
Gita sampai di halaman kantor tuan Bram, Gita buru-buru keluar dari mobil sebelum Bryan berhasil menyusulnya. Saat Gita keluar dari mobil, Eka yang melihat Gita berjalan buru-buru mengerutkan kening heran. Padahal nona nya baru saja pergi, tapi kenapa sudah secepat ini kembali.
Eka langsung menghampiri mobil, bukan untuk menanyakan perihal Gita melainkan menunggu Karin keluar dari mobil. Sebab Gita sudah berjalan cepat masuk ke dalam kantor. Tak lama Karin pun keluar dan tepat saat Karin sudah berdiri di samping mobil, mobil Bryan sampai.
Eka membelalakkan matanya saat melihat Bryan, terlebih saat ini pria yang mengenakan jas berwarna hitam itu tengah berjalan cepat menuju ke arahnya. Karin dan Eka sama-sama memandang ke arah Bryan, jantung Eka berpacu dengan cepat. Ia yakin pasti ada yang salah disini, Eka berdoa semoga bukan tentang identitas nya.
Dan,, Eka bisa bernafas lega saat Bryan hanya meliriknya kemudian menghampiri Karin yang tak jauh darinya.
"Dimana Gita??" Tanya Bryan buru-buru.
Karin menelan ludahnya, saat Karin ingin menjawab tapi Bryan sudah berlalu dari hadapannya dan berlari ke arah kantor. Terlihat Bryan masuk ke dalam kantor dan dapat di pastikan Bryan akan masuk ruangan Gita tanpa permisi, seperti waktu itu.
Karin pun buru-buru berjalan ingin menyusul Gita, namun langkahnya terhenti karena lengannya di tahan oleh Eka. Karin menatap lengannya yang di pegang oleh Eka kemudian menatap tajam pria yang masih berstatus kekasihnya itu.
"Lepas!" Ucap Karin datar, tatapannya pun tajam.
"Enggak..." Jawab Eka kemudian mengikis jarak antara mereka. Eka memegang kedua bahu Karin dengan lembut. "dengerin penjelasan aku dulu" lanjut Eka menatap wajah Karin yang terlihat lebih cantik.
Karin melepas paksa tangan Eka yang ada di bahunya dengan kasar. Kemudian menatap nyalang ke arah Eka. Tanpa berkata apa-apa, Karin berlalu begitu saja meninggalkan Eka dalam kebingungan.
"Aakkhhhh" teriak Eka sembari tangannya bergerak memukul angin. Ia melihat Karin masuk kantor, namun sebelum membuka pintu Karin sempat menoleh sekilas ke arah Eka tanpa sepengetahuan Eka.
"Lo ada masalah sama non Karin?" Tanya seseorang membuat Eka sedikit terkejut kemudian menoleh ke arah orang itu.
Eka menghembuskan nafasnya kasar saat mendengar pertanyaan itu. Eka menatap Andi, seseorang yang baru saja mengejutkannya.
"Duduk dulu, mana tau lo butuh temen cerita" ajak Andi kepada Eka, Eka pun menganggukkan kepalanya dan mereka berdua berjalan ke bangku taman yang ada di kantor tersebut.
**
"Baringkan dia di kasur ini" perintah Andre kepada anak buahnya yang tengah menggendong tubuh Sisi.
__ADS_1
Tanpa menjawab anak buah nya pun langsung menidurkan Sisi yang masih pingsan. Setelahnya Andre dan anak buahnya pun keluar dari kamar dan menghampiri Romy yang sudah masuk ke ruang kerja mereka.
"Udah?" Tanya Romy setelah melihat Andre masuk, di belakang Andre tampak anak buahnya.
Andre hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Kau, panggilkan Indra!" Perintah Romy kepada anak buah yang berdiri di dekat Andre.
Andre menatap Romy heran, sementara Romy yang mengerti dengan tatapan Andre pun hanya mengendikkan bahu dan membuat Andre mendengus kesal.
***
Braaaakk.....
"Gitaaa!!!" Seru Bryan saat ia membuka pintu ruangan Gita dengan keras.
