
Beberapa hari berlalu, semua tampak biasa dan berjalan semestinya. Gita bersyukur bahwa Bryan tidak menuntut untuk langsung melakukan ritual malam pertama. Karena Gita merasa takut dan belum siap jika harus melakukan itu. Membayangkan nya saja membuat Gita bergidik ngeri.
Namun, hari ini Gita akan menyerahkan dirinya kepada sang suami. Gita takut Bryan akan berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Meskipun Bryan tidak pernah mengungkit, namun ketakutan itu selalu ada. Terlebih ketika Gita melihat go*gle dan menolak melakukan malam pertama akan membuat cinta sang lelaki sedikit pudar. Gita menggelengkan kepalanya keras tidak mau hal itu terjadi. Maka ia sudah memutuskan bahwa malam ini ia akan menyerahkan diri kepada Bryan.
Malam yang di tunggu tiba, Gita sudah rebahan di kasur menunggu kepulangan Bryan. Malam ini Gita memakai baju yang sedikit terbuka, seperti yang ia ketahui dari internet bahwa suami menyukai istri yang berpenampilan terbuka dan wangi. Gita juga memakai parfum yang harum namun tidak terlalu menyengat.
Ceklek. Pintu terbuka. Terlihat Bryan dengan wajah yang terlihat lelah. Gita segera menghampiri sang suami. Karena gugup Gita jadi lupa dengan penampilannya yang hanya mengenakan gaun sepaha dan terbuka di bagian atasnya.
Bryan yang melihat penampilan istri nya yang berbeda jadi terpaku, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Rasa lelah yang di rasa pun kini hilang ketika melihat kaki jenjang Gita yang terbuka. Gita ingin meraih tas kerja Bryan, namun sebelum Gita menggapai nya Bryan sudah lebih dulu membuang tas kerjanya itu dengan asal. Bryan langsung menarik tubuh Gita ke dalam pelukannya dan berbisik di telinga Gita.
"Kau menggoda kakak?" Tanya Bryan kemudian menggigit kecil telinga Gita.
Gita menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Bryan, Bryan tersenyum tipis ketika menyadari bahwa istrinya tengah tersipu. Bryan pun langsung menggendong tubuh Gita dan membawanya ke ranjang.
Bryan menatap wajah Gita lekat, malam ini istrinya terlihat sangat cantik. Entah karena pakaian yang di kenakan atau memang wajah polos itu yang sengaja di poles bedak tipis.
"Kenapa ditutupi?" Tanya Bryan mengalihkan tangan Gita yang menutup wajahnya.
"Aku malu" jawab Gita pelan dengan pipi yang sudah semerah tomat.
Bryan mencium kening, kedua mata, kedua pipi dan hidung Gita. Ia kemudian mencubit gemas hidung bangir Gita.
"Kenapa malu?" Tanya Bryan.
"Emmm ....." Gita mengerjapkan matanya bingung ingin menjawab apa.
Melihat bibir Gita yang sedikit mengerucut membuat Bryan tidak tahan dan akhirnya ia pun mencium bibir ranum Gita. Gita yang kaget hanya mengedipkan matanya. Jujur saja Gita belum memiliki pengalaman tentang adegan seperti ini.
Bryan melepas pagutan nya ketika Gita menepuk dada nya karena susah bernafas.
__ADS_1
"Kau belum pernah berciuman?" Tanya Bryan. Dan Gita menjawab dengan gelengan kepala.
"Baiklah. Biar kakak yang bergerak dan kau menikmati nya." Ucap Bryan dengan tatapan sayu dan suara berat.
Bryan pun melakukan aksinya dan melakukan dengan pelan karena Gita menjerit merasa kesakitan saat pusaka Bryan menembus dinding pera*an Gita. Namun Bryan juga tidak bisa mengendalikan dirinya ketika Gita mende*ah manja di bawah Kungkungan nya. Bryan terus memacu dan akhirnya mereka sama-sama mendapat sebuah kenikmatan yang di sebut sebagai surga dunia.
Bryan mengecup lama kening Gita.
