
"Aku pengen kamu tanggung jawab..." Ucap Sisi menatap Deka penuh harap.
Mendengar hal itu Deka langsung menarik tangannya dari bahu Sisi. Bertanggung jawab???? Ini gil*.
Di setiap Deka berhubungan dengan perempuan mana pun, pria itu tidak pernah bermimpi untuk menitipkan benih di dalam rahim perempuan itu. Selama ini Deka selalu menggunakan pengaman. Bagaimana ia bisa kebobolan.
Deka memijat pelipisnya, jika Sisi meminta pertanggung jawaban bukankah itu artinya Deka harus menikahi Sisi????
Tidak. Deka menggelengkan kepalanya menolak kenyataan itu. Selama ini Deka hanya sedang bermain-main. Dan tidak memiliki sedikit pun niat untuk memiliki anak dengan para wanita yang sudah tidur dengannya.
"Deka..." Ucap Sisi menggoyangkan lengan Deka. "Kamu mau kan nikahin aku???" Tanya Sisi.
"Akuu...."
***
Tuan Anggar sampai di kediaman Bryan. Terlihat rumah itu sepi, namun pintu depan terbuka. Di halaman rumah juga ada beberapa mobil yang sedang terparkir.
Tuan Anggar turun dari mobil dan segera melangkahkan kakinya menuju rumah Bryan. Tanpa mengetuk pintu dan tidak mengucapkan salam tuan Anggar langsung masuk saja.
"Bryaaaannnn....!!!" Panggil tuan Anggar berteriak keras. Tuan Anggar berdiri tak jauh dari pintu masuk. Ruang tamu terlihat kosong.
Tak lama datang seorang perempuan baya menghampiri tuan Anggar.
"Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu..." Ucap perempuan itu.
"Dimana Bryan?!" Tanya tuan Anggar mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.
"Maaf tuan, tuan muda sedang ada di kantor." Ucap perempuan itu.
"Di kantor?" Tanya tuan Anggar.
"Betul tuan, setelah pulang dari rumah nona Gita, tuan muda langsung berangkat ke kantor karena ada urusan mendesak.." jelas perempuan itu.
"Siapa bik..?" Tanya seseorang dari arah ruang keluarga. Belum sempat perempuan baya itu menjawab sang pemilik suara sudah terlebih dahulu keluar menuju ruang tamu.
"Paman Anggar.!!" Seru orang itu lalu mendekat ke arah tuan Anggar.
__ADS_1
"Bibi masuk saja, saya kenal dengan tuan ini" kata orang itu.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" ucap perempuan baya itu lalu segera masuk kembali.
"Paman Anggar silahkan duduk," tuan Arya mempersilahkan pria yang seumuran dengan ayah nya itu untuk duduk di sofa.
"Bagaimana kabar paman?" Tanya tuan Arya saat mereka sudah duduk.
"Aku baik, bagaimana dengan mu? Sudah lama sekali kalian tidak kembali kesini" ucap tuan Anggar.
"Kami baik paman, kebetulan dua Minggu yang lalu Bryan datang kesini karena ada masalah di perusahaan. Dan tidak tahunya ternyata Papa juga menyusul kesini, akhirnya saya dan Lana juga menyusul kesini" jelas tuan Arya tersenyum.
"Ternyata paman Anggar, bagaimana kabar paman?" Tanya nyonya Lana yang baru datang, di tangannya membawa nampan yang berisi dua gelas kopi.
"Paman baik" jawab tuan Anggar.
"Silahkan di minum paman.." ucap nyonya Lana mempersilahkan tuan Anggar.
"Kenapa repot-repot?" Tanya tuan Anggar lalu meraih secangkir kopi hitam yang disuguhkan diatas meja.
"Siapa yang datang???" Ucap seseorang dari balik pintu ruang tengah.
"Anggar..." Ucap orang itu pelan. Sekelebat bayangan muncul di kepalanya.
Wajah tuan Anggar terlihat santai, namun menatap tajam seseorang yang kini sedang berjalan menuju ruang tamu.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya orang itu sembari duduk di sofa di depan tuan Anggar.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja..." Jawab tuan Anggar. "Dan seperti kau tetap bahagia seperti sebelumnya?" Lanjut tuan Anggar menatap ke arah orang itu yang ternyata adalah tuan Kurnia.
