CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 49


__ADS_3

"Jangan mencoba merusak kembali apa yang sudah di perbaiki. Kami tidak akan tinggal diam..!" Ucap Andre kemudian berlalu disusul oleh Romy.


Sementara seseorang yang sedang duduk memperhatikan Romy dan Andre hanya menghembuskan nafas pelan. Bagaimanapun sebagai seorang kakek, tentu saja dia ingin melihat sang cucu bahagia dengan seseorang yang di cintainya. Namun, budi baik seseorang telah membuatnya harus bertindak seperti ini.


"Denan... Kau antar aku ke pemakaman" perintah orang itu dan di angguki oleh Denan. Pria yang masih muda itu segera meninggalkan tuan besarnya dan mengambil mobil.


***


"Ndre, lo mau ?" Tanya Romy kepada Andre yang sedang duduk di halaman belakang.


Andre pun menoleh dan melihat Romy yang sedang membuka bungkusan plastik yang tadi di bawanya. Ternyata isinya adalah beberapa macam buah. Andre pun mengambil buah apel yang mana buah itu adalah kesukaannya.


Mereka kemudian sama-sama diam sembari menikmati buah yang Romy bawa. Tak lama kemudian seseorang melihat mereka dari arah belakang. Seseorang itu tampak mendengus kesal dan menghampiri dua orang yang sedang fokus memakan buah.


"Ternyata disini.." ucap orang itu dari arah belakang.


Romy dan Andre pun menoleh ke belakang secara bersamaan. Andre hanya diam sementara Romy meringis.


Romy dan Andre mengira bahwa bos nya itu akan marah. Namun dugaan mereka salah, bos mereka ikut duduk di tengah-tengah mereka kemudian juga mengambil buah yang ada di samping Romy.


"Buahnya segar. Beli dimana?" Tanya bos mereka tanpa menoleh ke arah Romy ataupun Andre.


"Ee.... Ini...." Romy melihat ke arah Andre yang terlihat bodo amat dan tetap mengunyah buah apel yang tinggal separuh itu.


"Ini dari nona Gita bos" jawab Romy cepat membuat bos nya menghentikan gigitan pada buah pear yang ada di tangannya.


"Dari Gita?" Ulang bos nya menatap Andre.


"Iya. Ini sebagai hadiah karena saya mengantar nona Gita" jelas Romy berusaha santai. Pria muda itu takut bos nya akan marah.


"Oohh,,,, lihatlah bukankah Gita ku baik?" Tanya bos nya melanjutkan mengunyah buah pear.

__ADS_1


"I..iya bos" jawab Romy.


***


Di sebuah jalanan yang tidak jauh dari gerbang rumah Karin, saat ini Eka dan Karin baru saja pulang dari acara jalan-jalan mereka. Hari ini Karin sengaja izin tidak ke kantor karena ia ingin menghabiskan waktunya bersama sang kekasih. Namun tentu saja mereka berdua jalan bersama saat Eka sudah menyelesaikan tugasnya mengantar Gita ke kantor.


Eka dan Karin berjalan sambil bergandengan tangan. Tak lama mereka sudah sampai di gerbang depan rumah Karin.


"Kamu ngga mau mampir dulu?" Tanya Karin kepada Eka.


Eka memandang ke rumah yang mirip istana itu kemudian menatap sang kekasih.


"Lain kali ya. Nanti kalau hubungan kita sudah di ketahui" jawab Eka.


"Maafin aku ya. Kamu ngga apa kan menjalani hubungan kayak gini?" Tanya Karin dengan ekspresi sedih.


"Tentu saja tidak" jawab Eka mengelus puncak kepala Karin.


Karin pun hendak melangkahkan kakinya namun seperti ada yang menahan. Saat Karin menoleh ternyata pegangan tangannya masih belum di lepas oleh Eka.


"Sayang,, maafin aku ya nganter kamu pulang cuma jalan kaki" ucap Eka sendu. "Padahal pasti kamu ngga pernah jalan kaki siang-siang gini" lanjutnya.


"Aku enggak apa-apa kok, yaudah aku masuk ya" pamit Karin tersenyum pada Eka.


