
"Papa lupa, bahwa Gita adalah anak dari Abdi. Papa lupa Gita adalah cucu tunggal dari paman Anggar." Ucap tuan Arya menekankan setiap perkataannya.
"Bagaimana bisa Papa menganggap Gita adalah wanita bo*oh yang akan merusak masa depan Bryan???!!" Tanya tuan Arya dengan nada sedikit tinggi.
"Dan siapa yang Papa pilih untuk menggantikan Gita. Sisi??? Wanita seperti Sisi yang Papa pilih menjadi calon menantu di keluar Albara? Papa sungguh tidak masuk akal" ucap tuan Arya lantang lalu kemudian beranjak dari ruang keluarga dan menuju kamar pribadinya di ikuti oleh nyonya Lana.
Tuan Kurnia terdiam. Begitu banyak hal yang terjadi begitu cepat. Tuan Kurnia tidak menyangka bahwa Bryan meletakkan orang-orang cerdas di sekitarnya. Bagaimana bisa kejadian bertahun-tahun lalu di ketahui oleh pria yang masih sangat muda seperti Andre.
"Bryan, apakah jika kakek mengatakan alasannya kau akan memaafkan kakek??" Tanya tuan Kurnia kepada dirinya sendiri. Tuan Kurnia terlihat menunduk dan tak lama tangannya seperti mengusap sudut matanya.
***
Hari siang sudah menjelang sore. Dan seperti biasa di perusahaan milik Karin, karyawan pulang pada pukul empat sore. Saat ini Eka dan Andi berdiri di samping mobil masing-masing menunggu nona mudanya.
"Ndi, pulanglah dan berasalan bahwa kau tidak bisa menjemput nona Karin" ucap Eka kepada supir kekasihnya itu.
"Hah??" Ucap Andi kaget.
Eka pun merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah lalu meraih tangan Andi dan menggenggamkan uang itu di tangan Andi.
"Pulang, dan buatlah alasan bahwa mobil mu rusak. Jadi kau tidak menjemput nona Karin." Ucap Eka lalu memeluk bahu Andi.
"Lalu bagaimana non Karin pulang?" Tanya Andi.
"Gampang, serahkan padaku" ucap Eka menaikkan kedua alisnya dan tersenyum ke arah Andi.
"Cepat pulang, sebelum mereka keluar dari kantor" seru Eka mendorong pelan tubuh Andi. Dan mau tak mau Andi pun menurut.
Eka tersenyum saat melihat mobil yang di kendarai Andi perlahan menjauh dari kantor. Eka menyandarkan tubuhnya ke mobil. Ia sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan Karin, wanita yang tadi malam resmi menjadi kekasihnya.
Sementara di dalam kantor. Gita masih fokus dengan komputernya ketika Karin menghampiri nya.
"Lo belum kelar?" Tanya Karin. Gita pun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Masih lama?" Tanya Karin lagi duduk di kursi yang ada di depan Gita.
__ADS_1
"Bentar lagi" jawab Gita.
Karin pun kemudian diam, gadis cantik itu pun mengeluarkan ponsel dari tas nya dan membuka layar untuk melihat apakah ada pesan yang masuk. Dan ya, ternyata begitu banyak pesan yang membuat Karin tidak bisa menahan senyumnya. Karin pun membuka pesan itu dan membacanya satu per satu.
"Selamat pagi sayang"
"Semangat ya kerjanya hari ini..."
"I love you.."
"Yahh,,, sayang banget pagi ini ngga bisa ketemu bidadari ku.."
"Aku merindukanmu..."
Begitulah isi pesan dari seseorang yang sukses membuat Karin tersenyum sendiri. Dan hal itu di lihat oleh Gita yang baru saja selesai dengan pekerjaannya. Gita mengerutkan keningnya heran, tidak biasanya Karin tersenyum manis dengan benda pipih yang ada di tangan itu. Kecuali ketika sedang menonton video lucu. Dan itu pun Karin juga akan menunjukkannya kepada Gita.
"Karin.." panggil Gita dengan suara pelan. Namun Karin sama sekali tidak menyahut.
