
"Saya terima nikah dan kawinnya Anggita Fara Natasya binti Abdi Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sejumlah dua ratus lima puluh juta rupiah di bayar tunai." Ucap Bryan lantang dan tegas.
"Bagaimana saksi. Sah???" Ucap penghulu.
"Saahhh...." Ucap semua orang yang ada di ruangan itu dan ikut menyaksikan ijab qobul.
"Alhamdulillah...." Ucap penghulu. "Mulai sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Dan mas Bryan sudah halal untuk menyentuh mbak Gita. Tapi sabar ya mas, tunggu acara selesai baru bawa mbak Gita ke dalam kamar" lanjut pak penghulu menggoda Bryan.
Sontak pipi Bryan dan Gita pun menjadi bersemu merah mendengar hal itu. Terlebih di ucapkan di hadapan banyak orang seperti ini.
"Mbak Gita silahkan cium tangan mas Bryan dan mas Bryan silahkan mencium kening mbak Gita. Untuk teman atau sahabat dan tim kamera silahkan di abadikan momen ini"
Gita pun melakukan hal yang di perintahkan begitu juga dengan Bryan. Aldo, Karin dan para teman serta para tamu undangan pun banyak yang mengabadikan momen itu.
Setelah acara itu, mereka pun di ajak untuk berganti pakaian untuk menyambut tamu dan berdiri di pelaminan yang telah di siapkan jauh-jauh hari. Pelaminan dengan dekorasi yang super mewah dan untuk hiburan pun Bryan mengundang penyanyi ternama untuk mengisi di acara pernikahan nya. Karena Bryan ingin memberikan yang terbaik untuk gadis pujaannya.
Hari sudah beranjak sore, Gita dan Bryan di haruskan untuk mengabadikan momen indah ini. Dengan panduan dari seorang fotografer terkenal Bryan dan Gita pun melakukan sesi foto dengan berbagai gaya dan sesuai arahan dari fotografer. Sang fotografer pun puas dengan hasil potret an nya, karena seseorang yang menjadi objek dari kamera nya adalah seseorang yang tampan dan juga cantik.
"Kita ikutan ya" seru Karin berjalan menghampiri Gita dan Bryan yang ingin melakukan satu kali lagi foto. Karin datang dengan menggandeng lengan Aldo.
"Boleh aja"
"Enggak!"
Bryan dan Gita menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.
"Jangan gangguin gue" ucap Bryan menatap tajam Aldo.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu? Bukan gue yang mau ikutan" seru Aldo santai dan dia pun mendapat cubitan panas dari sang kekasih tepat di pinggang nya hingga ia mengduh kesakitan.
"Maaf yank" ucap Aldo ketika Karin menatapnya tajam.
"Udah si kak, biarin Karin dan kak Aldo ikut foto bareng kita. Ini momen indah kita dan juga teman-teman kita." Ucap Gita melerai.
"Na, betul itu" sahut Karin.
__ADS_1
Bryan pun akhirnya mengalah dan mereka pun melakukan foto beberapa kali. Hingga Karin dan Aldo pun turun dari pelaminan. Bryan dan Gita pun akan melakukan foto kembali. Namun, ketika mereka sudah bersiap untuk melakukan potret Romy dan Andre datang menghampiri mereka.
"Bos, kita juga mau foto bareng" ucap Romy sambil nyengir.
"Kalo ganggu kita bisa nanti sih bos" seru Andre.
"Enggak papa kok, sekarang aja" ucap Gita. Dan mau tak mau Bryan pun menurut saja.
Akhirnya mereka pun berfoto bersama. Setelah itu mereka melanjutkan foto dan setelah selesai orang tua dari keduanya pun di panggil untuk melakukan foto keluarga. Setelah itu semua teman dan sahabat pun juga ikut foto bersama dengan pengantin dan juga keluarga pengantin.
**
"Mereka cocok ya mas" ucap Sisi kepada sang suami.
Mereka sedang bersantai di rumah sederhana yang sudah enam bulan ini mereka tempati. Sang suami menoleh ke arah Sisi yang sedang tersenyum menatapnya.
"Kau tidak cemburu?" Tanya suami nya.
"Mengapa aku harus cemburu?"
Sisi menarik nafasnya kemudian menatap suaminya dengan tatapan yang meneduhkan.
