
Tok .. Tok ..
Suara pintu di ketuk dari luar Karin yang mendengar pun segera menghapus air matanya dan beranjak menuju pintu.
"Mama" ucap Karin biasa saja agar sang mama tidak curiga
"Makan malam dulu sayang" ucap sang mama lembut.
"Iya ma, Karin mau mandi dulu ya. Tadi Karin ketiduran sebentar" alibi Karin.
"Ya sudah mama tunggu di bawah ya" mamanya pun berlalu turun dan Karin segera menutup pintu.
Karin meraih handuk dan bersiap mandi. Suara gemericik air terdengar pertanda Karin telah memulai ritual mandinya. Di dalam kamar mandi Karin membasahi seluruh tubuhnya padahal pakaiannya masih utuh. Air matanya kembali lirih tatkala bayangan Aldo melintas dalam ingatannya. Dalam hati Karin ia masih berharap bahwa Aldo akan kembali. Namum disisi yang lain hatinya telah memilih seseorang yang mirip dengan Aldo.
Karin menyudahi mandinya dan keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang serupa baju. Ia pun bersiap untuk keluar makan malam setelah selesai memakai baju dan memakai sedikit makeup agar terlihat lebih fresh. Ia kemudian turun ke bawah, dari tangga ia dapat melihat kalau orang tuanya telah menunggunya. Karin pun segera duduk di samping sang mama dan mengambil nasi juga lauk yang telah di hidangkan.
***
"Makasih ya sayang udah belanjain aku, mana banyak banget" ucap sisi sambil bergelayut manja di lengan Deka.
"Iya sayang, apa sih yang enggak buat kamu" jawab Deka mencium kening sisi.
Mereka berdua pun berjalan menuju mobil dan bergegas pulang ke rumah karena hari sudah mulai malam.
Disisi lain, acara makan malam di rumah tuan Bram telah selesai. Kini mereka sekeluarga sedang duduk santai di ruang keluarga
"Sayang" panggil nyonya Siska kepada putrinya
"Iya mam" Karin yang sedang fokus menonton film favorit nya pun menoleh ke arah sang mama.
"Gimana dengan tawaran Tante Sarah?"
"Tawaran apa mam?" Ucap Karin berpura-pura tak mengerti.
__ADS_1
"Yang beberapa waktu lalu, tentang perjodohan kamu dengan Aldo" tanya nyonya Siska menatap putrinya. Dari matanya terlihat bahwa dirinya sangat berharap bahwa anaknya setuju dengan perjodohan itu.
Karin yang mendengar pertanyaan sang mama segera mengalihkan pandangannya ke arah televisi. Ia menolak perjodohan ini, ia sudah memiliki seseorang yang ia suka. Meskipun dia pernah menyukai Aldo, namun itu dulu. Dan sekarang rasa untuk Aldo sudah sirna.
"Ma, Karin ngga bisa" ucap Karin pelan.
"Karin sudah ada seseorang yang Karin sukai" lanjut Karin.
Karin pun menatap mama nya dengan tatapan sendu. Ia tidak ingin menyakiti hati sang mama namun ia juga tidak mau mengorbankan perasaan nya. Sudah cukup bahwa selama ini Aldo membohongi dirinya. Aldo tidak muncul sekian lama dan itu membuat Karin kecewa.
"Karin mau ke kamar dulu ma" Karin pun beranjak dari duduknya dan menuju kamarnya.
Nyonya Siska hanya menatap sedih ke arah putrinya yang sedang menaiki tangga. Hingga sebuah tepukan pelan di bahunya membuatnya kaget lalu ia menoleh ternyata sang suami yang sudah duduk di samping nya.
"Kenapa ma?" Tanya tuan Bram.
"Mama menanyakan masalah jeng Sarah yang mau menjodohkan anak kita dengan Aldo pa" jawab nyonya Siska.
