
Pagi ini Gita di buat heran dengan penampilan supirnya yang acak-acakan. Padahal biasanya sejak pria yang resmi menjadi kekasih sahabatnya tidak pernah sekalipun berpenampilan seperti ini. Gita hanya melirik sekilas ke arah supirnya yang sedang membukakan pintu untuknya. Bahkan setelah mobil melaju pun tidak ada perbincangan antara mereka, sesekali Gita melihat supirnya dan nampak sekali ekspresi yang sendu bahkan supirnya itu terlihat menghela nafas berkali-kali.
Setelah 30 menit mereka sampai di kantor. Ketika Eka hendak memarkirkan mobil sekilas ia melihat mobil yang di kenalnya sedang bersiap untuk parkir juga. Eka langsung memarkirkan mobil dan segera turun dari mobil, dan tepat saat ia sudah keluar dari mobil, seorang wanita yang beberapa hari ini ia rindukan keluar dari mobil.
Karin terpaku di depan pintu mobil saat menyadari bahwa Eka sudah berdiri tak jauh di depannya. Karin menatap wajah Eka yang sendu dan penampilannya pun terlihat berantakan. Karin menghembuskan nafasnya, ia masih merasa sangat kecewa dengan pria yang menjadi kekasihnya itu. Karin kemudian berlalu bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tak jauh dari mereka, Gita melihat keduanya dengan perasaan heran. Bagaimana mungkin dua orang yang menjadi sepasang kekasih dan selalu bucin akhir-akhir ini kini seperti sedang menjaga jarak.
Karin ingin menghampiri Gita ketika langkahnya terhenti karena satu tangannya di tahan oleh Eka.
"Sayang... Dengerin aku dulu.." ucap Eka memelas. Terlihat matanya sedikit berkaca-kaca.
Eka menghempaskan tangan Eka sedikit kasar "dasar pembohong" ucap Karin penuh penekanan. Bibirnya bahkan bergetar. Karin pun segera berlalu meninggalkan Eka yang masih diam mematung.
"Kenapa?" Tanya Andi menghampiri Eka yang masih diam mematung di samping mobil.
Eka hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian tersenyum tipis. Matanya tetap fokus memandang Karin dan Gita yang sedang berjalan menuju kantor.
***
"Bagaimana acara liburan mu?" Tanya Bryan kepada asistennya, Romy.
Romy pun menatap ceria bos nya itu. "Saya sama Andre ke panti asuhan bos" jawab Romy.
"Bagaimana kabar bunda mu?" Tanya Bryan.
"Beliau baik bos" jawab Romy.
"Lalu dimana Andre?"
"Andre ke markas bos, dia sedang galau" ucap Romy kemudian membulatkan matanya saat ia mengatakan kalimat terakhir. Romy keceplosan.
Bryan menghentikan aktivitasnya yang sedang mengetik sebuah laporan kemudian menatap Romy.
"Galau?" Tanya Bryan mengangkat satu alisnya dan menatap Romy.
Sementara Romy hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum ragu. "Iya bos" jawab Romy.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Bryan penasaran. Bryan melihat lekat Romy.
"Emmm.... Karena...."
***
"Lo kenapa sihh?" Tanya Gita kepada Karin sesaat setelah mereka sampai di ruangan Gita.
"Gue ngga apa-apa" jawab Karin malas.
Gita pun menghampiri Karin yang tengah duduk di sofa dan memegang gelas berisi teh manis kesukaannya.
"Gue sahabat lo, gue tau kalo pasti ada apa-apa yang terjadi antara lo dan Eka?" Ucap Gita mengusap bahu Karin lembut.
Karin menghembuskan nafasnya kemudian meletakkan gelas yang di pegang di atas meja. Karin menatap Gita dengan mata yang berkaca-kaca. Karin langsung memeluk Gita dan menangis dalam pelukan sang sahabat.
Gita membiarkan Karin meluapkan emosinya, Gita mengusap punggung Karin agar Karin sedikit merasa tenang.
"Eka pembohong Git" ucap Karin sedikit tidak jelas karena masih menangis dan masih dalam pelukan Gita.
