
"Apa maksud semua ini Ma?" Tanya Angga yang sejak tadi diam.
Angga baru berani bertanya ketika dirasa keadaan sudah aman. Nyonya Indri pun sudah tidak menangis lagi hanya terdengar isakan kecil yang masih keluar dari bibirnya. Sementara Santi masih dalam posisi memeluk lutut sang Mama, dan menyenderkan kepalanya di paha sang Mama.
"Kau tak tau Angga?" Tanya nyonya Indri menatap sang menantu dengan wajah yang sembab. Sementara Angga hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Beberapa tahun yang lalu, papa mertua mu mengalami sakit parah dan menyebabkan harus di rawat di rumah sakit. Saat itu perusahaan juga sedang mengalami krisis. Santi pun tidak memiliki pekerjaan karena saat itu masih kuliah di jurusan designer. Karena Papa mertua mu sakit dan Santi tidak bisa mengontrol perusahaan akhirnya perusahaan itu ada di ambang kebangkrutan." Ucap nyonya Indri menulis ceritanya. Matanya kembali berkaca-kaca, terlihat ada banyak duka disana.
Nyonya Indri mengambil nafas panjang sebelum memulai ceritanya kembali.
"Saat itulah Gita datang sebagai sahabat Santi dan juga penyelamat keluarga kami. Gita menyerahkan hampir semua tabungannya untuk biaya pengobatan papa mertua mu dan juga menanamkan saham dan memasukkan orang kepercayaannya di perusahaan papa mu hingga perusahaan itu bisa kembali bangkit sampai saat ini. Bukan hanya itu Gita bahkan membantu Santi mewujudkan mimpinya menjadi seorang desainer terkenal dengan mengenalkan ke beberapa teman Gita yang memang keluarga kaya. Gita membantu Santi membangun butik dan mewujudkan mimpinya hingga butik itu menjadi di kenal banyak orang. Tapi apa yang telah Santi lakukan kepada Gita? Itu....." Nyonya Indri tak sanggup berkata lagi, ia meraup wajahnya dengan kedua tangan dan kembali menangis.
Sementara Santi langsung mendongak ke arah sang Mama. "Maafin Santi Ma, Santi tau Santi salah... Maafin Santi" seru Santi dengan air mata berlinang dan suara serak.
Tuan Adnan memeluk tubuh istrinya, bagaimanapun ia juga merasa berhutang kepada Gita. Tapi putrinya justru menyakiti hati Gita. Tuan Adnan juga ikut kecewa.
"Pa...." Panggil Santi, namun sang Papa hanya mengalihkan pandangan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafin Santi Pa" ucap Santi.
***
"Bagaimana bisa kau melakukan ini Jodi?!" Tanya tuan Kurnia lantang.
Tuan Kurnia menatap pria yang saat ini sedang terikat dengan posisi terduduk. Sementara tuan Arya menyaksikan itu dengan bibir tersenyum miring.
"Papa lihat, seorang pria yang Papa elu-elu kan adalah orang yang dua kali ingin mencelakai Papa dengan sengaja." Seru tuan Arya.
__ADS_1
Nyonya Lana yang ada di samping tuan Arya pun menenangkan sang suami dengan mengelus lembut lengan suaminya. Sedangkan Bryan duduk tak jauh di sofa dan di belakangnya ada Romy dan Indra.
"Katakan!! Kenapa kau diam?" Tanya tuan Kurnia ketika orang yang terikat itu hanya menundukkan kepalanya.
"Apa yang perlu ku katakan?" Tanya balik orang itu mendongakkan kepalanya ke atas menatap tuan Kurnia. Tampak pada ujung bibir pria itu lebam berwarna biru dan di beberapa bagian wajah lainnya.
"Apa maksud mu?" Tanya tuan Kurnia menatap nyalang orang itu.
"Cih, aku hanya ingin Arya merasakan apa yang aku rasakan" ucap orang itu dingin.
"Apa hubungannya dengan ku?" Tanya tuan Arya langsung berdiri dari duduknya.
"Aku kehilangan ayahku karena ayahmu kan?" Tanya orang itu.
"Itu adalah sebuah kecelakaan" ucap tuan Arya.
