
Di rumah makan mang Rahmat, saat ini Gita dan Bryan sudah selesai makan malam. Namun, sejak suapan pertama hingga makanan mereka habis Gita terlihat tidak fokus.
"Gita...?" Panggil Bryan.
"Hah..! Iya kak apa?" Jawab Gita sedikit terkejut.
"Kamu kenapa?" Tanya Bryan.
"Aku ngga papa," jawab Gita menggelengkan kepalanya. "cuma kepikiran aja, Karin kesini bareng siapa gitu." Lanjutnya.
"Ya udah lah, Karin kan udah dewasa. Wajar kalau makan bareng cowok. Sama kayak kita sekarang kan?" Ucap Bryan.
"Ya, tapi beda. Karena selama ini Karin ngga pernah cerita sama aku kalau dia lagi Deket sama cowok" jelas Gita..
"Tapi,,,, pas waktu itu Karin pernah bilang sih kalau dia lagi suka sama cowok." Ucap Gita lagi.
"Ya udah, jangan bahas itu. Kita bahas masalah kita aja" ucap Bryan menatap Gita dengan tatapan yang teduh.
Gita balik menatap Bryan, jantungnya menjadi tidak beraturan. Mereka bertatapan cukup lama, bahkan dapat dilihat dari mata mereka bahwa sebenarnya mereka masih memiliki perasaan yang sama.
"Apa yang perlu di bahas?" Tanya Gita menatap Bryan sendu. "Semua udah jelas. Kakak sudah bertunangan dan aku berharap setelah ini kita ngga bakal ketemu" lanjut Gita.
"Gita, aku belum memiliki tunangan. Sekalipun aku bertunangan, itu sama kamu. Dan selain sama kamu aku ngga mau" ucap Bryan meraih tangan Gita.
"Tatap mata aku" ucap Bryan membuat Gita menatapnya. Bryan menggenggam tangan Gita lembut. "Dengerin aku Git, rasa ini, rasa yang ada disini..." Ucap Bryan meletakkan satu tangan Gita tepat di jantungnya.
__ADS_1
"Masih sama seperti dulu" lanjut Bryan. "Aku hanya mencintaimu, tidak ada wanita lain yang menduduki singgasana di hatiku, selain kamu..." Lanjut Bryan lalu mencium kedua tangan Gita.
'aku juga masih mencintaimu kak, rasa di hatiku juga tidak pernah berubah untukmu.'
Ingin sekali Gita menjawab seperti itu, namun ia hanya bisa mengatakannya di dalam hati. Karena bibirnya terasa kelu untuk mengungkapkan kata itu. Terlebih ia masih ingat dengan ucapan lelaki tua yang menjadi kakek Bryan.
Tanpa sengaja air mata Gita jatuh ke pipi, ia sungguh merasa tersentuh dengan ucapan Bryan yang masih mencintainya hingga sekarang. Gita reflek menarik tangan yang masih di genggam oleh Bryan. Lalu mengusap air mata yang telah di pipinya.
"Kita pulang saja kak. Sudah malam" ucap Gita lalu berdiri dan meninggalkan Bryan.
Bryan menghembuskan nafasnya pelan dan melihat Gita yang sudah mulai keluar dari rumah makan itu. Bryan pun menyusul langkah kaki Gita. Bryan sungguh tak habis pikir bagaimana bisa Gita berkata seolah dia tidak memiliki perasaan apapun pada Bryan. Padahal dari tatapan mata Gita terlihat jelas bahwa Gita pun pasti menaruh hati pada Bryan.
Bryan berlari dengan pelan saat Gita sudah sampai di dekat mobil. Bryan pun membukakan pintu mobil untuk Gita lalu berputar untuk naik di bagian kemudi.
Tak lama mobil Bryan pun melaju dengan kecepatan sedang. Selain untuk keamanan tentu saja karena Bryan masih ingin menikmati malam bersama gadis yang di cintainya ini. Di perjalanan Gita lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah luar sedangkan Bryan sering mencuri pandang ke arah Gita yang seperti tengah melamun.
