CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 55


__ADS_3

"BRYAANN...!!!!" Seru tuan Kurnia lantang dan keras. Pria baya itu bahkan sampai berdiri dari posisi duduknya.


Sementara Bryan hanya menatap remeh ke arah lelaki yang menjadi kakeknya itu.


"Kenapa? Apakah kakek akan terus memaksa Bryan untuk menikah dengan wanita pilihan kakek. Meskipun Bryan tidak mencintainya?!!" Tanya Bryan tegas menatap tajam sang kakek. Bryan bahkan sudah tidak peduli lagi jika ia sudah tidak sopan.


"Ya!!" Jawab tuan Kurnia tegas. "Apapun yang terjadi kamu tetap harus menikahi Sisi. Karena itu adalah janji kakek kepada Eko, kakek dari Sisi" lanjut tuan Kurnia menatap Bryan dengan tatapan yang sama sengitnya seperti Bryan.


Bryan tercengang dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang kakek. Dada Bryan naik turun pertanda ia sedang emosi. Baru saja ia pulang dari kantor karena harus lembur setelah beberapa hari ia tidak ke kantor. Pulang-pulang di sambut oleh omelan kakeknya yang terus memaksa Bryan untuk segera melangsungkan pertunangan dan juga pernikahan Bryan dengan Sisi. Wanita yang sama sekali tidak Bryan cintai.


"Bryan hanya mencintai Gita kek..." Ucap Bryan begitu saja dengan suara pelan, berharap kakeknya akan mengerti.


"Tidak! Kau tetap harus menikah dengan Sisi" tolak tuan Kurnia.


Rahang Bryan mengeras. Ia menyorot tajam sang kakek. Sungguh Bryan tidak habis dengan pola pikir pria yang sejak dulu mendidiknya itu.


Bryan hanya diam. Rasanya percuma jika beradu pendapat dengan kakeknya. Bryan mencoba mengontrol emosinya. Ia menarik nafas lalu mengeluarkan perlahan, hingga beberapa kali sampai ia merasa lebih baik.


Bryan duduk di sofa, ia merentangkan kedua tangannya di punggung sofa lalu menatap kembali sang kakek yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Katakan alasan kenapa kakek terus memaksa ku untuk menikah dengan wanita itu?" Tanya Bryan kemudian.


"Aku butuh alasan kenapa kakek begitu egois dengan memaksa ku untuk menikah dengan wanita yang sama sekali tidak pernah ada di hatiku" tanya Bryan lagi dengan ekspresi datar.


***


Sisi sudah merasa sedikit tenang karena ia sudah meluapkan kesedihannya di dada bidang sang kekasih. Ia melepas pelukannya kemudian menatap Eka.


"Maaf, aku jadi nangis" ucap Sisi dengan suara serak. Matanya pun terlihat merah.


Eka tersenyum hangat lalu menangkup kedua pipi Karin dengan tangan nya. Sensasi hangat dari tangan Eka mengalir di wajah Karin. Karin terpesona dengan senyum Eka yang cukup manis.


"Katakan, kenapa kau menangis hem???" Tanya Eka lembut.


Karin langsung menghadap ke depan. Ia melihat ke arah langit yang di hiasi banyak bintang. Karin tersenyum hambar.

__ADS_1


"Mama masih maksa aku buat terima perjodohan dari Tante Sarah" ucap Karin kemudian.


Eka mengerjapkan matanya terkejut mendengar nama 'Sarah'. Seperti nama Mamanya, dan mungkin memang benar itu adalah Mamanya karena dalam hubungan persahabatan keluarga Karin yang bernama Sarah hanya Mama dari Aldo atau yang sekarang sedang cosplay jadi Eka.


Namun Eka mencoba berpura-pura tidak tau siapa itu Sarah.


"Siapa?" Tanya Eka dengan ekspresi polos seolah tidak tau apapun.


Karin menatap Eka sebentar lalu menatap lurus ke depan.


"Jadi Tante Sarah adalah sahabat Mama. Tante Sarah punya anak cowok namanya kak Aldo. Umur kak Aldo empat tahun lebih tua dari aku, maka aku memanggilnya dengan sebutan kakak." Ucap Karin, tak lama terdengar helaan nafas Karin. Mata Karin terlihat berkaca-kaca.


