
"Gita.!!!!" Seru Bryan langsung menangkap tubuh Gita yang hendak ambruk.
"Denan, kemudi kan mobilnya!" Seru Bryan sembari menggendong tubuh Gita, sementara Denan langsung membuka pintu mobil untuk membawa Gita ke rumah sakit.
Tuan Kurnia duduk di samping Denan yang sedang mengemudikan mobil sementara Bryan memangku Gita di belakang. Gita sudah kehilangan kesadaran sejak peluru itu mengenai lengan atasnya. Darah keluar dan merembes di balik kemeja yang di kenakan oleh Gita.
Sementara Romy dan Andre langsung menghubungi anak buah untuk mengawasi mobil Bryan. Dan sebagian anak buah nya di kerahkan untuk mengejar sang penembak.
"Tu-tuan....." Panggil Romy melalui panggilan telepon. Ia menatap ke arah Andre yang sedang fokus mengemudi.
"Ada apa?" Tanya seseorang dari sebrang.
"Tuan... Tolong segera ke rumah sakit" ucap Romy akhirnya.
"Kenapa? Siapa yang sakit??" Tanya seseorang dari sebrang khawatir.
Romy menelan saliva nya kasar. "Tuan, tolong ke rumah sakit segera. Hubungi juga tuan Wijaya dan nyonya Indira. Tolong datang ke rumah sakit milik keluarga Kurnia tuan" seru Romy kemudian mengakhiri panggilan.
Romy bernafas lega akhirnya ia bisa mengatakan dengan lancar. Ia menoleh ke arah Andre. "Kita ke rumah sakit saja. Kita jelaskan kepada bos" ucap Romy dan di angguki oleh Andre.
Sementara di rumah Bryan. Tuan Arya memanggil istrinya dengan histeris.
"Mama!!!!" Panggil tuan Arya.
Nyonya Lana yang sedang memasak untuk makan siang pun datang menghampiri tuan Arya.
"Kenapa Pa??" Tanya nyonya Lana ketika melihat raut wajah suaminya khawatir.
"Kita harus ke rumah sakit Ma..." Ucap tuan Arya.
"Ke-kenapa Pa??" Tanya nyonya Lana terkejut ekspresi wajahnya pias.
__ADS_1
"Papa juga tidak tau Ma... Barusan Romy menelpon dan meminta kita ke rumah sakit. Namun sebelum itu kita juga harus menghubungi Wijaya"
"Cepat hubungi Pa... Mama takut ada apa-apa dengan Bryan atau Gita. Karena hari ini mereka berencana ingin ke toko emas untuk membeli cincin pertunangan Pa" jelas nyonya Lana dengan suara parau.
Tuan Arya langsung merogoh ponselnya dan mendial nomor Wijaya. Sementara itu nyonya Lana pergi ke kamar untuk mengambil tas nya.
Di rumah Wijaya, tuan Wijaya dan nyonya Indira sedang menikmati waktu santai dengan menonton tv di ruang keluarga. Tiba-tiba ponsel tuan Wijaya berdering dan di layar terlihat nama 'Arya'. Tuan Wijaya pun langsung menerima panggilan telpon dan langsung terkejut setelah mendengar apa yang di katakan oleh tuan Arya.
"Pa?" Panggil nyonya Indira menepuk pelan paha sang suami.
Tepukan nyonya Indira menyadarkan tuan Wijaya. "Kita harus ke rumah sakit Ma" ucap tuan Wijaya pelan.
Kacang yang di pegang oleh nyonya Indira pun terjatuh. Sejak tadi perasaannya sudah tidak enak apalagi semenjak Gita pamit akan ke toko emas untuk bertemu dengan Bryan. Apa yang sudah terjadi?
"Ma ayoo!!!" Seru tuan Wijaya yang sudah berdiri. Nyonya Indira pun langsung tersadar.
"Ayo Pa" seru nyonya Indira gugup. Entah kenapa tubuhnya terasa sedikit lemas mendengar bahwa mereka harus ke rumah sakit. Pikirannya mengarah kepada putrinya.
"Pa... Mama takut Gita..." Nyonya Indira sengaja menggantungkan ucapannya kemudian menatap sang suami yang ada di sebelahnya.
"Perasaan Mama ngga enak Pa" ucap nyonya Indira dengan mata berkaca-kaca.