Gita hanya mengusap punggung Karin untuk mensupport Karin. Meskipun Gita belum mengetahui duduk permasalahannya.
"Kenapa?" Tanya Gita lembut sembari mengusap air mata yang masih menetes pada pipi Karin.
"Eka... Ternyata... Ternyata... Eka adalah...." Ucap Karin tersengal-sengal karena ia masih terus terisak.
"Ceritakan pelan-pelan" ucap Gita.
Karin pun menghembuskan nafasnya berulang kali, sampai ia merasa tenang. Setelah tenang, Karin mengusap sisa air mata di pipi dan meminum sedikit teh dari gelas nya tadi. Setelah selesai Karin menatap Gita dengan sendu.
"Ternyata Eka itu kak Aldo, Git" ucap Karin dengan nafas tercekat.
Gita menatap Karin, dalam situasi seperti ini Karin tidak mungkin becanda. Namun, apakah benar pria yang selama ini menjadi supirnya adalah anak orang kaya? Dan dia adalah Aldo?
"Lo.... Yakin???" Ucap Gita pelan.
"Tante Sarah sendiri yang bilang" jawab Karin.
__ADS_1
Gita syok dengan kenyataan ini, bagaimana bisa ia tidak mengenali Aldo jika memang Aldo menyamar menjadi Eka. Apakah karena kumis yang di miliki Eka, atau....? Entahlah.....
Gita dan Karin sama-sama diam, Gita masih mencerna kenyataan yang baru ia dengar sedangkan Karin masih diam karena ia juga masih tidak percaya dengan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
***
"Siapa nama gadis itu?" Tanya Bryan.
"Em... Dahlia bos" jawab Romy. Bryan pun manggut-manggut mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh Romy.
Sementara Romy hanya meringis ketika ia harus terpaksa menceritakan tentang apa yang di lihatnya waktu itu, tepatnya sebelum dirinya dan Andre kembali ke kantor dan pada pekerjaan mereka.
Entah apa yang akan terjadi bila Andre tahu, bahwa mulut lemes nya telah membongkar rahasia pribadinya. Terlebih itu kepada bos nya sendiri.
Romy terus merutuki kebodohan nya hingga ia melihat bahwa bos nya sudah berdiri dari kursi dan memakai jas kebesarannya.
"Antar aku ke markas" seru Bryan langsung berlalu tanpa memperdulikan Romy yang baru sadar dari lamunannya.
"Mampus gue" gumam Romy pelan sembari menelan ludahnya kasar kemudian menyusul bos nya.
***
"Rin, itu kenapa ya kok rame-rame banget" tanya Gita kepada Karin saat melihat di depan perusahaan Bryan ramai sekali orang.
"Ga tau," jawab Karin mengendikkan bahunya. "Kesana aja yok" lanjut Karin menarik tangan Gita untuk mendekat ke kerumunan itu.
Sementara di kerumunan itu, tampak seorang wanita yang mengenakan dress ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya termasuk perutnya yang sedikit membuncit. Wanita itu tengah mencoba menggapai tubuh seorang pria yang di lindungi oleh dua orang bodyguard.
"Mau apa kau kesini?" Tanya pria itu dingin, matanya pun menatap tajam seorang wanita yang selama ini sangat di bencinya.
"Bryan... Ku mohon..." Ucap wanita itu memelas. Air mata tampak menggenang di pipi mulusnya.
"Kau bisa mencari pria yang telah membuat mu hamil, cari dia untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat" seru Bryan datar, tatapannya nyalang ke arah wanita yang tidak tahu malu memintanya untuk bertanggung jawab padahal jelas itu bukan anaknya.
"Cukup Bryan!!!! Ini adalah anak mu!!!! Dan kamu harus bertanggung jawab" Teriak wanita itu lantang tak peduli dengan sekitarnya.
Brukk.....
__ADS_1
Bryan menoleh ke arah itu, dan matanya membelalak kaget saat melihat wanita yang tengah mengambil sebuah map yang terjatuh namun matanya menatap ke arah Bryan.