"Ma, meskipun papa juga berharap kalau kita bisa berbesan dengan Jaka namun kita juga tidak boleh mengabaikan perasaan anak kita. Papa tidak mau Karin akan membenci kita jika kita terlalu memaksa kehendak kita" jelas tuan Bram kepada sang istri. Semoga saja istrinya dapat mengerti. Sebab hubungan mereka dulu bukan atas perjodohan jadi tuan Bram tidak mau anaknya akan merasa tertekan jika di paksa untuk setuju dengan perjodohan itu.
"Iya pa, mama ngerti kok" ucap nyonya Siska mengeratkan pelukannya ke pinggang sang suami.
Meskipun sudah dua puluhan tahun menikah namun hubungan mereka tetap harmonis dan tidak pernah bertengkar meskipun perselisihan juga sering terjadi. Itu semua karena nyonya Siska yang selalu memahami sang suami dan tuan Bram yang selalu dengan lembut menjelaskan setiap ada kesalah pahaman dan selalu meminta maaf dengan lembut kepada nyonya Siska.
***
Di sebuah bar.
"Tuan, target sudah ada di depan mata terlihat target sedang minum dengan beberapa temannya" lapor seseorang yang berpakaian serba hitam kepada bos nya.
"Lakukan apa yang harus di lakukan, dan ingat dengan bersih jangan sampai membuat keributan" kata seseorang di telepon
"Laksanakan tuan"
__ADS_1
Sambungan pun terputus, ia menatap dingin seseorang yang sedang minum dengan teman-temannya dan terlihat bahwa pria itu sudah sangat mabuk.
"Salahkan dirimu sendiri yang menggangu wanita dari tuanku" ucap orang itu dingin dan menatap pria itu dengan tatapan yang tajam. Ia pun mengintruksikan kepada dua orang di belakangnya agar melakukan tugas dengan baik.
Dua orang di belakangnya pun berjalan ke arah pria yang menjadi target mereka. Karena beberapa temannya sudah mabuk dan terkapar di atas meja maka itu semakin memudahkan tugas mereka untuk membawa pria yang sudah mengusik ketenangan bos mereka.
"Siapa kalian" tanya pria itu kepada dua orang yang menarik paksa dirinya.
"Hei jawab, aku tidak mengenali kalian." Seru nya lagi karena dua orang itu hanya diam.
"DIAM!!!" seru seseorang yang tadi melapor kepada bos nya.
"Apa-apaan ini, apa yang akan kalian lakukan kepada ku" teriak pria itu.
"Aku tidak pernah membuat masalah dengan kalian" lanjutnya.
Pria itu mencoba memberontak dari dua orang yang memaksa dirinya untuk berjalan.
"Lepaskan aku" berontak pria itu. Namun karena tubuhnya yang sudah terkena efek minuman keras tenaganya pun menjadi lemah. Jadi ia hanya bisa pasrah karena semakin keras ia memberontak semakin kuat juga cengkraman orang-orang yang membawa dirinya.
Hingga mereka sampai ke sebuah gudang yang berada di belakang bar itu. Dua pria itu mendorong kasar tubuh lelaki yang sudah tidak memiliki tenaga itu ke lantai.
"Sshhh...." Ucap orang itu meringis. Lutut dan sikunya terasa ngilu.
"Kau sudah membuat masalah dengan orang uang salah" ucap seorang lelaki yang menjadi ketua dari dua orang itu.
"Apa maksudmu"
Karena keadaan gudang yang hanya menggunakan cahaya minim pria itu tak mengenali siapa orang-orang yang membawa paksa dirinya. Belum juga pertanyaan nya di jawab sebuah pukulan keras melayang ke perutnya. Bukan hanya sekali bahkan beberapa kali. Wajahnya pun terkena pukulan yang keras dan ia hanya bisa meringis kesakitan. Namun karena mabuk ia tidak memiliki tenaga untuk membalas pukulan-pukulan yang di tujukan kepadanya.
Melihat orang itu sudah tidak berdaya ketiga orang itu pun pergi meninggalkan nya begitu saja. Jika ingin menyalahkan salahkan saja dirinya sendiri karena sudah mengganggu seseorang yang seharusnya tidak ia ganggu.
"Lapor bos, tugas sudah selesai." Lapor pria berbaju hitam itu.
__ADS_1