Tuan Wijaya menghela nafasnya kemudian membawa nyonya Indira kedalam pelukannya tanpa mengatakan apapun. Karena sebenarnya perasaan nya juga tidak karuan, mendengar apa yang di katakan oleh Arya tadi, ia langsung berpikir mungkin telah terjadi sesuatu dengan putrinya.
***
"Angga, katakan ada apa?" Tanya tuan Adnan, ayah dari Santi. Pria yang masih berumur sekitar 50 an tahun itu menatap tajam ke arah Angga, menantunya.
Sementara di sampingnya Santi, sang anak sedang menangis tergugu di pelukan sang ibu.
"Kenapa Papa harus bertanya dengan ku, coba saja Papa tanya langsung dengan Santi. Apa yang sudah di lakukan oleh nya" ucap Angga tegas. Dan melirik sinis ke arah Santi yang ada di pelukan sang ibu mertua.
__ADS_1
Tuan Adnan terkejut mendengar perkataan Angga dan langsung menoleh ke arah Santi. Putrinya itu sejak ia datang hanya menangis. Sebenarnya apa yang telah terjadi.
Niat hati ingin mengunjungi sang cucu karena ia rindu. Tapi yang ia temui justru sang putri yang tengah terduduk di lantai sambil terisak. Dan setelah di tanyai akhirnya Santi bercerita tentang apa yang sudah terjadi. Namun tentu saja Santi menutupi kesalahannya. Karena ia tidak ingin orang tuanya tau juga bahwa ia telah melakukan kesalahan yang fatal.
"Santi" panggil sang ayah dengan tegas.
Nyonya Indri mengelus rambut Santi kemudian melepas pelukan nya. Bagaimana pun permasalahan ini tidak akan selesai jika Santi hanya menangis. Santi menatap sang Mama dan nyonya Indri pun mengangguk sembari tersenyum tipis. Ia meyakinkan sang putri untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi entah kenapa nyonya Indri merasa ada yang di sembunyikan oleh sang putri. Jika tidak kenapa harus menangis saja tanpa melakukan pembelaan.
"Katakan yang sebenarnya Santi. Atau aku yang perlu mengatakan kepada orang tua mu tentang betapa buruknya kelakuan mu!" Seru Angga tak sabar.
"Cukup mas!!!!" Teriak Santi kemudian.
Santi menatap Angga dengan wajah yang memerah karena terus menangis.
"Aku.... A-aku.... Sebenarnya aku...." Santi tergagap dan tidak tahu harus berkata apa. Di tatapnya Angga yang melihatnya dengan tatapan nyalang.
***
Tuan dan nyonya Wijaya tiba di rumah sakit. Dan disaat mereka keluar dari mobil ternyata tuan dan nyonya Arya juga baru saja tiba. Mereka menghampiri mobil tuan Arya dan menunggu sang pemilik mobil keluar. Disaat mereka ingin masuk ke dalam rumah sakit, dua orang menghampiri mereka.
"Mari tuan dan nyonya saya antar" ucap orang itu yang di angguki oleh tuan Arya. Sementara tuan dan nyonya Wijaya hanya mengikuti mereka.
Di lorong rumah sakit, mereka melihat Bryan yang mondar-mandir di depan ruang operasi. Di bangku ada Denan dan juga tuan Kurnia yang sedang menundukkan kepalanya.
Jantung Nyonya Indira berpacu dengan cepat ketika menyadari Bryan sehat dan bahkan mampu berjalan. Lalu siapa yang ada di rumah sakit, tidak mungkin jika....
"Bryan!!" Seru nyonya Indira menghampiri Bryan dengan langkah yang sedikit tergesa.
"Apa, apa yang terjadi?" Tanya nyonya Indira.
Bryan menatap satu per satu wajah orang tua dan orang tua Gita yang baru saja tiba. Entah bagaimana Bryan harus menjelaskan kepada wanita yang menjadi Mama kekasihnya ini.
__ADS_1
"Ma.... Duduk dulu" ucap tuan Wijaya membawa istirnya duduk di bangku tunggu. "Tenangkan diri Mama, Papa yakin Bryan pasti juga sedang syok" lanjut tuan Wijaya ketika istrinya sudah duduk dengan sedikit tenang.
"Tante... Sebenarnya Gita...."