CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 16


__ADS_3

"Bryan...!" Seru seseorang dari arah lift, sepertinya dia baru saja keluar dari lift.


"Papa!" Seru Karin.


"Om Bram" ucap Bryan.


"Tuan Bram" ucap Romy menundukkan kepalanya sopan. Tuan Bram pun menganggukkan kepalanya.


"Ada apa kau kesini?" Tanya tuan Bram menatap ke arah Bryan.


"E..em... Saya kesini untuk....." Bryan bingung ingin menjawab apa, sebab tujuan utamanya datang ke perusahaan tuan Bram adalah untuk bertemu Gita.


"Kami kesini untuk menyampaikan sesuatu dengan anda tuan Bram. Ini mengenai proposal kerja sama kita." Sahut Romy dari arah belakang Bryan, Romy pun menyerahkan sebuah berkas kepada tuan Bram.


Bryan yang mendengar ucapan Romy langsung bernafas lega. Untung saja asistennya ini bisa di andalkan, jika tidak maka bonus bulan ini akan di potong.


"Baiklah, mari masuk ke ruangan saja" tanya tuan Bram sambil membuka sedikit berkas yang di berikan Romy.


"Maaf tuan, bagaimana jika kita membahas ini sambil makan malam, kebetulan juga sudah hampir waktunya" usul Romy.


"Ohh,, baiklah. Boleh saja jika seperti itu" kata tuan Bram setuju.


"Tapi Karin ngga bisa ikut ya pa, soalnya Karin mau pulang aja mau istirahat" ucap Karin.


"Ya baiklah, kau berhati-hati lah" kata tuan Bram lalu mencium kening Karin.


"Iya papa, itu juga usah di jemput sama Andi kok" kata Karin melihat ke arah Andi yang sedang menunggunya di luar


"Baiklah"


Karin pun berjalan ke arah Andi, lalu segera masuk ke mobil untuk pulang ke rumah.


"Mari tuan" ucap Romy mempersilahkan tuan Bram dan Bryan untuk berjalan setelah mobil Karin tak terlihat.


Romy, Bryan, dan tuan Bram pun berjalan menuju ke mobil Bryan. Dengan cekatan Romy membuka pintu mobil untuk Bryan dan juga tuan Bram secara bergantian. Kemudian dia masuk sendiri ke bagian kemudi. Mobil pun melaju ke arah salah satu restoran yang dekat dengan perusahaan milik tuan Bram. Mereka akan singgah untuk makan malam dan membahas pekerjaan.


***


"Jadi sayang kau bisa kan melakukan hal itu untukku" tanya Santi pada Deka. Saat ini mereka sedang berada di kamar salah satu hotel. Seperti biasa mereka bertemu karena kerinduan dan juga ingin berbagi keringat.


Deka menyandarkan tubuhnya ke dipan yang ada di tempat tidur. Bagian atas tubuhnya telanjang, Deka melihat ke arah Santi yang hanya memperlihatkan kepalanya saja sedangkan tubuhnya yang masih polos di tutupi oleh selimut.

__ADS_1


"Kau yakin? Bukankah dia sahabat mu" tanya Deka.


Ck,. Santi kesal mendengar pertanyaan Deka. Dulu adalah sahabat, tapi tidak dengan sekarang.


"Aku yakin, sangat yakin malah. Aku benci banget sama Gita. Aku mau Gita hancur, aku benci lihat Gita lebih bahagia daripada aku" jelas Santi melihat ke langit-langit kamar seperti melihat wajah Gita, ia mengepalkan tangannya.


"Baiklah jika kau ingin begitu, apapun akan aku lakukan untuk mu sayang" kata Deka memeluk pinggang ramping Santi.


"Berapa bulan usia anak kita?" Tanya Deka mengelus perut Santi.


"Sekitar enam bulan, sebentar lagi tujuh bulan" Santi menatap Deka dengan tersenyum.


"Ahhhh,,, Dekaa." Santi mengerang saat tangan Deka menyentuh area sensitif dalam dirinya. Bagaimana bisa tangan Deka yang tadi mengelus perut buncitnya kini sudah nakal menggerayangi tubuh bagian bawah pusarnya.


Santi yang terbawa suasana pun akhirnya merespon dengan baik tindakan tangan Deka, dan mereka kemudian saling berbagi peluh lagi.