"Terima kasih, i love you" ucap Bryan sembari mengusap peluh yang ada di kening Gita.
Gita hanya tersenyum karena kehabisan tenaga. Bryan pun membawa Gita ke dalam pelukannya dan mereka tidur dalam selimut kebahagiaan.
***
"Ciiieee yang baru tunangan!!" Seru Gita menggoda Karin dan Aldo yang baru saja turun dari panggung dan melakukan tukar cincin.
"Gimana? Masih keren gue kan daripada lo?" Tanya Aldo kepada Bryan dengan nada sombong.
Bryan hanya melipat kedua tangannya di dada dan menaikkan satu alisnya menatap tak mengerti ke arah Aldo. Bukan hanya Bryan, bahkan Karin dan Gita pun tak mengerti dengan ucapan Aldo barusan.
"Lihat, gue melakukan pertunangan di hotel gaes.. Sementara Bryan di rumah." Ucap Aldo akhirnya karena Bryan tak mengerti.
"Kakak apaan sih?" Seru Karin memukul pelan lengan Aldo.
"Ya lo emang lebih keren. Tapi tolong jangan lupa ya lo numpang di hotel siapa? Ngga bayar lagi" jawab Bryan membuat Aldo langsung melotot terdiam.
Bryan pun tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi Aldo. Hotel yang di gunakan untuk acara pertunangan Aldo dan Karin adalah salah satu hotel milik Bryan. Dan beberapa hari yang lalu Aldo meminta Bryan untuk menggratiskan biaya sewa hotel karena hubungan pertemanan mereka. Bryan pun setuju dan tidak menyangka bahwa kebaikan Bryan justru di gunakan untuk memojokkan Bryan sendiri. Dan akhirnya ya seperti ini, Aldo malu sendiri mendengar ucapan Bryan. Sedangkan Gita hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan kedua temannya itu.
"Kalian kok malah disini? Ayo makan dulu, kita makan sama-sama disana" ucap nyonya Siska menghampiri empat orang yang masih muda-muda itu.
__ADS_1
"Iya Tante" jawab Gita kemudian menggandeng sang suami dan mengikuti nyonya Siska yang sudah berjalan dulu.
"Ayok yank, gandeng aku juga" ucap Aldo manja. Karin pun mencubit pinggang Aldo namun tetap menggamitkan tangannya pada lengan Aldo.
***
"Bunda, Andre ingin berbicara sesuatu?" Ucap Andre kepada sang bunda.
Hari ini keluarga panti di undang juga dalam acara pertunangan Karin dan Aldo. Anak-anak panti, bunda panti dan juga Dahlia di jemput oleh Romy atas perintah Bryan.
"Iya, Andre mau ngomong apa?" Tanya bunda menatap Andre dengan penuh kasih.
Andre menatap sekeliling, ada Romy yang sedang bercanda dengan anak-anak panti dan juga ada Dahlia yang sedang menggendong anak dari Santi. Semenjak pertunangan Gita waktu itu Santi, Gita dan Karin menjadi teman baik. Andre menatap lama Dahlia dan merasa dadanya bergetar ketika Dahlia menimang Tina yang hendak tidur.
Anak itu di titipkan kepada Dahlia karena Santi dan Deka sedang melakukan fitting baju. Awalnya Santi merasa tidak enak namun Dahlia kekeh ingin bermain bersama bayi yang menggemaskan itu.
"Andre..." Panggil bunda mengibaskan tangannya ke depan muka Andre.
"Ah iya Bun" jawab Andre kaget.
"Kok malah ngelamun" ucap bunda.
"Andre mau ngomong sesuatu tapi ngga disini bund" ucap Andre.
Bunda pun tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya dan beranjak. Andre pun menyusul langkah kaki sang bunda.
"Jadi kamu mau ngomong apa?" Tanya bunda setelah mereka keluar dari ruangan yang ramai. Saat ini mereka ada di koridor hotel.
"Bunda.... Sebenarnya, Andre....." Ucap Andre ragu-ragu. Hingga kemudian ada sebuah suara yang di kenalnya dan itu merusak rencananya.
__ADS_1