
"Whaaatt.....!!!!" Teriak Gita dan langsung di bungkam oleh tangan kanan Karin.
"Biasa aja dong. Malu tau ngga, tuh pada lihatin kita" kesal Karin pada Gita dan melihat ke sekeliling mereka. Sedangkan Gita hanya mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. Karin hanya mendengus kesal melihat itu.
"Jadi,, lo serius udah jadian sama Eka??" Tanya Gita dengan suara pelan. Karin pun mengangguk tanda iya membenarkan pertanyaan Gita.
"Sejak kapan?" Tanya Gita penasaran.
"Udah hampir satu bulanan lah" jawab Karin santai sambil menyeruput kembali jus jeruknya yang hampir habis.
Gita menggelengkan kepalanya sedikit tak percaya jika Karin sudah resmi memiliki hubungan dengan seorang pria yang ternyata adalah supirnya sendiri. Bagaimana bisa mereka berdua menyembunyikan hal sebesar ini. Pantas saja akhir-akhir ini supirnya dan juga sahabatnya itu sangat peduli dengan penampilan ternyata mereka memiliki hubungan spesial.
"Kok lo tega sih nyembunyiin ini dari gue?" Tanya Gita.
"Gue emang sengaja. Lagian gue juga belum bilang sama Mama sama Papa" jawab Karin.
Gita mengamati wajah Karin yang berubah sendu. Padahal tadi wajahnya biasa saja bahkan terlihat lebih ceria.
"Lo kenapa?" Tanya Gita menatap intens Karin.
"Semalem Tante Sarah nanyain masalah perjodohan lagi" jawab Karin menatap Gita sedih. Ia menundukkan kepalanya.
"Terus jawaban lo?"
"Gue bingung Git, lo tau kan kak Aldo cinta pertama gue. Gue udah susah payah buat lupain dia. Dan sekarang gue udah lupa sama dia dan gue udah move on. Gue punya Eka sekarang" ucap Karin dengan mata berkaca-kaca.
Gita mengembuskan napasnya dan mengelus lembut punggung sahabatnya itu. Karin pun memeluk Gita dan menumpahkan segala kesedihannya.
Karin adalah wanita kuat yang tidak akan menangis jika itu hanya masalah sepele. Namun kali ini, Gita paham bahwa Karin berada di pilihan yang sulit. Gita tau bagaimana Mama dari sahabatnya ini sangat menginginkan Aldo menjadi menantunya. Maka tak heran saat Tante Sarah menawarkan tentang perjodohan tante Siska menyambut dengan antusias tawaran itu.
"Rin, lo bilang aja terus terang sama orang tua lo. Gue yakin mereka pasti bakal ngerti" ucap Gita lembut meraih kedua bahu Karin agar menatap ke arahnya.
Karin pun tersenyum, matanya terlihat merah karena habis menangis. "Gue bakal coba Git," jawab Karin.
__ADS_1
"Yaudah yuk masuk ruangan lagi" ajak Gita kemudian berdiri dan di susul oleh Karin.
***
Hari telah menjelang sore. Sisi berencana menemui Bryan dengan datang ke perusahaan lelaki itu. Dengan mengenakan pakaian yang sedikit longgar dan tertutup Sisi keluar dari hotel.
Sampai di halaman hotel sudah ada taksi online yang tengah menunggunya. Sisi pun segera naik ke dalam taksi itu, di belakang taksi yang di tumpangi Sisi, sebuah mobil hitam sedang mengikuti.
"Ke Albara Company ya pak. Tau kan?" Tanya Sisi kepada supir taksi.
"Iya non" jawab supir itu dan mulai melajukan mobilnya.
Mobil di belakang taksi itu pun ikut berjalan dan mengikuti.
Sekitar 45 menit, Sisi sampai di tujuan. Sisi segera turun dari mobil dan memandang ke arah gedung yang menjadi perusahaan Bryan.
Sisi tersenyum tipis kemudian melangkah menuju halaman perusahaan.
Dalam mobil hitam yang tadi membuntuti taksi yang di tumpangi Sisi. Seorang lelaki yang mengenakan masker hitam menghubungi seseorang.
