
"Ayok lari lagi Rin, kita mau joging loh. Bukan mau pindah tempat buat santai-santai gini" ucap Gita menatap jengah Karin yang sudah lebih dari dua puluh menit hanya duduk santai di bangku taman padahal niat awal mereka adalah joging.
"Aduh Gita, gue capek banget tau" keluh Karin.
Gita berdecak kesal mendengar Karin berkata seperti itu. Padahal sedari sampai di taman sampai saat ini Karin hanya duduk saja. Gita mengalihkan pandangannya ke arah lain karena menatap sahabatnya membuat Gita merasa kesal. Padahal Gita sudah semangat untuk joging pagi ini dan mood baiknya di rusak oleh Karin.
Saat Gita mengedarkan pandangannya ke arah jalanan yang sudah ramai pengendara netra Gita menangkap wajah seorang lelaki tua yang hendak menyebrang jalan. Namun saat Gita melihat ke arah sebelah kanan orang tua itu Gita melihat ada motor yang melaju dengan cepat ke arahnya.
"Gawat!!" Seru Gita.
"Lo bilang apa?" Tanya Karin. Namun di abaikan oleh Gita.
Gita membuka lebar matanya. Jiwa sosialnya langsung tergerak. Tanpa instruksi kaki Gita langsung melangkah cepat menuju orang tua itu. Gita melihat ke arah lelaki tua itu dan melihat motor yang semakin melaju dengan cepat. Gita segera berlari untuk menyelamatkan orang tua itu.
Gita semakin mempercepat larinya saat motor itu juga semakin cepat melaju. Hingga....
Ckiiiiittt.....
"Auuuhh...." Ringis Gita saat sikunya tergores aspal.
Sementara pengendara motor itu langsung mempercepat lajunya sebelum ada yang mengetahui kejadian barusan.
"Gita...!!" Seru Karin berlari menghampiri Gita.
Ditempat yang sama saat ini Romy dan Bryan sedang duduk istirahat di bangku taman. Bryan menolehkan kepalanya saat terdengar suara kendaraan yang di rem mendadak. Bryan langsung berdiri dan berlari saat melihat bahwa Gita terjatuh.
"Tuan, minuman anda!" Seru Romy langsung berdiri dan menyusul Bryan.
Jalanan mulai ramai untuk melihat apa yang terjadi.
"Kakek nggak apa-apa kan?" Tanya Gita khawatir.
Orang tua itu menatap Gita lalu sekelebat bayangan muncul di ingatannya.
'perempuan ini' batin orang tua itu.
"Kakek???" Panggil Gita lagi saat orang tua itu diam saja.
"Kakek???" Seru Bryan.
"Kakek?" Tanya Gita pelan. Lalu menatap bergantian orang tua itu dengan Bryan.
"Gita!!!" Seru Karin mendekati Gita.
"Lo nggak papa?" Tanya Karin khawatir.
__ADS_1
"Gue nggak papa kok" jawab Gita.
"Ya ampun tangan lo berdarah" seru Karin saat melihat siku Gita mengeluarkan banyak darah.
"Gue nggak papa," ucap Gita meyakinkan Karin lalu menoleh ke arah orang tua tadi "kakek beneran nggak papa?" Tanya Gita hendak berdiri ingin menghampiri kakek itu.
"Auuu...." Ringis Gita saat hendak berdiri. Ternyata kakinya pun juga lecet.
"Adduhh..." Keluh Gita lagi.
"Udah, sini gue bantu lo jalan" ucap Karin memapah Gita.
"Tuan besar tidak apa-apa? Apakah kita perlu ke rumah sakit?" Tanya Romy menawarkan kepada kakek yang ternyata adalah tuan besarnya.
"Tuan!!!!" Seru Denan yang baru datang. Di tangannya ada dua botol minuman.
"Darimana saja kau?" Tanya Bryan menatap tajam Denan.
"Maaf tuan, tadi tuan besar meminta saya membelikan air mineral" jawab Denan.
"Jangan salahkan Denan. Ayo kita bawa gadis itu ke rumah sakit" ucap kakek itu dan membuat Bryan tersadar.
