
Hari yang di janjikan tiba, hari ini pada saat jam makan siang Karin membawa Eka ke rumahnya. Karena hanya pada saat jam makan siang ini eka luang. Sebab jika sore ia akan menunggu Gita pulang dari kantor.
Karin bergelayut pada lengan kekar Eka. Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah Karin. Mereka baru saja dari kantor. Eka menjemput Karin menggunakan mobil Gita, tentunya setelah mendapat izin dari nona nya itu. Lagipula siang ini Gita akan makan siang dengan Bryan.
Eka terpaku saat sudah hampir sampai di depan pintu rumah Karin. Karin melihat ke arah kekasihnya heran.
"Kenapa?" Tanya Karin.
Karin dapat melihat ekspresi gugup dari wajah sang kekasih. Karin pun tersenyum tipis lalu menautkan jarinya dengan jari kekasihnya itu. Dan membuat Eka menoleh.
"Jangan gugup, kemarin aku udah bilang kok sama Mama dan Papa kalau hari ini aku bakal kenalin kamu sama mereka" ucap Karin tersenyum.
Eka pun menganggukkan kepalanya samar, sebenarnya bukan karena akan bertemu dengan orang tua Karin yang membuatnya gugup hingga tidak bisa berbicara, namun sekilas tadi saat ia masuk ke halaman rumah ini, ia melihat mobil yang sangat di kenalnya. Eka hanya khawatir bahwa pemilik mobil itu akan mengenali dirinya. Eka menyempatkan menoleh ke arah mobil berwarna merah itu.
"Yuk masuk" ajak Karin kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Suasana ruang tamu begitu sepi. Saat ini sudah masuk jam makan siang jadi Karin langsung membawa Eka ke ruang makan. Baru saja Karin sampai di ruang keluarga, suara gelak tawa candaan yang Karin yakini adalah suara sang Mama dengan seseorang yang di kenalnya.
"Maaf ya, mungkin temen Mama ada yang kesini" ucap Karin merasa sungkan kepada Eka.
Sementara Eka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Ia semakin takut jika apa yang ia fikirkan menjadi kenyataan. Semakin mendekat ke arah ruang makan itu, Eka merasakan dirinya semakin gugup dan was-was.
Eka ingin menghindar, namun ia tidak bisa. Ibarat kata ia sudah kepalang basah. Jadi mau tak mau ia tetap ikut masuk dan dengan perasaan berdebar Eka sudah menyiapkan mentalnya dengan apa yang akan terjadi. Namun, Eka tetap berdoa dalam hati semoga saja itu hanyalah mobil yang mirip bukan milik seseorang yang di kenalnya.
"Siang Ma,. Pa." Ucap Karin ceria. Ia dan Eka berhenti tak jauh dari mereka para orang tua yang sedang asyik bercengkrama.
Semua yang ada di sana pun menoleh. Eka menatap seseorang yang selama ini ia hindari namun juga selalu ia rindukan. Wanita itu masih belum sadar dengan kehadirannya sebab ia masih fokus dengan ponsel yang ada di atas meja di dekatnya.
Karin melangkahkan kakinya agak mendekat hingga membuat wanita yang sedang fokus pada handphone nya menoleh ke arah Karin.
__ADS_1
"Hai sayang..." Sapanya lembut kepada Karin. Wanita itu pun berdiri dan menghampiri Karin.
Eka yang melihat itu spontan melepaskan genggaman tangannya. Eka memalingkan wajahnya ke arah kiri untuk menghindari bertatap muka dengan wanita yang saat ini sedang memeluk Karin dengan sayang.
"Bagaimanapun kabar mu?" Tanya wanita itu lembut menangkup wajah Karin.
"Karin baik Tante" jawab Karin sopan. Karin kemudian menoleh ke arah Eka yang sedang memalingkan wajahnya. Tangan pria itu di masukkan ke dalam saku.
"Sayang..." Panggil Karin lembut sehingga mau tidak mau membuat Eka harus menoleh.
"Kau sudah memiliki kekasih?" Tanya wanita tadi menatap Karin dengan ekspresi sendu.
