
Gita melihat ke belakang dan mendapati Bryan yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Mata sendu Gita beradu cukup lama dengan mata elang Bryan. Angin sepoi-sepoi menyibakkan rambut Gita dan menambah kecantikan alami yang di miliki oleh gadis itu.
Perlahan namun pasti, Bryan berjalan menuju ke arah Gita. Sedangkan Gita melihat setiap langkah demi langkah kaki Bryan, Gita ingin berdiri dan berlari untuk menghindari pria itu. Namun entah mengapa perasaan dan hatinya menolak melakukan itu, justru yang terjadi adalah Gita seperti menanti Bryan untuk menghampiri dirinya.
Gita menatap Bryan yang sudah berada di sampingnya. Begitu pun juga dengan Bryan, Bryan menatap wajah Gita yang masih ada bekas sisa air mata. Bryan langsung duduk di samping Gita dan menatap lurus ke depan. Melihat itu Gita pun melakukan hal yang sama.
Hening...
Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Entah mengapa hanya dengan seperti ini Gita sudah merasa damai, meskipun dalam otak waras nya ingin sekali Gita pergi apalagi saat ingat kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Maafin kakak..." Ucap Bryan kemudian setelah menyusun banyak kata namun hanya itu yang mampu ia ucapkan.
"Hah??" Seru Gita tulalit, karena terlalu fokus menikmati cuaca berawan Gita jadi tidak fokus dengan apa yang di ucapkan Bryan barusan.
Gita menatap Bryan, berharap pria di sampingnya itu mengulangi apa yang baru saja ia ucapkan. Namun nihil, Bryan masih fokus menatap ke depan tanpa ingin memperjelas apa yang baru saja di ucapkan nya. Gita tak protes justru malah ikut memandang kota Jakarta yang hari ini di selimuti cuaca yang tidak terlalu cerah.
Mereka larut dalam pikiran masing-masing, dalam pikiran Bryan alangkah bagusnya jika waktu akan berhenti saat ini juga agar dia bisa lebih lama menikmati saat-saat bersama Gita.
Setelah bosan dengan keheningan akhirnya Bryan pun angkat bicara setelah sebelumnya berdehem untuk menyadarkan Gita dari lamunannya. Mendengar deheman Bryan, Gita pun menoleh ke arah Bryan.
"Maaf...." Ucap Bryan pelan namun kali ini mampu di dengar dengan baik oleh Gita.
__ADS_1
Gita terpaku mendengar ucapan permintaan maaf Bryan. Sebenarnya tak perlu minta maaf karena Gita bisa paham dengan apa yang terjadi. Masih menatap Bryan, Gita tak menyahut namun tak juga mengalihkan pandangannya.
"Tolong jangan salah paham" ucap Bryan menatap sendu Gita. "Sungguh, kakak tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu" lanjutnya.
Bryan meraih tangan kanan Gita, Gita hanya memandang lekat tangannya yang di genggam oleh Bryan. Sensasi hangat menjalar ke tangannya, jika boleh meminta Gita ingin menikmati waktu seperti ini lebih lama.
"Kakak janji, kakak akan menyelidiki siapa yang membuat wanita itu hamil dan akan membuat lelaki itu bertanggung jawab." Jelas Bryan membuat Gita terpaku. "kakak hanya mencintaimu" lanjutnya sembari mencium tangan Gita dengan lembut.
"Jadi, kakak beneran ngga ada apa-apa sama cewe tadi?" Tanya seseorang dari arah belakang. Gita dan Bryan pun langsung menoleh dan Gita spontan menarik tangan yang masih di genggam oleh Bryan setelah melihat bahwa sahabatnya sudah berdiri di posisi tak jauh darinya.
"Karin" gumam Gita pelan.
Bryan menghela nafasnya kemudian menatap Gita dan Karin bergantian. "Sungguh, aku tidak ada hubungan apapun dengan dia Rin" jelas Bryan pelan kemudian menatap ke depan.
"Tapi dia adalah wanita yang telah di jodohkan dengan kakak" ucap Gita akhirnya setelah mempertimbangkan kalimat itu akan di ucapkan atau tidak.
***
"Jadi kau yang bernama Deka?" Tanya Andre menatap tajam lelaki yang telah di ikat dengan tali di kursi.
Deka tidak menjawab hanya saja balik menatap tajam ke arah Andre. Andre mengangkat sudut bibirnya saat melihat ekspresi Deka. Entah cara apa yang di gunakan oleh anak buahnya sehingga bisa membawa Deka dan temannya ke tempat ini. Padahal jika di lihat dari penampilan nya, Deka bukan orang biasa yang mudah di tipu.
__ADS_1
"Andre!" Seru seseorang yang baru saja masuk ruangan itu. Andre pun menoleh dan mengangkat satu alisnya.
"Udah?" Tanya Romy. Andre hanya mengendikkan bahunya kemudian duduk di kursi.
"Kau tau, bos ku sangat kejam" ucap Romy menatap tajam ke arah Deka. Romy berjalan pelan menuju kursi dimana Deka di ikat.
Romy berjalan pelan di samping Deka, Romy memegang bahu Deka dengan pelan. Semakin lama pegangan itu semakin kasar dan menimbulkan rasa sakit yang membuat Deka meringis. Namun, bukannya berhenti Romy semakin memperkuat pegangan pada bahu Deka.
"Romy!" Seru Andre memperingati Romy agar tidak melewati batas.
Romy melihat ke arah Andre langsung mengangkat kedua tangannya. "Kebablasan" seru Romy di akhiri cengiran khas nya.
Romy kemudian berjalan mendekat ke arah Andre dan duduk di kursi di samping Andre.
"Lepaskan akuu!!!!" Seru Deka dari kursinya. Dia mencoba meronta agar bisa terlepas dari tali yang melilit di tubuhnya. Tapi usahanya sia-sia karena tapi itu di ikat dengan kuat.
Romy memandang Deka dengan ekspresi mencemooh. Bisa-bisanya setelah membuat bos nya marah pria di depannya itu meminta untuk di lepaskan. Huh,
"Dasar kurang a*jar... Lepaskan aku!!" Seru Deka kembali namun hanya di tanggapi santai oleh Andre dan Romy.
Bahkan Romy terlihat mengikuti gaya bicara Deka dan itu membuat Deka semakin geram. Kursi yang di duduki nya sampai berderit merdu karena bergesekan dengan lantai. Namun itu sama sekali tidak membuat Romy ataupun Andre berniat melepaskan Deka.
__ADS_1