
Usai makan malam, Bryan tidak langsung mengantarkan Gita pulang. Karena jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan, maka Bryan memutuskan mengajak Gita ke pusat belanja di kota. Berbeda dengan Gita yang lebih suka mall yang tidak terlalu besar dan mewah. Bryan justru mengajak Gita ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota tersebut.
"Kita ngapain kesini?" Tanya Gita kepada Bryan, saat ia melihat mobil terhenti di halaman mall.
Gita masih belum melepas sabuk pengaman nya dan menatap Bryan yang sedang melepas sabuk pengamannya.
"Tentu saja kita mau belanja" jawab Bryan santai menatap Gita.
Bryan menatap Gita dengan tersenyum, perlahan Bryan mendekat ke arah Gita. Hingga jarak mereka terkikis, jantung Gita berdebar-debar tidak karuan. Lama sekali Bryan memandang Gita yang sedang menundukkan kepalanya untuk menutupi pipi putihnya yang sudah bersemu merah.
Ctak.....
Gita mendongak, kemudian melihat bahwa seat belt nya sudah di lepas oleh Bryan.
"Apakah kau tidak ingin keluar" ucap Bryan mengacak pelan puncak rambut Gita.
"Iiihhhh,,,, berantakan" seru Gita dengan suara manja. Gita pun menata kembali rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari-jari tangan.
"Ya udah, ayok keluar. Nanti keburu malem" ajak Bryan kemudian keluar dari mobil.
Gita pun mengikuti perkataan Bryan dan keluar dari mobil. Di lihatnya mall yang masih sangat ramai pengunjung. Sebenarnya bukan tidak pernah Gita datang ke mall itu, namun ia sayang uang nya. Jika ada yang murah kenapa harus yang mahal. Bukankah yang sisanya bisa di berikan kepada mereka yang membutuhkan.
Namun, saat ini Gita di ajak oleh Bryan. Jadi, Gita hanya mengikuti langkah kaki Bryan. Lagi pula di mall itu ada pusat permainan juga. Sambil menunggu Bryan membeli apa yang di butuhkan maka Gita akan masuk ke area permainan saja. Begitu fikir Gita.
"Malah bengong" ucap Bryan menoel hidung Gita. Dan membuat Gita mengerjap kaget.
__ADS_1
"Ayok ." Bryan menarik tangan Gita untuk masuk ke mall.
Sampai di mall Gita di buat malas dengan ramianya pengunjung. Inilah yang membuat Gita enggan berbelanja di mall bergengsi, karena suasananya yang ramai dan banyaknya pengunjung. Sebab Gita adalah gadis yang memiliki kepribadian pendiam dan tidak suka keramaian. Namun bukan berarti Gita adalah gadis introvert yang sama sekali tidak bisa bergaul atau bersosialisasi dengan orang lain. Hanya saja untuk suasana seperti ini, Gita tidak terlalu suka.
Bryan menatap Gita yang seperti tidak nyaman. Bryan mengeratkan genggaman tangannya membuat Gita menoleh.
"Kamu mau belanja?" Tanya Bryan lembut.
Gita hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Kita lihat-lihat saja yuk kak" ajak Gita.
Bryan pun menganggukkan kepalanya dan membawa Gita berjalan-jalan ke bagian toko yang menjual sejenis aksesoris. Karena Bryan tahu, Gita menyukai sejenis aksesoris seperti gelang ataupun cincin.
Gita menatap tangan yang di genggam oleh Bryan. Sebenarnya bisa saja Gita melepas paksa genggaman tangan itu. Namun entah mengapa, perasaan hangat dan nyaman membuat nya enggan melepaskan dan justru mengikuti kemana saja Bryan membawa nya berkeliling.
