CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 110


__ADS_3

"Karin mau lihat kita di kamar ya" ucap Karin memecah keheningan.


Bagaimana pun Karin tau salah satu dari mereka siapa. Sisi. Wanita yang sudah membuat Gita menangis dan hampir putus dengan Bryan.


"Ya, kau temani lah Gita Rin. Bawakan juga buah-buahan ini. Siapa tau Gita belum tertidur dan ingin makan" ucap nyonya Lana.


Karin pun mengambil sebuah parcel buah yang entah datang darimana. Mungkin nyonya Lana yang membelinya, tapi kapan. Ah, anak buahnya banyak jadi tinggal perintah dapat deh apa yang di inginkan.


Orang kaya mah beda, pikir Karin.


Karin langsung masuk ke kamar Gita dan mendapati kamar itu kosong. Karin meletakkan parcel buah itu di sofa kecil dekat ranjang kemudian menuju kamar mandi. Kosong.


"Dimana Gita" gumam Karin.


"Kenapa suka ilang-ilangan sih" lanjutnya.


Akhirnya setelah mencari di kamar dan di balkon tapi tidak ketemu Karin pun keluar ruangan dan mencari ke sekeliling rumah. Di ruangan favorit tapi tidak ada. Di dapur, di luar. Tapi tidak ada. Karin pun panik, akhirnya Karin berlari ke ruangan depan dimana keluarganya berada.


"Om! Tante! Kak Bryan!!" Teriak Karin sedikit berlari.


"Kenapa nak" tanya nyonya Indira.


"Gita... Gita Tante" ucap Karin putus-putus karena nafasnya masih belum beraturan.


"Minum dulu yank" ucap Aldo memberikan segelas air minum.


Karin pun menenggak air itu hingga tersisa setengah. Kemudian duduk di lantai untuk menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan karena berlari.


"Jadi Gita kenapa? Dia tidur kan?" Tanya Bryan tak sabar.


Karin menelan ludahnya kasar kemudian menatap semua yang di ruangan itu satu per satu.


"Gita ngga ada di kamar" ucap Karin cepat.


"Mungkin di kamar mandi" jawab Bryan


"Enggak ada. Karin udah cari ke semua ruangan tapi Gita ngga ketemu" ucap Karin dengan bibir bergetar.


"Gita dimana Tan" ucap Karin , tangis nya pun pecah sembari memeluk lututnya sendiri.

__ADS_1


"Kita cari dulu ya, Gita ngga mungkin keluar jauh-jauh. Apalagi ini malam" ucap nyonya Lana menenangkan.


Sementara Bryan? Pria itu sudah berlari keluar untuk mencari keberadaan sang istri.


Semua orang juga mencari dimana giya, dari mulai taman samping rumah, belakang dan di depan tidak ketemu.


"Bryan, jangan dulu gegabah. Gita pasti ngga kemana-mana" ucap tuan Wijaya menenangkan sang menantu yang ingin mengerahkan anak buahnya untuk mencari Gita.


"Tapi Bryan khawatir Pa...." Ucap Bryan tak tenang.


"Kita tunggu sampai jam sebelas malam, kalau Gita belum pulang baru kita akan meminta bantuan anak buah mu" ucap tuan Wijaya lagi.


Akhirnya Bryan mengangguk pasrah. Dengan di landa kekhawatiran Bryan memilih duduk di lantai tangga yang ada di teras rumah. Matanya tak beralih menyusuri sekeliling rumah, namun tetep tidak ada tanda-tanda keberadaan sang istri disana. Bryan meraup wajahnya frustasi, kemana istri nya itu.


Bryan mendongak ketika ada yang menepuk bahu nya. Ia melihat Aldo tersenyum tipis kemudian ikut duduk di sebelah Bryan. Aldo membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun belum sempat Aldo mengatakan nya ada sebuah suara yang membuat orang mengalihkan pandangan ke gerbang.


"Gita" gumam Karin saat melihat Gita datang dari arah jalan, di belakang Gita ada seorang lelaki yang mendorong gerobak. Seperti nya itu adalah gerobak bakso.


Karin segera berlari menghampiri Gita yang baru masuk gerbang. Kemudian di susul oleh Bryan dan yang lainnya.