Karin tersenyum kemudian menarik paksa tangan Eka yang di masukkan ke dalam saku celana.
"Ini pacar Karin Tante" ucap Karin sambil tersenyum lebar.
'Mama...' panggil Eka dalam hati.
Sebenarnya Eka sangat ingin memeluk wanita yang sedang memandangnya dengan lekat itu. Wanita itu mengerutkan keningnya dan membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi, ia langsung menatap Karin kembali kemudian membawa Karin untuk duduk di sampingnya.
"Sayang, ayok duduk" ucap Karin kepada Eka. Eka pun langsung menuruti Karin dan duduk di kuris samping Karin.
***
Sama halnya dengan Karin, hari ini perasaan Gita juga di penuhi oleh kebahagiaan. Gita melihat ke arah gelang yang tadi malam ia beli, upps maksudnya di belikan oleh Bryan. Gelang berwarna silver itu terlihat cocok di tangan Gita yang putih. Ukiran bentuk hari serta kata ungkapan cinta dalam bahasa Inggris itupun terlihat jelas.
Gita duduk di kursi kerjanya, tangan kanannya memegang gelang yang baru ia miliki tadi malam. Gita menggoyangkan kursinya, senyum tak pernah pudar dari bibir merahnya. Bahkan senyum itu terus ada sejak semalam. Tepatnya sejak Bryan memasangkan sendiri gelang yang telah di beli oleh pria itu. Senyum Gita semakin lebar kala mengingat kejadian tadi malam.
Bahkan, karena asyik melamunkan sesuatu yang membahagiakan Gita sampai lupa bahwa siang ini dirinya ada janji makan siang dengan Bryan. Gita masih asyik melamun dan tersenyum sendiri hingga sebuah ketukan keras mengangetkan dirinya.
__ADS_1
"Masuk" seru Gita dari dalam setelah membenarkan ekspresi nya.
Tak lama seseorang yang menjadi sekretarisnya pun masuk.
"Ada apa?" Tanya Gita.
"Maaf Bu, ada tuan Bryan yang menunggu ibu" jelas wanita itu.
Gita mengerutkan keningnya heran, ia pun melirik jam mungil yang ada di tangannya. Gita membelalakkan matanya saat jam sudah menunjukkan setengah 1 lebih. Gita lalu menatap ke arah sekretarisnya.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak tadi" ucap Gita datar.
"Maaf Bu, saya sudah mencoba mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari ibu. Jika ingin langsung masuk, saya takut di cap lancang Bu" jelas wanita itu menunduk.
Gita pun menghela nafasnya mengerti, bagaimana pun ia tidak bisa menyalahkan siapapun, Gita lalu berdiri dan membereskan alat-alat kerjanya.
"Kau keluarlah, dan katakan pada tuan Bryan, sebentar lagi aku keluar"
"Baik Bu"
Sekretaris Gita pun keluar dari ruangan Gita dan membiarkan Gita berberes. Setelah semua benda miliknya masuk ke dalam tas. Gita pun langsung keluar dari ruangan. Hari ini menjelang weekend, siang tadi Gita sudah menyelesaikan sebuah pekerjaan penting dan tuan Bram sebagai atasannya menyuruhnya untuk pulang lebih awal.
***
Selanjutnya makan siang, Eka sangat merasa tidak nyaman. Sebab di sebrang mejanya, seseorang terus memperhatikannya. Karin yang menyadari Eka makan dengan pelan dan sebentar-sebentar melirik kearah depan langsung menoleh ke arah sang kekasih.
Karin mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa wanita yang di panggil Tante oleh nya sedang memperhatikan sang kekasih. Raut wajah Karin menjadi tidak suka, ia melihat ke arah orang tuanya yang fokus makan dan suami dari Tante itu pun fokus makan. Namun seorang Tante yang memiliki nama Tante Sarah itu justru memperhatikan kekasihnya.
"Tante..." Seru Karin sedikit keras membuat semua yang ada di meja makan melihat ke arahnya.
__ADS_1