CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 87


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu, semua orang telah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Terlebih Bryan dan Gita yang hanya tinggal beberapa hari lagi akan bertunangan.


Siang ini, Gita dan Bryan akan ke butik untuk mencoba gaun yang akan di pakai pada saat acara pertunangan mereka. Namun tiba-tiba ketika mereka masih ada di pertengahan jalan handphone Gita berdering.


"Halo" sapa Gita dengan ramah.


"Gue pengen ketemu sama lo Git, di cafe yang biasa kita nongkrong dulu" ucap seseorang di sebrang.


Tangan Gita langsung lemas, bahkan benda pipih itu sampai terjatuh. Suara itu, Gita sangat mengenalnya. Rasa sesak di dadanya tiba-tiba datang. Tentang sebuah hubungan bahagia namun kemudian di khianati dan akhirnya meninggalkan sebuah bekas luka. Luka yang sangat dalam.


"Sayang" panggil Bryan.


Gita tersadar dari lamunannya kemudian mengambil kembali hp yang sempat jatuh ke pangkuannya. Ia segera mengusap unung matanya kemudian menoleh ke arah Bryan dengan senyum lembut khas dirinya.


"Siapa yang menelepon mu?" Tanya Bryan.


"Bukan siapa-siapa. Kita mampir dulu ke cafe xxx ya bie. Mau ketemu seseorang" ucap Gita. Bie adalah panggilan sayang Gita untuk Bryan.


Bryan meraih tangan Gita untuk di genggam kemudian tersenyum kepada Gita. Gita membalas genggaman itu kemudian menyenderkan kepalanya di punggung kursi mobil sembari memejamkan matanya.


***


"Kaaakk... Gimana sih, bukan balon warna pink. Gita ngga suka warna pink" seru Karin ketika melihat Aldo sedang memerintahkan beberapa anak buah Bryan untuk meniup balon berwarna pink.


Aldo langsung menoleh ke arah Karin, "apa yaank?" Tanya Aldo kembali, ucapan Karin tadi tidak terdengar jelas sebab Aldo sedang berbicara dengan Andre.


Karin menghampiri Aldo dengan perasaan kesal dan muka cemberut. "Aku bilang balon warna biru sama putih..! Terus ini kenapa balon nya warna pink semuaaa... Haaa... Kakakk!!!!" Seru Karin, sungguh Karin ingin menangis saat ia melihat banyak balon berwarna pink yang sudah di pasang sebagai hiasan dinding dan juga langit-langit atap. Padahal sudah jelas tadi sebelum Gita pergi ia berpesan untuk memasang balon warna biru dan putih.


"Pink itu warna identik wanita sayang" ucap Aldo merangkul bahu Karin.


Karin langsung menepis kasar tangan Aldo. "Pokoknya aku ngga mau tahu, balon warna pink ini harus udah hilang ketika aku kembali. Aku mau ke atas dulu ketemu sama Tante Lana dan Tante Indira." Ucap Karin kemudian berbalik dan meninggalkan Aldo bersama orang-orang yang masih meniup balon berwarna pink.

__ADS_1


Baru beberapa langkah Karin pergi, ia kembali menoleh dan menatap tajam ke arah Aldo juga orang-orang yang masih sudah mulai berhenti meniup balon. "Inget 30 menit lagi aku balik dan semua balon warna pink ini harus udah hilang"


Aldo hanya tersenyum ketika mendapat tatapan tajam dari sang kekasih. Aldo tetap mempertahankan senyum itu hingga Karin benar-benar hilang dari pandangannya dan masuk ke dalam kamar Tante Indira.


"Ayo semua cepat bergerak.!!" Seru Aldo tegas.


"Kau," tunjuk Aldo kepada Indra. "Ajak beberapa teman mu untuk melepas kembali balon-balon ini" perintah Aldo.


Indra pun segera membawa tiga orang untuk melepas semua balon berwarna pink yang sudah melekat di dinding dan juga atap-atap.


"Romy, kau pergi lah cari balon baru beranda putih dan biru" perintah Aldo kepada Romy dan Romy langsung bergerak cepat.


"Dan kau Andre, kau tata ulang semua dekor disini. Jangan sampai ada sesuatu yang berwarna pink" perintah Aldo kepada Andre.