"Gita" seru Karin memeluk Gita singkat.


"Kamu darimana aja sih sayang" ucap Bryan khawatir, ia menangkup pipi sang istri kemudian mencium kening nya lama.


"Pada kenapa sih?" Tanya Gita heran.


Semua di buat melongo dengan pertanyaan Gita. Dia yang keluar tanpa pamit, membuat semua orang khawatir dan sekarang saat kembali bertanya ada apa?


"Sayang, kamu keluar sendiri ngga pamit sama siapa pun, kami khawatir." Jelas Bryan


"Apa sih, aku cuma ke depan buat nyari penjual bakso" ucap Gita.


"Lain kali ngga boleh gitu, kita khawatir" ucap Bryan tegas.


Namun bukannya merasa di perhatikan Gita justru merasa di kekang. Gita menampik tangan Bryan kasar lalu berlalu begitu saja. Tapi Bryan langsung meraih tangan Gita dan menahannya. Jika tidak langsung di bujuk, Gita akan mogok diam seperti sebelumnya.


"Sayang,,, maksud kakak ngga ngelarang kamu buat keluar sendiri. Tapi, ini udah malem. Kakak takut terjadi apa-apa sama kamu. Maafin kakak ya tadi udah ngomong keras" ucap Bryan selembut mungkin, semenjak hamil Gita menjadi sangat sensitif.


Gita memandang Bryan kemudian langsung memeluk suami nya itu.

__ADS_1


"Gita juga minta maaf, tadi Gita mau minta anterin kakak atau Karin. Tapi ternyata ada tamu. Jadinya ya udah, karena ngga mau ganggu akhirnya Gita berangkat sendiri" jelas nya.


"Ya udah. Sekarang kamu mau makan bakso kan. Kakak ambillin mangkuk ya" ucap Bryan.


"Aku mau pake mangkuk dari Abang nya aja"


"Terus kenapa Abang nya di bawa kesini juga" tanya Bryan.


"Aku kan pengen makan bareng sama Karin" jawab Gita.


"Baiklah"


Akhirnya Gita pun memesan dua mangkuk bakso beranak. Satu untuk dirinya dan satu untuk Karin. Gita pun memakan bakso itu dengan lahap di temani oleh Karin.


"Pak, buatkan juga untuk mereka ya." Ucap Bryan.


"Baik mas" jawab pedagang itu dengan bahagia.


Pedagang itu pun menyiapkan bakso nya dan memberikan kepada anak-anak panti yang sedang mengantri untuk menerima bakso buatannya.


"Maaf ya pak istri saya merepotkan bapak" ucap Bryan sungkan, ia menghampiri pedagang bakso itu setelah pedagang nya selesai membagikan bakso.


"Tidak apa-apa mas. Saya memang pedagang keliling dan pas tadi di panggil sama mbak nya saya senang sekali. Karena sejak sore saya belum ada pelanggan" jawab pedagang itu.


Bryan pun mengangguk mengerti. Ia menyadari satu hal, di kala ia sedang merayakan acara tiga bulan kehamilan Gita ternyata ada pedagang kecil yang sedang kesulitan mencari pelanggan.


Bryan merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet coklat miliknya. Ia mengambil semua uang merah yang ada di dompet nya itu dan memberikan semuanya kepada sang pedagang.


"Ini pak saya bayar untuk semua" ucap Bryan menyerahkan semua uang merah itu.


"Wah ini kebanyakan mas" ucap pedagang itu belum menerima uang dari Bryan.


"Enggak apa-apa pak. Kebetulan hari ini adalah acara tiga bulan kehamilan istri saya. Jadi saya ingin berbagi kepada bapak. Semoga bermanfaat ya pak" ucap Bryan langsung memberikan uang itu ke tangan sang pedagang.


"Alhamdulillah... Terima kasih ya mas. Semoga kehamilan mbak nya baik-baik sampai melahirkan. Semoga selamat dan sehat terus" ucap pedagang itu dengan penuh haru.


Seumur hidup baru kali ini ia memegang uang sebanyak ini.


"Aamiin, terima kasih ya pak" jawab Bryan ramah.

__ADS_1


__ADS_2