
"Luka mu nak...!" Seru nyonya Lana melihat perban di lutut Gita berwarna merah.
"Mbok.... Ambilkan kotak p3k!" Seru nyonya Lana.
Tuan Abdi pun siaga langsung mengambil perban.
"Sini biar mama ganti lagi perbannya" ucap nyonya Lana berjongkok di depan Gita.
"Auu,, sakit ma..!" Seru Gita saat nyonya Lana membuka perbannya.
"Hati-hati Ma" seru tuan Abdi.
Nyonya Lana pun dengan hati-hati membersihkan darah yang keluar dari luka putrinya.
"Tadi kan Mama sudah bilang jangan lari" ucap nyonya Lana sambil membersihkan luka putrinya.
"Maaf Mam" ucap Gita.
"Kau mau makan sayang?" Tanya tuan Abdi.
"Tapi tangan Gita kaku Pa, ngga bisa di gerakin" keluh Gita melirik sikunya yang masih di perban.
"Kau mau makan apa sayang, biar papa ambilkan. Nanti papa suapin"
"Gita mau makan pake..... Em .. itu Pa, telur dadar aja" seru Gita melihat menu kesukaannya.
"Kamu tidak boleh makan telur goreng, nanti lukamu sulit sembuh" ucap sang kakek.
"Tapi keek...." Ucap Gita.
"Tidak, kau makan sayur bayam ini saya baik untuk memperbaiki luka" ucap sang kakek meletakkan sayur bayam di piring Gita.
Mau tidak mau Gita pun memakan itu dengan di suapi oleh sang Papa.
"Tuan, nyonya, maaf ada yang ingin bertemu dengan nona Gita?" Kata supir pribadi tuan Anggar.
Mereka semua yang ada di ruang itu pun langsung menoleh. Gita langsung membelalakkan matanya saat melihat siapa yang datang. Gita sangat malu dengan keadaannya sekarang yang sedang di suapi oleh sang Papa.
"Oh,, Bryan. Sini kita sarapan bareng" ajak nona Lana yang sudah selesai mengganti perban pada lutut Gita.
"Iya Tante, terima kasih" ucap Bryan lalu duduk di kursi yang tak jauh dari Gita.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan luka mu Git?" Tanya Bryan menatap Gita.
"Udah baikan kok kak" jawab Gita tersenyum ramah.
"Siapa dia?" Tanya tuan Anggar.
"Dia Bryan Pa, anak dari mas Arya" jawab tuan Abdi. Dan tuan Anggar pun hanya manggut-manggut.
"Om, Tante, saya mau minta maaf sebelumnya. Karena menolong kakek Gita jadi terluka" ucap Bryan dengan penuh penyesalan.
"Kakek mu ada disini Bryan?" Tanya nyonya Lana yang mengambilkan nasi suaminya.
"Iya Tante, kemarin lusa kakek sampai disini" jawab Bryan.
"Jika ayahmu Arya maka kakek mu seharusnya Kurnia kan?" Tanya tuan Anggar.
"Betul kek" jawab Bryan.
"Baiklah, kita lanjutkan ngobrolnya nanti lagi, sekarang kita sarapan dulu" ucap tuan Abdi lalu mulai makan sarapannya kemudian di ikuti oleh yang lain. Sementara Gita karena sudah selesai dia hanya bermain ponsel. Sambil sesekali menyeruput jus apel kesukaannya.
***
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk" ucap tuan Bram.
"Lho, Karin?" Ucap tuan Bram kaget saat melihat ternyata yang masuk adalah putrinya bukan Gita.
"Iya Pa, ini Karin. Karin mau memberikan laporan rutin ini" ucap Karin meletakkan beberapa berkas di atas meja sang ayah.
"Kenapa kamu yang mengantarkan ke ruangan Papa? Gita kemana?" Tanya tuan Bram.
"Karin lupa bilang sama Papa, kemarin kita jatuh karena nolongin kakek yang mau nyebrang jalan. Lutut dan siku Gita terluka jadi ngga bisa berangkat kerja" jelas Karin.
"Terus gimana keadaan Gita sekarang?"
"Sekarang udah lumayan membaik kok Pa"
"Ya sudah, kalau begitu keluarlah. Papa akan memeriksa laporan ini" ucap sang tuan Bram. Dan Karin pun langsung keluar dari ruangan itu.
***
__ADS_1
Di rumah kediaman Wijaya, setelah sarapan tuan Abdi langsung berangkat ke kantor dan nyonya Lana juga sudah berangkat ke butik. Di rumah itu hanya tinggal tuan Anggar, Gita dan juga Bryan yang belum pulang. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Melihat kedua anak muda itu kadang saling mencuri pandang membuat tuan Anggar akhirnya memilih keluar rumah.
"Kakek mau ke depan. Sudah lama sekali Kakek tidak mengobrol dengan para pekerja di rumah ini" ucap tuan Anggar langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Bryan dan Gita.
Setelah kepergian tuan Anggar, keheningan menyelimuti mereka. Bryan kadang menatap ke arah Gita seperti ingin mengatakan sesuatu. Sedangkan Gita hanya diam saja dengan perasaan berdebar.
"Gita!" Panggil Bryan. Gita pun menoleh.
"Maaf.." ucap Bryan pelan.
"Untuk apa?" Tanya Gita pelan.
"Karena menyelamatkan kakek, kamu menjadi terluka"
"Tidak perlu meminta maaf, aku hanya bertindak sebagai seseorang yang memiliki hati nurani" ucap Gita.
"Git..."
"Ya ...."
"Apakah kau masih tidak memiliki perasaan kepadaku?" Tanya Bryan.
Gita menatap Bryan dengan tatapan sendu. Perasaan? Tentu saja masih ada. Bagaimanapun Bryan adalah pria yang sangat di cintai oleh Gita. Hanya saja Bryan terlambat untuk mengungkapkannya. Karena dulu Angga yang terlebih dulu mengungkapkan perasaannya kepada Gita.
Gita sangat bahagia saat Bryan menyatakan bahwa Bryan menyukai Gita. Namun Gita harus menolak Bryan karena dua alasan. Yang pertama karena dia sudah jadian dengan Angga. Dan yang kedua adalah karena....
"Gita...!" Seru Bryan membuyarkan lamunan Gita.
"Eh.. iya." Ucap Gita gelagapan.
"Kenapa melamun?" Tanya Bryan.
Gita diam. Sebenarnya Gita sangat ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa selama ini dia juga menyukai Bryan. Namun yang dia dengan bahwa Bryan sudah di jodohkan dengan cucu dari sahabat kakeknya.
Sebenarnya Gita pun sangat ingin bertanya mengenai hal waktu itu. Tentang ucapan seseorang yang melarang Gita dekat dengan Bryan. Tentang Bryan yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. Dan tentang kakek yang melarang Gita untuk menyukai Bryan sebab Bryan sudah di jodohkan.
Tiba-tiba mata Gita berkaca-kaca saat mengingat bahwa beberapa tahun terakhir Bryan sama sekali tidak pernah menghubungi Gita. Dan itu membuat persepsi Gita bahwa Bryan sudah bertunangan semakin besar. Tentu saja Gita merasa kecewa. Dan ternyata Angga, pria yang di kira sangat menyayangi Gita justru berselingkuh dengan Santi, sahabat Gita sendiri.
Gita tersadar, lalu segera mengusap air mata yang belum sempat jatuh. Gita menatap Bryan.
"Gimana dengan pertunangan kakak?"
__ADS_1