Bryan masuk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Gita. Bryan berbalik dengan tergesa dan tanpa sengaja menabrak Karin yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Maaf Rin" ucap Bryan pelan kemudian sedikit berlari keluar ruangan. Tanpa membantu Karin berdiri.
Bryan menuju lift dan menekan tombol teratas. Sepertinya Bryan tau dimana Gita berada. Sementara Karin sedikit meringis sambil mengusap sikunya yang sedikit sakit karena jatuh tertabrak oleh badan atletis Bryan. Tak lama Karin pun keluar ruangan dan menuju lift untuk menyusul Bryan.
***
"Informasi apa yang kau dapat?" Tanya Romy menatap tajam Indra yang sedang berdiri di hadapannya, bersebrangan dengan meja.
Romy menopang dagunya di atas kedua punggung tangannya, matanya tak lepas dari menatap Indra yang sedang menunduk sedikit ketakutan. Aura Romy tidak jauh beda dengan aura Bryan.
"Saya menemukan Deka bos" ucap Indra menatap ke arah Romy.
"Deka?" Tanya Romy sedikit menyipitkan matanya kemudian memandang Andre. Sadar dengan tatapan Romy, Andre langsung menatap Indra.
__ADS_1
"Apa yang kau ketahui tentang Deka?" Tanya Andre yang sejak tadi duduk di sofa dan hanya diam mendengarkan perbincangan antara Romy dan Indra.
Romy menatap ke arah Bryan, alisnya terangkat keatas saat tau jika Andre mengetahui siapa Deka. Apakah mereka mengenal Deka itu?
"Saya sudah menemukan Deka dan membawa Deka kemari. Dia sudah saya sekap di ruangan khusus" jelas Indra menatap Andre kemudian menatap Romy.
"Bagus. Bawa kami kesana" ucap Andre kemudian berdiri.
"Baik bos" seru Indra kemudian berlalu terlebih dahulu.
"Siapa Deka?" Tanya Romy kepada Andre saat Indra sudah keluar dari ruangan.
Andre menghela nafasnya kemudian menatap malas ke arah Romy. "Pria yang sudah menyebar berita miring tentang nona Gita" jawab Andre kemudian berlalu meninggalkan Romy yang masih mengingat kembali siapa sebenarnya Deka.
Ctak. Romy menjentikkan jarinya saat ia sudah berhasil mengingat siapa itu Deka. Namun saat ia akan mengatakan sesuatu ternyata Andre sudah berlalu meninggalkan dirinya. Romy pun bergegas keluar ruangan dan menyusul Andre.
***
Sementara di ruangan teratas di perusahaan Bram Corp. Saat ini Gita sedang menatap lurus ke depan dimana banyak bangunan yang dapat di lihat dari tempat yang terbuka itu. Air mata menetes di pipi Gita saat ia mengingat apa yang di ucapkan oleh wanita hamil di depan kantor Bryan tadi.
Meskipun sebenarnya Gita ingin menampik dan mencoba untuk tidak percaya dengan hal yang baru di dengarnya. Namun, bukankah tidak akan ada asap jika tidak ada api. Lagipula Gita masih ingat, bahwa perempuan yang mengaku hamil anak Bryan tadi adalah wanita yang memang sudah di jodohkan dengan Bryan.
Angin sejuk disini menambah suasana sedih yang sedang melanda hati Gita. Gita mengalihkan pandangannya ke arah samping kemudian menghapus air mata yang menghujani pipinya. Tanpa Gita sadari seseorang sudah berdiri cukup lama di belakangnya.
"Roof toop tetap jadi pilihan kamu saat kamu sedang sedih ya" ucap seseorang itu membuat Gita terdiam dan perlahan menoleh ke belakang.
Seseorang itu tersenyum dengan manisnya.
**
Yuuhuuu,,, terima kasih sudah baca cerita othor ya.. doain othor sehat selalu dan semoga para pembaca di berikan kesehatan biar bisa baca novel othor terus.
__ADS_1