CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 79


__ADS_3

Hari ini adalah weekend. Setelah semalam Gita merasa was-was karena merasa di intai oleh seseorang. Rasa was-was itu semakin menjadi ketika ada yang meneriakkan namanya. Dan ketika Gita menoleh itu adalah Karin. Gita langsung bernafas lega, setidaknya rasa khawatirnya yang terlalu berlebih-lebihan.


Akhirnya mereka berempat pun menikmati malam Minggu dengan kebahagiaan. Mereka berkeliling pasar malam menikmati jajanan. Terkadang mereka juga menaiki wahana namun bukan wahana yang menguji nyali. Karena baik Gita maupun Karin tidak suka menaiki wahana ekstrem.


Pagi ini Gita bangun lebih siang karena semalam ia pulang agak larut. Pagi ini ia masih bergelung dalam selimut. Gita nampak sangat bahagia bahkan senyum itu tak pudar meskipun ia masih tertidur.


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan sesosok nyonya Indira yang tersenyum melihat putrinya menggeliat manja kemudian menarik kembali selimut yang sedikit menurun. Nyonya Indira menghampiri putrinya yang masih terbaring cantik di atas ranjang. Tadi malam begitu sampai rumah, ia melihat rona bahagia di wajah putrinya.


Nyonya Indira mengelus rambut Gita yang berantakan. Di sisihkan nya rambut yang menutupi wajah sang putri. Ia mengelus pipi putih Gita hingga membuat Gita terbangun. Mata Gita terbuka dan langsung menatap ke atas, dimana ia bisa melihat wajah sang Mama.


"Mama..." Ucap Gita pelan dengan suara khas bangun tidur.


Gita membenarkan selimut nya, bukannya bangun Gita justru menggunakan paha Mama nya sebagai bantal. Ia memeluk tubuh Mama nya dan kembali memejamkan matanya.


"Dasar... Kau sudah dewasa" ucap sang Mama namun tetap mengelus rambut Gita.


Gita tak menjawab, gadis itu hanya terus memeluk sang Mama membuat Mama nya tersenyum geli.


***


"Jadi benar bahwa Tina bukan anakku?!!" Tanya Angga lantang. Dadanya naik turun menandakan ia sedang emosi. Angga mencengkeram erat bahu Santi dan menggoyangkan nya kasar.


"Katakan saantii!!!" Teriak Angga.


Santi hanya terisak dan tidak mampu mengatakan yang sebenarnya. Entah dari mana Angga bisa beranggapan bahwa Tina bukan anaknya. Apakah mungkin Angga me mengetahui sesuatu hingga itu yang membuat Angga akhir-akhir ini berubah.


"Jawab santiii!!!" Teriak Angga lagi melepaskan cengkraman tangannya dari bahu Santi.

__ADS_1


Santi mengusap air matanya, tangannya terulur ingin menyentuh tangan Angga. Namun tangan Santi di tepis kasar oleh Angga, membuat air mata Santi kembali luruh.


"Bagaimana bisa.... Ka-kamu berkata seperti itu mas..." Ucap Santi tersengal-sengal karena terisak.


Rahang Angga mengeras. Bahkan terdengar gemelutuk gigi yang menandakan Angga benar-benar sedang emosi. Ia menatap nyalang ke arah Santi. Bagaimana bisa Santi masih berbohong padahal sudah jelas jika Tina memang bukan anaknya.


"Aku melakukan tes DNA" jawab Angga. Tubuh Santi langsung menegang. Air mata terus turun di pipinya. Santi luruh ke lantai.


"Bagaimana bisa kau berbohong Santi. Aku sudah mulai bisa menerima mu namun ternyata yang kau beri apa? APA???!" Angga berteriak di akhir kalimat.


Dadanya terasa sesak. Di saat cinta sudah mulai tumbuh dalam hatinya namun ternyata ia di tipu oleh wanita di hadapannya. Mata Angga memerah, selain karena marah juga karena ia mati-matian menahan bulir bening yang mencoba ingin keluar.


Angga meninggalkan Santi yang masih terduduk di lantai menuju ke lantai atas. Angga membuka kamarnya dan menghampiri box bayi dimana biasanya Tina di tidurkan.


