
"Tuan, apakah kita akan memergoki mereka?" Tanya seseorang di bagian kemudi mobil.
"Jangan. Ini masih terlalu dini untuk membuat bocah itu di ketahui. Kita ikuti permainan mereka" ucap seorang kakek yang di panggil tuan. Matanya menatap tajam ke arah dua orang yang sedang berbicara dengan resepsionis hotel.
"Tapi, tetap kumpulkan semua bukti agar saat waktunya tiba dia tidak akan bisa mengelak lagi" lanjut kakek itu tersenyum miring.
"Kita pergi dari sini" ucap nya lagi beralih memandang ke depan. Sang supir pun segera menjalankan mobil.
Di waktu yang sama di tempat lain,
"Dimana Denan dan tuan besar?" Tanya tuan Arya kepada salah satu pembantu di rumah papa nya.
"Maaf tuan, pak Denan dan tuan besar sedang pergi." Jelas pembantu itu.
"Kemana?"
"Tuan besar tidak mengatakan akan kemana. Namun beliau berpesan bahwa tuan besar menyuruh anda untuk duduk dengan tenang di rumah sebab tuan besar sendiri yang akan membantu tuan Bryan menangani masalah di perusahaan." Jelas pembantu itu.
Tuan Arya mengerutkan keningnya, ia bingung dengan keadaan ini. Bukankah kemarin sang ayah telah setuju untuk mengawasi perempuan bernama sisi dan setuju akan membatalkan perjodohan kenapa justru datang menyusul Bryan.
Tuan Arya pun berjalan hendak kembali, tiba-tiba tuan Arya mempercepat langkahnya saat ia mengingat mungkin saja sang ayah ke Jakarta bukan untuk menangani perusahaan melainkan untuk ikut campur masalah Bryan.
Tuan Arya segera mengemudikan mobilnya menuju rumah untuk berbicara dengan sang istri.
***
"Gita kita mampir nongkrong dulu yuk, kebetulan kan hari ini weekend. Kita bisa quality time" ujar Karin kepada Gita yang sedang membereskan pekerjaannya.
"Gue ngga bisa Rin, sorry banget. Gue udah janji sama nyokap sama bokap mau dinner di luar" ucap Gita menatap sahabatnya.
"Huh,,, yaudah deh. See you ya" kata Karin memeluk singkat Gita lalu berlalu keluar dari ruangan.
"Lo ngga bareng gue Rin?" Tanya Gita saat Karin sudah akan keluar.
"Gue udah di jemput Andi" jawab Karin lalu meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Gita pun melanjutkan aktivitasnya membereskan pekerjaan. Seharusnya dia sudah pulang sejak 30 menit yang lalu, namun karena acara makan siang bersama Bryan tadi dia harus mengulur waktu.
Bagaimana tidak, dengan alasan sebagai mitra kerja sama Bryan meminta Gita untuk menemani makan siang Bryan yang menurut Gita sengaja dibuat lama. Namun walaupun sebenarnya Gita bisa saja menolak permintaan konyol itu namun entah kenapa Gita tidak menolaknya dan justru menemani Bryan sampai menjelang setengah 2. Dan alhasil pekerjaannya lah yang harus mundur.
Sementara di lantai 1 perusahaan. Karin baru saja keluar dari lift. Dia baru saja melangkahkan kakinya lalu tidak sengaja matanya melihat ke arah seseorang yang sedang mengobrol dengan supirnya, Andi. Dan dengan security kantor. Mereka bertiga seperti sedang terlibat percakapan yang sangat seru.
Karin melihat ke arah orang itu. Bibirnya ikut tersenyum ketika seseorang itu tertawa. Hingga lama kemudian Karin segera tersadar dan langsung memeluk pipinya. Dia menggelengkan kepalanya dan langsung melanjutkan langkahnya.
"Andi ayo kita pulang" ucap Karin tegas saat baru sampai di samping mobil.
Bahkan supirnya itu terlihat sedikit kaget, dua orang yang sedang bersandar di mobilnya pun segera bergeser dan tersenyum sopan. Salah seorang dari dua orang itu memandang Karin dengan penuh cinta.
"Baik non" Andi pun langsung membukakan pintu mobil untuk nona nya. Dirinya pun juga langsung masuk untuk mengemudikan mobil.
Mobil pun melaju meninggalkan security dan juga seseorang yang berseragam supir.
"Ngeliatin apa sih?" Ucap seseorang membuat dua orang itu terlonjak kaget.
"Non Gita" ucap dua orang itu bersamaan membuat Gita menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Mau pulang non?" Tanya security
"Langsung pulang non?" Tanya supir Gita melihat Gita dari balik kaca mobil.
"Iya,"
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
***
"Tuan sepertinya anda sedang bahagia saat ini" tanya Romy kepada tuannya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya seseorang yang di panggil tuan.
"Keadaan orang itu sama seperti sebelumnya tuan. Hanya berkata bahwa pria bernama Deka yang menyuruhnya menyebar berita tentang nona Gita. Selebihnya dia tidak tau apa hubungan Deka dengan nona Gita" jawab Andre sopan. Sedangkan Romy memandang tidak suka kepada Andre. Andre hanya menaikkan satu alisnya melihat tatapan Romy.
__ADS_1
"Dimana dia sekarang?"
"Di ruangan yang ada di pojok kanan tuan" jelas Andre.
Seseorang yang di panggil tuan itu pun berdiri dan menuju ruangan dimana sanderanya berada.
Selepas kepergian tuan itu, Romy menyikut perut Andre hingga Andre mengaduh keasikan. Dan Romy meninggalkannya. Andre pun memegang perutnya namun tetap menyusul Romy dan bos nya.
"Sungguh, aku benar-benar tidak tau siapa itu Deka. Yang aku tau dia adalah seorang pengusaha muda yang sukses." Ucap seorang pria dengan tangan dan kaki terikat di kursi.
"Aku mohon lepaskan aku, lain kali aku tidak akan macam-macam dengan nona itu lagi" lanjutnya memelas.
"Aku akan mengampuni mu..."
"Benarkah,?"
"Ya, tapi kau harus menjadi anak buah ku yang setia." Ucap tuan itu memandang ke arah orang yang di ikat dengan tegas.
"Baik... Baik aku akan menjadi anak buah mu, aku janji akan menjadi anak buah yang setia" ucap orang itu gembira.
"Andre, lepaskan ikatannya. Mulai sekarang dia adalah teman kalian dan ingat jika dia mencoba berkhianat kau boleh melakukan hal apapun yang kalian suka" jelas sang tuan lalu bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Romy kau ikut aku, kita pulang"
"Baik bos"
Romy dan tuan mudanya itu pun langsung menuju mobil dan meninggalkan tempat itu.
30 menit kemudian mereka telah sampai di perumahan elit dimana rumah sang tuan berada. Saat mereka sampai di halaman terlihat sebuah mobil yang tidak asing.
"Romy, apakah kakek ada bilang padamu akan datang kesini?" Tanya Bryan, sang tuan muda.
"Tidak tuan, bahkan Denan sendiri pun tidak mengabari saya" jawab Romy.
"Baiklah, kau parkirkan mobil jika sudah naiklah ke atas" ucap Bryan lalu meninggalkan Romy.
__ADS_1
Bryan membuka rumah mewah itu, seharusnya jika memang kakeknya yang datang , orang tua itu akan memberi tahunya terlebih dahulu.
"Bagus, pulang begitu lama dan membiarkan aku menunggu" ucap seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.