CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 39


__ADS_3

"Iya non. Orang nya putih, tinggi, pake seragam kayak satpam tapi ngga ada tulisan satpam. Terus ada brewoknya tipis" jelas mang Rahmat mengingat-ingat pria yang baru saja pergi bersama Karin.


"Yaudah kalau gitu mang, nanti biar saya tanya sama Karin langsung" ucap Gita. Gita sangat penasaran siapa pria yang dibawa oleh Karin. Tega sekali sebagai sahabat Karin tidak memberitahunya.


"Saya pesen kayak biasanya ya mang, dua porsi" ucap Gita.


"Baik non, langsung dibuatkan. Tunggu ya non" ucap mang Rahmat lalu bergegas membuatkan pesenan Gita.


Gita pun diam, dia mengerutkan keningnya matanya pun kadang menyipit kadang melebar. Bryan yang di depannya pun di buat heran.


"Kamu kenapa?" Tanya Bryan.


"Ha..." Jawab Gita kaget. "Aku enggak papa" jawab Karin lalu nyengir memperlihatkan giginya yang rapi.


***


Di tempat lain, saat ini di kediaman Wijaya. Tuan Abdi sedang mengadakan acara makan malam bersama keluarga Albara. Setelah tahu dari tuan Anggar bahwa orang tua Bryan datang kesini maka nyonya Indira pun langsung antusias untuk mengajak orang tua Bryan makan malam bersama.


Seperti saat ini, nyonya Indira masih sibuk menyiapkan berbagai makanan di atas meja di bantu oleh mbok Na.


"Gita belum pulang Pa?" Tanya nyonya Indira kepada sang suami yang sedang duduk di kursi makan.


"Belum Ma, Gita kan keluar sama Bryan" jawab tuan Abdi.


"Papa sungguh masih berharap bahwa Bryan akan memilih cucuku sebagai pendamping hidupnya" ucap tuan Anggar yang duduk di dekat tuan Abdi.


Tuan Abdi membuang nafasnya kasar. "Dulu Abdi pikir juga seperti itu Pa, tapi Abdi sudah dengar kalau Bryan di jodohkan oleh paman Kurnia bukan oleh Arya" jawab tuan Abdi.


"Siapa yang berani menentang Kurnia. Orang tua keras kepala itu masih saja egois" ucap tuan Anggar.


"Pa,,, mungkin Bryan dan Gita bukan jodoh. Ya meskipun Dira juga menyayangkan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi Pa" sahut nyonya Indira yang datang membawa puding.


Tuan Anggar pun hanya membuang nafasnya kasar.


Tak lama, keluarga Albara pun tiba.


"Tuan, ada tamu" ucap pak Tyo, tukang kebun di rumah Wijaya. Terlihat di belakang pak Tyo ada tuan Arya, nyonya Lana dan juga tuan Kurnia.

__ADS_1


"Lho Tyo, kok kamu yang bawa mereka. Dimana Eka?" Tanya tuan Anggar.


"Mas Eka lagi keluar tuan" jawab pak Tyo.


"Ya sudah , terima kasih ya pak" ucap tuan Abdi. Lalu pak Tyo pun segera pergi.


"Mari mas, mbak silahkan duduk" ucap tuan Abdi mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Mereka bertiga pun tersenyum dan duduk. Namun berbeda dengan tuan Kurnia, lelaki uang menjadi kakek Bryan itu sedang beradu pandang dengan tuan Anggar. Tuan Kurnia masih ingat ucapan tuan Anggar beberapa hari yang lalu. Dan karena ucapan itulah sejak hari itu Bryan menjadi semakin dingin dengan tuan Kurnia.


"Silahkan duduk Kurnia" ucap tuan Anggar mempersilahkan. Tuan Kurnia pun duduk di samping sang putra, tuan Arya.


Tak lama nyonya Indira yang tadi masih berada di kamar karena berganti pakaian pun keluar.


"Ehh, jeng Lana udah nyampe toh" ucapnya bahagia lalu menghampiri wanita yang hampir seumuran dengannya.


Mereka berdua pun berpelukan dan cipika-cipiki layaknya seorang sahabat yang telah lama bertemu.


"Jeng Lana apa kabar?" Tanya nyonya Indira setelah mereka cipika-cipiki.


"Ah, jeng bisa aja" jawab nyonya Indira malu memukul pelan lengan nyonya Lana. "Saya baik-baik aja jeng. Yuk duduk, kita mulai makan malamnya" ucap nyonya Indira dan kemudian nyonya Lana pun kembali duduk.