"Gita! Kamu nggak papa? Kita ke rumah sakit ya?" Tawar Bryan kepada Gita.
Terlihat Bryan sangat khawatir dengan kondisi Gita yang kaki dan sikunya berdarah.
"Eka dimana Rin?" Tanya Gita saat tidak melihat supir pribadinya.
"Aku bawa Gita pulang dulu ya kak. Takutnya luka Gita infeksi" ucap Karin lalu berjalan sambil memapah Gita.
"Gita!" Panggil Bryan membuat Karin menghentikan langkahnya.
"Makasih" ucap Bryan tulus.
Gita hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Bryan. Gita segera menghadap ke jalan agar semu merah di pipinya tidak terlihat oleh siapapun. Diam-diam Gita tersenyum.
Agak jauh dari sana Eka berdiri di sebuah tenda warung dengan memegang tiga botol air mineral.
"Maafin saya non, saya ingin kesana tapi saya takut ketahuan" ucap Eka pelan lalu sedikit berjalan santai menuju Karin yang sedang memapah Gita.
"Non Gita!" Seru Eka menghampiri Gita.
"Darimana aja sih?" Sungut Karin.
"Maaf non, saya baru membeli air mineral disana" jelas Eka.
__ADS_1
"Ngga usah berantem. Kaki gue perih" ucap Gita. Mukanya terlihat sedikit pucat karena darah yang keluar lumayan banyak.
"Biar saya saja yang memapah nona Gita, non" ucap Eka mengambil alih tangan Gita untuk di papah.
Karin pun membiarkan Eka memapah Gita. Karin lalu mengambil tiga botol air mineral yang tadi di bawa Eka. Mereka lalu melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Tak jauh dari sana seseorang dengan pakaian yang sama seperti pengendara motor tadi sedang berhenti di bawah pohon. Tangannya memukul batang pohon itu saat melihat targetnya selamat begitu saja.
"Siaall!" Ucap orang itu lalu menyalakan motor dan melaju dengan cepat.
Masih di pinggiran taman Bryan mengajak sang kakek untuk beristirahat di bangku taman.
"Selidiki kejadian barusan" ucap tuan Kurnia menatap lurus ke depan.
"Perlu di selidiki?" Tanya Bryan.
"Apakah kau tidak merasa aneh?" Tanya tuan Kurnia menatap Bryan tidak suka.
Bryan mengalihkan pandangannya ke depan "normal untuk sebuah tabrak lari kek" jawab Bryan.
"Ini bukan tabrak lari. Sesaat setelah kakek terjatuh pengendera motor itu berhenti dan menatap ke arah kakek. Kakek rasa ini bukan tabrakan biasa" jelas tuan Kurnia.
"Baiklah aku sudah mengerti maksud kakek. Sekarang kita pulang saja" ajak Bryan lalu berdiri.
"Denan papah kakek!" Perintah Bryan kemudian berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Romy.
Di tempat lain, Gita sudah sampai di rumah. Badan Gita sudah terasa lemas. Karin yang melihat itu langsung saja berlari untuk memanggil nyonya Indira.
"Tanteeee!!" Teriak Karin padahal masih sampai di halaman rumah.
Teriakan Karin membuat para pekerja di rumah Wijaya itu spontan menoleh. Namun mereka belum menyadari bahwa nona mudanya sedang terluka.
"Tanteeee..!" Teriak Karin lagi sembari berlari.
Didalam rumah, nyonya Indira sedang menyiapkan sarapan bersama mbok Na.
"Nyonya, itu seperti teriakan non Karin" ucap mbok Na membuat nyonya Indira menghentikan aktivitasnya.
"Iya bener mbok, saya mau lihat dulu ya ada apa." Ucap nyonya Indira lalu meninggalkan mbok Na.
"Iya nyonya" ucap mbok Na lalu melanjutkan menata sarapan di atas meja.
Nyonya Indira sampai di ruang tamu. Ia melihat Karin yang sedang berdiri di depan pintu dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Karin kenapa?" Tanya nyonya Indira.
__ADS_1
Karin belum sempat menjawab pertanyaan nyonya Indira. Namun....
"Ya Allah, Gita.....!"