CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 50


__ADS_3

Di pemakaman yang terlihat sudah lama dan usang, menandakan bahwa selama ini tidak pernah ada yang membersihkan makam itu. Tuan Kurnia berdiri setelah memanjatkan doa untuk mendiang sahabatnya. Terlintas sebuah ingatan masa lalu di mana tuan Kurnia sedang di incar oleh lawan bisnisnya namun kemudian sahabatnya mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan dirinya. Sehingga sang sahabat pun meninggal dan meninggalkan sebuah pesan yang dalam hati tuan Kurnia berjanji akan menepatinya.


Mengingat itu dada tuan Kurnia terasa sesak. Pria baya itu memejamkan matanya dan menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di rongga dadanya.


"Apakah tuan baik-baik saja?" Tanya Denan yang sedari tadi berdiri agak jauh di samping tuan Kurnia namun.


Tuan Kurnia membuka matanya dan melihat lagi ke makam temannya. Tuan Kurnia pun menggelengkan kepalanya pelan lalu pergi kemudian di ikuti oleh Denan.


***


Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Gita, bagaimanapun setelah kejadian kemarin Gita memutuskan untuk memperjuangkan perasaannya kepada Bryan. Gita mematut dirinya di depan cermin. Hari ini ia sangat memperhatikan penampilannya. Bahkan hari ini Gita bangun pagi sekali untuk sekedar berdandan.


"Udah cukup deh kayaknya" ucap Gita di depan cermin. Ia memperhatikan sendiri wajahnya yang terpoles sedikit bedak.


"Udah cantik kok" lanjut Gita kemudian berdiri dan mengambil tas kerjanya.


"Pagi Mama, pagi Papa, pagi Kakek..." Seru Gita riang setelah ia sampai di ruang makan.


Ketiga orang yang di panggil pun langsung menoleh ke arah Gita. Ketiga orang tua yang sangat menyayangi Gita itu pun melipat keningnya heran. Mereka memandangi Gita dari atas sampai bawah. Penampilan putri kesayangan mereka berubah hari ini. Gita yang memakai setelan blazer warna abu-abu itu berhasil menarik perhatian ketiga orang yang duduk di kursi makan.


"Kenapa merhatiin Gita kayak gitu?" Tanya Gita heran lalu ikut memandang dirinya sendiri. Tidak ada yang salah pikirnya.


"Sayang, kamu cantik banget hari ini" ucap sang Mama kemudian. Sudah lama sekali putrinya tidak menampilkan wajah ceria seperti ini.


Pipi Gita pun bersemu merah mendengar pujian dari sang Mama. Ia jadi membayangkan wajah Bryan jika bertemu. Apakah pria itu juga akan terpesona dengan penampilannya hari ini.


"Kok senyum-senyum sendiri? Putri Papa sepertinya sedang bahagia hari ini?" Tanya sang Papa.

__ADS_1


Gita pun melebarkan senyumnya kemudian duduk di kursi kosong yang ada di dekat sang kakek.


"Gita kan setiap hari bahagia Pa" seru Gita menutupi.


Tuan Abdi pun beradu pandang dengan sang istri. Tuan Abdi tersenyum menanggapi ucapan putrinya. Gita belum siap membicarakan apa yang terjadi padanya sehingga membuat ia sangat bahagia dan bersemangat hari ini.


Sementara sang kakek yang ada di samping Gita, memicingkan matanya mencurigai sikap Gita. Mendengar dari supirnya bahwa kemarin sore Gita baru saja di antar oleh asisten Bryan.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Bryan?" Tanya sang kakek santai tanpa menoleh kepada Gita.


Gita yang sedang menggigit roti tawar berbalut selai kacang pun menghentikan gerakannya kemudian menatap ke arah sang kakek. Kedua orang tuanya yang mendengar pun juga menoleh ke arah tuan Anggar.