Mobil Bryan berhenti tepat di rumah Wijaya. Bryan pun turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Gita. Gita pun turun dari mobil, sekilas Gita dan Bryan saling bertatapan. Namun Gita langsung memalingkan wajahnya karena lagi-lagi ia harus bisa menahan perasaannya karena kini Bryan sudah memiliki calon tunangan. Dan calon tunangan Bryan adalah wanita yang di pilih oleh kakeknya sendiri.
"Aku masuk dulu" pamit Gita kepada Bryan. Gita pun lalu melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti saat Bryan meraih pergelangan tangan Gita. Sehingga mau tak mau Gita pun kembali bertatapan dengan Bryan.
"Git, kakak mohon... Pertimbangkan ucapan kakak. Kakak sungguh masih sangat mencintaimu..." Mohon Bryan pada Gita. Namun Gita menghempaskan tangan Bryan dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Bryan pun hanya bisa menatap pintu yang sudah tertutup kembali karena Gita sudah masuk ke dalam rumah.
"Apa alasan kamu nolak aku Git,,, padahal jelas terlihat kalau kamu juga suka sama aku...??!" Ucap Bryan pelan. Pria yang memakai baju kemeja santai itu meremas rambutnya kasar lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Sementara di dalam rumah, Gita belum masuk ke kamar. Gita masih bersandar di pintu, ia menghapus air mata yang lagi-lagi jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Maafin Gita kak, Gita sebenernya juga cinta sama kakak. Tapi Gita masih inget sama ucapan kakek waktu itu. Gita ngga pantes buat kakak." Ucap Gita sambil terisak lalu berjalan hendak masuk ke kamar.
Gita berjalan sambil melamun, bahkan tanpa sadar di ruang keluarga orang tua dan kakeknya masih menunggu kepulangannya.
"Gita..." Panggil sang mama pelan. Gita pun menoleh dan buru-buru menghapus sisa air matanya.
"Iya Ma.." jawab Gita dengan senyum paksa lalu berjalan mendekat ke arah sang mama.
"Kamu sudah pulang? Mana Bryan, dia ngga masuk dulu?" Tanya mamanya.
"Emm,, kak Bryan langsung pulang Ma" alibi Gita. "Kalau gitu Gita langsung masuk kamar ya Ma" ucap Gita langsung pergi dari ruang tamu.
Melihat itu sang kakek hanya bisa menatap iba kepada cucunya. Tuan Anggar berharap Bryan bisa tegas terhadap perasaannya sendiri dan semoga Bryan tidak mudah di atur oleh orang tua yang keras kepala seperti tuan Kurnia.
***
Bryan melajukan mobilnya dan pergi dari rumah Wijaya dengan perasaan sedih. Hingga setelah keluar dari gerbang rumah Bryan melihat seseorang yang sedang berjalan kaki dan saat melihat ke spion orang itu masuk ke rumah Wijaya.
Dari ciri-cirinya orang itu mirip dengan lelaki yang di maksud oleh mamang penjual nasi goreng. Bryan jadi berfikir, apakah Karin berpacaran dengan salah satu pekerja di rumah Wijaya?
Namun Bryan tak ambil pusing dan terus melajukan mobilnya.
"Aldo..." Ucap Bryan tiba-tiba.
"Ya, pria tadi sekilas sangat mirip dengan Aldo" ucap Bryan setelah mengingat sahabatnya yang telah lama kabur.
__ADS_1
Bryan melihat ke spion, ternyata ia sudah jauh dari rumah Wijaya maka ia pun mengurungkan niatnya yang hendak kembali ke rumah itu.
Sementara pria yang di lihat oleh Bryan tadi sedang bersembunyi di tembok gerbang rumah Wijaya. Pria itu masih sangat hafal dengan mobil milik Bryan. Untung saja Bryan seperti tidak menyadari dirinya. Pria itu pun langsung buru-buru masuk ke halaman rumah dan menuju kamarnya.