"Dulu aku memang mencintainya. Bahkan sangat mencintai nya. Namun, ketika kehadiran bayi di perut ku. Rasa cintaku kepada Bryan sudah hilang berganti dengan obsesi. Dan sekarang aku sadar, bagaimana pun kerasnya aku mencoba merebut Bryan. Kenyataannya Bryan bukan lah takdir ku" ucap Sisi lembut, tangan nya pun mengelus perut yang sudah besar dan mungkin tinggal menunggu hari untuk melahirkan saja.
Mendengar ucapan Sisi, suaminya pun meraih tubuh Sisi yang sedikit gemuk karena sedang mengandung ke dalam pelukannya. Dulu dia membenci Sisi karena Sisi sudah membuatnya masuk ke dalam lingkaran orang-orang seperti Bryan.
Tapi ternyata Bryan tidak sekejam itu, sekarang bahkan ia bisa membuka cabang restoran karena modal yang di berikan oleh Bryan. Dan itu merubah persepsi nya tentang Bryan. Jika ternyata Bryan adalah orang baik jika tidak ada yang mengusik keluarga atau orang yang di sayangi nya.
Sisi membalas pelukan suaminya ketika sang suami mencium pucuk rambut Sisi dengan penuh kasih sayang.
***
Hari berganti malam, acara resepsi pernikahan Bryan dan Gita pun telah usai. Kini mereka sedang berada di kamar hotel. Gita yang masih mengenakan gaun pengantin pun kesusahan melepas resleting di bagian belakangnya.
Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi pun langsung menghampiri Gita yang sedang berusaha menggapai resleting gaunnya.
__ADS_1
"Biar kakak bantu" ucap Bryan kemudian menarik resleting gaun Gita.
"Cukup kak. Jangan di teruskan" ucap Gita ketika resleting itu sudah terbuka sampai punggung nya.
"Kenapa?" Tanya Bryan mengerutkan keningnya dan menatap pantulan wajah istrinya dari cermin di depan mereka.
"Ti-tidak apa-apa. Aku bisa lakuin sendiri" jawab Gita gugup.
Bryan hanya tersenyum samar melihat kegugupan Gita. Bahkan Bryan berniat menggoda istri nya itu. Tiba-tiba Bryan melingkar kan tangan nya ke perut Gita dan memberikan kecupan di leher Gita yang terbuka. Hal itu langsung membuat tubuh Gita membeku. Ia memandangi tangan Bryan yang memeluk nya dari belakang dari pantulan cermin di depannya. Terlihat Bryan sedang mengendus-endus leher Gita membuat sensasi aneh dalam diri Gita.
"Kenapa?" Tanya Bryan dengan suara berat. Bryan menggigit kecil telinga Gita dan membuat pipi Gita semakin memerah.
"Kak... A-aku... Aku mau mandi dulu" seru Gita dan langsung melepaskan diri dari pelukan Bryan dan berlari ke kamar mandi.
Melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan Bryan hanya tersenyum lebar. Ia menatap dirinya di cermin dan menyugar rambutnya.
"Ah, aku memang tampan" ucap nya pelan. Kemudian membuka koper dan mengambil baju ganti.
Sementara di dalam kamar mandi Gita yang tergesa-gesa masuk untuk menghindari Bryan baru sadar jika ia lupa tidak membawa handuk atau pun baju ganti. Ia menggigit jari nya bingung harus melakukan apa. Tidak mungkin ia keluar tanpa mengenakan apapun, atau memakai baju pengantin itu kembali.
Gita menggelengkan kepalanya pelan hingga ada yang mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, kau lupa membawa handuk?" Tanya Bryan dari luar.
"Gita... Sayang" panggil Bryan lebih keras ketika ucapannya tidak direspon.
Daun pintu bergerak pertanda Bryan mencoba masuk. Untung saja pintu itu sudah di kunci dari dalam oleh Gita.
"Bagaimana ini..." Ucap Gita yang masih berendam di bathtub.
"Sa....."
Ceklek, pintu terbuka sedikit. Gita menyembulkan kepalanya ke luar dan menatap Bryan sambil meringis. Tanpa mengucapkan apapun Gita langsung menyambar handuk yang ada di tangan Bryan dan kembali menutup pintu.
"Hhaah,,, untung saja" ucap Gita mengelus dadanya dan langsung memakai handuk baju nya itu
__ADS_1