
"Kita makan siang di restoran ini saja" ucap Angga kepada Santi. Mereka baru saja tiba di sebuah restoran mewah.
"Iya mas"
Santi pun melepas sabuk pengaman nya dan tanpa sengaja ia melihat sekilas wajah seseorang yang di kenal nya sedang melintas di dekat mobilnya. Santi buru-buru membuka pintu dan melihat apakah benar apa yang dia lihat atau salah. Santi memperhatikan pria yang sangat di kenal nya. Namun ia juga melihat seorang wanita yang sedang bergelayut manja di lengan pria itu. Santi ingin memanggil namun....
"Kenapa?" Tanya Angga yang sudah berada di belakang Santi. Angga mengikuti arah pandang Santi yang memperhatikan sebuah mobil yang sudah akan pergi dari halaman restoran itu.
Santi pun menoleh dan kaget saat ternyata Angga sudah berada tepat di belakangnya. Membuat Angga mengangkat satu alisnya heran.
"Eng.... Enggak apa-apa kok mas, aku tadi kayak liat temen lama aja" jelas Santi. "Yaudah ayok masuk ke restoran mas, aku udah lapar" ucap Santi mengalihkan pembicaraan.
Angga pun berjalan mendahului Santi. Lalu Santi menyusul langkah kaki Angga, sebelum itu ia masih sempat menoleh ke belakang untuk melihat mungkin saja teman pria nya belum pergi. Namun ternyata pria itu sudah entah kemana.
Di pinggiran jalan yang tak jauh dari restoran. Sebuah mobil hitam sedang berhenti.
"Kamu kenapa datang kesini?" Tanya seorang pria dengan ekspresi yang di buat terpaksa ramah.
"Aku mau ketemu Bryan, ehh ngga sengaja ketemu kamu juga" ucap wanita itu bahagia dan bergelayut manja di lengan pria itu.
"Sisi, dengerin aku kalau kamu mau mendatangi calon tunangan kamu jangan temui aku" ucap pria itu tegas menatap wanita bernama sisi.
"Deka, kamu kenapa sih kayak ngga suka banget ketemu aku" ucap sisi kesal.
"Bukan, bukan begitu sayang. Aku tidak mau saat kita bersama calon tunangan kamu melihat kita. Itu akan panjang urusannya" jelas pria bernama Deka itu.
Bibir Sisi mengerucut, tangannya pun ia letakkan di dada. Ia sangat kesal. Beberapa hari yang lalu ia memohon kepada tuan Kurnia agar segera memesankan tiket pesawat agar dia bisa segera menyusul Bryan. Karena ternyata waktu itu tuan Kurnia belum mengurus masalah tiket pesawat untuk sisi. Maka kemarin dengan alasan bahwa dirinya sudah sangat merindukan Bryan akhirnya tuan Kurnia setuju untuk memesankan tiket pesawat dan hari ini baru saja tiba dan bertemu dengan Deka, teman di ranjangnya itu.
Melihat bibir Sisi yang seperti itu sangat menggoda bagi Deka. Singa dalam dirinya seolah ingin menerkam wanita yang sedang merajuk itu.
"Sisi...." Panggil Deka dengan suara berat. Sisi pun menoleh dengan malas.
"Kenap.... Eemmhhh...." Belum sempat sisi bertanya bibirnya sudah di sumpal oleh bibir tebal milik Deka.
__ADS_1
Awalnya sisi ingin memberontak namun karena sudah lama mereka tidak bersama akhirnya Sisi membalas ciuman Deka. Sampai lama mereka berciuman untuk melepaskan kerinduan hingga mereka sama-sama kehabisan nafas.
"Hosh... Hosh...."
Nafas keduanya tersengal-sengal. Deka menatap sisi penuh ga*rah. Deka memegang tengkuk sisi.
"Kita ke hotel ya" ucap Deka dengan nafas berat. Karena Sisi sudah terbuai akhirnya wanita itu menganggukkan kepalanya.
Akhirnya mobil yang di kendarai pun berjalan. Tanpa mereka sadari ada mobil seseorang yang mengikuti mereka.
