CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 107


__ADS_3

"Kenapa Bryan dan Gita belum juga datang?" Tanya nyonya Indira pelan. Wanita setengah baya itu sebentar-sebentar melihat ke arah pintu yang belum memunculkan dua orang yang sangat di nantikan nya.


"Sabar ma... Mungkin Bryan sedang sibuk" hibur tuan Wijaya ketika menyadari raut khawatir dari wajah sang istri.


"Tapi sudah hampir malam Pa. Ini ulang tahun Mama, apa Gita lupa?" Tanya nyonya Indira dengan nada sedih.


"Tante.." panggil Karin meraih bahu nyonya Indira.


"Kata kak Aldo tadi Gita sempat ke kantor kak Bryan dan mereka terlibat sedikit kesalah pahaman jadi mungkin mereka sedikit terlambat" ucap Karin.


"Kesalah pahaman apa Karin?" Tanya nyonya Indira.


"Tadi kak Bryan cerita sama kak Aldo kalo Gita akhir-akhir ini agak berbeda." Ucap Karin.


"Iya, anak itu biasanya tidak suka daging. Tapi akhir-akhir ini selalu minta di olah kan makanan dari daging" timpal nyonya Lana yang juga ada di situ untuk menghadiri acara ulang tahun sahabat sekaligus besan nya itu.


"Benarkah...?" Tanya nyonya Indira dan di angguki oleh nyonya Lana.


"Jadi kak Bryan berasumsi jika mungkin saja Gita..."


Belum sempat Karin menyelesaikan kalimatnya, mereka semua menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan wajah sumringah Bryan dan Gita.


Gita berjalan pelan menghampiri sang Mama sembari membawa sebuah kue ulang tahun yang tidak terlalu besar namun terbungkus dengan mika, bentuknya pun indah. Di atasnya tertulis sebuah ucapan 'happy birthday my mom'.


"Selamat ulang tahun Mama" seru Gita bahagia. Gita meletakkan kue yang di bawanya lalu memeluk singkat sang Mama, smag mertua dan sang Papa. Lalu kemudian duduk di antara nyonya Indira dan nyonya Lana.


"Terima kasih, Mama pikir kamu lupa" ucap nyonya Indira.


"Engga dong" jawab Gita kemudian memeluk Mama nya kembali.


Karena yang di tunggu telah datang akhirnya nyonya Indira pun memotong kue dan memberikan potongan pertama kepada sang suami, potongan kedua untuk sang putri yaitu Gita, dan yang ketika di berikan kepada tuan Enggar, mertuanya.

__ADS_1


"Gita lo kesini ngga bawa hadiah?" Tanya Karin.


"Bawa dong" jawab Gita.


"Mana, perasaan lo datang cuma bawa kue doang" ucap Karin lagi.


"Hadiah gue, ada disini....." Seru Gita menyerahkan sebuah kotak persegi panjang kecil yang telah di bungkus oleh kertas kado itu kepada sang Mama.


"Apaan tuh?" Tanya Karin kepo kemudian mendekat ke arah nyonya Indira.


"Boleh Mama buka disini?" Tanya nyonya Indira menatap Gita. Gita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Gita kemudian melihat ke arah Bryan yang ada di sampingnya sambil tersenyum. Gita kemudian menyandarkan tubuhnya pada tubuh Bryan. Tak jauh dari mereka Aldo menatap curiga ke arah dua anak manusia yang terlihat sangat bahagia padahal tadi siang mereka terlibat sebuah percekcokan.


Nyonya Indira membuka hadiah dari Gita dengan hati-hati. Karena takut jika isinya adalah sebuah kalung emas atau justru emas batangan. Kertas kado sudah berhasil di buka, semua yang melihat kado itu mengerutkan kening ketika melihat kotak putih berlogo rumah sakit itu.


Dengan tangan sedikit gemetar nyonya Indira pun membuka kotak putih itu dan melihat sebuah kertas dan sebuah alat tes kehamilan. Di ambilnya alat tes kehamilan itu dengan gemetar dan rasa jantung yang sudah dag dig dug. Nyonya Indira menatap ke arah sang putri yang tengah tersenyum ke arahnya.


Nyonya Indira membalik alat tes kehamilan yang sengaja di hadapkan ke arah bawah. Nyonya Indira menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca ketika melihat tanda dua garis merah pada alat itu. Ia menatap Gita yang juga sudah menangis haru.


"Papa akan segera menjadi cucu?" Tanya tuan Wijaya pelan.


"Iya Pa" jawab Bryan.


Tuan Wijaya pun memeluk Bryan dan mengucapkan selamat. Tuan Wijaya pun memeluk putrinya dan mencium kening sang putri.


"Kembar???" Seru nyonya Lana yang membaca surat keterangan dari dokter.


Nyonya Lana menatap Gita dengan mata yang sudah berair. Nyonya Lana mendekat ke arah sang menantu.


"Kau hamil sayang?" Tanya nyonya Lana. Gita pun mengangguk. Nyonya Lana mencium kening Gita lama dan memeluknya.

__ADS_1


"Mama akan memiliki cucu kembar" ucap nyonya Lana dan di angguki oleh Bryan dan Gita.


"Selamat nak..." Ucap nyonya Lana, kali ini ia beralih mencium kening Bryan. Sementara tuan Arya mencium pucuk rambut Gita.


"Selamat ya Gita...." Seru Karin dengan perasaan haru. Ia pun memeluk sahabatnya itu.


"Gue seneng banget," lanjutnya.


"Terima kasih sayang, ini hadiah terindah yang Mama dapat selama Mama melewati ulang tahun" ucap nyonya Indira sembari menangkup kedua pipi Gita dengan tangannya.


"Gita..." Panggil tuan Enggar dan tuan Kurnia bersamaan. Para orang tua itu sudah berdiri di depan cucunya masing-masing.


"Kakek akan segera memiliki cicit? Kakek akan menjadi kakek buyut?" Tanya tuan Enggar dengan bibir bergetar.


"Iya kek" jawab Gita dengan sedikit terisak.


Tanpa mengucapkan apapun, tuan Enggar langsung mendekap Gita di pelukannya. Perasaan haru menyelimuti hatinya. Di umurnya yang sudah semakin senja ia di berikan kabar yang sangat gembira ini. Tuan Enggar tidak bisa membendung air matanya.


Begitu pula dengan tuan Kurnia, ia menatap manik mata Bryan yang berkaca.


"Jangan cengeng!" Seru tuan Kurnia menampar pelan pipi kiri Bryan.


"Kau akan segera menjadi ayah" lanjutnya sembari menampar pipi kanan Bryan dengan pelan.


Meskipun tangannya memukul namun mata tuan Kurnia tak bisa berbohong bahwa ia juga sedang menahan tangis bahagia.


"Cucu bandel ku akan segera menjadi ayah" seru tuan Kurnia dengan bibir bergetar.


"Ayo peluk kakek, apa kau akan membiarkan kakek mu ini" lanjutnya.


Bryan pun memeluk tubuh tua sang kakek. Ia menangis haru begitu pula dengan tuan Kurnia. Semua yang ada di ruangan itu pun ikut terharu karena berita bahagia yang di bawa oleh Gita dan Bryan.

__ADS_1


"Sudah kakek bilang jangan menangis," ucap tuan Kurnia memukul punggung Bryan yang bergetar karena menangis.


Bukannya berhenti Bryan justru semakin terisak. Sebab tuan Kurnia pun juga ikut menangis.


__ADS_2