Bryan yang merasakan berat ditangan dan sadar langkah kaki Gita terhenti langsung menoleh ke belakang. Dan terlihat Gita sedang fokus memperhatikan sesuatu yang memang indah. Bryan ikut melihat ke arah pandangan Gita. Di atas sana yang tidak terlalu tinggi, ada sebuah gelang couple yang sangat menarik perhatian. Bryan tersenyum lalu melepas genggaman tangannya. Sadar genggaman tangan itu terlepas Gita langsung menoleh ke arah Bryan yang sudah maju beberapa langkah. Gita memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Bryan.
Gita terkejut saat Bryan mencoba mengambil benda yang letaknya tidak terlalu tinggi jika di ambil langsung oleh Bryan. Hanya dengan sedikit berjinjit Bryan sudah bisa mengambil benda itu. Setelah benda itu ada di tangan Bryan, Bryan langsung melihat ke arah Gita dan menunjukkan gelang couple itu.
"Kamu mau ini?" Tanya Bryan menunjukkan gelang yang ada di telapak tangannya.
Gita tersenyum malu kemudian mengangguk. Gita mengambil gelang itu untuk melihat lebih detail. Gelang couple yang berwarna silver dan di desain dengan mengukir gambar dua hati. Serta tulisan i love you dan gambar separuh love pada masing-masing gelang itu. Bagus, Gita sangat tertarik dengan gelang ini.
"Kalau mau, bawa saja. Nanti kita bayar. Sekarang kita jalan-jalan dulu aja" ucap Bryan.
Gita mencebikkan bibirnya kemudian tanpa sengaja melihat ke arah jam tangan hitam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh malam, Gita pun memutuskan untuk pulang saja.
__ADS_1
"Ini aja deh kak, terus kita pulang. Udah hampir jam 10 malem" ucap Gita.
"Yaudah, yuk" ajak Bryan menggenggam kembali tangan Gita. Dan Gita hanya menurut saja sembari tangan satunya memegang gelang yang di sukainya.
Mereka sampai di kasir. Gita meletakkan gelang couple itu dan ingin membuka tas nya untuk mengambil dompet namun gerakkannya terhenti ketika ia melihat Bryan sudah menyerahkan sebuah black card kepada kasir. Gita pun menoleh ke arah Bryan yang ada di sampingnya.
Sadar dengan tatapan Gita. Bryan pun berkata "biar kakak aja yang bayar. Malu dong kalau membiarkan wanita yang membayar. Lagian kakak yang ngajak kamu jalan" ucap Bryan dan di balas senyuman oleh Gita.
***
"Ma, Pa.... Besok Karin mau mengenalkan seseorang sama Mama dan Papa" ucap Karin kepada kedua orang tuanya.
Karin baru saja selesai dinner dengan Eka. Sebenarnya Karin sangat ingin mengenalkan Eka kepada kedua orang tuanya pada malam ini. Namun karena mereka terlalu menikmati kebersamaan dan tanpa terasa waktu sudah malam. Maka Karin memutuskan untuk mengenalkan Eka kepada kedua orang tuanya besok.
Saat ini, Karin duduk sendiri di sofa yang ada di ruang keluarga. Di hadapannya Papa dan Mama nya sedang menatap lekat ke arahnya. Karin menatap penuh harap kedua orang tuanya, berharap kepada mereka untuk tidak menolak keinginannya.
Karin menatap ke arah sang Mama. Mamanya pun juga melihat ke arahnya. Terlihat sang Mama menghela nafasnya.
"Mama sudah bilang, kalau mulai sekarang Mama akan membebaskan mu memilih pria yang kau sukai..." Ucap sang Mama kemudian berdiri dan menghampiri Karin.
"Mama akan merestui hubungan itu, asal putri Mama bahagia" lanjut sang Mama mengelus rambut hitam Karin. Hal itu membuat Karin menatap sang Mama dengan mata berkaca-kaca.
***
Allo guys... maafin author ya kalau cuma bisa up 1 bab seharinya. sebab author lagi sibuk-sibuknya mengerjakan tugas kuliah... doain author lulus pada waktunya dengan nilai terbaik yaps 🤗🤗🤗
__ADS_1