Karin pun berjalan menuju halaman rumah. Sementara Eka memperhatikan kekasihnya itu kemudian berlalu pergi. Bagaimanapun sebentar lagi adalah tugasnya menjemput sang nona. Dengan sedikit berlari Eka pun meninggalkan rumah Karin.


Sementara Karin yang sudah sampai di halaman melipat keningnya heran. Ia melihat sebuah mobil yang di kenalnya. Mobil ini yang datang beberapa bulan yang lalu. Karin menghembuskan nafasnya kasar, gadis itu tau apa yang akan terjadi di dalam rumah ini malam nanti.


Saat Karin berjalan hendak masuk ke rumah. Karin melihat supir pribadinya sedang ngopi berdua bersama tukang kebun. Hari sudah mulai sore para pekerja di rumah itu pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya maka mereka di beri kebebasan untuk sekedar mengobrol dan bersantai.


"Sore non.." sapa Andi, saat melihat Karin yang hendak masuk ke dalam rumah. Karin pun hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sore non.." ucap tukang kebun di sebelah Andi, Karin tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah.


Karin berjalan melewati ruang tamu dengan santai. Perasaannya hari ini sedang bahagia. Karin tersenyum saat tadi dengan romantis Eka menggandeng tangannya. Karin terus tersenyum hingga tanpa sadar Karin sudah ada di ruang tamu.


Di ruang tamu ada orang tua Karin dan juga dua orang yang di kenal Karin. Karin yang masih membayangkan kebersamaan bersama sang kekasih tadi membuat Karin tidak sadar bahwa ia sedang di perhatikan oleh kedua orang tuanya.


"Karin...." Panggil sang Mama menepuk pundak Karin. Dan hal itu sukses membuat Karin berjingkat kaget.


"Mama.." seru Karin langsung memeluk sang Mama. Karin belum sadar dengan kehadiran dua orang yang di kenalnya.


"Karin langsung ke kamar ya. Mau mandi, udah gerah banget" ucap Karin melepas pelukannya kepada sang Mama lalu bergegas naik ke atas. Bahkan Karin tidak memperhatikan kedua tamu yang duduk di samping sang Papa.


"Apa Karin sudah punya pacar jeng?" tanya tamu perempuan itu setelah nyonya Siska duduk kembali


"Saya sendiri sih belum tahu jeng, tapi akhir-akhir ini Karin sering keluar. Ngga tahu mau ketemu sama siapa" jelas nyonya Siska.


"Terus gimana jawaban Karin sama perjodohan ini Jeng?" tanya tamu perempuan itu lagi.


"Ma... Karin sudah dewasa. Jangan terlalu memaksa. Biarkan mereka memilih jalan mereka masing-masing" ucap suami dari perempuan itu.


"Tapi Mama pengen besanan sama jeng Siska Pa.." ucap tamu perempuan itu.


"Saya juga berharap bisa besanan sama jeng Sarah. Tapi ya kalau perasaan anak-anak ngga bisa, ya saya ngga bisa memaksa" jelas nyonya Siska.


Kedua orang tua itu pun kemudian diam. Bagaimanapun mereka juga tidak boleh egois dengan memaksakan keinginan mereka. Terlebih dahulu mereka adalah para remaja yang kabur dari biro perjodohan orang tua. Jadi sekarang mereka tidak akan memaksa jika memang kedua anaknya sama-sama tidak memiliki perasaan.


***


Denan dan juga tuan Kurnia sampai di tempat pemakaman umum. Tempat itu lumayan jauh dari pusat kota Jakarta. Tuan Kurnia duduk di samping batu nisan bertuliskan nama "Satrio".


"Sat,,,, maafkan aku. Mungkin aku akan membatalkan perjodohan antara cucu kita. Maafkan aku jika aku mengingkari janjiku padamu" ucap tuan Kurnia memandang nisan yang tulisannya sudah hampir pudar itu.

__ADS_1


"Maafkan aku juga, jika bukan karena menolong ku, mungkin saat ini kau masih ada di dunia.." lanjut tuan Kurnia menundukkan kepalanya, matanya pun terlihat berkaca-kaca.


__ADS_2