarang baru kembali lagi.
harap bijak dalam membaca dan jangan lupa untuk memberikan vote dan like
__ADS_1