
"Bryan..... Sayang... Kenapa kamu nyekap aku disini" ucap Sisi memelas saat ia mendapati Bryan datang ke ruangan yang sudah beberapa hari ini ia tempati.
Ruangan yang sedikit pengap dan minim penerangan, jauh berbeda saat dirinya ada di hotel. Sisi memang sengaja di sekap di sini untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan, misalnya seperti kejadian waktu itu yang hampir saja membuat Gita salah paham kepada Bryan.
"Sayang, kenapa kamu diam aja?" Tanya Sisi sekali lagi ketika Bryan tidak menjawab pertanyaan nya.
Bryan menatap tajam ke arah dimana Sisi di ikat di kursi, namun mengingat jika perempuan itu tengah hamil ikatan itu di kelas jika sudah malam. Dan gadis itu sengaja di ikat karena Bryan akan mengunjungi nya. Bryan tidak ingin perempuan itu akan agresif dan menyentuh dirinya.
Bryan memasukkan tangannya ke dalam saku celana kemudian berjalan menghampiri Sisi yang sedang menatapnya.
"Kau nyaman disini?" Tanya Bryan menatap Sisi.
Sisi terperangah dengan pertanyaan Bryan, seharusnya tanpa bertanya ataupun di beri tahu. Bryan bisa memikirkan secara logika bahwa tempat yang sempit ini sama sekali tidak cocok untuk Sisi yang terbiasa dengan ruangan luas dan terang.
Sisi menatap Bryan dengan tatapan tak percaya. Sisi menggelengkan kepalanya pelan, matanya berkaca-kaca.
"Aku tunangan kamu Bryan..." Ucap Sisi.
"Bukan. Selamanya aku tidak akan pernah bertunangan dengan mu!" Seru Bryan datar.
"Aku sudah menemukan pria yang membuat mu hamil, jadi jangan teriakkan bahwa kehamilan itu di sebabkan oleh ku. Karena aku tidak pernah menyentuh mu." Ucap Bryan kemudian sedikit menundukkan kepalanya dan menatap Sisi.
"Kau tau aku tidak pernah menyentuh wanita manapun. Jika aku mau menyentuh wanita maka yang aku sentuh adalah..... Gita" lanjut Bryan menekan nama Gita agar Sisi tau bahwa posisi Gita di hatinya tidak akan pernah terganti sampai kapan pun.
Setelah mengucapkan itu Bryan pun keluar dari ruangan dan di ikuti oleh dua bodyguard yang sejak tadi menunggunya di pintu.
Sisi hanya bisa menangisi kepergian Bryan, ia memang ceroboh bisa hamil dengan lelaki yang tidak dia ketahui siapa orang nya.
***
"Ada apa kakek mengajak ku ketemu?" Tanya Gita kepada lelaki tua yang kini duduk di hadapannya.
__ADS_1
Pada jam sepuluh tadi Gita mendapat pesan dari nomor yang tidak di kenalnya. Dalam pesan itu Gita di minta untuk menemui tuan Kurnia di restoran yang tak jauh dari kantor Bram Corp. Untuk menghormati lelaki yang menjadi kakek dari Bryan itu, akhirnya Gita pun datang ke restoran yang di minta pada jam makan siang.
Lelaki di hadapan Gita berdehem. Ia kemudian menatap Gita yang sedang menyesap jus alpukat yang tadi di pesan sendiri oleh Gita.
"Kau tau Bryan sudah memiliki tunangan?" Tanya tuan Kurnia.
Gita tersenyum tipis kemudian menatap tuan Kurnia. "Ya.." jawab Gita santai, bahkan Gita terkesan selow tidak marah ataupun kaget.
Awalnya tuan Kurnia mengira jika Gita akan terkejut namun yang ia dapati Gita justru terkesan tidak peduli.
"Kakek tenang saja, aku tidak pernah lagi mengusik kak Bryan. Tapi satu hal yang kakek harus tau, sekeras apapun kakek mencoba memisahkan kami. Jika di hati kami masih ada cinta. Kami tidak akan terpisah" ucap Gita penuh penekanan.