"Katakan kepada kakek. Apakah kau menjadi bahagia seperti ini karena kemarin baru saja bertemu dengan Bryan?" Tanya sang kakek lagi menatap Gita.


Gita pun langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan sang kakek. Ia kemudian menoleh lagi sambil tersenyum canggung.


Menyadari tatapan sang kakek yang sepertinya tidak percaya dengan alasan Gita membuat Gita memutuskan untuk menyudahi sarapannya.


"Kalau gitu Gita berangkat dulu ya, hari ini ada meeting para staff" pamit Gita kepada orang tuanya. Gita pun berlalu setelah mencium pipi kedua orang tuanya. Setelah sampai di halaman rumah Gita menghembuskan nafasnya lega.


***


Di kediaman tuan Bram. Hari ini Karin dengan malas-malasan berangkat dari kerja. Ia bahkan mengabaikan panggilan sang Mama yang menyuruhnya sarapan.


Karin tetap berangkat kerja tanpa membawa bekal. Mood baiknya kemarin rusak begitu saja ketika tadi malam sang Mama membahas tentang perjodohan. Karin sudah melupakan Aldo, dan kini Karin sedang menjalin hubungan dengan Eka. Aldo memang kaya tapi bukankah selama ini Aldo tak pernah peduli dengannya. Sementara Eka, pria itu memang hanya supir di keluarga Wijaya, namun bukankah kelak jika Eka menikah dengan Karin, sang Papa bisa mengajari Eka tentang bagaimana menjalankan sebuah perusahaan.


Karin sungguh kecewa sekali dengan sikap sang Mama. Karin sudah dewasa, kenapa harus di jodohkan. Karin berangkat kerja dengan di antar oleh supirnya, Andi. Di sepanjang jalan Karin hanya diam. Gadis itu tak memiliki selera untuk berbicara. Bahkan pesan dari sang kekasih pun di abaikannya.

__ADS_1


Sementara di rumah, tuan Bram dan nyonya Siska sedang sarapan tanpa putri mereka. Suasananya begitu hening, jujur saja tuan Bram juga sedikit kesal saat sang istri tetap memaksa putrinya untuk menerima perjodohan itu.


"Pa,, kenapa diam aja? Papa juga mau mendiamkan Mama?" Tanya nyonya Siska menatap sang suami yang sedang menyantap nasi goreng buatannya.


Tuan Bram menghentikan aktivitasnya kemudian menatap sang istri.


"Papa sudah bilang, biarkan Karin memilih jalan hidupnya sendiri." Jawab tuan Bram tegas.


"Pa, Mama kan hanya ingin berbesan dengan jeng Sarah" elak nyonya Siska.


"Jangan egois Ma, ingat kita adalah dua orang yang memperjuangkan restu kedua orang tua karena dulu kita juga sama-sama di jodohkan dengan orang yang tidak kita cintai. Apakah Mama mau itu terjadi kepada Karin. Mama mau Karin kabur dengan pria yang di sukainya karena Mama memaksa menjodohkan Karin dengan Aldo?" Tanya tuan Bram tegas membuat nyonya Siska menundukkan kepalanya.


Melihat itu membuat tuan Bram tak tega. Namun bukankah kemarin tuan Bram sudah menasihati sang istri dengan lembut. Namun nasihatnya di abaikan begitu saja.


Tuan Bram pun berdiri dan berlalu meninggalkan sang istri. Nyonya Siska menatap punggung sang suami yang semakin menjauh dengan tatapan sedih.


***


Gita sudah sampai di kantor, terlihat sudah ada beberapa karyawan yang datang di kantor. Gita keluar dari mobil dan langsung menuju ke dalam.


Gita sampai di ruangannya, ia pun membuka pintu dan langsung kaget saat ada seseorang yang sedang duduk di sofa ruangannya. Gita mengedipkan matanya sedikit tak percaya. Orang itu berdiri dan berjalan menghampiri Gita.


"Selamat pagi sayang...."


___


dukung author ya guys...

__ADS_1


__ADS_2