"Bagaimana kau sudah baik-baik saja setelah kecelakaan kemarin?" Tanya tuan Anggar membuat semua yang ada di ruang tamu terkejut kaget, termasuk tuan Kurnia.
"Kau baik-baik saja, namun tidak dengan cucuku.." lanjut tuan Anggar.
"Bagaimana kau akan membalas budinya?" Tanya tuan Anggar menatap tajam ke arah tuan Kurnia yang juga menatapnya.
Di ruangan itu, tuan Arya dan nyonya Lana dibuat terkejut dengan obrolan yang di bicarakan oleh kedua orang tua tersebut.
__ADS_1
"Sebentar,,, Papa habis kecelakaan??" Tanya tuan Arya menatap ke arah tuan Kurnia.
"Iya, dan yang menyelamatkannya adalah cucuku, gadis yang sangat di benci olehnya..!" Jawab tuan Anggar membuat orang tua Bryan dan juga tuan Kurnia menatap kearahnya, termasuk seorang pria yang tadi hendak masuk ke rumah namun terhenti di depan pintu.
"Apa maksud kakek???!!" Tanya pria muda yang masih menggunakan setelan jas itu, dibelakangnya ada asisten yang selalu menemani di manapun ia pergi.
Pria muda itu berjalan cepat dan segera duduk di satu sofa bersama orang tuanya. Pria muda itu menatap ke arah lelaki tua yang menjadi kakek gadis yang di cintainya.
Tuan Anggar tersenyum dingin menatap Bryan. "Kau tidak tau Bryan?" Tanya tuan Anggar lalu menatap ke arah tuan Kurnia. "Ternyata kau pandai menyembunyikan sesuatu Kurnia," lanjutnya.
Tuan Anggar pun berdiri dan tanpa pamit langsung bergegas keluar meninggalkan semua orang yang ada di ruang tamu dalam keadaan penasaran.
Selepas tuan Anggar keluar dan pergi dari kediaman itu, Bryan melihat ke arah sang kakek.
"Apa maksud ucapan kakek Anggar???" Tanya Bryan dingin.
"Bukan apa-apa, hanya masalah ku dengan nya" jawab tuan Kurnia menatap Bryan. Tuan Kurnia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, karena ia takut Bryan akan jadi membencinya.
"Tidak mungkin!!" Tegas Bryan. "Kenapa harus menyebut Gita???"
"Sudah kakek bilang, bukan apa-apa." Jawab tuan Kurnia. Lalu beranjak dan pergi ke kamar yang berada di ruang tengah.
Bryan meremas rambutnya kasar, sebenarnya apa yang sudah terjadi?????
***
Sementara di kediaman Wijaya, Karin baru saja keluar dari kamar Gita. Setelah memastikan Gita makan siang dan meminum obatnya Karin pun membawa Gita ke kamarnya untuk istirahat. Dan sekarang Gita sudah istirahat, maka Karin pun tidak mau mengganggu istirahat sahabatnya. Maka Karin pun keluar kamar Karin dan hendak pulang ke rumah.
Karin masih menuruni tangga, ia Eka, pria yang tadi malam mengungkap perasaan padanya. Ia segera membalikkan badannya ingin masuk ke kamar Gita lagi, namun....
"Non Karin!!!" Panggil Eka dan berdiri di ujung tangga menunggu Karin turun.
"Kenapa?" Tanya Karin cuek tanpa menatap Eka. Bisa di lihat bahwa pipi Karin saat ini sudah merona. Karena mengingat kata-kata Eka tadi malam.
"Minggir, gue harus pulang." Ucap Karin mendorong bahu Eka dan segera pergi.
"Non tunggu!!" Seru Eka mencekal lengan Karin. Mau tidak mau Karin pun berhenti dan menoleh ke arah Eka.
__ADS_1
"Apa lagi??" Tanya Karin berusaha melepaskan cengkraman tangan Eka namun tidak bisa.
"Bagaimana dengan ucapan saya tadi malam nona???" Tanya Eka menatap Karin penuh harap.