"Kaariiin....!!!!" Teriak Gita tepat di telinga Karin dan membuat Karin berjingkat kaget sembari mengusap telinganya.
"Yyee,,,, gue udah panggil lo pakai suara yang lembut tapi lo ngga denger. Malah senyum-senyum sendiri lihat hp, lagi liat apa sih?" Tanya Gita penasaran lalu mencoba mengintip hp Karin yang masih menyala.
Namun secepat kilat Karin menyembunyikan ponselnya. "Bukan apa-apa, ayok ah pulang" ajak Karin kemudian menarik tangan Gita.
Karin belum siap jika harus menceritakan masalah hubungan nya dengan Eka. Maka untuk sementara Karin ingin menyembunyikan status hubungannya itu.
Sampai di parkiran senyum Eka mengembang saat melihat Karin dan Gita yang menuju ke arahnya. Karena tadi pagi Eka tidak bisa bertemu dengan Karin, maka sekarang Eka sengaja membuat Andi pulang agar dirinya lah yang mengantar Karin pulang.
"Loh, mana Andi?" Tanya Karin saat sampai di parkiran tapi tidak melihat supir maupun mobilnya.
Sementara Eka hanya diam saja berpura-pura tidak tahu.
"Coba deh lo telpon dulu" saran Gita. Karin pun mengambil ponselnya dan menghubungi Andi.
"Maaf non, mobilnya mogok. Sekarang lagi di bengkel. Kalau nona nunggu bentar mau ngga?" Kata Andi dari arah sebrang sana.
__ADS_1
Saat ini Andi sedang di parkir di rumah Karin. Pria berseragam supir itu sedang mengangkat telponnya was-was.
"Ya udah deh Ndi, gue bareng sama Karin aja" terdengar suara Karin dari sana.
Akhirnya panggilan pun terputus. Andi menghembuskan nafas lega. Untung saja kedua majikannya belum pulang saat ini, jika sudah maka habislah dia. Lagipula Andi juga heran kenapa Eka merelakan uang tiga ratus ribu untuk membayar dirinya.
Kembali ke parkiran kantor, Eka diam-diam tersenyum tipis saat Karin memutuskan untuk naik ke mobil Gita.
"Gue ikut mobil lo ya? Andi lagi di bengkel." Ucap Karin sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Iya santai aja. Yuk masuk.." ajak Gita.
Mereka pun masuk ke mobil, Eka pun menutup pintunya dan kemudian berputar segera naik ke bagian kemudi. Tak lama mobil pun berjalan dengan pelan.
Di dalam mobil Karin di buat salah tingkah saat tidak sengaja Karin melihat Eka tengah memperhatikan dirinya lewat kaca yang ada di atas Eka. Karin mencoba bergeser agar ia tidak terlihat dari kaca itu, namun setiap Karin melirik ke kaca itu, Eka pun juga melakukan hal yang sama.
"Karin lo kenapa?" Tanya Gita yang sedari tadi melihat Karin seperti tidak nyaman.
"Ah ., Gue ngga papa kok.." jawab Karin sekenanya kemudian duduk anteng dan melirik ke kaca ternyata Eka sedang tersenyum puas. Sementara Karin hanya mendengus saja.
***
Bugh .. Bugh ... Bugh ...
"Tuan, silahkan minum terlebih dahulu. Saya takut tuan mengalami dehidrasi.." ucap Romy kepada Bryan yang sudah satu jam memukul samsak untuk meluapkan kemarahannya.
Bryan pun menghentikan pukulannya pada samsak itu kemudian melepas sarung tinjunya dan duduk di kursi yang ada di sana. Bryan meraih gelas berisi air putih dan meneguknya hingga tandas. Entah karena haus atau karena masih merasa kesal.
Saat ini mereka tidak ke tempat gym ataupun dimana. Melainkan di rumah milik Bryan. Bryan sengaja membuat ruangan khusus untuk olahraga agar dia tidak perlu ke tempat gym jika ingin olahraga.
"Romy, apakah kau merasa hidupku sangat mengenaskan?"
___
dukung author terus ya readers... terima kasih sudah membaca.
__ADS_1