Bagaimanapun seorang pria bernama Aldo adalah cinta pertama dan pemilik hatinya. Dulu.


"Aku ngga bisa terima perjodohan ini karena aku sudah mencintai kamu" lanjut Karin menatap Eka.


Eka menatap Karin, ada perasaan bersalah dalam hati Eka. Bagaimana jika Karin tahu bahwa dirinya adalah Aldo?


Namun, terlihat dalam kilatan mata Karin, ada sesuatu disana. Apakah sebenarnya Karin juga mencintai Aldo?


Karin menatap Eka, mereka berpandangan cukup lama. Eka menatap intens Karin untuk mengetahui kebenaran dari sana.


"Dulu. Tapi sekarang aku mencintaimu" jawab Karin.


Eka menghembuskan nafasnya, dari sorot mata Karin tidak nampak sebuah kebohongan. Apakah sekarang Karin benar-benar sudah melupakan Aldo? Sedikit sesak dalam hati Eka, karena Karin sudah berhasil melupakan Aldo. Padahal Aldo adalah dirinya sendiri.


Eka pun membawa Karin dalam dekapannya. Semilir angin malam yang sedikit dingin ini menemani dua insan yang sedang meluapkan kerinduan. Karin menikmati pelukan Eka, pelukan hangat yang menghadirkan sebuah kenyamanan.


Bahkan tanpa sadar ada seseorang yang sejak tadi sedang mengawasi mereka.


***


Malam telah berganti pagi, Karin dan Gita sudah siap dengan pakaian masing-masing. Karena Karin menginap di rumah Gita mendadak jadinya pagi ini karin mengenakan baju Gita.


Mereka berdua berjalan menuruni tangga dan menuju ruang makan. Ternyata disana sudah ada orang tua Gita, kakek Anggar dan juga seseorang yang membuat Gita terpaku dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Seseorang itu tersenyum manis ke arah Gita. Sementara Gita membalas dengan senyum tipis. Ia kemudian melanjutkan langkahnya dengan hati-hati sembari menatap ke arah kedua orang tuanya. Gita ingin mengetahui reaksi keluarganya, dan ternyata mereka semua tersenyum. Gita semakin bingung saja.


"Selamat pagi..." Ucap pria itu ceria menyapa Gita.


"Pagi kak.." jawab Gita pelan lalu duduk di kursi makan di samping Karin.


"Ayo, nak Bryan. Silahkan duduk, kita sarapan bersama" ajak tuan Abdi mempersilahkan Bryan.


Bryan pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Gita.


Mereka pun memulai ritual makan pagi dengan hikmat. Kecuali Bryan yang selalu mencuri pandang ke arah Gita, begitu pun dengan Gita yang selalu melirik ke arah Bryan. Bahkan sesekali pandangan mereka tak sengaja bertemu dan berakhir saling membuang muka.


Di samping Gita, Karin yang menyadari itu pun hanya tersenyum geli dalam hati, sungguh tingkah laku Gita dan Bryan seperti bocah yang baru merasakan jatuh cinta.


***


"Romy!!" Seru tuan Arya dari ruang makan.


Romy yang memang sedang menuruni tangga pun menoleh ke arah tuannya.


"Dimana Bryan?" Tanya tuan Arya setelah Romy sampai di dekatnya.


"Tuan muda sudah pergi sejak pagi tuan" jawab Romy sopan.


"Kemana? Apakah kantor ada masalah?" Tanya tuan Arya kemudian duduk di kursi makan.


"Tidak tuan, namun bos berkata ingin sarapan bersama nona Gita" jawab Romy jujur.


"Kenapa Pa?" Tanya nyonya Lana yang baru saja datang dari arah dapur. Di tangannya memegang sebuah piring berisi ayam goreng.


"Bryan melewatkan sarapannya" jawab tuan Arya.


"Nanti biar Mama siapkan bekal untuk Bryan" ucap nyonya Lana meletakkan piring yang di bawanya ke atas meja.


"Romy, kau ikutlah sarapan bersama kami" ajak tuan Arya.

__ADS_1


Romy pun tersenyum dan mengangguk sopan kemudian duduk di kursi yang tak jauh dari tuan Arya.


__ADS_2