Angga menatap wajah seorang anak yang selama ini di sangka putrinya. Tapi ternyata bukan, anak yang sudah sangat di sayangi oleh nya ternyata adalah anak pria lain. Angga menatap wajah baby Tina yang masih tertidur. Wajah itu sama sekali tidak mirip dengannya dan tidak mirip juga dengan Santi. Itulah yang membuat Angga sedikit curiga hingga ia memberanikan diri untuk melakukan tes DNA.


Dan betapa terkejutnya Angga ketika membaca hasil tes DNA itu. Antara ia dan baby Tina bukan lah ayah kandung. Bahkan hanya 0,1 persen saja. Sejak itu sikapnya berubah kepada Santi dan juga Tina. Ia sudah jarang menggendong Tina dan tidur pun ada di kamar lain. Angga terus mencari jawaban dari pertanyaan yang belum terpecahkan, hingga beberapa hari yang lalu semua tampak jelas ketika seorang asing menemui dirinya dan mengatakan yang sebenarnya. Ia bahkan memiliki bukti yang menunjukkan jika baby Tina memang putrinya.


***


"Tuan harus berhati-hati di kawasan itu" ucap seseorang melalui earphone yang ada di telinga Bryan.


Bryan yang baru saja hendak keluar mobil pun mengurungkan niatnya. "Kenapa?" Tanya Bryan.


"Menurut informasi yang di sampaikan Deka, beberapa hari ini ada yang mengintai Anda. Termasuk hari ini, dan saat ini orang itu berada tak jauh dari mobil anda." Ucap seseorang dari sebrang sana.


Bryan melihat ke arah kiri, di sebrang jalan sana terdapat sebuah kayu yang berukuran besar. Dan memang ada seseorang yang sedang memperhatikan ke arahnya. Seseorang yang mengenakan baju serba hitam dan kacamata hitam. Di tangannya tidak nampak membawa apapun.


"Tapi tuan tenang saja. Saya dan juga Andre pun sedang berada di dekat tuan. Kami terus mengawasi gerak-gerik orang itu" ucap seseorang lagi dari sebrang.

__ADS_1


Bryan melihat ke sekeliling dan melihat dua orang kepercayaannya yang juga tidak jauh dari nya. Bryan pun merasa lega dan akhirnya keluar dari mobil. Ketika ia baru keluar ia melihat sang kakek sudah berdiri tak jauh darinya. Bryan segera menghampiri sang kakek. Meskipun ia masih marah.


"Kenapa? Jika kakek ingin melarang Bryan dengan Gita. Maka Bryan tidak akan mundur" ucap Bryan lebih dulu.


Tuan Kurnia menghela nafasnya kemudian menatap sendu ke arah sang cucu. "Tidak" ucap tuan Kurnia.


Bryan menyipitkan matanya mendengar kata ambigu keluar dari mulut kakeknya. Tidak? Tidak apa maksudnya?


Melihat Bryan diam, tuan Kurnia pun berkata lagi. "Kakek akan merestui hubungan mu dengan Gita. Tapi dengan satu syarat"


"Kakek benar-benar merestui Bryan dan Gita!!" Seru Bryan langsung mendekat ke arah sang kakek. "Tapi apa syaratnya?" Tanya Bryan.


Tuan Kurnia tersenyum "bahagia kan Gita, jangan sampai kau melukai nya" ucap tuan Kurnia.


Bryan langsung memeluk sang kakek dan merasa haru dengan keputusan kakeknya. Akhirnya tidak ada lagi yang menghalangi hubungan antara dirinya dan juga Gita.


"Terima kasih kek!!" Ucap Bryan melepas pelukannya.


Dooorrr.....


Terdengar suara tembakan. Bryan dan tuan Kurnia langsung menoleh ke sumber suara. Begitu juga Andre dan Romy yang bersembunyi di semak-semak. Mata Romy dan Andre melotot ketika melihat seorang wanita yang sedang berlari menuju ke arah peluru itu melesat.


"Tuan hati-hati... Nona..."


"Aakkhhhh"


Ucapan Romy terputus ketika melihat wanita itu sudah terkena peluru yang sebenarnya di tujukan kepada tuan Kurnia.


___

__ADS_1


hello,,,,, selamat malam Senin. semoga sehat selalu dan bahagia biar bisa selalu baca cerita othor yaa...


__ADS_2