
"Karin, lo ngerasa suasana kantor aneh ngga sih" tanya Gita kepada Karin. Saat ini mereka sedang berada di lift untuk menuju lantai 17, tepatnya ruangan mereka.
"Apa ada yang salah ya sama gue, perasaan sejak gue sampe terus masuk lift, banyak banget orang yang liatin gue" ujar Gita.
"Itu semua karena lo cantik," jawab Karin santai.
"Bukan, pasti ada sesuatu." Kekeh Gita.
Sebenarnya Karin pun merasakan ada yang aneh, setiap orang yang mereka lewati selalu berbisik-bisik dan menatap ke arah sahabatnya ini. Bahkan tadi sempat Karin melirik apakah penampilan Gita hari ini berbeda sehingga ia menjadi pusat perhatian, namun penampilan Gita sama seperti sebelumnya. Jadi apa yang menjadi permasalahan nya?
Karin dan Gita sama-sama diam, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka diam hingga tak terasa mereka sudah sampai di lantai yang di tuju oleh Karin dan Gita. Saat mereka baru melangkah keluar mereka sudah di sambut oleh Romy, asisten Bryan.
"Mari nona, silahkan imut saya ke ruangan nona Karin" ucap Romy sopan mempersilahkan kedua wanita cantik itu berjalan terlebih dahulu.
Karin dan Gita yang tidak mengerti apapun hanya bisa menurut dan menuju ruangan Karin. Ruangan ini terlihat sepi tidak ada satu staf pun yang berada disini. Padahal biasanya setiap pagi mereka akan sibuk mempersiapkan daftar laporan harian yang akan di serahkan kepada Karin dan Gita.
Sementara di ruang kerja Karin.
"Kurang ajar, siapa yang melakukan ini kepada putriku" ucap tuan Abdi marah.
"Aku sudah menyuruh orang untuk menekan pihak yang menyebarkan berita ini, tapi sepertinya ada orang yang lebih besar yang ada di belakang para penyebar berita ini" tuan Abdi meremas rambutnya kasar. Ia merasa frustasi. Bagaimana jika Gita melihat berita ini.
"Om tenang, aku sudah menyuruh orang kepercayaan ku untuk menyelidiki siapa dalang di balik berita ini" ucap Bryan menenangkan tuan Abdi.
Tuan Abdi menoleh ke arah Bryan, terlihat bahwa tuan Abdi sangat lelah. Berita sang putri tersebar tadi malam saat ia baru saja akan tidur. Ia mencoba tetap tenang malam tadi karena sang istri juga belum tidur, setelah istrinya tertidur baru tuan Abdi menyuruh orang-orang nya untuk menekan berita itu. Namun hasilnya tidak terlalu bagus karena berita itu sudah tersebar dan ternyata sudah sampai di mulut karyawan perusahaan milik tuan Bram juga.
"Bagaimana dengan Gita jika dia mengetahui ini" ucap tuan Abdi, ia mende*ah pasrah.
__ADS_1
"Abdi, akan ku pastikan siapapun karyawan yang menggosipkan putrimu akan ku pecat hari ini juga" kata tuan Bram tegas. Ia memegang bahu tuan Abdi, menenangkan pria yang sejak muda menjadi sahabatnya.
Tuan Bram jugalah seorang ayah, ia pasti juga akan marah saat putrinya di beritakan secara tidak benar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Terlebih berita itu sangat tidak benar.
Tuan Abdi menghela nafas panjang, bagaimanapun sebagai ayah sangat tidak rela jika sang putri menjadi bahan cibiran orang lain. Siapa yang dengan tega ingin menghancurkan reputasi putrinya. Ia sudah menekan para wartawan agar tidak datang dan membuat masalah. Ia juga sudah menekan seluruh media yang sudah terlibat, namun entah kenapa berita itu tetap ada. Meskipun sudah tidak terlalu ramai seperti malam tadi.
Tok ... Tok ...
"Itu pasti Karin dan Gita" seru tuan Bram. Dan benar saja ketika pintu terbuka terlihat Karin dan Gita masuk ruangan.
Setelah Karin dan Gita masuk, Romy memastikan apakah ada orang di luar atau tidak. Setelah memastikan bahwa benar-benar sudah tidak ada orang Romy pun menutup pintu dan ikut serta dalam perbincangan hangat di pagi yang cerah ini.
"Papa kok disini?" Tanya Gita bingung menatap papanya.
"Papa,,," tuan Abdi bingung ingin menjawab apa.
"Apa itu om?" Tanya Gita heran
"Silahkan duduk terlebih dulu non" ucap Romy mempersilahkan Karin dan Gita.
"Terimakasih" ucap Gita sedangkan Karin hanya mengangguk saja. Karin masih bingung ada apa dengan pagi hari ini.
"Gita bagaimana keadaan mu hari ini?" Tanya Bryan menatap lembut ke arah Gita.
Gita menatap ke arah Bryan, sadar dengan tatapan Bryan Gita langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku baik-baik saja" jawab Gita sekenanya
__ADS_1
"Apakah kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh?" Tanya Bryan lagi membuat Gita mengerutkan keningnya.
Namun tunggu, "ya aku merasa hari ini orang-orang sangat aneh" jawab Gita.
"Memang nya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa setiap aku melewati banyak orang maka mereka akan berbisik-bisik kemudian seolah sedang membicarakan ku" cerita Gita.
Bryan mengepalkan tangannya. Benar-benar kurang ajar orang yang sudah membuat berita seperti ini.
"Kau sudah melihat berita pagi ini?" Tanya Bryan, Gita menggelengkan kepalanya.
Tuan Bram, tuan Abdi dan juga Karin hanya diam melihat interaksi antara Bryan dan Gita. Bryan menatap Romy memberikan kode kepada asisten nya itu. Kemudian Romy mengambil sebuah tablet dan menekan-nekan seperti mencari sesuatu. Setelah dirasa ketemu Romy berjalan ke arah Gita dan memperlihatkan sesuatu yang ada di dalam tablet itu.
Gita menerima tablet yang sedang memberitakan sesuatu itu. Dengan seksama Gita menyimak berita apa yang membuat heboh perusahaan. Bahkan papanya pun datang ke perusahaan ini.
Raut wajah Gita yang berubah masam membuat Karin yang ada di sebelahnya penasaran. Karin pun mendekat ke samping Gita dan ikut serta melihat apa yang Gita lihat. Baru beberapa detik Karin menyimak berita itu wajah gadis cantik itu sudah memerah dan ingin marah. Beda dengan Gita yang cukup tenang meskipun ia juga merasa muram.
"Apakah masih perlu di tanya siapa dalang di balik ini?" Tanya Gita tersenyum hambar.
Gita mengembalikan tablet itu kepada Romy lalu menatap satu per satu wajah yang ada di ruangan itu. Terutama papanya. Gita berdiri dan menghampiri sang papa.
"Gita tau, papa pasti sudah melakukan banyak hal untuk menekan berita ini" ucap Gita memeluk sang papa.
Tuan Abdi mengelus rambut Gita yang lurus, ia mencium puncak rambut Gita.
"Maafkan papa nak, seharusnya papa bisa menghapus berita ini namun sepertinya orang di balik ini juga sangat kuat" sesal tuan Abdi. Gita semakin mengeratkan pelukannya
"Papa udah ngelakuin yang terbaik, maafin Gita bikin repot papa dan mungkin perusahaan akan terkena imbasnya" ucap Gita. Ia ingin menangis sekarang. Namun ia malu karena di ruangan ini ada seseorang yang membuat Gita harus tegar.
__ADS_1