Gita pun memakai tas nya kemudian beranjak. "Permisi" pamitnya kepada tuan Kurnia.
Tuan Kurnia menatap punggung Gita yang semakin menjauh. Pria itu pun akhirnya ikut pergi tanpa menikmati kopi hitam yang tadi sempat ia pesan.
Sementara Gita, gadis itu kini berjalan menuju kantor yang terletak tak jauh dari kantornya. Ia sengaja tidak meminta Eka mengantarkannya, selain karena dekat Gita ingin memberikan Eka kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati bersama Karin.
***
Dua orang yang tak lain adalah nyonya Indira dan juga nyonya Siska pun tersenyum, mereka sama-sama bahagia. Karena terhalang oleh jarak dan waktu membuat mereka jarang berkumpul. Ini pun seharusnya ada nyonya Sarah di antara mereka, namun nyonya Sarah tidak salah ikut serta dalam perkumpulan itu karena ia harus menemani suaminya di kantor. Semenjak anaknya kabur, nyonya Sarah jadi memiliki andil besar dalam perusahaan yang di jalankan sang suami.
"Tapi sayang banget ya si Sarah ngga bisa ikut kumpul" ucap nyonya Siska.
Nyonya Indira pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Di ikuti oleh nyonya Lana yang ikut menganggukkan kepalanya.
"Ya udah yuk di makan. Bentar lagi sore. Takut para pak suami lebih dulu sampe rumah" ucap nyonya Indira sembari terkekeh saat sekilas ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah 3 sore.
Kedua sahabatnya pun tersenyum dan mengangguk lalu masing-masing menyuapkan menu yang telah di pesan sebelumnya.
***
__ADS_1
"Karin tunggu" seru Eka saat melihat Karin baru saja keluar dari perusahaan.
Eka sengaja menunggu kepulangan Karin, karena akhir-akhir ini Karin sering pulang kantor lebih dulu meskipun belum jam pulang kantor. Maka Eka pun menunggu Karin di depan kantor. Tidak masuk, karena status Eka hanyalah supir.
Karin yang tidak menyangka akan bertemu dengan Eka pun segera mempercepat langkahnya sebelum Eka mampu mengejarnya. Namun Karin yang tengah mengenakan high heels tidak mampu berjalan cepat. Dan akhirnya tetap terkejar oleh langkah panjang Eka.
"Dengerin aku dulu, please..." Seru Eka menahan pergelangan tangan Karin, sehingga mau tidak mau Karin berhenti dan membalikkan badannya.
"Apa lagi?" Tanya Karin menatap Eka malas.
Eka menarik nafas panjang, sebenarnya ada rasa penyesalan di hatinya karena telah berbohong perihal identitasnya kepada Karin.
"Aku mohon maafin aku..." Ucap Eka memelas, menarik tangan Karin untuk di cium nya.
Namun, belum sempat ia melakukan itu kakek sudah terlebih dahulu menarik tangannya dan berjalan pergi.
"Karin...!!" Panggil Eka keras. "Apakah tidak ada sedikitpun rasa sayang kamu sama aku?" Tanya Eka setelah melihat Karin menghentikan langkahnya kembali.
Karin menarik nafasnya panjang, ia mencoba mengontrol emosi yang sudah siap di ledakkan. Ia menatap ke langit sore yang sepertinya agak mendung. Karin terlihat mengusap sudut matanya, bulir bening yang ditahannya ternyata terus memberontak untuk keluar.
"Karin..." Panggil Eka lagi, namun dengan suara yang lembut.
Karin menguatkan hatinya kemudian berbalik dan menatap netra Eka. Lama sekali hingga kemudian Karin berjalan mendekat ke arah Eka. Dan entah kenapa Eka justru merasakan debaran jantung yang tidak beraturan.
***
maaf ya readers.... telat terus, karena lagi sibuk banget ini banyak tugas...
terima kasih bagi yang sudah setia membaca setiap hari. semoga sehat selalu.
pray for Cianjur, semoga musibah yang ada di sana lekas mereda. aamiin ya rabbal'alamin
__ADS_1