
Satu bulan kemudian, pernikahan Romy dan Intan sudah berjalan satu setengah bulan ini. Karena saat itu perusahaan Bryan sedang meluncurkan produk baru jadi para karyawan di sibukkan dengan pemrosesan itu, termasuk Romy yang menjabat sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan. Karena kesibukan itu, Romy dan Intan bahkan belum sempat untuk pergi honey moon.
Sebenarnya Romy bisa saja mengambil cuti panjang, dan memberikan amanah kepada Andre. Namun, Andre menolak karena ia sudah sangat sibuk dengan pekerjaan nya di perusahaan Bryan yang lain. Lagipula Dahlia sedang hamil trisemester pertama jadi masih repot-repot nya. Terlebih semenjak hamil Dahlia menjadi sangat posesif dan manja.
Namun, sebagai ganti atas kesibukan Romy di perusahaan. Bryan pun memberikan tiket bulan madu untuk Romy dan Intan. Awalnya Bryan ingin memberikan tiket bulan madu ke luar negeri, namun Romy menolaknya dan lebih memilih bulan madu ke Bali. Karena jujur saja Romy belum pernah ke Bali. Jika bos nya liburan Romy yang selalu menggantikan bos nya di perusahaan, jadi Romy belum pernah ke Bali. Akhirnya Bryan pun mengganti tiket bulan madu itu ke Bali dan karena Bali lumayan dekat, Gita dan Karin pun ingin ikut serta.
Meskipun mereka bertiga sama-sama hamil, terlebih kehamilan Gita sudah memasuki usia ke delapan bulan namun Gita kekeh ingin ikut ke Bali untuk melakukan baby moon, alasannya. Sedangkan Karin, usia kandungannya masih satu bulan. Namun, Karin tidak merasakan mabuk atau ngidam seperti ibu yang tengah hamil muda pada umumnya. Justru Aldo lah yang merasakan nyidam itu, bahkan beberapa hari ini Aldo terlihat lebih pucat dan lemas karena selalu mual jika ia makan nasi.
Akhirnya setelah dua hari beristirahat, mereka empat pasangan berangkat ke Bali dengan mengendarai pesawat pribadi Bryan. Walaupun Romy ingin memesan tiket sendiri, namun Bryan memaksa agar dia ikut serta dalam pesawat nya. Lagipula Bali tidak terlalu jauh, kenapa harus repot-repot berpisah pesawat jika tujuan mereka sama, Bali.
Setelah melakukan perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai di Bali. Tujuan Gita ikut ke Bali adalah untuk melihat sunset di pantai Kuta. Sekaligus ia ingin melakukan foto shoot kehamilan nya. Tentu saja untuk memenuhi keinginan sang istri Bryan mencari fotografer yang cukup terkenal di Bali. Sehingga mereka bisa melakukannya foto shoot dengan hasil foto yang maksimal bagus.
__ADS_1
Mereka sampai di Bali siang hari, mereka beristirahat di hotel yang dekat dengan pantai Kuta. Agar sore nanti mereka bisa menyaksikan sunset dan mengabadikan moment itu. Aldo langsung tertidur di ranjang saat mereka baru masuk ke kamar hotel. Sedangkan Karin masih segar dan sedang menata perlengkapan yang mereka bawa.
Di kamar sebelah, Gita sedang membersihkan dirinya, semenjak kehamilan nya yang memasuki trisemester ketiga ini Gita sering merasa gerah. Sementara Bryan menyiapkan pakaian ganti untuk Gita dan memesan makan siang untuk mereka.
Di kamar sebelah, Dahlia dan Andre sedang tidur sambil berpelukan. Usia kehamilan Dahlia menginjak tiga bulan, dan Dahlia menjadi sangat manja. Seperti saat ini, Dahlia meminta di peluk agar ia bisa tidur. Padahal pakaian mereka belum keluar kan dari koper. Namun, dengan senang hati Andre menemani sang istri tidur. Sebab dirinya pun sangat lelah, sebab beberapa hari yang lalu ia menggantikan tugas Romy di perusahaan.
Sedangkan di kamar Romy dan Intan, pasangan pengantin baru itu sedang memadu kasih di bawah selimut. Pakaian mereka pun di biarkan berserakan di lantai. Baru saja masuk kamar, Romy sudah menyerang Intan. Untung saja Intan sudah bisa mengimbangi permainan sang suami jadi ia tidak kaget dan tidak pula menolak. Padahal mereka baru saja sampai dan belum sempat istirahat. Namun, Romy dengan semangat langsung menggempur istrinya itu. Tapi tentu saja Intan tetap melayani keinginan sang suami. Toh mereka juga sama-sama menikmati hal itu.
Di sebuah rumah sederhana, dengan halaman luas yang di tumbuhi rumput hijau terawat. Di sebelah rumah juga terdapat sebuah bangku berwarna putih, jika seseorang duduk di bangku itu maka di depannya akan di suguhi dengan beberapa macam tanaman bunga yang indah dan berwarna-warni.
Rumah yang tak lain adalah rumah Angga dan juga Fitri. Mereka memilih rumah yang tidak terlalu besar, padahal orang tua Fitri akan membelikan rumah untuk mereka di kawasan elit. Namun, Angga menikah. Lagipula setelah menikah bukan kah seorang istri menjadi tanggung jawab suami. Jadi sebisa mungkin Angga bertanggung jawab sepenuhnya atas Fitri. Fitri pun tak menolak saat Angga mengajak nya tinggal di rumah mereka sendiri, karena Fitri juga ingin menikmati masa-masa berdua tanpa harus di campuri oleh orang tua.
__ADS_1
Pada siang menjelang sore ini, Fitri sibuk berkutat di dapur. Fitri sedang membuat cake ulang tahun untuk Angga. Cake itu pun sudah siap hanya tinggal memberi topping dan tulisan selamat ulang tahun. Fitri menulis kata 'happy birthday my husband' dengan love di bawah tulisan itu.
Fitri meletakkan cake itu di meja, tak jauh di meja itu terdapat sebuah amplop yang berlogo rumah sakit. Fitri pun kembali ke kamar dan mengganti baju. Setelah selesai ia kembali ke ruang tamu dan bersiap menunggu sang suami pulang.
Setelah beberapa saat, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dengan senyum mengembang Fitri membukakan pintu dan menyambut sang suami. Angga yang terlihat kelelahan langsung kembali segar ketika melihat Fitri sedang menyambut nya. Senyum manis terus terukir di bibir wanita itu sehingga membuat rasa lelah Angga langsung sirna.
Fitri mencium punggung tangan Angga, begitu Angga juga mencium kening Fitri. Fitri menggandeng lengan Angga untuk masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tamu Angga terkejut dengan adanya kue ulang tahun di atas meja. Ia menatap Fitri dengan penuh cinta kemudian memeluknya dan mencium bibir Fitri singkat. Mereka kemudian duduk dan Fitri menyalakan lilin di atas kue itu.
Setelah meniup lilin dan memotong kue serta di suap kan pada Fitri. Fitri memberikan amplop yang berlogo rumah sakit kepada Angga. Meskipun heran Angga tetap menerima dan membuka amplop putih itu. Setelah terbuka Angga tercengang dengan apa yang di bacanya. Dalam amplop itu juga terdapat sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua.
Angga menatap Fitri dengan berkaca-kaca, sedangkan Fitri tersenyum sembari mengelus lembut perut nya. Angga langsung memeluk erat Fitri setelah itu menghujani Fitri dengan ciuman di kening, mata dan seluruh wajahnya. Angga kembali memeluk Fitri, merasa bersyukur karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1