Sementara seorang pria yang berada di depan pintu perusahaan sedang memasukkan ponselnya ke dalam saku celana setelah menerima panggilan telepon dari seseorang.
Pria itu memandang sinis ke arah Sisi yang tengah berjalan menuju pintu.
"Ingat, jangan sampai wanita itu masuk" ucap pria itu kepada dua satpam yang sedang berjaga di depan pintu.
"Jika sampai wanita itu masuk, kalian tak perlu datang kesini lagi besok" lanjut pria itu dengan suara yang tegas. Setelahnya ia pun pergi masuk ke perusahaan.
***
"Jadi lo sama kak Bryan udah resmi pacaran?" Tanya Karin kepada Gita yang sedang membereskan pekerjaannya.
Seperti biasa disaat sudah pulang kantor, Karin akan menghampiri Gita untuk pulang bersama. Lebih tepatnya keluar perusahaan bersama-sama sebab saat sudah sampai di parkir mereka akan naik ke mobil masing-masing.
__ADS_1
"Ee,, belum" jawab Gita singkat. Tangannya pun masih aktif mematikan laptop yang baru di pakainya.
Karin mengerutkan keningnya heran dengan jawaban Gita. Tadi pagi mereka sudah terlihat mesra dengan berpelukan di pagi hari. Tapi mereka belum resmi pacaran?
***
Di perusahaan Albara Company, Sisi sudah sampai di pintu dan mencoba memaksa masuk saat dua satpam menghalanginya.
"Saya adalah calon istri dari bos kalian!" Seru Sisi marah. Dia menatap nyalang ke arah dua satpam di depannya.
Namun kedua satpam itu tidak merasa takut sedikitpun. Sebab daripada wanita muda di depan mereka ini, ancaman dari asisten bos mereka lebih menakutkan.
"Maaf nona, ini perintah. Siapapun yang tidak memiliki kepentingan dilarang masuk" ucap salah satu satpam itu dengan tegas.
"Minggir....!!!" Seru Sisi mencoba menerobos dengan mencoba lewat jalan tengah antara dua satpam itu. Namun dua satpam itu seperti bisa membaca gerakan Sisi sehingga mereka bisa kembali menghalangi tubuh Sisi.
Sisi pun mundur kembali, namun sisi tak menyerah sama sekali. Ia tetap mencoba masuk dengan mendorong salah satu satpam itu. Namun, karena tubuh satpam itu lebih tinggi dan lebih besar dari Sisi, Sisi pun tak bisa melawannya.
Hingga kemudian....
"Ada apa ribut-ribut?!" Tanya seseorang dari arah belakang Sisi.
Sisi yang mengenal suara itu langsung menoleh dan menghampiri nya.
"Om,,, tolong Sisi. Mereka melarang Sisi masuk, padahal Sisi mau ketemu Bryan" ucap Sisi manja kemudian menatap dua satpam yang tadi menghalanginya dengan tatapan tajam.
Sementara dua satpam itu hanya termenung, pria yang baru saja datang adalah ayah dari bos mereka. Lalu apa hubungan wanita itu dengan ayah bos mereka. Namun mereka tak takut sedikitpun, karena mereka juga di perintah langsung untuk menghalangi wanita itu masuk.
Pria yang baru sampai itu menatap Sisi, kemudian beralih menatap ke arah dua satpam yang sedang beradu pandang. Sementara Sisi tersenyum mengejek ke arah dua satpam itu karena Sisi yakin bahwa lelaki yang menjadi ayah Bryan ini pasti akan langsung memecat mereka.
"Lakukan tugas kalian dengan baik, saya mau bertemu anak saya dulu" ucap pria itu langsung masuk dan meninggalkan Sisi tanpa menoleh.
Sisi terpaku terhadap apa yang baru saja di lakukan oleh lelaki tadi. Ia pun hanya menatap punggung lelaki itu dari balik kaca.
__ADS_1
***
"Gue juga bingung, gimana kelanjutan hubungan ini Rin. Gue pengen berjuang tapi gue juga ngga mungkin bisa ngelawan kakek Kurnia"