***


"Sayang.." ucap wanita paruh baya di depan pintu kamar yang bertuliskan 'kamar milik Anggita'


Tok... Tok ..


"Gita.." panggilnya lagi


Tak lama pintu pun terbuka, nampak lah putrinya dengan penampilan berantakan. Sepertinya gadis itu baru saja bangun tidur.


"Apa ma, Gita capek banget tau" keluh gadis itu pada perempuan yang di panggil mama.


Sang mama pun tersenyum, melihat putrinya yang melewatkan makan malam. Ia pikir kenapa ternyata sang putri tertidur.


"Kau belum makan"


"Memang nya ini jam berapa ma?" Tanya gadis dengan rambut yang berantakan itu, terlihat sekali bahwa ia memang baru bangun tidur.


"Ini sudah jam delapan malam, kau melewatkan makan malam mu"


Gadis itu menarik nafasnya, "yaudah Gita cuci muka dulu, suruh mbok Na buat goreng telur ya mam"


"Kamu ingin telur goreng" tanya sang mama, dan di jawab anggukan oleh Gita.


"Baiklah, mama akan memasaknya untukmu, kau bersiaplah dan turun ke bawah"

__ADS_1


"Makasih mam" ucap Gita memeluk singkat mama nya kemudian ia masuk ke kamar untuk mencuci muka nya.


Diwaktu yang bersamaan, di sebuah restoran.


"Baiklah Bryan, om setuju saja dengan apa yang kamu rencakan, om percaya pebisnis muda seperti mu pantas di andalkan" ucap tuan Bram kepada Bryan. Mereka masih berada di restoran untuk membahas masalah pekerjaan.


"Baiklah jika om setuju, semoga kerja sama kita akan menyukseskan" ucap Bryan mengulurkan tangan. Tuan Bram pun menyambut uluran tangan tersebut.


"Bram!" Seru seseorang.


Tuan Bram pun menoleh, ia melepaskan jabatan tangannya dengan Bryan dan melihat siapa yang memanggil dirinya. Tuan Bram tersenyum ketika melihat siapa pria yang tengah berjalan menghampirinya.


"Abdi Wijaya" seru tuan Bram saat pria itu sudah dekat dengannya. Ia berjabat tangan dan berpelukan singkat dengan seseorang yang bernama Abdi Wijaya itu.


"Bryan" ucap tuan Abdi saat melihat Bryan ada di sini juga bersama tuan Bram.


"Ya om" jawab Bryan tersenyum.


"Duduklah, kau sendiri?" Tanya tuan Bram pada tuan Abdi. Tuan Bram pun seperti mencari seseorang.


"Ya, aku sendiri. Aku sedang membicarakan bisnis dengan klien" jelas tuan Abdi


"Kau sendiri?"


"Ya seperti yang kau lihat, aku sedang membicarakan tentang kerja sama dengan Bryan" jelas tuan Bram.


"Bagus, kau tau Bryan adalah pebisnis muda yang dapat di andalkan." Kata tuan Abdi lalu melihat ke arah Bryan.


"Kau benar, perusahaan ku semakin maju saat bekerja sama dengan perusahaan milik Bryan" jelas tuan Bram


"Namun itu tentu saja juga berkat campur tangan putri mu yang sangat cerdas." Lanjut tuan Bram melihat ke arah tuan Abdi.


"Benarkah?"


"Ya, putri mu yang meminta ku untuk bekerja sama dengan perusahaan Bryan. Putri mu mengambil banyak resiko untuk hal itu, dan untung saja proposal kerja sama itu di terima dengan baik oleh manajer perusahaan Bryan. Jika tidak maka sudah tamat perusahaan ku" jelas tuan Abdi.


"Baguslah jika putriku bisa membantu perusahaan mu, anak itu tidak mau bekerja di perusahaan milikku sendiri. Dia bilang, dia memiliki kemampuan yang harus di salurkan. Dan jika dia bekerja di perusahaan sendiri maka ia tidak bisa berkembang karena mungkin saja ada orang yang berpikir Gita masuk perusahaan karena anakku, bukan karena memiliki kemampuan" jelas tuan Abdi melihat ke arah tuan Bram lalu melihat ke arah Bryan.


_


gimana pendapat kalian menurut novel ini gengs, tulis di komentar ya

__ADS_1


__ADS_2