***
di sisi lain, di perusahaan Bram Corp
"Baiklah, aku akan mencari tau tentang siapa yang menyuruh orang itu" ucap Bryan kepada semua yang ada di ruangan itu.
"Ya terima kasih Bryan. Kalau begitu om pamit mau kembali ke perusahaan" pamit tuan Abdi.
"Papa pamit sayang" ucap tuan Abdi mencium kening putrinya.
"Hati-hati om" ucap Bryan. Tuan Abdi pun menganggukkan kepalanya.
"Aku pamit ke perusahaan ku Bram"
"Ya, kau berhati-hati lah"
"Kalau begitu om juga pamit mau ke ruangan om" kata tuan Bram setelah tuan Abdi keluar dari ruangan.
Tersisa Bryan, Gita dan Karin. Gita dan Bryan saling beradu pandang. Kemudian mereka saling membuang muka. Karin yang melihat itu pun paham dan segera undur diri.
"Baiklah kalau gitu gue juga mau makan siang. Bye Git" pamit Karin dan langsung saja keluar ruangan padahal Gita ingin mengucapkan sesuatu.
Tinggallah Gita dan Bryan di ruangan itu. Suasana pun menjadi canggung. Gita meremas jari-jari tangannya untuk mengurangi kegugupan. Berada di ruangan yang sama dengan Bryan sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Terlebih saat ini Bryan sedang menatap Gita dengan penuh perasaan. Muka Gita pun sudah memerah seperti tomat. Ingin rasanya Gita tenggelam ke bumi jika saja dia bisa.
__ADS_1
"Git" panggil Bryan.
"Gita!" panggil Bryan lagi karena Gita diam saja.
"Eh, i...iya" jawab Gita gugup membuat Bryan tersenyum tipis.
"Kau tidak ingin makan siang?" Tanya Bryan.
"Em... Aku...." Gita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung ingin menjawab apa.
Namun belum sempat Gita berkata tangannya sudah di tarik paksa oleh Bryan. Dan mau tidak mau Gita mengikuti langkah kaki Bryan yang menuju ke restoran kantor.
***
"Katakan dengan jelas siapa yang menyuruhmu!" Seru seorang pria yang berwajah tampan namun ekspresi sangat menakutkan.
Pria yang di ikat tangan dan kakinya itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Ia butuh oksigen saat ini, udara di ruangan yang sedikit gelap ini begitu menegangkan.
"Romy, jangan terlalu galak padanya." Ucap pria yang baru saja masuk dalam ruangan itu.
"Ingat kata bos, bermain-main lah dengan lembut jangan sampai melukainya" ucap pria itu dengan dingin. Dia menghampiri pria yang di ikat di kursi dan mengeluarkan sebuah pisau yang berkilau. Ia menempelkan pisau itu ke pipi pria yang sedang di ikat.
"Andre!" Seru Romy. "Jangan macam-macam" lanjutnya.
"Aku hanya sedang bermain-main, sepertinya dia meragukan diriku" ucap Andre santai dan memasukkan kembali pisau kecil yang nampak berkilau itu ke dalam sakunya.
"Jangan sakiti aku, aku mohon" ucap pria yang di ikat itu dengan iba.
"Apakah kau sedang memohon?" Tanya Andre seperti sedang mengejek. Sementara Romy hanya menggelengkan kepalanya. Sungguh Andre bukanlah orang yang bisa di ajak untuk bercanda.
"Ya. Aku mohon padamu" ucap pria itu lagi.
"Baiklah. Karena kau sudah memohon dan karena aku adalah orang yang baik maka...... Aku akan tetap mengurung mu disini sampai kau membuka mulut bu*uk mu itu untuk mengatakan yang sebenarnya!" kata Andre dingin. Dan membuat pria yang sedang di ikat itu mende*ah frustasi.
__ADS_1
"Ayo pergi dari sini, aku sangat lapar" ucap Andre mengajak Romy lalu berjalan mendahului Romy.
Romy pun mengikuti langkah kaki andre, karena saat ini dirinya pun juga sudah merasa lapar. Apalagi tadi pagi ia hanya sarapan dengan roti saja.