"Tapi sayang sekali ada seorang gadis cantik yang menyelamatkan lelaki tua ini, sehingga tembakkan ku justru melesat ke arah gadis itu" ucap orang itu sembari tertawa hambar. Namun terlihat rona sedih di matanya.
"Tapi, aku pun bersyukur karena gadis itu yang terkena tembakan ku" ucap nya lagi setelah diam beberapa saat. Pria itu menatap Bryan.
Sementara Bryan langsung menatap tajam pria itu, meskipun Bryan tahu pria itu harus ia hormati karena pria itu adalah mantan calon ayah mertua nya.
"Gadis itu yang menyebabkan putriku harus menderita!!" Ucap pria itu dengan suara lantang.
"Kau sudah berjanji untuk menikahkan cucu mu dengan putriku, tapi apa yang terjadi???? Cucu mu justru menikahkan putriku dengan pria yang tidak jelas asal-usulnya!!!" Serunya lagi menatap tuan Kurnia.
"Paman jangan salah" ucap Bryan santai. Ia menyilangkan kakinya dan menatap lurus ke arah pria yang tidak bisa apa-apa itu karena tubuhnya yang terikat.
__ADS_1
"Aku sudah melakukan apa yang seharusnya di lakukan" lanjut Bryan.
"Anak mu hamil dengan pria yang kini menjadi suaminya. Jadi bukankah aku tidak salah jika menikahkan dia dengan calon ayah dari bayi yang di kandung nya? Dimana letak salah ku?" Tanya Bryan dengan suara pelan namun tegas.
"Kurang ajar kau Bryan!!!" Teriak pria itu.
"Jodi! Aku harap kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan. Apa yang di lakukan Bryan sudah benar." Ucap nyonya Lana.
"Diam kau! Kau tau apa?" Ucap pria yang bernama Jodi itu.
"Kau membela nya karena dia adalah putra mu!!" Lanjutnya.
"Bagaimana jika kau yang berada di posisi Bryan? Apakah kau akan menerima gadis yang telah hamil? Sementara gadis itu bukan hamil anakmu?" Tanya nyonya Lana membuat tuan Jodi terdiam.
"Emosi dan dendam tidak akan menyelesaikan sebuah masalah." Ucap nyonya Lana.
"Kejadian waktu itu yang menyebabkan ayah mu meninggal kami pun menyesalinya. Apa kau pikir kami tidak merasa kehilangan. Jangan egois Jodi, jangan pikirkan perasaan mu sendiri yang merasa seolah paling tersakiti. Karena kami pun juga terluka atas kepergian nya" ucap nyonya Lana dengan suara serak, matanya pun berkaca-kaca.
"Bukankah dulu kita adalah baik, hingga kejadian naas waktu itu kau mulai menghindari keluarga kami. Awalnya kamu pikir kau masih terpukul atas kepergian beliau. Namun ternyata yang ada di dalam hatimu adalah rasa dendam." Nyonya Lana memalingkan wajahnya dan mengedipkan matanya beberapa kali untuk menahan embun di matanya yang ingin menerobos keluar.
"Jika kau berhasil melukai Papa mertua ku apakah kau akan merasa puas? Apakah rasa kehilangan dan rasa sakit dalam jiwamu akan terobati?" Tanya nyonya Lana menyeka air mata yang berhasil keluar dari matanya.
Tuan Arya merangkul bahu sang istri, bagaimana pun ayah dari tuan Jodi adalah seorang pria yang telah di anggapnya sebagai ayah angkat. Tuan Arya menyaksikan sendiri bagaimana terpukulnya sang istri ketika mengetahui ayah angkatnya telah berpulang. Namun, apa yang bisa di lakukan selain menerima kepergian ayah angkatnya?
"Jodi, lupakanlah luka masa lalu itu. Sisi sudah bahagia dengan calon keluarganya. Kau juga akan bahagia dengan keluarga dan kehadiran calon cucumu. Jangan perdalam dendam yang ada di hatimu karena itu akan menyakiti dirimu sendiri" ucap tuan Kurnia yang sudah terduduk di sofa.
"Kejadian waktu itu aku pun menyesalinya, jika aku boleh meminta waktu itu harusnya aku saja yang terkena tembak dan mat*. Tapi justru ayah mu menyelamatkan ku. Kau pikir aku tidak terluka. Aku sama terlukanya seperti mu" lanjut tuan Kurnia.
__ADS_1