"Paman Kurnia.." ucap nyonya Indira menyalami kakek Bryan itu.


"Mas Arya..." Ucap nyonya Indira bersalaman juga dengan pria yang menjadi ayah Bryan.


"Mari, mari kita langsung mulai makan saja.." ajak nyonya Indira.


Mereka semua pun lalu makan dengan hikmat. Tidak ada yang bersuara, semua fokus dengan makanan masing-masing. Hingga kemudian nyonya Lana mengarahkan pandangannya ke sekeliling rumah seperti mencari seseorang.


"Gita kemana jeng?" Tanya nyonya Lana yang penasaran karena tidak melihat Gita semenjak ia datang.


"Ohh,, Gita kan sedang makan malam di luar sama Bryan jeng" jawab nyonya Indira santai sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Loh, bukannya Bryan bilang mau lembur di kantor makanya ngga bisa ikut kesini?" Tanya nyonya Lana lalu melihat ke arah sang suami.


"Namanya anak muda jeng. Beneran kok tadi habis Maghrib Bryan kesini dan langsung ngajak Gita keluar" jelas nyonya Indira.

__ADS_1


"Ohhhh,,, Bryan dari pagi belum pulang. Karena...." Nyonya Lana menggantungkan ucapannya lalu melirik ke arah tuan Kurnia yang seperti tidak mendengar apa yang sedang di bicarakan.


"Ma, sudah. Ngobrolnya nanti lagi, sekarang selesaikan dulu makannya" ucap tuan Arya. Nyonya Lana pun diam dan melanjutkan makannya. Begitu pula dengan yang lainnya.


Setelah beberapa menit, mereka telah selesai makan malam dan kini mereka duduk di ruang keluarga. Namun tuan Kurnia dan tuan Anggar duduk di kursi yang ada di teras depan rumah tuan Abdi.


"Apa yang Papa bicarakan ya?" Tanya nyonya Lana kepada sang suami.


"Papa juga ngga tau Ma." Jawab tuan Arya mengangkat bahunya.


"Mama takut kalau mereka bakal cek-cok Pa" ucap nyonya Lana khawatir, terlebih saat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Mama ngga usah khawatir, mereka sudah tua, pasti tau batasan" kata tuan Arya menenangkan sang istri. Tangannya pun mengelus punggung tangan nyonya Lana.


"Memang nya ada apa jeng?" Tanya nyonya Indira yang penasaran setelah menyimak obrolan singkat mantan calon besannya ini.


"Jeng ngga tau kalau paman Anggar beberapa hari yang lalu datang ke rumah Bryan?" Tanya nyonya Lana kepada nyonya Indira.


Nyonya Indira pun melihat ke arah sang suami lalu menggelengkan kepalanya "enggak tuh jeng, mungkin saat kami ngga di rumah ya" ucap nyonya Indira.


"Mungkin saja jeng, waktu itu paman Anggar datang dan langsung berteriak memanggil Papa Kurnia." Ucap nyonya Lana kepada nyonya Indira.


Sementara nyonya Indira hanya menatap ke arah sang suami lalu menatap ke arah nyonya Lana.


"Lalu?"


"Paman Anggar bilang, Gita sudah menyelamatkan Papa Kurnia dari kecelakaan, dan bertanya bagaimana Papa Kurnia akan membalas jasa Gita. Lalu yang terakhir paman bilang bahwa Gita adalah gadis yang di benci oleh Papa" jelas nyonya Lana dengan ekspresi sedih sekaligus tidak enak hati.


Penjelasan nyonya Lana membuat nyonya Indira dan tuan Abdi tercengang. Gadis yang di benci??? Gita? Putrinya di benci oleh tuan Kurnia??


"Tapi apa alasannya jeng?" Tanya nyonya Indira bingung.


Sementara di luar, saat ini tuan Kurnia dan tuan Anggar sedang duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah. Di tengah-tengah mereka ada meja kecil yang diatas meja itu ada dua gelas teh dan juga sepiring kue kering.


"Kurnia, kau sudah tua. Kurangi sikap egois mu..." Ucap tuan Anggar sembari meletakkan teh yang baru ia minum sedikit.


"Dulu kau ingat bukan, kau di usir dari keluarga mu karena mempertaruhkan cintamu dan demi wanita itu kau rela hidup miskin. Dan sekarang apakah kisah mu akan kau ulang kepada cucumu sendiri?" Tanya tuan Anggar menatap ke arah tuan Kurnia. Sementara tuan Kurnia hanya diam tak bergeming.

__ADS_1


__ADS_2