Andre dengan di bantu beberapa anak buahnya pun langsung melepas semua beberapa bunga berwarna pink yang sudah menempel pada kain yang akan di pakai untuk menempelkan hiasan.


Aldo sendiri langsung pergi sedikit jauh dan menghubungi seseorang.


"Kalian siap kan bunga berwarna putih dan merah, jenis mawar. Sebanyak yang kalian punya. Ingat jangan sertakan bunga berwarna pink. Antar ke alamat yang aku kirimkan kepadamu!" Ucap Aldo kepada seseorang di telpon.


Tak lama setelah itu Romy pun datang membawa beberapa wadah balon berwarna biru dan putih.


"Kita mulai dari awal lagi. Tenang bonus kalian akan di sesuaikan dengan kinerja kalian" ucap Aldo melihat satu per satu wajah yang bisa di pastikan sudah merasa lelah.


Mereka pun kembali semangat setelah mendengar perkataan Aldo dan memulai kembali dari awal apa yang seharusnya sudah hampir selesai.


***


"Mau ngomongin apa?" Tanya Gita kepada seseorang yang saat ini meremas jarinya sendiri.


"Santi!" Sentak Gita ketika wanita di depannya tidak kunjung berbicara.

__ADS_1


Santi, wanita yang tadi menelpon Gita dan mengajak Gita bertemu. Entah apa tujuannya dan entah kenapa juga Gita setuju untuk di ajak bertemu. Padahal sudah jelas bahwa wanita di depannya ini adalah sumber luka untuk dirinya di masa lalu.


"G-giiit.... Gue.. Gue mau minta maaf" ucap Santi pelan namun masih bisa di dengar oleh telinga Gita.


Gita terpaku. Menatap lurus ke arah wanita yang kini sedang menunduk dalam-dalam.


"Kenapa?" Tanya Gita dengan bibir bergetar.


Bryan langsung menggenggam tangan Gita mencoba menguatkan Gita. Bagaimana pun Bryan sudah tahu tentang hubungan kedua wanita yang kini sedang berhadapan itu.


"Kenapa Santi?!" Tanya Gita lebih keras membuat Santi menatap ke arahnya.


Air mata Santi sudah mengalir di pipi. Kejadian dimana Angga menceraikannya dan kedua ornag tuanya sangat kecewa kepadanya terlintas. Sekarang ia melihat wanita yang dulu menjadi sahabatnya juga terluka karena keegoisan dirinya.


"Gi-gita...."


"Kenapa baru sekarang lo nemuin gue dan minta maaf sama gue.?" Tanya Gita. "Setelah lama lo bikin gue sakit hati San!" Lanjutnya.


"Git..." Ucap Santi mencoba meraih tangan kanan Gita yang ada di atas meja. Namun Gita langsung menurunkan tangannya.


"Lo ngga tau betapa terpuruknya gue waktu itu. Lo sahabat gue Santi, sahabat gue" ucap Gita dengan bibir bergetar karena ia pertahanan nya sudah jebol. Gita menangis.


Bryan dengan sigap langsung membawa Gita ke dalam pelukannya. Gita menangis sesenggukan dalam dada bidang Bryan. Sementara Santi, menangis terisak dengan meremas kedua jari tangannya. Sungguh, setelah Angga memilih pergi ia baru sadar bahwa sesuatu yang di raih dari hasil merebut tidak akan bertahan lama.


"Git..." Seru Santi beranjak dan ingin menghampiri Gita.


Namun Bryan langsung mengangkat satu tangannya memberi kode kepada Santi agar tidak mendekati Gita. Santi pun langsung berhenti.


Bryan membantu Gita berdiri meskipun Gita masih berada dalam pelukannya.


"Jangan ajak Gita ketemu jika hanya untuk membahas sesuatu yang tidak penting. Apalagi sesuatu yang menyakiti perasaan nya" ucap Bryan dingin. Kemudian meninggalkan Santi yang diam terpaku.

__ADS_1


Santi membalikkan badannya melihat Bryan membawa Gita yang masih menangis di bahunya. Santi terduduk di lantai, air mata terus mengalir di pipinya.


"Santi, bangun"


__ADS_2